Mari kita membahas berita yang tengah hangat untuk minggu ini.
Seminggu terakhir, di koran-koran maupun dari mulut ke mulut terdengar beberapa kata berikut sering diucapkan: “internet cepekceng sebulan” atau “unlimited seratus ribu”. Kuping ampe gatel sebenernya denger kaya ginian. Tapi mau gimana lagi, saya ga bisa menghalangi orang untuk mengeluarkan pendapat (walau pendapat itu seperti gema karena selalu berulang-ulang).
Mari kembali ke permasalahan. Satu minggu terakhir di koran terdapat iklan mengenai Firstmedia, sebuah provider internet (yang katanya provider baru) menghadirkan paket internet dengan harga yang fantastis dan bandwidth yang bombastis. Bagaimana ga fantastis kalau harganya anda cuma harus membayar seratus ribu per bulan? Bagaimana pula ga bombastis kalau dengan harga segitu murah anda mendapat bandwidth yang unlimited dan speed yang hampir 7 kali TelkomNet Instan? Siapapun pasti akan ngiler mendengar hal itu. Nenek-nenek juga pasti bakal merem melek denger berita ini kalau tuh nenek cukup gaul dan suka main internet.
Bisa dipastikan bahwa ratusan, bahkan ribuan pelanggan Speedy, TelkomNet, atau provider internet lainnya bakal ngacir ke Firstmedia. Itupun kalau mereka bisa. Loh? Kenapa ga bisa? Usut punya usut, ga semua daerah terjangkau oleh provider baru ini. Dan setau saya, provider ini menggunakan jaringan Cable sehingga pelanggan harus berlangganan TV Cable terlebih dahulu sebelum dapat memasang internetnya. Tapi beberapa teman yang (katanya) sudah menghubungi provider tersebut mengatakan bahwa tidak memerlukan kepelangganan TV Cable untuk memasangnya.
Itu baru masalah yang pertama. Dengan membludaknya jumlah pelanggan yang ngibrit ke provider baru ini, tentu jumlah bandwidth yang akan digunakan meningkat tajam, sedangkan kapasitas bandwidth yang disediakan tidak akan cukup memadai. Layaknya air 100 liter dimasukkan ke sedotan minuman yang cuma berdiameter 0,5 cm, tentu yang keluar di ujung satunya cuma se’iprit saja dan mengakibatkan air tersebut akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk ditransfer dari ujung satu ke ujung lainnya. Prinsip ini juga berlaku untuk jaringan internet. Seberapa besar sih kapasitas bandwidth yang disediakan provider baru ini? Apalagi untuk jaringan yang unlimited di mana tentu para pelanggan akan dimanja dengan “download sepuasnya sampai hard disk anda meledup karena terlalu penuh”.
Yuk main matematika dikit yuk:
Pertama-tama, bandwidth untuk paket 100 ribu adalah 352 Kbps. Kemudian 200 pelanggan menggunakan bandwidth ini secara penuh untuk mendownload, hmm, katakanlah film sehingga kapasitas total yang digunakan adalah 352 Kbps x 200 = 70.400 Kbps atau 70 Mbps. Itu baru dengan asumsi 200 pelanggan. Ga mungkin yang ngacir ke provider ini cuma 200 orang doank (mengingat kalau nenek-nenek tadi cukup gaul, berarti dia juga bisa ngajak teman-temannya. Hehehe.
)
Andaikata ada 1000 pelanggan, maka penggunaan akan menjadi 352 Mbps. Wow, backbone Indonesia ke luar negeri aja kapasitasnya cuma berapa puluh Gbps. Jaringan serat optik biasa paling hanya bisa menampung sampai tingkat ratusan Mbps (apalagi ditambah transfer data yang digunakan untuk TV Cable sendiri). Mari kita berandai-andai lagi kalau kapasitas yang ada adalah 100 Mbps, maka pada saat 1000 pelanggan tersebut menggunakan secara penuh bandwidth yang ada, ga mungkin bisa melebihi 100 Mbps. Kalau sudah begitu, maka kita coba pukul rata kecepatan yang ada sehingga perhitungan kembali ke 100 Mbps / 1000 pelanggan = 0,1 Mbps / pelanggan atau bisa juga dibilang cuma 100 Kbps / pelanggan. Jauh di bawah yang dikatakan yaitu 352 Kbps.
Bukan bermaksud menghasut anda untuk tidak pindah ke provider ini, tapi pikirkan secara matang sebelum pindah. Saya sendiri ga ada keinginan buat pindah ke provider ini walau saat ini saya harus membayar 150 ribu per bulan untuk bandwidth 1 GB. Bagi saya bandwidth 1 GB sudah cukup bahkan berlebihan, untung-untungan beberapa bulan ke depan harganya diturunin atau bandwidthnya dinaikin. Sebenarnya makin banyak yang pindah ke provider baru ini justru saya makin bersyukur, karena saya menggunakan jaringan CDMA untuk internet yang berarti prinsipnya hampir sama dengan air dan sedotan yang sudah dibahas. Jadi makin banyak yang kabur dari provider saya, makin lancar pula internet yang saya gunakan.
Hahaha…
Jadi masihkah anda berpikiran untuk pindah provider? Jawabannya ada di tangan anda.
Tambahan (1/3/2008): Kasus di mana terjadi penyempitan jalur karena bandwidth yang diminta terlalu besar tetapi jalur yang disediakan terlalu sedikit sering disebut sebagai connection bottleneck. Selama provider internet secara konsisten tetap menyediakan tambahan jaringan baru dibarengi juga penambahan jumlah kapasitas bandwidth maka kasus bottleneck dapat dikurangi atau ditiadakan sama sekali.