Archive for February 5th, 2008

Not ready for K2

Tadi sempat mau ganti theme buat blog ini dari yang dasarnya Kubrick jadi K2. Tapi entah kenapa setelah ditest di localhost, theme ini masih belum matang. Memang sih belum matang soalnya masih Release Candidate 4. Padahal saya kira udah bisa digunain di blog ini dan cuma diubah-ubah sedikit aja. Hhhh… Cuma sedikit info aja, K2 ini banyak dipakai sebagai dasar dari theme-theme yang beraneka ragam yang ada di berbagai blog yang menggunakan WordPress.

Mungkin masih harus bertahan dengan Kubrick dulu sekarang. Memang belum mendesak sih buat ganti themes. Lagian baru kemaren juga nambahin plug-ins baru dan kayanya udah cukup membuat blog ini lebih hidup (dan tentu agak sedikit lebih membebankan server). :p

Dream of Fear

7 Comments My Minds

Aku tahu aku akan kehilangan dia suatu waktu
Aku tahu waktu (bila tidak maut) akan memisahkan kita
Tapi satu hari, rasanya waktu itu begitu dekat
Terlalu dekat untuk aku hadapi
Walaupun aku tahu bahwa ini hanya sebuah mimpi
Tapi aku merasakan kehilangan yang mendalam

Sebenarnya aku sangat jarang memimpikan sesuatu yang menyedihkan. Lebih banyak mimpi yang menegangkan sejauh ini. Apalagi kalau mimpi yang berhubungan dengan dia. Mungkin sampai saat ini masih bisa dihitung dengan jari, dan sebagian besar dari mimpi itupun cukup berkesan dan happy ending (err, paling ga proses dalam mimpi itu juga happy). Tapi satu malam, aku bermimpi lagi dengan dia, tetapi dengan keadaan yang berbeda.

Saat itu aku menelpon ke rumahnya untuk berbicara seperti biasa. Anehnya saat itu yang aku ajak bicara bukanlah dia, melainkan orang tuanya, seakan-akan aku sudah akrab dengan beliau. Setelah berbicara cukup panjang lebar, aku minta untuk memanggilkan dia supaya bisa langsung bicara dengannya. Entah mengapa, orang tuanya melarang aku berbicara dengan dia dan saat itu sempat membuatku heran dan bingung. Bahkan beliau sempat memintaku untuk menjauhi anaknya. Setelah aku beberapa kali berusaha menanyakan alasannya, akhirnya beliau pun menjawab bahwa anaknya sedang mengidap kanker otak dan tidak akan bertahan hidup dalam waktu yang terlalu lama. Tidak lama kemudian, dia pun menjawab telepon dan berbicara denganku. Ia menjelaskan mengenai apa yang tengah terjadi dan memintaku untuk menjauhi dirinya supaya aku bisa mencari orang lain yang bisa membahagiakan diriku. Dan tentu saja suasana saat itu terasa sedih dan berat.

Aku tidak mengingat dengan jelas kelanjutan dari mimpi itu, tetapi ketika terbangun dari tidur aku sempat memikirkan dia untuk beberapa menit. Mimpi itu terasa begitu nyata. Sempat bertanya kepada diriku sendiri, “apakah aku sudah siap kehilangan dia?”. Mungkin pikiranku agak egois, karena bagaimana pun sampai saat ini aku belum memiliki hubungan yang jelas dengan dia. Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan seseorang yang belum pernah “kumiliki”? Aku bahkan sempat takut dan berpikir “apa aku benar-benar harus menghentikan komunikasi dengannya supaya aku tidak jatuh terlalu dalam dan dia pun tidak terjatuh terlalu jauh ke dalam masalah yang disebut cinta?”. Apakah ini benar-benar cinta? Atau ini hanya perasaan semu semata? Aku tidak bisa memikirkan hal ini lebih jauh pagi itu karena terlalu dihantui oleh mimpi tersebut.

Tapi kini aku berpikir bahwa aku tidak boleh terbuai oleh mimpi itu karena mimpi hanyalah sebuah mimpi. Aku masih harus menghadapi kenyataan bahwa dia saat ini belum “menghilang” dariku. Paling tidak sampai beberapa bulan lagi sebelum dia harus meninggalkan bangku sekolah karena telah lulus jenjang pendidikan menengah. Aku harus dapat menyampaikan perasaanku padanya dan bersiap menghadapi apapun jawabannya. Apalagi ketidakjelasan ini telah berlangsung terlalu lama bagi kebanyakan orang, hampir satu setengah tahun, walau waktu selama ini aku anggap masih wajar bila memang ingin mencari suatu hubungan yang serius dan tidak main-main seperti kebanyakan orang.

Entah mengapa, mimpi itu telah berlalu. Aku hampir bisa melupakan mimpi itu dan kenyataannya, mimpi itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi tetap saja mimpi itu meninggalkan bekas ketakutan di hati dan pikiranku.