Here is the beginning and the end

Sebuah hal yang membingungkan, menyenangkan, menyedihkan, dan memusingkan telah kulewati dalam waktu yang cukup lama. Satu tahun sudah berlalu sejak aku menaruh hati kepada dirinya. Satu tahun pula aku sudah berjuang untuk menunjukkan perasaanku padanya. Walau aku menyadari sejauh ini usahaku untuk melakukan pembuktian itu masih terlalu sedikit dibanding usaha-usaha orang lain yang juga kasmaran.

Di sini aku akan menceritakan semuanya dari awal mengenai sesuatu yang bernama “cinta” dan bagaimana aku menghadapinya sebagai diriku sendiri, bukan sebagai orang lain.

Sebuah awal

“I found her! I found her! Of course, I found her!”

Yah, inilah awal dari sebuah kisah cinta yang dialami olehku. Awal dari perjuanganku dan pertemuanku dengan seseorang yang bisa membuat jatuh cinta.

Diawali dengan pertemuan dengannya sejak aku duduk di bangku kelas 3 SMA, tempatku menuntut ilmu. Selama masa SMA, aku mengikuti cukup banyak kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari klub komputer, tenis meja, Kelompok Ilmiah Remaja sampai dengan Palang Merah Remaja (PMR). Dari keempat ekskul tersebut, aku lebih dekat dengan ekskul komputer dan PMR.

Saat itu aku merupakan seorang senior di PMR karena aku sudah duduk di kelas 3, sedangkan dia sebagai anak baru dan kelas 1 masih merupakan seorang junior di PMR. Tidak ada yang terlalu spesial yang kurasakan pada saat ini. Hanya saja sejak pertengahan semester 2 di mana saat itu aku mulai disibukkan dengan ujian nasional, aku sempat beberapa kali datang ke latihan PMR pada hari Jumat. Sejak pertengahan semester 2 itulah aku mulai beberapa kali memerhatikannya.

Saat itu aku belum yakin dengan perasaanku. Hanya sedikit tertarik dan itupun aku belum mengingat betul namanya. Hanya saja saat latihan diadakan, beberapa kali aku memerhatikannya. Yang kemudian perasaan itu akan hilang dan terlupakan begitu latihan selesai.

Jujur saja, pada kenyataannya bahwa aku sering memerhatikan dia baru kusadari beberapa bulan belakangan karena aku teringat peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengannya ketika ia masih seorang junior. Tentu bila aku mengingat peristiwa itu secara visual, maka berarti aku sering memerhatikannya walau aku sendiri tidak menyadari.

“Aku menemukannya, tapi aku tak menyadarinya
Dia begitu dekat, aku tak menyadarinya
Aku melihatnya, aku tak menyadarinya
Aku berbicara dengannya, aku tak menyadarinya
Aku tersenyum padanya, aku tak menyadarinya
Aku menjauh darinya, aku menyadarinya.”

Kelulusan

“It was came when I left”

Saat-saat yang kutunggu sejak SMA pun tiba. Yah, aku lulus dari bangku SMA dan aku bisa masuk ke universitas pilihanku selama ini. Banyak kenangan indah yang kutinggalkan, tapi aku tak mengingat sama sekali kenangan mengenai dirinya saat itu.

Sebagai seorang alumni di sekolahku, aku merupakan salah satu orang yang cukup sering mengunjungi sekolahku di saat senggang. Setiap hari Sabtu aku membantu dalam memberikan materi di klub komputer. Sedangkan pada hari Jumat aku seringkali datang membantu mengawasi kegiatan PMR. Kebetulan ketika semester 1 kuliah, aku mendapatkan jatah libur setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu.

Walau rutin berkunjung ke PMR setiap hari Jumat, aku belum menyadari perasaan itu sampai pertengahan semester.

Saat itu PMR sedang mengadakan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) di Cibubur. Dia sendiri pada saat itu telah menjadi senior karena telah menginjak masa kelas 2 SMA. Sebagai seorang senior muda, dia bersama teman-temannya tentu menjadi koordinator dalam acara yang terdapat di Persami tersebut, salah satunya dengan menjaga pos yang akan digunakan untuk kegiatan malam.

Malam itu aku memutuskan untuk berkeliling dari satu pos ke pos lainnya berhubung aku memang tidak ingin berdiam di satu pos saja. Mulai dari pos satu ke pos lainnya, sampai akhirnya aku tiba di pos yang dijaga oleh dia.

Seperti di pos lainnya, di situ aku mengobrol dengan penjaga pos tersebut yaitu dia, serta memerhatikan ujian apa yang diberikan pada pos tersebut pada para junior. Entah kenapa sejak awal aku mulai berbicara dengannya aku mulai merasakan ada yang berbeda dibanding pos lainnya. Aku merasa nyaman berbicara dengannya dan rasanya begitu mudah terbuka dengannya. Dia sempat bercerita mengenai dirinya dan keluarganya, serta beberapa kali tertawa dan tersenyum ke arahku. Saat itu matanya begitu indah dan seolah memancarkan cahaya yang berbeda dari yang pernah aku lihat dari orang-orang lain.

Saat itulah aku mulai menyadari ada jeritan di hati bahwa “I’m in love”. >.<

Niat awalku untuk ke pos lainnya pun berubah menjadi diam di satu pos saja bersamanya. Dan itu memang terjadi, aku diam bersamanya di pos tersebut sampai pagi tiba.

“Mengapa perasaan itu datang ketika aku sudah berada jauh darinya? Ketika aku harus menuntut ilmu di tempat yang berbeda dan bertemu dengannya satu kali setiap pekan, justru aku merasakan getaran itu. Mengapa tidak terjadi dari dulu ketika aku masih satu sekolah dengannya dan ketika aku masih bisa bertemu dengannya setiap hari?”

Hanya terdiam

“Take the risk. Nothing will happen if you just do nothing.”

Sejak Persami itu, aku terus memikirkannya dan teringat senyum, tatapan dan perkataannya malam itu. Tapi apa daya, aku hanya bertemu dengannya satu minggu sekali, dan akupun tak menyia-nyiakan hal itu dengan selalu datang setiap hari Jumat bila memang ada waktu.

Saat itu aku belum mengetahui nomor handphone-nya yang sesungguhnya. Bermodalkan majalah sekolah yang kudapatkan ketika aku kelas 3 SMA, aku mencoba mencari data pribadinya dan juga nomor teleponnya. Dan pencarian itu tidak sia-sia karena aku menemukan datanya di majalah itu.

Satu hari aku mencoba untuk mengirim SMS kepada dia dengan rasa takut akan balasan yang mungkin dia sampaikan. Tapi SMS yang kukirim selalu failed atau pending. Aku pun memberanikan diri untuk menelpon ke nomor handphone yang kudapatkan tersebut, dan selalu terjadi nada bahwa nomor tersebut sedang non-aktif atau berada di luar jangkauan.

Pertemuanku setiap Jumat belum membuatku cukup berani untuk menanyakan nomor handphone-nya. Dan sejak aku suka pada dirinya, berarti aku belum melakukan apapun untuk menunjukkan perasaanku itu.

“Terdiam, hanya itu yang bisa kulakukan. Memandangnya, melihatnya tersenyum, melihatnya tertawa dengan sembunyi-sembunyi. Dan hal ini tak akan menghasilkan apapun. ADA. Yaitu perasaan yang terpendam dan tak akan pernah terungkapkan sampai kapanpun.”

Hari demi hari terlewati

“A new day has come. I change because of her.”

Waktu terus berjalan dan aku tidak mungkin hanya berdiam saja terhadap perasaanku ini. Apalagi sudah banyak orang yang mencium perasaanku ini, mulai dari teman-temannya, senior dan junior di PMR, bahkan sampai kepada guru.

Saat itu aku mulai memiliki keberanian untuk meminta nomor handphone dari temannya. Tepat pada tanggal 16 Februari 2007, aku mulai mengirim SMS kepadanya. Yep, itu 2 hari setelah Valentine, dan pada saat itu aku tidak melakukan apapun untuknya.

SMS pada hari pertama itu mendapat tanggapan yang bagus. Sangat bagus malah.

Tanggal 18 Februari 2007, aku bahkan sempat mengirim SMS berisi ucapan Imlek dan dia membalas dengan mengirimkan hal yang sama kepadaku. Semakin hari, entah mengapa makin jarang SMS yang dibalas olehnya. Terkadang ketika dibalas, isinya membuat hatiku senang dan gembira, tapi di saat lain membuat hatiku gundah, sedih dan takut.

Bulan Maret 2007, di mana salah satu harinya adalah hari ulang tahunnya. Saat hari ulang tahunnya itu, aku memberikan sebuah hadiah berupa tas untuknya. Aku tak tahu apakah pilihannya buruk atau justru bagus untuknya, tapi ketika aku membeli hadiah itu (dengan ditemani temanku) aku sudah berusaha memilih yang terbaik. Untuk pertama kalinya aku berani memberikan hadiah secara langsung dan secara pribadi kepada orang yang aku suka.

Dalam beberapa kali kejadian, ia seakan ingin menunjukkan bahwa dia juga suka padaku. Yah, seakan. Itu bisa berarti benar, bisa juga tidak. Bisa saja itu yang memang ingin dia tunjukkan, bisa juga itu hanya perasaan ge’er ku saja. Tentu mengenai arti tindakan dia, yang mengetahui secara pasti adalah dirinya sendiri.

Oh ya, tidak hanya SMS, aku juga seringkali menelpon ke rumahnya. Sejauh ini dengan menggunakan telepon aku hanya menghabiskan waktu 5 – 10 menit saja. Sebenarnya waktu yang cukup singkat untuk pendekatan. Tapi pada dasarnya, aku memang ga tahan bila di telepon saling diam dalam kurun waktu yang lama. Seringkali aku menelpon di mana hanya aku yang mencari topik, sedangkan dia jarang memulai pembicaraan. Yah, positive thinking pun keluar, mungkin karena dia ga tahu banyak mengenaiku dan tidak tahu apa yang harus mulai dibicarakan denganku.

Tapi di balik semua itu, sebagian besar dari pembicaraan tetap didominasi olehnya. Ketika aku bertanya tentang suatu hal, seringkali ia menjawab dengan cukup panjang, bahkan terkadang ia bisa mengembangkan pembicaraan atau bertanya balik kepadaku. Yah, paling tidak akulah yang harus memulai terlebih dahulu. Aku tidak terlalu mempermasalahkan itu.

Selama melakukan pendekatan ini, aku seringkali merasa down karena berbagai sebab. Salah satu di antaranya adalah gosip mengenai dirinya dan juga rasa takut bila dia berpikiran negatif karena banyak orang yang tahu perasaanku kepadanya. Dan terkadang juga karena menghadapi tekanan di mana banyak orang yang memintaku mengatakan perasaanku padanya.

Ketika hal itu datang, seringkali terdapat timbal balik di mana diriku diangkat lagi. Mungkin oleh dia sendiri, ataupun oleh orang lain.

Pada Persami 3, merupakan saat di mana aku benar-benar bisa dekat dengannya karena saat itu aku harus menjaga pos berdua dengannya. Di saat ini pula aku merasakan banyak “tanda” dari dirinya yang tidak kudapatkan pada hari lain. Yah, itulah yang aku rasakan, tapi yang belum tentu dia sampaikan.

Saat-saat ketika membantunya dalam kegiatan Pentas Seni pada bulan September 2007 yang lalu juga membuatku merasa dekat dengan dia.

“Aku merasakan banyak hal darinya. Aku merasakan ‘tanda’ darinya. Tapi apakah itu benar-benar pertanda dari dirinya? Ataukah hanya sebuah pikiran semu dari diriku sendiri? Begitu sering aku merasakan ‘tanda’ tersebut, sama seringnya ketika aku merasakan kejatuhan dalam proses ini. Dan hatiku tidak ingin menyerah, walau bibirku mengatakan aku ingin menyerah.”

Pertanyaan pun muncul

Hari berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi bulan, bulan pun pada akhirnya berganti menjadi tahun. Banyak kisah dilewati, banyak jawaban yang terjawab, tapi banyak pula jawaban yang masih belum kuketahui pasti.

“Apakah masa pendekatan ini terlalu lama?”

Yah, terkadang aku berpikir ini terlalu lama. Tapi bila aku mengingkan sebuah hubungan yang serius dan berkomitmen, aku rasa waktu selama ini bahkan belum cukup untuk kepastian itu. Sejak kejadian yang pernah kulewati sebelumnya, aku telah bertekad untuk serius dalam hubungan seperti ini, tidak untuk sekedar main-main saja. Aku tidak berpikir untuk mencari seseorang, ketika hubungan dijalankan kemudian putus di tengah jalan, kemudian mencari lagi yang baru untuk menggantikan yang lama. Singkatnya, aku ingin melewati masa yang disebut “pacaran” hanya sekali saja dengan harapan bahwa aku memang sudah pasti mendapatkan “the one”. Bila memang belum pasti, aku lebih baik dalam keadaan seperti saat ini, di mana terombang-ambing menikmati sedih dan senangnya masa pendekatan.

Mungkin inilah filosofi hiduku yang cukup aneh dalam hal cinta. Tapi rasanya banyak juga orang yang memiliki filosofi hidup ini.

“Hey, I’m still 19. I still have 40 years to live, or maybe 50, 60 or more if I’m strong enough”

“Apa ga bisa melupakan dia dan mencari yang lain aja?”

Seperti yang aku bilang di atas bahwa aku mencari suatu kepastian, bukan pengalaman. Pengalaman cukup digunakan sebagai dasar filosofi ketika aku membuat suatu program atau mempelajari sesuatu di dalam hidupku, kecuali cinta. ;)

Banyak yang pernah bilang kepadaku, “jumlah cewe di bumi ini ada banyak, bahkan lebih banyak daripada cowo. Kamu cukup lupakan dia, kemudian cari yang baru yang cocok denganmu.” Tentu sesuatu yang mudah untuk menemukan seorang gadis idaman, tapi bukanlah hal yang mudah untuk mencari sebuah cinta.

Aku akui bahwa ketika kuliah aku menemukan banyak gadis yang menarik dan cantik. Tapi selama ini ketika aku mengenalnya dan kemudian menjadi dekat dengannya, aku merasa bahwa mereka lebih cocok menjadi temanku saja. Belum ada yang benar-benar bisa membuat aku memiliki perasaan seperti kepada dia.

“In the fact, it’s not easy for me to forget her as she has be the part of my life…”

“Sepertinya pendekatannya hanya sampai di situ-situ saja dan ga berkembang banyak?”

Jujur saja, aku memang ga terlalu “ngebet” dalam hal ini. Ada pepatah yang mengatakan “slowly but sure” atau “lambat asal selamat”. Sejauh ini aku belum pernah melakukan beberapa hal seperti yang dilakukan orang semasa pendekatan misalnya mengajak nonton atau berkunjung ke rumahnya. Yang paling jauh saja adalah menemani dia pulang dari sekolah, dan itupun hanya sampai dia naik ke angkot dan hanya sekali sampai saat aku menulis ini. Tapi tentu saja segala hal ada progress nya, entah itu lambat atau cepat.

Satu hal yang bagi banyak orang cukup memalukan untuk diakui adalah takut. Yep, rasa takut juga menghinggapiku dalam bentuk grogi atau nervous. Kadang karena grogi ini, aku menjadi speechless atau terlalu banyak berpikir sehingga aku terlambat memanfaatkan banyak kesempatan yang ada untukku.

Di sisi lain, aku saat ini sedang kuliah dan juga mengerjakan proyek, sedangkan dia menginjak masa SMA kelas 3 di mana dia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri dengan ujian akhir. Terkadang dari sisiku tidak memiliki waktu atau juga dari sisi dia yang mulai sibuk sehingga sangat jarang bertemu bahkan belakangan di PMR sekalipun. Mungkin dalam 1 bulan hanya bisa bertemu 2 kali saja belakangan ini, tapi aku berusaha melakukan hal yang berkesan bila dapat bertemu dengannya.

Dalam kasus yang paling ekstrim, aku bisa mengatakan aku menikmati masa kesendirian ini dan tidak perlu terikat dalam hubungan apapun. Walau di satu sisi aku ingin memiliki hubungan itu. Bahkan tadi sempat kepikiran bahwa betapa enaknya bila tidak perlu menaruh perasaan pada seseorang sehingga aku ga perlu susah-susah memikirkan orang itu. Tapi aku tidak mungkin menghindari perasaan ini begitu saja hanya demi keinginan untuk menyendiri itu.

Aku tidak tahu aku akan berjodoh dengan siapa, atau apakah nanti di masa depan aku akan bertemu kembali dengan seseorang di masa lalu, atau apakah nanti aku juga harus menghadapi perpecahan di tengah jalan walaupun aku telah berusaha menghindari. Jodoh memang tidak dapat diprediksi, tapi paling tidak selama aku hidup, aku berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya apa yang telah ada dan terjadi.

Mungkin ini menjadi sebuah entry yang paling panjang yang pernah kubuat. Aku tak tahu apakah entry ini akan menjadi entry kedua terakhir yang akan kutulis mengenai dia. Mengingat entry terakhir yang mungkin akan kutulis adalah setelah menyatakan perasaanku ke dia dan situasi itu masih dapat berubah tergantung dengan akhir dari hal pernyataan cinta ini. :)

Biarpun kisah itu telah berakhir, aku tidak akan pernah menghapus kisah ini dari ingatanku karena kisah ini telah menjadi bagian dari hidupku. Biarlah kisah ini menjadi sebuah kisah yang indah, dan menjadi bentuk elektronik melalui entry blog ini dan entry-entry lain yang telah ada sebelumnya.

Hanya sebagai catatan, aku banyak bercerita mengenai dirinya melalui blog ini. Semua dapat dilihat di kategori The Romance dan beberapa di antaranya di My Minds.

Errr, walau sepertinya ini blog yang sangat panjang dan ingin mengakhiri segalanya, tapi sebetulnya cerita ini belum berakhir. Jadi bila Anda merasa bahwa entry ini seperti sebuah cerita sinetron atau film drama romantis, jangan anggap kalau tulisan ini menandakan The End. ;) Masih banyak usaha yang harus aku lakukan untuk menunjukkan perasaanku kepada dia. Aku sendiri ga suka terinspirasi dari sinetron atau film untuk urusan cinta. Biarlah cinta mengalir. :)

Last word: Gong xi fat chai… Xin nien kuai le… Happy Chinese New Year… ^^

This entry was last modified on: February 9th, 2008 at 2:08

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: