Tariff War of Cellular Operator

Bila di dalam dunia internet terdapat istilah browser war alias perang browser yang pernah berlangsung dua kali pada tahun 1990-an (antara IE dan Netscape) dan juga 2000-an (antara IE, Firefox, Opera dan Safari), maka di dunia telekomunikasi Indonesia terdapat yang disebut perang tarif atau tariff war. Perang ini terjadi sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu antara beberapa operator telepon selular di Indonesia, khususnya GSM.

Seperti yang diketahui, sebelumnya tarif telepon sesama telepon seluler dan tarif interkoneksi antar operator telepon selular di Indonesia cukup mahal daripada negara-negara lain. Tiga operator telepon seluler utama seperti Telkomsel, Indosat dan XL pada awalnya lebih mengutamakan fitur Short Message Service (SMS) sehingga perang tarif pertama terjadi dalam dunia SMS.

Perang tarif SMS ini terlihat dari banyaknya operator yang mulai memangkas harga SMS, yang dilanjutkan dengan pemberian bonus SMS yang dapat dikirim kepada sesama operator secara gratis. Sayangnya hal ini tidak berlaku untuk pengiriman SMS interkoneksi antar operator. Tarif SMS antar operator masih sama mahal dengan beberapa tahun yang lalu yaitu antara Rp. 200 sampai Rp. 350 per SMS. Perang tarif ini semakin kencang dengan kedatangan operator baru yaitu 3 di Indonesia (Three / Tri).

Perang tarif pun kembali dilancarkan oleh operator telepon seluler dengan memberi harga murah untuk menelpon ke sesama operator. Awalnya Telkomsel mematok harga Rp 10 /detik, dilanjutkan dengan XL yang mematok Rp 1 / detik, kemudian terdapat iklan Rp. 0 yang sebenarnya memberi bonus bicara Rp 5000 setiap menggunakan Rp 5000 dalam hari yang sama. Setelah itu terdapat iklan dari operator Three yang memberikan tarif Rp 1 / menit. Pematokan harga ini sempat menimbulkan kebingungan pada pihak pelanggan karena ternyata terdapat beberapa syarat yang tidak dicantumkan dalam iklan di televisi. Operator telepon seluler pun tidak takut untuk saling serang komentar mengenai ketidakjelasan harga tersebut.

Kini perang tarif dilanjutkan dengan membuat tarif murah untuk panggilan ke operator lainnya. Diawali dengan iklan XL yang mencantumkan tarif Rp 0,1 / detik untuk menelpon ke semua operator, kemudian Indosat IM3 melanjutkan dengan tarif Rp 0,01 / detik. Beberapa hari setelah IM3 mencantumkan tarif ini, XL Bebas kembali mengambil langkah mencantumkan iklan tarif Rp 0,00000…1 / detik dengan tagline “ngobrol sepuasnya”. Lucunya lagi Indosat IM3 kembali membalas dengan mencantumkan tarif Rp 0,0000000000…1 / detik di salah satu surat kabar hanya berselang 2 hari setelah iklan XL Bebas pertama kali ditampilkan di sana (walau sampai saat ini tetap menampilkan iklan Rp 0,01 / detiknya di televisi). Sayangnya tetap saja terjadi ketidakjelasan informasi tarif yang sebenarnya pada pencantuman tarif ini.

Perang tarif juga disembunyikan dalam bentuk bonus-bonus yang banyak diberikan operator telepon seluler, misalnya mengirim sejumlah SMS akan mendapat sejumlah SMS ataupun menggunakan pulsa sebanyak beberapa rupiah akan mendapat SMS gratis sepuasnya untuk beberapa nomor.

Sampai saat ini pendapatan operator masih banyak berkutat antara penggunaan SMS dan juga panggilan suara, begitu pula dengan apa yang digunakan para pelanggan telepon seluler. Salah satu bentuk “perang” yang terlupakan alias forgotten war adalah perang tarif data. Tarif data merupakan tarif yang digunakan untuk mengakses jaringan data yang umumnya disebut internet melalui GPRS atau teknologi yang terbaru yaitu 3G. Dahulu teknologi ini sempat heboh, akan tetapi saat ini hampir tak terdengar lagi mengingat para pelanggan masih belum terlalu familiar dengan teknologi transfer data ini.

Saat ini beberapa operator seperti XL dan Telkomsel masih berkutat dengan tarif Rp 5 sampai Rp 10 / KByte. Sedangkan Indosat hanya mematok Rp 1 / KByte di mana merupakan tarif data termurah yang bisa didapat saat ini (masih banyak media yang mencantumkan Rp 5 / KByte sampai saat ini, padahal saat ini adalah Rp 1 / KByte). Bahkan untuk Indosat Mentari terdapat juga paket time-based yang berada di harga Rp 100 / menit.

Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Saya merupakan pengguna internet yang cukup aktif dan sebisa mungkin harus dapat membaca email atau mengakses informasi dari internet setiap hari sehingga saya lebih prefer kepada Indosat yang memberikan tarif murah untuk data GPRS dan 3G.

Lalu bagaimana dengan Anda? Silahkan sampaikan komentar Anda mengenai perang tarif ini.

This entry was last modified on: April 10th, 2008 at 23:36

13 Responses to “Tariff War of Cellular Operator”

  1. memang selalu perlu inovasi lebih dari para tim kreatif marketing perusahaan telekomunikasi..selamat bertarung!:cool:

  2. beragam tarif yang menarik, tapi tetep aja tergantung kebutuhan kita juga. kadang ada yang butuh banyak bonus sms krn hobinya emang smsan terus..kembalik kekita jg :)

  3. Lebih murah lebih bagus. :D

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: