Dufan oh Dufan
Setelah sejak lama alias sejak SD ga pernah ke Dufan lagi alias Dunia Fantasi di Ancol, akhirnya hari ini aku dan teman-temanku berhasil mewujudkannya. Yeah… berhasil mewujudkan sampai di depan loket, tapi akhirnya ga jadi masuk ke dalamnya. Begini lah ceritanya.
Seminggu yang lalu sebelum hari H, aku dan teman-teman sudah merencanakan untuk pergi ke Dufan bersama-sama mengingat ujian sudah selesai dan liburan sudah dimulai. Rencana itu berhasil mengumpulkan beberapa orang, bahkan sampai hampir lebih dari 10 orang. Bahkan di luar perkiraanku, banyak juga yang mengetahui mengenai rencana ini.
Tiba di hari H, aku bangun tidur jam 9.00 pagi setelah Yuni mengirim SMS ke HP-ku. Pukul 9.30, seorang temanku yang sudah merencanakan untuk ikut menelpon ke hapeku dan menyanyakan apakah aku ingin ikut mobilnya atau ikut mobil temanku yang lainnya. Karena aku sendiri sudah janji dengan Yuni, tentu aja aku ikut dengannya walau harus menempuh perjalanan menggunakan Transjakarta.
Pukul 10.30 aku berangkat menuju halte Jelambar Transjakarta dan bertemu dengan Yuni, Yanti, Donna dan Tina di halte itu. Sesaat kemudian, kami pun sudah berada di dalam bus Transjakarta. Sampai di halte Harmoni, kami transit ke koridor 2, yaitu jurusan Harmoni - Pulo Gadung. Setelah mengantri dan sempat dorong-dorongan di halte itu, akhirnya kami berhasil masuk dan duduk di bangku yang tersedia. Di saat itulah tiba-tiba temanku yang menawarkan untuk ikut dengan mobilnya malah mengirim SMS kepadaku mengatakan kalau dia dan teman lainnya itu juga ga akan ikut ke Dufan. Singkat kata mereka batal. YAH!! Mereka membatalkan di saat-saat terakhir. Betapa beruntungnya mereka dan betapa sialnya aku karena mengharapkan keikutsertaan mereka. Walau sial, aku tetap beruntung karena aku memustuskan untuk ikut Yuni dkk menggunakan Transjakarta. Entah bagaimana jadinya kalau aku memutuskan untuk menunggu dan mereka ga jadi pergi.
Yuni sempat mengirim SMS kepada 2 orang dari mereka dan jawaban yang didapatkan pun berbeda-beda dan membuat aku tambah kesal. Orang pertama mengatakan bahwa dia ga mau pergi karena yang ikut cuma sedikit. Alasan yang ga masuk akal menurutku, dan aku ga tau apakah yang ikut mobil mereka itu terlalu sedikit atau orang yang ikut keseluruhan ke Dufan itu cuma sedikit. Tetapi tetap saja ITU GA MASUK AKAL.
Orang kedua mengatakan bahwa dia ga kenal banyak orang yang ikut. Alasan yang bagus, tapi ga cukup masuk akal juga. Setelah aku hitung-hitung, aku yakin dia mengenal lebih dari 8 orang kalau mereka tidak membatalkan kepergian mereka. Dan apa susahnya untuk kenalan kalau memang belum kenal? Damn it…
Tentu saja kekecewaan atas ketidakikutsertaan mereka masih membayangi sepanjang perjalanan. Bahkan aku sudah memutuskan tidak akan mengajak mereka lagi, bahkan untuk sekedar nonton bioskop. Kalau yang lainnya masih mau mengajak sih yah terserah saja.
Sampai di Halte Senen, kami transit untuk naik bus jurusan Ancol. Di sana bus Transjakarta-nya sangat jarang, dan menunggu di halte itu serasa menunggu bus untuk waktu seumur hidup saking lamanya dan jarangnya. Di halte itu terdapat 3 pintu untuk antrian, dan kami mengantri di bagian paling kanan karena kedua pintu lainnya memang tidak ada antrian satupun. Tiba-tiba saja ada orang yang menyerobot melalui pintu kiri dan kami pun merasa bahwa kami diserobot oleh mereka. Bahkan ketika sudah datang sebuah bus, tiba-tiba ada lagi yang menyerobot melalui pintu tengah yang masih kosong. Betapa kesalnya kami akan hal itu. Orang yang sudah bermenit-menit mengantri dan berpanas-panasan dalam antrian tiba-tiba diserobot oleh orang yang baru datang. Bahkan Tina sempat menegur mereka yang berada di seberang. Salut buat Tina.
Untung saja bus itu langsung menuju pintu kanan dan tidak mengambil penumpang di pintu kiri dan tengah di mana orang-orang yang menyerobot itu menunggu.
Saat itu kami sempat menerima telepon dari salah seorang teman kami yang sudah tiba di Dufan terlebih dahulu. Saat itu dia mengatakan bahwa Dufan sudah penuh dan mengantri buat masuk saja butuh waktu yang lama.
Setelah masuk ke dalam bus Transjakarta, kami pun bisa sedikit merasa lega walau di dalam juga harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Sampai di halte Ancol sekitar pukul 12.30, kami pun menunggu kedatangan Teddy yang rencananya datang langsung dari rumahnya di Bogor menggunakan kereta dan melanjutkan dengan Transjakarta. Ternyata dia hanya tertinggal 1 bus di belakang kami. Aneh juga mengingat kami ga bertemu dengan dia di halte Senen yang mengesalkan itu.
Saat itu kami pun mengantri untuk masuk dengan harga Rp 10.000 per orang. Itu hanya untuk masuk dari busway ke kawasan Ancol-nya. Setelah itu kamipun berjalan kaki sampai ke loket Dufan yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari halte Transjakarta atau sekitar 10 menit perjalanan. Sampai di sana, ternyata antrean sudah panjang dan akhirnya kami pun batal masuk ke Dufan yang saat itu sedang menaruh harga “discount” Rp 100.000,- Setelah berbicara dan berdiskusi sesaat, kami pun berangkat ke SeaWorld. Tidak tanggung-tanggung kami menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk berjalan kaki dari pintu masuk Dufan ke SeaWorld karena memang kami sempat berfoto-foto ria dan berjalan santai.
Sampai di SeaWorld, kami pun sempat ingin makan siang, akan tetapi dibatalkan karena sedang ramai. Kami akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam terlebih dahulu dengan tiket seharga Rp 50.000. Melihat berbagai jenis binatang laut sampai berfoto-foto di dalam SeaWorld. Yah paling ga kita bisa berfoto-foto dan untungnya aku saat itu memang sedang berniat membawa kamera digital-ku. Padahal beberapa hari sebelumnya aku sempat bilang ga mau membawanya.
Setelah keluar dari SeaWorld, kami pun makan siang (sore) dan untungnya sudah cukup sepi. Menunya adalah ayam goreng Popeye. Setelah makan siang itu, aku, Yuni, Tina dan Teddy ingin menikmati es krim dan menitip kepada Teddy untuk membelinya. Beberapa saat kemudian Teddy cuma membawa 2 cup es krim di mana setiap cupnya terdapat es krim sebanyak 2 scoop dan tiap cup hanya terdapat satu sendok. @_@ Akhirnya Teddy dan Tina memakan es krim itu secara berpasangan dan saling berebutan menggunakan sendok dan sedotan. Sedangkan aku dan Yuni makan es krim bagian kami bergantian.
Pake acara suap-suapan segala pula. @_@
Selesai dari makan siang, kami pun beranjak pulang dan sempat berbingung ria bagaimana caranya ke halte Transjakarta lagi. Setelah menunggu bus yang mengelilingi Ancol yang tidak muncul dalam waktu yang lama, akhirnya kami pun memutuskan untuk berjalan kaki (lagi) ke haltenya. Pukul 17.40 pun kita tiba di dekat haltenya, akan tetapi yang menggunakan Transjakarta hanya aku dan Tina. Sisanya menggunakan taksi untuk pulang ke daerah Binus. Sampai di halte Senen, aku dan Tina pun berpisah karena Tina harus melanjutkan perjalanan ke arah Pulogadung, sedangkan aku ke arah Kalideres. Antrian di halte Senen tidak terlalu panjang dan aku segera dapat masuk ke dalam bus Transjakarta-nya.
Di halte Harmoni, keadaan berbalik 180 derajat di mana halte itu penuh sesak. Setelah menunggu beberapa menit dan bus tak kunjung datang keadaan pun makin memanas. Apalagi terdapat beberapa bus jurusan Kalideres, akan tetapi sudah terisi penuh dari Pulogadung sehingga hanya sedikit penumpang yang bisa diangkut dari halte Harmoni. Saat itu aku benar-benar terjepit dan ga dapat bergerak sedikit pun karena bagian belakang terus mendorongku, layaknya pepes ikan. Saat ada bus yang datang, dorong-dorongan pun ga bisa dihindari sampai ada orang yang berteriak-teriak kesakitan. Mungkin karena sudah menunggu lama dan udara yang panas dan sesak membuat penumpang lain menjadi tidak sabaran dan ingin segera terbebas dari keadaan itu. Akhirnya setelah siksaan itu, aku berhasil masuk ke bus Transjakarta. Pukul 19.30 aku tiba di rumah, dan menurut kabar yang naik taksi tiba di tempat mereka pukul 20.30 karena macet.
Yah ini merupakan pengalaman yang lumayan mengesankan. Ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari perjalanan selama sehari ini. Terutama “jangan mengajak lagi orang yang udah membatalkan janjinya di saat-saat terakhir”.
Hehehe… Dufan, aku akan datang lagi di bulan Agustus nanti





