They call it politic, dude
Saya bukan orang yang terlalu suka dengan politik. Saya juga bukan orang yang mengerti banyak soal politik. Saya pun bukan seorang yang mendalami ilmu politik dan juga orang yang secara aktif berada di dalam lingkup politik. Tapi belakangan politik menjadi semakin menarik mengingat perkembangannya di dunia belakangan.
Ada paling tidak 3 hal yang menarik beberapa waktu belakangan. Pertama, pemilihan dan kampanye presiden Amerika Serikat (AS) antara Barack Obama dan John McCain. Kedua, persiapan Pemilu 2009 untuk Indonesia dengan jumlah partai yang saya sendiri ga ingat persis. Ketiga, perdebatan politik saya dan teman-teman saya melalui conference di YM.
Seperti yang saya sebutkan tadi, bahwa yang pertama adalah mengenai pemilihan presiden AS. Barack Obama merupakan kandidat dari kubu Partai Demokrat, sedangkan John McCain adalah capres dari kubu Partai Republik. Satu hal yang menarik perhatian, ternyata Obama yang merupakan keturunan kulit hitam pernah tinggal di Indonesia semasa kecilnya walau hanya untuk sesaat. Selama kampanye, dia mendapatkan banyak sambutan yang baik dari berbagai belahan dunia dan juga atas kampanye yang dianggap membawa perubahan yang besar. Sedangkan McCain sempat mendapat hambatan karena dianggap melanjutkan kebijakan-kebijakan Presiden George W Bush yang memerintah AS sekarang ini, padahal Bush sendiri sudah dianggap sebagai salah satu orang yang menyebabkan kehancuran ekonomi AS dan juga memperburuk citra AS dengan invasi ke Irak.
Proses pemilu di AS sendiri sangat menarik dengan kampanye-kampanye yang cukup mendidik dan memberi harapan positif untuk perubahan AS sendiri dan mungkin juga dunia. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Entah kenapa saya justru ga begitu tertarik dengan perpolitikan Indonesia. Sepertinya politik Indonesia hanya jalan di tempat, atau mungkin hanya berputar-putar di sekitar itu saja. Politikus seakan-akan hanya mencari kursi untuk berkuasa, kemudian melakukan korupsi dan menelantarkan rakyat. Saya sendiri sudah ga hafal jumlah partai politik yang ikut dalam Pemilu 2009 nanti. Terakhir kali saya dengar, jumlahnya adalah sekitar 40 partai. Ya, 40 partai! Dan apakah dari 40 partai lebih itu ada yang memberi harapan yang positif dan harapan akan perubahan bangsa ini menjadi lebih maju? Saya belum melihat itu.
Yah, mungkin saja hanya “belum” dan semoga saja ke depannya harapan itu akan tumbuh dan bersinar untuk membangkitkan negeri ini, seperti harapan yang diajukan oleh Obama dan juga McCain melalui kampanyenya yang bersemangat dan berapi-api yang bisa membangkitkan rasa optimis terhadap pendukung dan bangsa mereka.
Masih berhubungan dengan banyaknya partai di negeri ini yang menjadi peserta Pemilu 2009, saya rasa banyaknya partai ga memberi banyak harapan bagi rakyat Indonesia. Malah justru bikin bingung karena sepanjang jalan protokol, taman-taman, baliho, pagar dipasang berbagai atribut parpol seperti bendera yang justru memperlihatkan ketidakteraturannya kampanye yang hanya mementingkan atribut semata, bukan makna dari kampanye itu. Malah ada lagi yang sampai mengadakan konser dangdut ke daerah-daerah untuk menarik simpatisan partai politik dan menarik calon pemilih. Lucu kalau memikirkan dan melihat hal itu, dan juga menjadi ironi yang pantas untuk ditertawakan. Kalau dipikir-pikir, daripada menghamburkan uang untuk acara kesenangan sesaat dan juga atribut yang toh nanti akan dilepas setelah masa kampanye usai, lebih baik mengadakan sosialisasi dan pendidikan politik ke masyarakat dan juga mengalihkan uang dari “kegembiraan” itu untuk kegiatan sosial dan amal sehingga masyarakat pun tahu partai mana yang benar-benar berkomitmen akan memperbaiki nasib rakyat yang memerlukan pemerintahan yang lebih baik dari saat ini.
Yang ketiga, ini bukan politik yang berat sampai seperti yang di atas itu. Ini lebih ke politik praktis dan mungkin politik dalam pergaulan. Mempengaruhi dan dipengaruhi. Mengajak dan diajak. Menghasut dan dihasut. Menasehati dan dinasehati. Mendebatkan dan didebatkan. Yah, itulah yang terjadi beberapa hari ini melalui sebuah ruangan maya yang bernama Conference YM. Dan bukan hal yang aneh lagi kalau yang paling banyak menjadi topik itu adalah seputar PLN yang berkomitmen untuk menyetrum seluruh rumah tangga, eh, maksudnya mengaliri listrik ke seluruh rumah di Indonesia. Yay, kapan Pak?
Beberapa hari belakangan aja pasti selalu ada yang mati listrik, kemudian saya sendiri mengelami masalah listrik yang naik turun ga karuan beberapa hari ini. Kalau sebagian besar orang akan berpikir bahwa mati listrik itu cuma untuk waktu sebentar, ternyata SALAH! Mati listrik di sini hanya berlangsung dalam beberapa menit, bahkan beberapa detik sampai hanya 1 sampai 5 detik saja. Bukan ga mungkin kalau barang elektronik rusak, thanks to PLN dan komitmennya yang aneh dan terlalu berambisi. Dan udah hal yang lumrah dalam conference itu tiba-tiba saja ada yang diam kemudian join lagi sambil mengumpat-umpat kepada PLN dan juga sampai yang paling parah yaitu mengutuk direktur PLN (serba salah juga si jadi si direktur PLN ini)
Ah, mungkin perlu seorang pemimpin negara ini yang mengerti tentang tata cara setrum-menyetrum, mengatur sistem listrik di negeri ini dan bagaimana membawa bangsa dan negara ini menuju arah yang lebih baik sehingga tidak kehilangan arah seperti saat ini.
Tapi kapan yah ada pemimpin negara ini yang bisa membakar semangat rakyatnya seperti halnya Obama dan McCain? Mungkin sudah ada dan kita belum sadar, mungkin belum ada dan kita masih harus mencari, mungkin juga sudah ada tetapi beliau belum ingin menunjukkannya.
They call it politic, dude.






September 9th, 2008 at 02:15
PLN =
