Cerita mengenai “hoki”
Kata temanku, “hoki mah nomor satu, kemampuan baru di nomor dua” mungkin bukan sesuatu yang salah secara mutlak. Paling ga itulah yang sempat aku pikirkan sejak beberapa waktu yang lalu. Memang bukan sekali dua kali temanku itu bilang seperti itu, tapi udah berkali-kali, dan memang udah berkali-kali juga aku mengalami peristiwa yang membuatku mengatakan “memang bener yah hoki bener-bener nomor satu”.
Aku sering membaca koran Kompas, dan dari koran itu yang cukup menarik perhatianku adalah bagian Redaksi Yth di mana para pelanggan Kompas atau siapapun dapat mengirim suatu surat pengaduan atau menceritakan permasalahan akan suatu produk atau jasa yang tidak berjalan dengan baik. Berbagai macam hal diceritakan di bagian itu, mulai dari kartu kredit, handphone yang cepat rusak, jasa pengiriman barang yang merusak barang, kehilangan koper di bandara, internet sering putus, sampai kepada kesemerawutan dan kesewenang-wenangan polisi di jalanan.
Yang menarik adalah bahwa tidak jarang produk yang mengalami kerusakan atau jasa yang didapatkan tidak benar, tetapi di sisi lain aku juga menggunakan jasa atau produk yang sama dengan si pengadu tersebut. Ambillah contoh, internet Speedy atau operator telekomunikasi Indosat Mentari atau juga handphone Sony Ericsson. Sebagian besar menuliskan kekecewaan kepada penyedia layanan atau produk bahkan mengajak orang lain untuk tidak menggunakan produk atau jasa itu lagi. Dan bukan cuma di Kompas saja, bahkan terkadang melalui milis, email berantai, blog atau website “hasutan” atau ajakan untuk meninggalkan suatu produk atau jasa sering dituliskan.
Yah mau ga mau keluarlah pikiran itu, bahwa aku cukup hoki karena ga ada masalah berarti dengan produk yang saya beli atau saya gunakan sampai saat ini sampai harus mencaci-maki pihak produsen itu. Paling tidak, sekarang masih ada satu pihak yang masih sering membuatku mencaci-maki yaitu PLN.
Oke, kita tinggalkan masalah itu.
Masih bercerita seputar hoki, aku juga sering merasakan bahwa saya orang yang cukup hoki karena banyak hal bisa saya lewati tanpa keyakinan bahwa aku bisa melewati itu. Salah satunya adalah ujian semester. Tidak jarang ketika aku mengerjakan suatu ujian dan akhirnya selesai, aku mengetahui bahwa hasil kerjaku salah. Saat itu juga aku sudah berpikiran bahwa kemungkinan mendapat nilai yang baik itu sangat kecil. Tapi apa yang terjadi ketika nilai diumumkan? Nilai yang aku dapatkan tidak baik juga.
Memang terpikir kalau memang tidak bisa maka hasil yang diperoleh pun tidak baik. Walau begitu, sering juga aku mengelami keberuntungan: mengerjakan dengan buruk, tapi memperoleh nilai baik. Ah, terlintas lagi “betapa beruntungnya aku”.
Sebuah cerita lagi mengenai hoki, dan kali ini berhubungan dengan hidupku. Aku merasa sangat hoki alias beruntung karena aku menjalani hidup sebagai diriku saat ini. Sejak kecil aku dikenal sebagai anak yang penakut, pendiam dan juga cengeng (yah, merujuk pada salah satu comment di entry blogku dari seorang yang ga dikenal dan ga tahu etika). Tapi sejak aku mulai memasuki kehidupan sebagai remaja, aku mulai berani mengekspresikan diri dan berkata “aku mau berubah!”. Yah, paling tidak itu mulai terjadi ketika aku mulai memasuki masa sebagai seorang siswa SMA.
Kemudian hal ini terus berlanjut ketika aku menginjak bangku perkuliahan di mana aku juga pernah dibuat bingung akan suatu pilihan yang kelak menjadikan diriku sebagai diriku saat ini. Aku pernah ditawarkan untuk mengerjakan suatu website, dan ketika diberitahukan nilai proyek dan lama waktu pengerjaan itu, di pikiranku pun sempat terbersit “waduh, ini kan baru pertama kali aku dapat proyek yang dikerjain sendiri, bisa ga yah kalau dikerjain secepat itu?”. Dan akhirnya aku pun menerima pekerjaan itu, dan akhirnya proyek itu sudah selesai, bahkan sekarang ini sudah memasuki proyek ketiga yang juga hampir selesai total.
Dan terpikir lagi kalimat itu “aku hoki bener yah waktu itu bilang mau nerima proyek padahal baru pertama kalinya ngerjain proyek sendiri dengan resiko yang belum pernah aku alami”.
Berkali-kali hidup dalam keberuntungan, bukan berarti aku tidak pernah mendapatkan kesialan. Lagipula aku ga mau terlalu mengharapkan keberuntungan itu, bahkan sampai mencari-cari keberuntungan itu. Biar saja keberuntungan itu datang dan pergi seperti angin yang berlalu, atau mungkin seperti topan Gustav yang beberapa pekan yang lalu melanda kawasan Amerika Serikat.
Mengandalkan keberuntungan di atas kemampuan diri sama saja dengan bertaruh menggunakan hidup kita, dan ketika kita kalah dalam taruhan itu, maka kita akan kehilangan semua. Sama saja dengan maju ke medan perang hanya bermodalkan bambu runcing sendirian, di sisi lain berjejer kendaraan lapis baja dengan senjata yang siap memberondong setiap musuh dari jarak kilometer. Ups, ini bukan film di mana keberuntungan tinggal diatur menjadi sebuah skenario (jadi inget film Stephen Chow yang udah rada tua).
Intinya? Walau aku sempat percaya bahwa “hoki nomor satu”, tetapi aku tetap berprinsip bahwa kemampuan dan keuletan yang menjadi nomor satu.
Orang yang kaya itu sendiri ada 3 jenis: karena berusaha, karena warisan, dan kerena menang lotere dalam jumlah yang besar. Artinya hampir tiap orang bisa menjadi kaya kalau dia beruntung. Tetapi orang yang sukses hanya satu: karena berusaha.
Err, kok rasanya jadi kaya motivator yah sekarang? @_@ Yah begitulah pendapatku dan sedikit cerita dengan sesuatu yang bernama “hoki”.






September 27th, 2008 at 12:48
hehe… bagi gw tetep: 1% usaha, 99% hoki
hehe…
September 27th, 2008 at 22:12
Wah, gue seh setuju ama u! Usaha itu no satu! Hoki = restu Tuhan atas usaha kita. hahaha…