Cengeng? Siapa?
Setelah sekian lama melihat keadaan dunia yang kacau balau karena banyak hal, akhirnya aku memutuskan untuk menulis entry ini juga. Daripada dipendam buat diri sendiri, mending diomongin di sini saja.
Sebenarnya berawal dari beberapa comment yang masuk ke blog ini, dan comment itu cukup membuat kesal dan menyebalkan. Bagi kebanyakan orang atau author blog, aku rasa comment ini kemungkinan besar akan didelete atau paling parah dianggap spam. Tapi bagiku, comment seperti ini memang harus dibalas untuk melihat seberapa buruk orang yang mengatakan mengenai keburukan kepada artikel yang aku tulis.
Bukan cuma karena comment “bodoh” yang masuk ke blog ini saja yang memotivasiku untuk menulis ini, tetapi melihat kenyataan banyaknya orang yang komplain sana-sini padahal pada kenyataannya tidak perlu ada komplain sama sekali kalau orang-orang itu mau mencoba sesuatu yang baru. Mulai dari perubahan layout Facebook sampai kepada perubahan layout profile Yahoo! yang membuat banyak orang berkoar-koar ga karuan. Menuntut ini itu tanpa memandang sesuatu yang positif atas perubahan itu, selalu melihat yang negatif dan menganggap hal yang lama selalu lebih baik dan perubahan merupakan sesuatu yang buruk. Kalau takut berubah, silahkan aja tinggal di goa-goa batu yang ga ada listrik dan komputer!
Entah kenapa aku merasa orang-orang jaman sekarang sudah hampir ga bisa membedakan hak dan kewajiban lagi. Banyak yang mengatakan “ini hak gue donk kalau mau nerima ato ga” atau “hak gue donk kalau mau kerja atau ga”, dan dari sana selalu muncul keluhan-keluhan mengenai hak-hak-hak dan hak, tanpa menyebutkan kewajibannya. Kayanya musti digembleng pake pelajaran PPKN lagi kaya dulu masih SD mengenai hak dan kewajiban. Atau kalau perlu dengan bab yang mempelajari “tanggung jawab” juga.
Contoh yang paling sederhana dari hal di atas adalah comment-comment yang main hakim sendiri atas artikel yang tertulis di internet. Yah, aku tau kok kalau internet itu dunia yang terbuka, bisa memakai username apapun untuk menulis comment, atau malah bisa memalsukan alamat email, kemudian dari sana main comment sana sini, menggunakan SARA dan mengungkapkan bahwa komentator itu seorang yang “pintar” dan superpower, sedangkan yang lainnya hanya makhluk tingkat rendah di bawah spesies komentator itu. Ketika dibilang “jangan memberi komentar sembarangan dong”, maka akan dijawab “itu hak gue buat memberi komentar, dan itulah gunanya kotak isian komentar”.
Ada lagi komentar yang sebenarnya mendukung orang lain “kamu punya hak kok untuk menolak hal ini atau hal itu” atau “kamu punya hak untuk ga melakukan ini itu”. Kadang diterjemahkan dengan bahasa Inggreis sebagai “you have right to reject this or that”. Terlalu mudah mengatakan hak dan right tanpa mengatakan kewajiban. Memang mudah bagi orang buat menolak dan tidak melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan. Oke lah, mereka punya hak untuk itu. Seorang pelajar punya hak untuk ga sekolah kalau dia ga suka belajar ‘kan? Seorang karyawan punya hak untuk ga mengerjakan pekerjaannya ‘kan kalau dia ga suka pekerjaannya? Seseorang punya hak ‘kan buat melanggar lampu lalu lintas kalau dia ga suka nunggu giliran buat maju? Yah, silahkan saja lakukan itu kalau dipikir segalanya mudah, termasuk mudah untuk membiayai sekolah, mudah untuk mencari pekerjaan, atau mudah untuk kabur dari kejaran polisi atau menyogok mereka.
Kenyataannya? Mereka yang berkoar-koar untuk tidak menggunakan ini itu, atau tidak melakukan ini itu malah tetap setia melakukan hal ini itu yang “menyebalkan” baginya. Lihat saja pengguna Facebook dan Yahoo! yang sering berkata akan pindah ke layanan lain karena adanya perubahan, tapi yang mereka lakukan adalah tetap menggunakan kedua layanan itu, atau mungkin pergi untuk sementara dan kembali lagi dengan layanan itu. Hey, cinta bekerja di sini! Maksudku cinta atas kebiasaan menggunakan suatu layanan itu. Begitu juga dengan mereka yang berkoar-koar tidak ingin bekerja, tidak ingin belajar, tidak ingin ini, tidak ingin itu, toh mereka tetap melakukannya.
Yah, baguslah buat diri mereka sendiri kalau mereka menyadari terdapat kewajiban yang mau ga mau dilakukan terlebih dahulu sebelum hak itu bisa dipakai dengan sepuas hati mereka.
Hal di atas sih ga begitu menyebalkan karena hal itu dikatakan oleh mereka sendiri, dan kemudian mereka menelan kembali ludah mereka sendiri. Tapi bagaimana bila hal itu mereka katakan kepada orang lain dengan nada yang “ngajak ribut” seolah-olah mereka adalah orang bijak yang mengerti akan hak dan hidup orang lain? Ambillah Anda contoh ketika Anda mengatakan, “aku ga terlalu suka dengan manajer di kantorku”, sesaat kemudian seseorang menyambar perkataan Anda, “kalau gitu cari aja manajer atau kerjaan di kantor lain,” dan yang lebih parah disambung lagi, “dasar cengeng”.
Mungkin maksudnya memberi motivasi supaya orang itu tetap berusaha, tapi ujung-ujungnya orang itu malah down dan depresi karena omongan yang “kurang di-filter” itu. Seolah-olah komentator itu mengajak orang selalu lari dari masalah yang harus dihadapi.
Silahkan mengatakan orang lain cengeng kalau yang bilang begitu tidak pernah mengeluh. Tapi kalau memang juga sering mengeluh dan meminta ini itu tanpa berpikir panjang (termasuk juga memberi komentar tanpa pikir panjang), kenyataannya adalah komentator itu ga kalah cengengnya atau bahkan lebih cengeng daripada yang dikomentari. Ambillah pepatah “semut di seberang lautan terlihat, tetapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan” yang cocok untuk orang-orang itu.
Terdapat pengecualian bila komentar di atas diungkapkan untuk candaan, dan yang menerima juga merasa bahwa itu cuma bercanda. Silahkan saja lakukan itu kalau memang tidak ada yang mengaggap serius apa yang dibilang. Paling ga toh ga ada yang sakit hati denger itu berulang-ulang sekalipun.
Hhhh… Mungkin budaya instan yang menyebabkan orang-orang berpikir terlalu cepat sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata dari mulutnya atau menulis melalui tangannya atau memutuskan sesuatu untuk dijalankan. Entah kenapa rasanya di dunia yang teknologinya semakin maju ini, cara pikir dari orang-orangnya malah kebanyakan semakin mundur. Mungkin karena penduduk dunia semakin banyak kali yah, sampai akhirnya kemunduran cara pikir makin kelihatan juga.
Ah, anggaplah semua komentar-komentar mengenai hak-hak dan juga cengeng-cengengan itu hanya angin lalu, atau sesuatu yang enak buat diperdebatkan untuk melihat seberapa cengeng si komentator itu. Daripada dianggap sebagai bahan buat bikin down dan depresi. Ya kan?
Thinking positive over negative thing is better, but thinking the worst part that can be happened over the good part is the best thing to do before deciding anything.





October 21st, 2008 at 01:55 •
ampun bang ^:)^ lagi ngamuk nih?
hehe…
hehe…
hak penulis comment buat ngetik comment apa aj
peace yo!
tapi gw agak bingung arah blog entry ini :-? ah biar lah, namanya juga blog, hak penulisnya buat nulis apa aj
btw,
“aku ga terlalu suka dengan manajer di kantorku”, sesaat kemudian seseorang menyambar perkataan Anda, “kalau gitu cari aja manajer atau kerjaan di kantor lain,”
itu bikin gw inget kasus william, author buku yang tentang guru, gw lupa judul bukunya, pesan dari murid untuk guru klo ga sala :-?
waktu itu seinget gw banyak (ato klo ga banyak, ada) yang comment, “klo ga suka, pindah sekolah aj”, gw c bukannya belain tuh author :-? lagian gw ga baca bukunya juga… … …apa ya, jadi lupa mau ketik apa :-? ah biar lah, biarkan arah comment ini ga jelas ke mana
October 21st, 2008 at 02:00 •
Arah blog nya lurus-lurus aja koq.
Arah entry yang ini sih ada 2: 1) supaya orang sadar kalau mau komentar soal kejelekan orang lain (apalagi secara publik atau dari internet) itu mikir dulu. Jangan mentang-mentang bisa komentar seenaknya trus bisa ngatain orang apa aja. 2) kesal karena banyak orang yang terlalu banyak nuntut hak dan hak melulu, tapi jarang atau ga pernah ngomongin kewajiban.
Itu aja sih.
October 22nd, 2008 at 17:48 •
Setiap orang kan beda2. Ada yang emang gak berpikir dulu sebelum bertindak, ada yang bertindak tanpa memikirkan akibatnya, ada yang berpikir panjang sebelum bertindak, dan sebagainya. Jadi kalo menurut gw sih wajar2 aja kalo ada orang yang suka berkomentar aneh, menyebalkan, ato apa aja lah. Emang itu semua hak mereka kok untuk berkomentar, dan kejadian seperti yang lu ceritain juga menurut gw wajar2 aja. Orang berbuat baik saja kadang2 dianggap cari muka, ato cari perhatian, ato pengen di puji, walaupun sebenernya niatnya bener2 tulus. Jadi menurut gw sih, wajar aja lah kalo ada orang2 yang demikian di dunia ini, dan biasa gw menganggap mereka ‘belum dewasa’. Misalkan FaceBook nggak merubah tampilannya pun, pasti ada yang berkomentar negatif, yang ngomong FaceBook membosankan, ato FaceBook gak menarik, ato apa aja lah. Jadi menurut gw, kalo gak mau dikomentari negatif, ya jangan bertindak sesuatu yang bisa dikomentari negatif sama orang laen
Walaupun tindakan itu sangat susah untuk dicari, tapi itu kenyataannya. Orang manapun harus siap untuk dikomentari, baik negatif maupun positif, bila orang tersebut melakukan sesuatu yang terutama ada hubungannya dengan masyarakat luas. Ini pendapat gw doang sih XD
October 22nd, 2008 at 17:59 •
Oke gue setuju koq kalau orang itu punya hak untuk komentar apa aja baik itu negatif (yang menjatuhkan) atau positif (yang membangun). Dan yang pasti tiap orang yang dikomentari juga punya hak untuk menerima komentar itu atau menolak komentar itu.
Kalau itu tadi masalah hak. Seperti yang gue bilang di atas, ada hak maka seharusnya ada kewajiban, salah satunya yang mungkin sering dilewatin orang-orang adalah berpikir dengan baik apakah itu bakal nyakitin hati orang lain atau ga. Lalu berpikir apa konsekuensi atas apa yang dia katakan kepada seseorang. Dan itu kembali ke diri masing-masing, apakah memang dia “mampu” melakukan kewajiban itu.
Kewajaran itu relatif dari sudut pandang tiap orang. Bagi A, komentar dari Y ke Z itu komentar yang biasa saja dan cenderung membangun, tapi belum tentu bagi B juga begitu. Dan belum tentu bagi Z komentar itu membangun. Dan parahnya, siapa tau bagi Y sebenernya komentar itu cuma buat mengejek dan bikin si Z down. Complicated, eh? It’s the world.
Cuma satu hal aja yang gue tekankan di sini, “tanggung jawab” dan “konsekuensi”. Apa yang sudah dikatakan biasanya sangat sulit untuk ditarik kembali. Apa yang sudah diambil terkadang bisa sangat sulit untuk dikembalikan lagi. Apa yang sudah rusak terkadang sangat sulit untuk dibetulkan kembali. Ya kan? Di toko aja ada tulisan “pecah berarti membeli”, bukan “pecah rakit kembali” kan.
Dan satu lagi, tulisan di atas itu cuma pendapat dari seorang diri gue aja.
Jadi perbedaan pendapat yah mungkin aja terjadi.
Silahkan aja kalau mau berpendapat. Hehehe…
October 25th, 2008 at 16:06 •
Iya, gw gak ada masalah kok dengan thread yang lu buat, semua orang bebas berpendapat, gw juga cuma lagi iseng2 ngebrowsing kok
Emang masalah utamanya adalah gak semua orang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Mau diapain juga, ini dunia pasti ada aja orang2 yang begitu. Makanya gw bilang wajar2 aja kalo ada orang yang demikian. Gw gak ngomong kalo berkomentar negatif itu wajar loh, yang gw maksud itu, wajar aja kalo ada orang yang gak bisa bedain mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah :P. Permasalahan selanjutnya adalah persepsi seseorang mengenai yang baik dan benar blom tentu sama dengan persepsi orang lain. Jadi gak mungkin kalo kita mau tinggal di dunia yang semuanya mau sesuai dengan keinginan kita
October 25th, 2008 at 18:57 •
Ah iya, kemaren gue sempat baca soal artikel mengenai RUU Pornografi yang sekarang jadi perdebatan panas. Gue ga inget lagi di mana tepatnya linknya dan comment-nya juga banyak jadi males nyari lagi di antara ratusan comment yang ada @-) Dan di situ ada yang tulis kurang lebih begini:
Ga tau sih maksudnya main-main atau apa. Tapi bagi gue sih orang kaya gini yang bikin rusak moral karena “ke-kreatifan” pikirannya itu. Tentunya dengan username yang aneh juga dan pastinya emailnya juga ngasal. Ini tipe orang dan komentar yang ga gue suka.
Cuma sekedar nyeritain pengalaman aja sih buat mempertegas komentar yang bener-bener ga gue suka dan ga bisa dipertanggungjawabkan.