Archive for November 23rd, 2008

Words about misery and life

Kemarin, aku mendapatkan sebuah kabar bahwa seorang temanku, Jonly telah meninggal dunia. Walau aku sempat mengenalnya hanya waktu di bangku SMA kelas 1 dan ga begitu dekat, berita ini cukup mengagetkan juga karena meninggalnya secara mendadak. Mendengar cerita dari sana sini banyak yang bilang beberapa hari sebelumnya ia masih sempat kuliah tanpa ada masalah apapun alias keadaannya normal saja, akan tetapi tiba-tiba saja sudah ada berita seperti ini. Penyebabnya juga masih belum diketahui secara jelas sampai sekarang.

Belakangan ini aku menjadi sering mendengar berita-berita serupa dari orang-orang. Yap, mengenai kematian secara mendadak. Tanpa berpikir panjang, tiba-tiba saja kematian bisa menghampiri dan tanpa belas ampun langsung mencabut nyawa kita dengan berbagai macam cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Apakah karena penyakit, apakah karena kecelakaan, apakah karena bencana alam, semua bisa saja terjadi. Dan tentu saja, kematian seperti ini membuat orang-orang dekat di sekitarnya menjadi shock berat dan sulit menerima itu. Bayangkan saja, belum sempat mengatakan selamat tinggal, tiba-tiba saja semua sudah berlalu.

Selain mengenai temanku, aku masih ingat cerita mengenai seseorang yang diceritakan oleh pacarku. Seorang teman dekat dari adiknya, yang tiba-tiba saja harus berpisah dengan cara yang tragis, membuat orang tuanya shock akan hal ini, dan membuatku berpikir bahwa sebenarnya apa tujuan dari kita dilahirkan di dunia ini. Dan waktu itu sempat juga ditunjukkan profile Friendster-nya, dan ketika melihat fotonya, aku sempat kaget juga karena di sana dia terlihat sangat ceria. Ironisnya, saat profile itu ditunjukkan anak itu sedang berulang tahun (atau mungkin sudah lewat beberapa hari), dan di sana banyak teman-temannya yang masih mengirimkan ucapan selamat.

Yah, paling tidak ia tahu masih ada yang mengingatnya walau ia sendiri sudah tiada di dunia ini.

Sebenarnya apa tujuan kita hidup di dunia ini? Apakah kita hidup hanya untuk mempersiapkan kematian kita yang bisa kapan saja terjadi? Apakah kita hidup untuk membuat orang lain sedih karena kematian kita, apalagi bila terjadi secara mendadak? Kemudian pikiran pun beralih, apakah kita bisa memutuskan rantai yang selalu berulang ini: sedih karena orang lain, dan kemudian membuat orang lain sedih?

I still don’t have the answer, at least for now. Dan mungkin masih belum akan mendapat jawabannya sampai nanti aku akhirnya harus berada dalam rantai itu.