Hidup dalam Virtual Reality
Entah kenapa aku sekarang merasa bahwa aku terlalu banyak hidup dalam duniaku sendiri. Serasa hidup dalam dunia Virtual Reality (VR) atau seperti hidup dalam dunia the Matrix. Semua yang aku rasa seperti nyata dan real, tapi sebenarnya semua hanyalah stimulasi yang dikirim oleh dunia VR ke dalam otak seakan-akan aku melihat apa yang tampaknya aku lihat, mendengar apa yang tampaknya aku dengar, dan merasakan apa yang tampaknya seperti aku rasakan.
Mungkin benar kata pacarku bahwa aku terlalu banyak hidup dalam duniaku sendiri. Sejak kecil aku memang sering berimajinasi atas apa yang sudah pernah aku lihat dan aku dengar. Kemampuan abstraksi dan imajinasi di dalam otakku bisa dikatakan cukup tinggi, tapi kadang inilah yang membuat aku terlalu banyak berpikir atas sesuatu yang seharusnya mungkin ga perlu kupikirkan. Aku bahkan bisa mengganggap sesuatu yang tidak benar-benar terjadi justru terjadi, misalkan saja seseorang yang tampak diam kepadaku, aku bisa seakan-akan merasa bahwa orang tersebut marah padaku, padahal hal itu belum tentu benar, dan kenyataannya memang kebanyakan hal itu adalah salah.
Mungkin itulah yang menyebabkan dalam test kepribadian di internet, aku selalu menunjukkan nilai interpersonal yang rendah dibanding dengan orang lain. Aku terlalu banyak curiga, terlalu waspada dan pikiranku terlalu sensitif untuk menanggapi apa yang terjadi di sekitarku. Yah, entah salah siapa, tapi yang jelas aku merasa ini merupakan warisan genetik yang kemudian terus aku asah sampai bisa menjadi seperti ini. Apakah ini sesuatu yang buruk? Atau sesuatu yang baik?
Aku bahkan terkadang ga tahu harus berpikiran positif atau negatif. Banyak orang berkata “think positive aja lah”, tapi setiap kali aku mencoba hal ini, aku merasa bahwa aku terlalu cuek akan duniaku. Katakanlah ketika aku bersalah kepada temanku, dan aku think positive bahwa temanku hanya marah untuk sementara dan toh sebentar lagi akan hilang, aku merasa bahwa aku ini orang yang tidak tahu diri karena aku cuek dan alhasil, bisa saja temanku itu bertambah marah atas sikapku yang cuek bebek seakan-akan menganggapnya ga marah. Di sisi lain, kalau aku think negative, berkata seakan-akan temanku itu marah besar padaku, lalu aku berusaha memikirkan solusi terbaik dan menebusnya, maka yang aku dapatkan adalah pernyataan dari orang lain bahwa aku ini terlalu berlebihan. Dan ketika aku tidak berpikir untuk positif ataupun untuk negatif, maka konsekuensinya pasti sama dengan ketika aku berpikir positif, yaitu dianggap terlalu cuek. Jadi harus bagaimana?
Kalau aku hidup dalam dunia VR seperti ini terus, entah sampai kapan aku bisa bertahan. Itulah sebabnya aku memiliki tujuan hidup yaitu mencari arti hidup ini di dunia. Masih cukup banyak waktu sampai aku menemukannya. Masih cukup banyak waktu sampai usahaku untuk terlepas dari dunia VR ini berhasil dan terwujud. Yah, kalaupun aku hidup dalam dunia the Matrix, aku ingin hidupku terbebas dari sana seperti Neo, tahu kapan aku harus berada di dunia VR dan kapan aku harus berada di dunia nyata, dan alhasil berakhir sebagai manusia seutuhnya yang melakukan perubahan besar di dunia ini.






Latest Comments