Firefox 3.5 Review

Setelah sekian lama Firefox 3.0 dirilis, akhirnya update terbaru untuk browser yang naik daun ini kembali diluncurkan kemarin, tepatnya tanggal 30 Juni 2009. Dan seperti biasa, aku sudah mencobanya selama 1 hari untuk aktivitas normalku, seperti browsing, Facebook, dan web developing, dan di sinilah aku akan menceritakan mengenai browser terbaru besutan Mozilla ini.

Dari sisi interface atau tampilan tidak banyak berubah dibandingkan dengan Firefox 3.0. Semua tampilan seperti susunan tombol, icon standard serta layout menu tidak terjadi perubahan dan Anda tidak akan tahu apakah sedang memakai Firefox 3.0 atau sudah mengupdate ke Firefox 3.5 kalau hanya melihat dari interface.

Satu hal yang baru dari Firefox 3.5 ini adalah fitur private browsing yang sudah muncul terlebih dahulu di browser Google Chrome di mana para Firefox tidak akan meninggalkan jejak history atau apapun bila menggunakan fitur private browsing ini. Semua history, cookie dan data pribadi lainnya akan otomatis dihapus oleh Firefox bila menutup fitur ini. Bagi yang masih bingung ingin menggunakan “fitur porno” ini, bisa mengaksesnya melalui Tools > Start Private Browsing.

Sayangnya, ketika menggunakan fitur ini, secara otomatis jendela Firefox yang sebelumnya harus menghilang terlebih dahulu, dan baru akan muncul kembali ketika Private Browsing ini diakhiri melalui menu Tools juga. Walaupun tab-tab yang digunakan ketika sedang dalam mode normal disimpan juga, akan tetapi keadaan ini cukup merepotkan. Hal ini cukup kontras dengan Chrome di mana fitur ini dibuka dalam jendela tersendiri. Mungkin ini memang efek dari penggunaan manajemen memory yang berbeda antara Chrome dan Firefox. Akan lebih baik kalau di versi berikutnya Mozilla mengembangkan fitur management memory yang mirip dengan Chrome atau IE 8 terbaru sehingga banyak hal yang bisa dilakukan dengan sistem ini, ditambah lagi tidak perlu repot-repot mengulang semua browser ketika ada satu tab yang crash.

Untuk sisi performa bisa dibilang ada kenaikan performa walaupun tidak terlalu banyak. Proses downloading konten lebih cepat dan responsif, akan tetapi untuk pemrosesan Javascript masih kurang berkembang dibanding 3.0 terutama dalam hal animasi atau efek transisi (mungkin juga karena pengaruh addons yang aku install cukup banyak di Firefox ku). Mozilla tampaknya harus mempertimbangkan sistem yang sama seperti Chrome dan IE 8 untuk mengembangkan engine Javascript yang mensupport pre-compiled code sehingga kode Javascript bisa dieksekusi lebih cepat dan responsif. Untuk urusan memory, memang sedikit lebih hemat dibanding dengan 3.0.

Transisi dari Firefox 3.0 ke 3.5 pun cukup mulus. Cukup melalui menu Help > Check for Update, maka secara otomatis Firefox akan mendownload versi 3.5 dan kemudian mengupdate nya setelah pengguna me-restart browser-nya. Selain itu, kebanyakan addons, khususnya yang populer sudah terupdate dengan baik untuk Firefox 3.5 ini. Mungkin juga karena banyaknya versi Beta dan Release Candidate sehingga developer addons bisa memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan penyesuaian dengan Firefox 3.5 ini dan tampaknya juga karena ga terlalu banyak yang berubah dari 3.5. Sebagai contoh kasus, aku menginstall 26 addons di Firefox 3.0-ku dan hanya 5 addons yang harus diupdate ketika menginstall 3.5. Itupun hanya 3 addons yang belum memiliki update yang compatible dengan 3.5.

Yang menarik adalah Firefox 3.5 sudah mencapai titik yang cukup baik dalam hal standarisasi pengelolaan Javascript dan DOM yang dapat dilihat melalui test Acid3. Firefox 3.5 mencetak angka 92 dari 100 test yang harus dilewati yang berarti sudah cukup baik dibanding dengan Firefox 3.0. Hal lain yang cukup membantu bagi para developer adalah penerapan CSS Level 3 yang berupa downloadable fonts di mana browser akan mendownload font secara otomatis sesuai dengan rule CSS sehingga bisa dirender dalam halaman web. Seperti yang kita ketahui, saat ini ketika sebuah font tidak tersedia di komputer yang digunakan, secara otomatis browser akan melakukan fall-back ke font di bawah rule CSS yang dipakai, dan akan melakukan fall-back ke font standard seperti Times New Roman atau Serif bila tidak terdapat semua font yang didaftarkan di rule CSS.

Satu lagi yang menarik adalah support terhadap tag <video>. Artinya Firefox 3.5 sudah bisa mem-playback file video secara langsung tanpa menggunakan player tambahan dan tag-tag yang tidak standar seperti <embed>. Sejauh ini, aku baru mencoba untuk video-video yang menggunakan codec OOG Vorbis dan Theora, dan dari berita-berita yang aku dapatkan di internet memang hanya format video OOG ini yang disupport oleh Firefox 3.5.

Update terbaru ini tidak bisa dibilang sebagai update yang “wah” seperti ketika 3.0 diluncurkan dan memecahkan rekor dunia ditambah dengan antusiasme netter dalam mendownload Firefox 3.0 saat itu. Malah aku cenderung lebih baik menganggapnya sebagai Firefox 3.1 dibanding harus meloncat setengah major version ke 3.5 dengan fitur tambahan yang tidak terlalu tampak. Tapi tetap saja, Firefox is the best untuk aku. :)

Keep up the good works Mozilla. :D Segera buat inovasi terbaru yang bisa membuat browser kompetitor lainnya tercengang-cengang. Aku menunggu 3.6 dan 4.0 keluar. :)

This entry was last modified on: July 1st, 2009 at 19:42

18 Responses to “Firefox 3.5 Review”

  1. #38255 BethJuninger
    March 2nd, 2010 at 18:23

    smuax dah bsa.,…..,..donlotx ini loh……..ribet kale!!

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: