Dua Hari di Semarang
Seperti biasa, sudah lama ga nulis blog. Entah kenapa belakangan ini blog ini sering terbengkalai begitu aja karena kesibukanku dan rasa malas yang mendera. Yay… Kali ini aku akan menceritakan lagi pengalaman yang menarik, yaitu “Dua Hari di Semarang”, seperti yang tertulis di judul. Why Semarang? Dan kenapa 2 hari doang? Memang sebenarnya harus digenapkan menjadi “100 Days Around the World”, tapi apa daya belum mampu buat itu. Hahaha…
Ceritanya selama 2 hari yaitu tanggal 4 sampai 5 Desember 2009 kemarin, aku dan yang lain berangkat ke Semarang. Yang lain ini terdiri dari project manager-ku, Pak Henry; Istrinya, Bu Mey; dan satu orang teman, Veronica. Yup, berempat berangkat ke Semarang untuk melakukan presentasi atas pekerjaan yang sudah dilakukan beberapa bulan belakangan di Poltekkes Semarang. Kalau untukku sendiri, kali ini merupakan perjalanan pertama yang aku lakukan untuk pekerjaan yang aku lakukan. Oke, kita mulai saja dari hari pertama.
First day – Departure
Ceritanya tanggal 4 Desember itu pesawat Mandala yang kita tumpangi berangkat jam 6 pagi, lumayan pagi untuk perjalanan pertama yang akan dipenuhi rasa deg-deg-an, bukan karena ini merupakan perjalanan yang berhubungan dengan pekerjaan untuk pertama kalinya, tapi karena pekerjaan yang dibuat masih belum 100% siap untuk didemokan. Karena pesawat berangkat jam 6 pagi, maka tentu saja penumpangnya udah harus ada di tempat satu jam sebelumnya, yaitu jam 5 pagi. Kerennya, aku malah memesan taksi jam 4 pagi, dan pagi-pagi aku sudah bangun dan siap sejak jam 3 pagi. Ternyata pemesanan taksi itu ga main-main yah. Aku pesan jam 4, datangnya malah udah dari jam setengah 4 kelihatannya karena aku sendiri baru membuka pintu tepat jam 4 dan sang taksi pun sudah menunggu di depan rumah.
Dan alhasil karena masih pagi buta, akhirnya cuma perlu 20 menit untuk sampai ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3 yang saat itu masih sepi. Oke, ini pertama kalinya aku berangkat dari Terminal 3, sebelum-sebelumnya selalu dari Terminal 1 atau 2. Terminal 3 ini sendiri terlihat keren karena menganut konsep yang modern, ga seperti 2 terminal lainnya yang terlihat cenderung lebih “gelap” suasananya. Jadi teringat film The Terminal yang dimainkan Tom Hanks. Sepuluh menit setelah aku tiba di Terminal 3, akhirnya Vero tiba juga. Ternyata taksi yang dia pesan malah jauh lebih pagi daripada taksi yang aku pesan. Dengan keadaan yang kurang tidur dan panik — sampai sempat-sempatnya jam 1 pagi ketika aku lagi enak-enaknya tidur malah sempat ditelpon buat nanya bisa betulin codingan C#.NET atau ga, karena ada error yang ga terdeteksi di aplikasi, padahal aplikasi ini bukan aku yang buat — kita berdua cuma bisa bengong dan ngobrol-ngobrol menunggu kedatangan Pak Hen dan Bu Mey.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Pak Hen dan Bu Mey datang juga, dan saat itu suasana airport juga sudah ramai dan dipadati penumpang. Seperti biasa, pemeriksaan untuk masuk ke Terminal-nya cukup ketat sampai kita harus buru-buru karena takut ketinggalan pesawat, ditambah lagi ada 2 orang yang panik — satunya karena aplikasi yang error dan belum siap karena dia mau presentasi, satu orang lagi karena aplikasinya belum selesai benar karena dia yang buat (yep, ini aku). Tepat pukul 06.00, kita semua masuk ke pesawat dan berangkat.
Perjalanan Jakarta – Semarang cukup cepat karena pukul 06.50 kita semua sudah tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang. Setelah ngambil barang-barang yang masuk ke bagasi, kita pun menunggu jemputan sembari bertelpon ria dengan programmer yang di Jakarta karena aplikasi yang error dalam keadaan yang panik. Bahkan sampai sudah dijemput dan berada di dalam mobil pun, kita masih telepon-teleponan Semarang – Jakarta. Dengan semua orang yang buta coding C#.NET dan usaha keras buat mensinkronkan coding antara yang di laptop Pak Hen dengan yang di Jakarta, kita program berhasil di recompile dengan “sempurna”. Dan tentu saja masih aja ada bug yang muncul tiba-tiba ketika di-test oleh Vero.
Sampai di Poltekkes, kita langsung bertemu dengan Direktur Poltekkes dan Bu Estu (kepala IT Poltekkes) untuk sambutan dan briefing sebentar. Setelah itu kita langsung “membelah diri” menjadi 2 tim, satunya melakukan instalasi dan meninjau persiapan infrastruktur dan server yang terdiri dari Pak Hen dan aku, serta satu tim lagi yang terdiri dari Bu Mey dan Vero yang mendemokan aplikasi yang ada. Untungnya aplikasi yang aku buat (yang belum selesai itu) didemokan esok harinya sehingga aku masih bisa mengerjakan aplikasi itu. Dari pukul 09.00 sampai 16.00, aku coding sembari membantu Pak Hen menginstall server Dell yang ga juga berhasil seharian karena server ga bisa mem-booting dari CD maupun harddisk. Setelah memanggil teknisi, bahkan orang dari Dell sekalipun, ga ada solusi yang berhasil untuk “membangunkan” sang server. Akhirnya 3 server yang ada pun dibawa kembali untuk ditukar komponennya yang katanya ga cocok sehingga ga bisa melakukan booting. Yah, untuk hari ini bisa dibilang cukup sia-sia karena ga bisa menginstall server. Dan sampai pukul 16.30 pun aplikasiku belum selesai dibuat, padahal malamnya sudah dibooking untuk membuat mock-up aplikasi lainnya yang harus dipresentasikan esok harinya.
Setelah selesai, lampu pun mati di Poltekkes. Ternyata ga di Jakarta, ga di Semarang sama-sama kacau listriknya. Untungnya sih memang sudah selesai terlebih dahulu aktivitas di Poltekkes-nya sehingga ga mengganggu jalannya kegiatan yang ada. Kita pun berangkat ke Hotel Santika untuk beristirahat. Sampai di hotel, check-in, lalu mandi, kemudian Pak Hen yang sekamar denganku memilih untuk keluar dari kamar ke Gramedia yang ada di sebelah Hotel, di saat itu aku sedang coding untuk menyelesaikan aplikasi. Tiba-tiba saja aku ditelpon untuk segera ke bawah. Sialnya, aku ga membawa sandal, dan akhirnya memakai sandal hotel untuk berjalan-jalan keluar mencari makan soalnya aku kira cuma diminta ketemuan di lobby.
Bahkan sempat naik angkot dan penumpang lain di angkot sempat melihat ke arah kakiku. Hahaha… Baru liat turis kesasar, Pak?
Malam itu aku makan lumpia dan mampir ke toko oleh-oleh membeli mochi sesuai dengan pesanan pacarku. Dengan aku sebagai pembawa tag yang menunjukkan kami dari Hotel Santika (lewat sandal yang aku pakai), akhirnya kami pun kembali ke hotel. Aku lanjut deh coding lagi dan menyiapkan aplikasi di laptop Pak Hen. Ga berapa lama kemudian, tiba-tiba kita diajak lagi buat makan malam (padahal sebenarnya udah cukup kenyang dengan lumpia), dan akhirnya kembali aku memakai sandal putih yang ngejreng dan imut itu. Kali ini kita jalan kaki dan ga naik angkot sama sekali. Saat itu, hujan gerimis pun turun dan membasuh menghilangkan rasa lelah yang menghinggapi kami (ah, puitis sekali). Maunya makan nasi ayam di pinggiran, akhirnya malah makan nasi gudeg. Setelah kenyang makan dan berwisata kuliner, akhirnya kita kembali ke hotel, dan tentu saja ditemani oleh hujan yang semakin deras. Ternyata Vero sudah menyiapkan peralatan perangnya dalam tas peralatannya: payung, dan cuma satu. Alhasil hanya aku dan Pak Hen yang kebasahan menerjang hujan yang makin dekat ke hotel makin deras. Sampai di hotel kerja lagi, tapi apa daya mata cuma bertahan sampai pukul 23.00 dan akhirnya aku memilih untuk tidur.
Second Day – Panic Mode and Arrival
Pagi-pagi sekitar jam setengah 5 tiba-tiba aja aku di SMS oleh Vero karena ga bisa login ke backend salah satu aplikasi yang aku buat. Setelah membalas SMS nya, akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan melanjutkan pekerjaan lagi di saat Pak Hen sendiri masih tidur. Pukul 06.00, Pak Hen pun bangun dan pukul 07.00 kita semua bersiap-siap untuk sarapan. Di saat semua sarapan dengan menu yang extra-ordinary, aku malah makan nasi goreng biasa, entah kenapa memang aku ga terlalu bisa menikmati makanan soalnya prinsipnya cuma satu: yang penting kenyang.
Pukul 08.00, kita check-out dan berangkat lagi ke Poltekkes. Sampai di sana kita langsung siap-siap dan kali ini aku diminta untuk menemani Vero untuk presentasi dan menyelesaikan pekerjaanku. Yah, memang akhirnya selesai juga satu aplikasi, tapi dalam keadaan panik, satu aplikasi lagi ga selesai. Untungnya ternyata sudah ada mock-up dari desainer yang di Jakarta di laptop Pak Hen. Melihat-lihat mock-up untuk di-edit, akhirnya malah ga edit satupun sampai makan siang. Presentasi pertama dari Vero adalah sistem admisi online. Setelah selesai mempresentasikan aplikasi ini, akhirnya sesi tanya jawab dan usul pun dibuka. Saat inilah tiba-tiba ruangan pun menjadi gelap gulita karena mati lampu lagi. Akhirnya karena ga ada LCD projector yang bisa dipakai dalam keadaan mati lampu dan harus buru-buru sebelum laptop mati total, Bu Mey pun mengambil alih presentasi Vero dan membacakan garis besar aplikasi perpustakaan digital yang dijadwalkan didemokan setelah admisi online. “Saved by PLN ini namanya”, pikirku.
Setelah presentasi perpustakaan selesai dan sesi tanya jawab dan usul dimulai, tiba-tiba listrik nyala lagi. Batal sudah “saved by the PLN” nya. Dan alhasil memang usul dari pihak perpustakaan ini sendiri kebanyakan adalah hal-hal yang bisa diprediksi, antara lain beberapa hal yang berkaitan dengan sistem katalog buku yang memang belum terlalu kami pahami prosesnya seperti apa, dan juga beberapa fitur standar lain yang aku “potong” untuk mempercepat menyelesaikan aplikasi untuk didemokan. Setelah aplikasi perpustakaan ini, kegiatan di break untuk istirahat siang selama 1 jam. Di saat itu aku sempat ke tempat Pak Hen yang sedang menginstall server dan ternyata memang sudah berhasil menginstall operating system-nya. Ketika akan menginstall MySQL server, entah kenapa program ini ga mau jalan. Sampai sesi istirahat selesai, masih belum berhasil juga dan aku harus bergabung lagi dengan tim-nya Bu Mey.
Sesi berikutnya adalah presentasi aplikasi karir. Untuk sesi yang aplikasinya bahkan belum sempat mulai dikerjakan ini, kami terselamatkan oleh mock-up tampilan yang sudah ada. Dipimpin oleh Bu Mey selama sesi presentasi, tampaknya tidak ada masalah yang berarti di sini. Fiuh. Padahal aku sudah cukup deg-deg-an sampai sesaat sebelum presentasi dimulai. Presentasi dilanjutkan dengan aplikasi alumni, dan karena tampaknya sudah bisa dihandle oleh Bu Mey dan Vero, aku pamit untuk ke tempat Pak Henry dan membantu beliau. Dan memang MySQL nya ga bisa jalan. Memakai versi berapa pun tetap saja ga bisa dijalankan, padahal Apache Web Server dan PHP bisa diinstall tanpa masalah dan dijalankan. Mengingat waktu juga sudah mepet dengan jam pulang, akhirnya inisiatif terakhir adalah dengan menginstall XAMPP dan menyiapkan aplikasi untuk melakukan remote computing. Dan hal yang tak terduga, bahwa server belum bisa disambungkan dengan “dunia luar”.
Saat itu aku yang penasaran sempat berinisiatif untuk membantu teknisi untuk mencoba melakukan port forwarding dari router, bahkan sudah sempat melihat-lihat konfigurasi router, tapi ternyata Pak Hen bilang hal itu ga perlu dan biarkan mereka yang bekerja. Entah kenapa aku jadi merasa melangkahi wewenang yang ada, bahkan belum sempat bertanya Pak Hen apakah aku perlu membantu membuka akses dari luar.
Setelah selesai dengan segala kegiatan itu, akhirnya kami siap-siap berangkat ke bandara. Saat itu kami sempat mampir lagi ke tempat kami membeli oleh-oleh semalam soalnya Bu Mey dan Vero mau membeli bandeng. Sampai di bandara pukul 17.30, padahal pesawat berangkat pukul 19.00, akhirnya kita makan malam dulu. Tepat pukul 19.00, kami masuk ke pesawat dalam keadaan hujan deras dan pesawat pun berangkat. Lima puluh menit kemudian, kami tiba lagi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Vero dan aku diantar Pak Hen dan Bu Mey yang memang menginapkan mobilnya di bandara selama 1 malam. Saat itu Vero turun di Mall Emporium Pluit karena sudah ada janji dengan temannya, yah dengan segala bawaannya yang terlihat berat. Sedangkan aku diturunkan di depan jalan ke rumahku.
Itulah rangkuman kisah perjalanan selama 2 hari rute Jakarta – Semarang – Jakarta.
Akhir kata, terima kasih buat Pak Henry dan Bu Mey yang sudah mengajakku ke Semarang. Ini jadi pengalaman yang berharga buatku dan semoga ke depannya nanti aku bisa mempersiapkan segalanya dengan lebih baik lagi. Dan thanks juga buat Vero, yang udah jadi temanku selama 2 hari itu, sama-sama menikmati rasa panik, pesan taksi kepagian dan mensimulasikan rasa lemas karena begadang dan ga bisa tidur (apalagi pake digangguin tengah malam pas baru tidur sebentar). Hahahaha…
Sekian.
PS: Ahh, bolos kuliah dan lab lagi.
kayaknya jadi banyak bolos kuliah semester ini. Hiks… Semoga bisa ngejar ketinggalannya.






Latest Comments