Soal Film Import yang Hilang

Aloha, setelah sekian lama ga posting apa-apa di blog ini dan ga ada kabarnya, saya pun kembali untuk cuap-cuap atas apa yang terjadi di dunia fana ini.

Anehnya, saya kembali di saat ada sesuatu yang hilang dari negeri yang fana ini. Korupsi? Bukan… Kemiskinan? Bukan… Gayus? Bukan juga… Aaah, film import! HAH!? Serius?

Beritanya bisa dibaca di artikel Kompas.com. Tapi berhubung supaya isi blog ini ga terlalu singkat dan kosong-kosong amat, biarkanlah saya juga menulis juga di sini dengan gaya saya sendiri. Lagian mungkin yang males buat ngeklik link itu juga bakal lebih suka baca yang saya tulis kan? :blush:

Singkat cerita, pemerintah mengeluarkan sebuah aturan baru yang bikin pengusaha yang mengimport film-film dari luar negeri shock, lantaran katanya ga pernah ada aturan yang serupa dengan aturan baru ini di negara lain. Aturan ini konon katanya akan menambah beban pengeluaran bagi mereka karena harus ada biaya tambahan lagi, sedangkan pemasukannya ga seberapa. Saking shocknya perkumpulan pengusaha yang dinamakan Motion Picture Associated (MPA) membuat keputusan bahwa semua film lebih baik ditarik peredarannya dari semua bioskop Indonesia. Voila, akhirnya daftar Coming Soon di situs-situs informasi film bioskop di Indonesia pun hanya diisi dengan film-film lokal.

Ga tau deh siapa yang salah di sini, entah pemerintah yang terlalu bebal karena ngeluarin aturan yang aneh-aneh (at least menurut MPA aneh), atau justru MPA nya yang terlalu gampang “ngambek”. Hmm, entah kenapa belakangan ini cukup banyak aturan-aturan aneh yang dikeluarkan oleh pemerintah kita untuk sesuatu yang berbau “asing”. Kemarin-kemarin sempat ribut soal Blackberry yang konon hampir dihentikan layanannya internetnya oleh pemerintah Indonesia karena ga mau ikut nyaring konten-konten porno. Lalu sempat juga lisensi import nya mau dihentikan gara-gara ga buka layanan purna jual di Indonesia sendiri.

Tapi yang mengesalkan sekarang ini sebenarnya bukan kebijakan itu sih, tapi akibat dari kebijakan itu. Pertama, film-film import ga ada lagi, jadi mungkin bisa dibilang nanti film-film yang udah aku incar untuk aku tonton di bioskop pun menghilang. Oke, lihat sisi baiknya, kalau gitu akan lebih hemat pengeluaran saya karena ga ada film yang harus ditonton. Yah, efeknya lebih terasa secara psikologis sih soalnya hiburan film berlayar lebar dan bersuara menggelegar berkurang.

Kedua, karena ga ada film-film import, maka banyak terjadi kekosongan di bioskop-bioskop yang ada. Bayangkan, studio XXI dan Blitz Megaplex, yang di satu tempat bisa memiliki 4 studio atau lebih, yang biasanya menayangkan film-film barat alias film import tadi, sekarang tidak ada film asing yang bisa ditayangkan. Mungkin kalau bioskopnya memang dari dulu udah setia dengan film-film lokal, hal itu ga akan terlalu bermasalah karena stock film lokal pasti selalu ada. Lanjut!

Ketiga, karena kekosongan itu, maka mungkin beberapa bioskop akan mengalami penurunan pengunjung yang berimbas pada menurunnya pendapatan mereka, dan tentunya lagi berimbas ke karyawan mereka yang mungkin sewaktu-waktu bisa dihentikan. Oke, buat yang ngerasa karyawan bioskop bukannya nakut-nakutin, tapi ini cuma sekedar skenario paling buruknya. Skenario paling baiknya tentu aja bioskop akan tetap dipenuhi orang, dan semua hidup bahagia selamanya. :) Just kidding.

Skenario yang lain yang saya maksud adalah mereka akan menayangkan film-film lokal untuk mengisi kekosongan itu. Film-film sekaliber Arwah Goyang Karawang, atau Pocong Seksi, atau Kuntilanak Penggoda, atau whatever they named it, akan merajalela di seluruh bioskop Indonesia. Dan Anda tahu sendiri, apa isi dari film-film itu. Dari judulnya saja sebenarnya sudah bisa ditebak, horor-horor erotis. Mungkin ada juga yang horor yang benar-benar horor, tanpa erotisme, tapi itupun dibuat ala kadarnya dan hanya mengumbar adegan berdarah-darah dan tentunya cerita yang mirip-mirip dengan cerita-cerita dari film horor lainnya. Sama juga mungkin dengan beberapa film bergenre komedi, yang belakangan kayaknya juga udah dimasukkan unsur-unsur erotisme yang menggoda.

Di sisi lain, memang ada juga sih film-film yang mungkin mendidik, seperti film-film bergenre religi, tapi yah jujur aja, aku sendiri bukan penikmat film-film seperti itu. Beberapa film lain bergenre drama cinta juga bukan tipe kesukaanku karena entah kenapa, di kepalaku film-film bergenre drama cinta lebih mirip ke sinetron yang diputar berjam-jam setiap hari di televisi, intinya tak ada hal yang baru di situ. Lalu dengan film-film drama lainnya? Cerita tentang persahabatan mungkin cukup membuatku tertarik untuk menontonnya kalau memang trend pemboikotan film import terus berlanjut. Asal jalan ceritanya bagus saja, mungkin seperti Laskar Pelangi (padahal belum pernah nonton) :p

Film action? Jangan terlalu berharap deh. Mungkin setahun cuma muncul sekali atau bahkan ga ada film action sama sekali dalam setahun, karena modal buat bikin film action umumnya cukup besar, belum sesuai dengan cara pikir para produser film Indonesia yang lebih memilih membuat film-film bermutu rendah tetapi bisa mengundang para penonton sebanyak-banyaknya. Heran yah, hampir ga ada produsen film lokal yang membuat filmnya supaya tetap “nempel” di otak para penontonnya seperti film-film Hollywood. Kebanyakan cuma nempel di bioskop, tapi pas keluar bioskop udah hilang. Dan hampir ga ada yang berusaha membuat para penontonnya loyal untuk terus menonton kelanjutannya sampai bisa dibikin sekuel seperti film asing. Yang diincar hanya keuntungan dalam satu kali film dengan jalan cerita yang selalu sama-sama persis.

Satu lagi genre yang mungkin akan membuat film lokal mati kutu: animasi! Yeay! Satu lagi film dengan genre yang sangat berat di ongkos dan tentunya, membuat para produsen film lokal bulu kuduknya berdiri. Bagaimana tidak? Selain harus membayar studio animasi dengan artis-artis yang akan membuat animasinya, banyak hal juga yang harus diperhatikan, seperti pengisi suara, sound effect, jalan cerita dan riset-riset lainnya yang akan mendukung supaya film animasi bisa diproduksi. Belum lagi ditambah dengan lamanya waktu produksi, yang tentu akan terus berimbas kepada uang yang dikeluarkan. Ditambah dengan resiko bahwa film itu akan kurang diminati oleh penonton. Dihitung dari formula-formula di atas, maka kemungkinan film animasi lokal bisa diproduksi adalah… 0.4%. Pesimistik? Tidak juga, karena 0.4% berarti dalam 250 film, kemungkinan terdapat 1 film animasi. Kalau dengan boikot ini jumlah film produksi lokal bisa mencapai 100 film dalam 1 tahun saja, maka setiap 2,5 tahun kita akan bisa melihat film animasi lokal, tidak peduli kualitasnya. :D Tapi seingatku, pernah ada film animasi lokal yang diputar di bioskop, kalau ga salah namanya Homeworld. Ga tau ceritanya seperti apa karena belum pernah nonton juga, tapi dulu sempat lihat sedikit cuplikannya yang tekniknya masih di bawah rata-rata.

Sebenarnya hitung-hitungan akibat dari pemboikotan ini masih belum lengkap bila tidak ditambah maraknya film-film bajakan yang akan beredar karena banyak orang yang tidak bisa menontonnya langsung dari bioskop. Kalau trend ini terus berlanjut, maka penerimaan pemerintah dari film import akan benar-benar kosong. Yah mungkin kalau cukup beruntung, penerimaan ini akan digantikan oleh film-film lokal yang lebih banyak penontonnya, tapi kembali lagi, seberapa banyak penikmat film import yang rela berpindah menikmati film lokal. Aku sendiri jujur saja termasuk dalam golongan orang yang ga rela pindah. Lebih suka menonton film-film action dari Hollywood yang efeknya bikin berdecak kagum ga berhenti-henti dan juga dengan jalan cerita yang kompleks tetapi tetap enak diikuti. Dan menonton film Hollywood rasanya selalu membuat saya berimajinasi tentang dunia yang ada di film-film itu. Kayaknya ga ada film lokal yang bisa bikin saya berimajinasi seperti itu, apalagi filmnya belakangan cuma seputar kuburan dan tempat angker dengan setting berdarah-darah.

Akhir kata, mari kita lihat saja seberapa lama hal ini akan terus berlanjut. Siapa yang akan mengalah selanjutnya, apakah MPA atau pemerintah? Toh kalau ga ada yang mau mengalah, yang kena imbas paling besar mungkin juga cuma kita-kita, orang-orang yang hanya mencoba mencari hiburan di kala padatnya aktivitas.

This entry was last modified on: February 20th, 2011 at 11:26

2 Responses to “Soal Film Import yang Hilang”

  1. seharusnya pemerintah melakukan sosialisasi dulu,ato bertanya pada para master2 perfilman,
    kunjungi balik ya gan…….

    hardware
    :tup:

  2. #59562 MovieFreak
    May 21st, 2011 at 11:41

    pusing gan, kacau rencana mw nonton transformer3 di bioskop, padahal ane pengin liat versi 3Dnya….
    ya berprasangka baik aja moga2 pemerintah mw merundigkan kembali sama MPAA :(

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: