Archive for the ‘My Minds’ Category

Bad Bad Sales

Sedikit cerita pembuka, hari ini aku pergi ke Mangga Dua Mall untuk membeli beberapa “peralatan tempur” untuk “berperang” esok harinya di luar kota. Yap, kalau namanya Mangga Dua Mall, tentu kurang lebih nyangkutnya adalah ke peralatan elektronik atau peralatan yang berhubungan dengan komputer. Tepatnya sih aku membeli modem CDMA. Beberapa toko aku kunjungi untuk menanyakan harga dan melihat seperti apa modem yang dijual, dan tentu saja ada penjual atau sales yang ramah dan mau menjawab dengan baik, tetapi ada juga yang membuatku tidak nyaman di tempat itu. Dan di sini aku ingin menceritakan juga beberapa pengalamanku yang membuatku tidak suka terhadap salesman atau woman. Not all, but just some of them.

Pertama-tama yang perlu aku tekankan, aku bukan orang marketing atau orang yang mengerti dunia jual beli secara mendalam. Aku juga belum pernah menjadi salesman secara langsung untuk menjual produk apapun, jadi pengalamanku dalam memperlakukan calon costumer masih bisa dibilang mendekati nihil. Mungkin bila Anda mencari sebuah artikel, bacaan atau panduan untuk menjadi seorang sales yang baik, Anda akan lebih banyak menemukannya bertebaran di toko-toko buku di sekitar Anda. Akan tetapi aku rasa pengalamanku sebagai seorang awam atau seorang calon customer cukup untuk menulis beberapa hal menyebalkan yang sering kali dilakukan oleh sales yang menawarkan produknya, yang akhirnya bisa membuat seseorang menjadi ilfil bahkan malah jadi anti dengan produk yang ditawarkan itu untuk seumur hidup. Silahkan mengatakan hal ini konyol, tapi pada kenyataannya, kalau Anda menghadapi orang sepertiku, bisa saja terjadi dendam kesumat antiproduk seperti yang aku bilang tadi.

Mari kita mulai saja.

Cerita pertama terjadi sekitar kurang lebih 1 bulan yang lalu ketika aku berjalan di sebuah mall di Jakarta. Ketika naik eskalator, ada sebuah sales sebuah bank yang sudah siap menunggu di ujung eskalator. Ketika aku baru saja menginjakkan kaki di lantai itu, tiba-tiba sang sales menyodorkan sebuah brosur. Tentu saja ada 2 pilihan yang dapat aku lakukan ketika disodorkan, menolak (dan cuekin) atau mengambilnya. Pilihanku saat itu adalah mengambilnya. Saat itu aku sudah sempat menarik brosur itu supaya aku bisa membacanya, tetapi ternyata sang sales masih saja memegang brosur tersebut seakan tak rela kehilangan sebuah brosur atau mungkin sedang ada penghematan kertas dan brosur di bank tempat dia bekerja.

Sambil tetap memegang brosur itu, dia berkata “masih kerja atau sudah kuliah nih?”. Mengingat statusku masih di twilight zone alias zona yang ga jelas, dan mengingat KTP juga masih tertulis sebagai pelajar, alhasil aku bilang “masih kuliah”. Terus tiba-tiba sang sales langsung menarik brosur yang daritadi belum rela dilepaskannya. Sambil tersenyum (dan aku melihatnya seakan seperti tersenyum picik dan meremehkan sambil berpikir “ah, anak kecil bau kencur”), dia pun berkata “wah, kalau gitu ga bisa, harus yang udah kerja”. Setelah dilihat tampaknya memang di sekitar sana terdapat stand untuk kartu kredit. Oke, kebetulan saja produk itu bukan produk yang membuatku tertarik mengingat aku sebisa mungkin memang ga mau memegang kartu utang itu, jadi kalaupun aku sampai ilfil dengan produk tersebut, mungkin memang ga bakal terlalu bermasalah, atau justru malah bagus. Dan komitmenku untuk anti kartu kredit justru akan semakin mantab. Thanks buat sales menyebalkan itu. Hiehehehe… >:)

Ga tau yah kalau dari pengalaman ini, sang sales itu memang diharuskan menghemat brosurnya, atau mungkin sales nya aja yang gila sendiri. Mungkin juga brosur itu sekaligus formulir sehingga jumlahnya sebisa mungkin dihemat. Entahlah. Yang jelas, kenapa ga tanya dulu dengan sopan, misalnya “bapak / ibu sudah bekerja?”, sebelum menyodorkan kertas itu. Bila jawabannya sudah pasti, barulah menyodorkan kertas itu. Atau justru itu memang strategi marketing?

Cerita kedua merupakan pengalamanku hari ini. Seperti yang aku tulis di atas bahwa hari ini aku pergi ke Mangga Dua Mall untuk membeli modem CDMA. Setelah bertanya-tanya ke beberapa toko, akhirnya aku sampai di sebuah toko yang agak sepi dibanding toko di sekitarnya. Di sana ada seorang mba-mba yang menjaga toko tersebut, dan langsung saja aku bertanya “Mba, di sini jual modem CDMA ga?”. Dia pun mengiyakan dan mengambilkan satu kotak yang berisi paket modemnya. Lalu seperti biasa aku bertanya “ini berapaan yah harganya?”. Kemudian dia bilang 450 ribu. Lalu aku bertanya lagi untuk memastikan harga bersihnya berapa. Dan yang ga aku sadari, dia sudah mulai mengeluarkan kertas kwitansi dan meletakkan ujung pulpennya di atas kertas itu sambil berkatan 400 ribu. Saat itu aku juga tengah melihat-lihat keterangan dari kotak itu, dan dia bertanya “memangnya mau ambil berapa?”, tentu aja aku bilang 1. Lucunya, dia langsung menuliskan harganya di kwitansinya itu. Aku sempat melihatnya menulis, tetapi aku mengira dia menulis untuk orang lain atau cuma mau memperlihatkan harganya saja.

Setelah melihat-lihat, seperti biasa aku meletakkan kotak itu, lalu berjalan keluar sambil berkata terima kasih dan mau lihat-lihat yang lain dulu di sekitar sana. Akan tetapi baru berjalan satu langkah, si mbak tersebut malah manggil lagi (ngiranya mau nurunin harga lagi supaya aku balik lagi), sambil bilang kalau kwitansinya sudah ditulis dan aku harus membelinya. Damn!! Sadarlah aku kalau ternyata dia tulis kwitansi itu karena ingin aku membayar. Ga sopan amat, aku belum kasih konfirmasi untuk beli, dia udah nulis duluan. Lalu aku bilang kalau aku masih mau melihat-lihat dulu dan belum berniat beli modemnya, dan bahkan udah meyakinkan dia kalau memang harganya cocok aku bakal balik lagi. Tapi tetap aja dia bilang kalau itu artinya aku udah beli. Alhasil, aku dan pacarku akhirnya pergi aja deh dari tempat itu. Kok cuma bermodalkan sebuah kertas bertuliskan harga aja udah dianggap pasti beli? Kalau semudah itu, napa ga nulis aja kwitansi itu sembarangan, terus kasi ke orang yang tengah berjalan di sana sambil bilang kalau kertas itu sudah dituliskan untuk orang tersebut? Depresi yah mbak di sono sepi sampai harus maksa orang beli?

Cerita ketiga, berhubungan dengan MLM alias Multi Level Marketing. Sesuatu yang tidak selalu buruk, tetapi di otakku sudah tertanam dogma kalau MLM merupakan sesuatu yang buruk. Memang ga semua MLM itu buruk, ada yang memang murni menjual barang dan barang itu memang diperlukan oleh orang-orang disekitarnya, tetapi ada juga yang tampak seperti hanya meminta orang membayar uang untuk sesuatu yang ga nyata. Huff, aku ga ngerti lah sebenarnya dunia MLM itu seperti apa, yang pasti sebelum aku mengerti, aku sudah membencinya.

Dan tentu beberapa teman sekolahku di SMA pernah mengalaminya juga terjebak dalam arus marketing dan penjualan “barang” seperti ini. Tiba-tiba diundang oleh salah satu teman yang padahal juga bukan teman dekat untuk makan-makan di sebuah mall. Ketika kita memenuhi janjinya, beberapa orang sudah menunggu untuk menceramahi mengenai kesuksesan mengikuti program yang mereka ikuti ini, dan kita pun merasakan siksaan api neraka selama mendengar ceramah orang-orang tersebut untuk menjadikan kita sebagai “bawahan” mereka. Yang jelas, aku dulu pernah hampir terjebak juga menjadi orang yang terbakar di neraka tersebut, akan tetapi terselamatkan oleh temanku lainnya. Walau demikian karena hal itu, kepercayaanku sudah luntur terlebih dahulu. Yang jelas satu hal yang perlu diingat, kalau diajak oleh teman yang ga gitu dekat, tapi ketika ditanya alasannya cuma dibilang “mau ketemu aja”, jangan pernah ge’er tuh orang mau nembak atau mau mentraktir makan. Tanamkan di otakmu kalau orang itu mau “menculik” Anda dan “meminta tebusan” secara halus. Yay, atau anggap aja dia orang ga dikenal, kemudian ingat kata mama: “kalau orang yang ga dikenal ngajak jalan-jalan, jangan pernah mau (kalau perlu teriakin maling sekeras-kerasnya)”. :devil:

Tetapi kasus serupa mungkin bisa ditemukan juga di luar MLM. Misalnya si sales menawarkan barang sambil terus mengikuti seraya memaksa untuk membeli atau memakai produknya. Dan yang paling mengerikan kalau sampai diteror lewat telepon untuk memastikan kalau kita memang 100% bakal membeli dari dia, dia, dia, dan dia, tanpa boleh melalui orang lain. :sick:

Itu aja sih cerita soal kejelekan di bidang “penjualan” yang pernah aku alami. Kalau aku mau kasih saran kepada orang yang sedang berkutat atau mau berkutat di bidang marketing atau sebagai sales, jangan cuma berorientasi memenuhi target yang diberikan perusahaan atau bos, tetapi berusaha untuk memenuhi kebutuhan calon customer juga. Alhasil kalau memang akhirnya si calon customer cocok dengan produk yang ditawarkan dan cocok juga dengan Anda, maka customer itu akan melakukan marketing secara ga langsung juga, dan tentu Anda juga yang akan ketiban untung kalau sang customer merefer Anda sebagai sales-nya. Sebaliknya, kalau orang malah jadi ga nyaman dengan strategi penjualan Anda, bisa-bisa malah timbul perasaan anti, dan bisa menyebar ke mana-mana (toh akhirnya jalan yang paling jelek itu dibalas dengan gugatan pencemaran nama baik).

Anyway, akhirnya bisa publish entry blog lagi setelah sekian lama males nulis. Hehehehe…

Hal-hal yang Saya Benci dari Kendaraan Umum (B91 Khususnya)

Sebagai pengguna kendaraan umum dalam keseharianku, banyak hal unik yang sudah aku temui di sini. Mulai dari sisi gelapnya, sampai sisi yang bisa membuat tertawa, yah tertawa ironis. Jujur aja sih, aku mulai menjadi pengguna kendaraan umum sejak 3 tahun yang lalu, tepatnya sejak mulai kuliah. Selama sekolah di TK, SD, SMP sampai SMA, istilah bagi sebagian orang adalah “ngesot sedikit juga udah nyampe ke sekolah”, jadi ga perlu lagi naik kendaraan umum semasa itu. Ditambah pula di jaman itu ke mana-mana lebih sering nebeng mobil teman, diantar atau naik kendaraan umum yang ga bersifat masal seperti bajaj atau taksi.

Sekali memasuki kehidupan sebagai mahasiswa, terpaan siksa naik kendaraan umum (Metromini B91) pun mulai menerjang deras bagaikan badai. Awalnya sih ngerasa aneh aja, tapi makin lama makin terbiasa dan cenderung udah kebal dan hafal dengan sifat-sifat para supir kendaraan umum dan medan yang terdapat selama di jalan. Berikut ini adalah beberapa hal yang paling aku benci dari kendaraan umum.

Berhenti seenak jidat

Yap, ini identik dengan kendaraan umum apapun, mulai dari mikrolet, Kopaja, Metromini sampai ke bus-bus besar. Mungkin kalau ngetem atau berhenti hanya untuk menaikkan penumpang yang sudah tersedia masih bisa dimaklumi. Tapi kebanyakan supir berhenti sembarangan sambil menunggu penumpang mengisi bangku kosong di kendaraan mereka. Berhenti tengah jalan? Ga masalah, yang penting penumpang penuh. Makin serakah supir dan keneknya, makin lama pula bus nya diparkir di tengah-tengah. Kalau diklakson oleh kendaraan di belakangnya, klakson dari mulut sang supir dan kenek jauh lebih nyaring lagi.

Belum lagi ditambah dengan kelakuan konyol para supir dan kenek yang terkadang berhenti ketika berpapasan di tengah jalan dengan “teman sejawatnya”. Mereka bertukar informasi, tertawa, membahas hutang mereka yang bertumpuk, tertawa, ngomongin ini itu anu inu, tertawa, lalu diskusi kalau orang-orang di belakang bus mereka yang memberi klakson berisik sembari mengumpat, tertawa, lalu jalan lagi. Ah, indahnya jalanan di ibukota bila semua supir yang berpapasan selalu seperti ini. Jakarta menjadi kota yang statis alias tidak bergerak dan ceria karena sang supir dan kenek tertawa indah, di kala kendaraan di belakang mereka mukanya nekuk.

Oper sana oper sini

Kelakuan sopir seperti ini yang paling bikin jengkel. Sudah mengambil duit para penumpangnya, lantas penumpangnya diturunkan di tengah jalan seperti sampah yang harus dibuang. Lalu apa yang dilakukan supirnya? Mencari “sampah” lain yang bisa menghasilkan uang dan lalu membuangnya lagi di tengah jalan, ini looping forever sampai si supir merasa udah untuk makan sehari-hari atau ketika sudah harus gantian nyetir dengan supir lain setelah 3 rit. What on earth is the meaning of “rit”? Setauku itu semacam istilah yang sama dengan “lap” kalau di balapan. Yah, maksudnya putaran.

Kalau mengopernya dalam jarak dekat dan penumpangnya sedikit mungkin masih sedikit masuk akal (walau tetap ga bisa ditolerir karena penumpang sudah membayar). Tapi terkadang penumpang diminta untuk mengejar bus di depan yang jauhnya minta ampun kalau sedang macet total. Setelah naik bus tersebut, kenek pun minta bayaran lagi dengan alasan, “ga ada permintaan dari kenek yang ngoper sebelumnya”. Sudah penumpangnya lelah harus mengejar bus di depan, malah ditambah harus ngeluarin ongkos lagi. Belum lagi karena penumpangnya banyak yang dioper, dan bus yang jadi sasarannya pun sedang penuh, alhasil jadi pepes manusia di dalam bus itu.

Aturan dibuat untuk dihilangkan

Aku ingat jelas bahwa dulu sempat ada peraturan yang tertulis di secarik kertas yang ditempel di pintu-pintu bus B91. Isinya adalah bahwa setiap bus harus masuk ke terminal Tanah Abang dari jam sekian sampai jam sekian, lalu harus masuk ke daerah Batusari dari jam sekian sampai jam sekian. Alhasil dengan adanya aturan ini rasio pengoperan penumpang dibanding sampai ke tujuan hanya dengan satu bus pun langsung menjadi sangat berbeda jauh. Ini mungkin menjadi saat-saat terbaik dan mengharukan bagi sebagian penumpang… untuk sementara. Satu atau dua bulan kemudian kertas itu hilang, dan penumpang pun jadi korban penzholiman dari para supir dan kenek.

Masih teringat juga tidak sampai satu bulan yang lalu, terdapat tempelan baru di bus-bus. Isinya bahwa supir yang mengoper penumpang harus membayar penuh kepada supir yang dioper atau dikenai denda 3 kali jumlah penumpang yang dioper. Ada lagi aturan bahwa supir dilarang mendahului dari jalur yang berlawanan dan bila dilanggar akan dikenai sanksi tidak boleh narik dalam 3 hari. Dan di situ tertulis bahwa “hal ini diberlakukan karena adanya pengaduan dari penumpang”. Tiga hari setelah aku pertama kali melihat pengumuman itu, sekelompok supir berkumpul dalam satu bus yang aku tumpangi dan duduk di depan. Mereka membahas bahwa “harusnya pemilik tidak boleh seenaknya menerapkan aturan seperti itu. Kalau ga boleh dahuluin kendaraan lain seperti itu, gimana mereka bisa narik.” Bahkan sesama supir saling mengingatkan supaya ga usah ikut aturan itu karena “ga akan maju”. Satu minggu kemudian, kertas itu bersih dan keadaan kembali menjadi “normal” seperti biasa.

Intinya? Supir dan kenek nomor satu, pemiliki bus nomor dua, penumpang ga memiliki nomor tapi memiliki duit untuk si nomor satu. Right.

Penumpang ga tau diri

Bukan cuma supir aja yang membuat kesal, kadang bahkan penumpangnya sendiri membuat kesal. Mulai dari merokok seenaknya, sampai penumpang gratisan yang justru minta bayaran kepada penumpang lainnya, a.k.a pengamen. Khusus untuk pengamen ini, ada beberapa kesan yang muncul ketika aku melihatnya. Pertama adalah salut, kalau mereka benar-benar niat jadi pengamen dan terlihat mengamen untuk menghibur penumpang, bukan mengutamakan mendapat uang dari penumpangnya sembari menumpang gratisan. Biasanya aku akan memberi apresiasi kepada pengamen tipe seperti ini.

Kedua adalah pengamen yang nyanyinya ga jelas, maksa, bahkan terkadang membacakan sajak bahwa “lebih baik mereka memintanya secara baik-baik daripada merampok, mencuri dan merampas, karena uang seribu tidak akan membuat Anda jatuh miskin.”

Yang jelas ada satu pengamen (peminta-minta) tepatnya yang populer di kalangan penumpang B91: seorang anak kecil yang memberi amplop dengan paksa kepada penumpangnya, lalu berteriak-teriak ga jelas, lalu mengambil lagi amplopnya. Bila ada penumpang yang baru naik, langsung si anak itu menghampiri penumpang dan memberi penumpang itu amplop. Bila ditolak, si anak akan berteriak “ambil!!!”. Beberapa waktu yang lalu seorang bapak sempat memukul anak itu karena dipaksa mengambil amplop itu, alhasil si anak itu pun ga berani berdiri di depan bapak itu sampai si bapak turun, dan sempat terjadi perang kata-kata setelah si bapak turun dengan si anak dengan melontarkan “anjing-anjing”. Dunia memang aneh.

Bus tak layak pakai

Seringkali kalau naik kendaraan umum, yang ditemukan adalah kaca yang sudah pecah (bahkan ga ada kaca sama sekali), bangku yang bergoyang karena besi yang ada sudah patah, langit-langit bus yang terkoyak-koyak, asap hitam yang keluar dari knalpot dan juga tak ada lampu. Dengan keadaan bus yang tidak layak seperti ini, sungguh hebat para penumpang bisa selamat sampai di tujuan ditambah juga supirnya masih bisa narik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa supir-supir bus Mentromini adalah manusia-manusia yang ajaib. Dengan keadaan seperti ini, ditambah lagi kelakuan yang ugal-ugalan, sangat jarang ditemui kejadian fatal yang menimpa penumpang. Mungkin angkanya kurang dari 1% dari jumlah penumpang yang mengalami kecelakaan. Yang pasti bila Anda duduk dengan tenang dan menikmati keadaan bus yang sedang melaju kencang (bayangkan saja berada dalam simulasi games Need for Speed: Underground), Anda akan selamat sampai di tujuan. Kemungkinan Anda kenapa-kenapa akan lebih tinggi ketika Anda mulai berdiri dan beranjak dari tempat duduk Anda untuk turun dari bus.

Oke, kembali ke topik. Memang ada beberapa bus yang terlihat baru dan terlihat lebih “muda” dibanding bus-bus lainnya, tetapi jumlah ini sangatlah terbanting dibanding dengan bus yang ga layak pakai. Coba saja Anda hitung, berapa kali dalam seminggu Anda mendapat bus yang kacanya ga pecah, catnya masih mulus, besi-besi pegangan masih rapi dan ga berkarat dan lampu di dalam bus masih lengkap (walaupun penutupnya sudah ada yang lepas). Bila beruntung bahkan bangku yang ada juga lebih empuk, bukan cuma sebatas bangku plastik dengan besi karatan yang membuat penumpangnya terancam tetanus di sekelilingnya saja.

Polisiku buayaku

Ah, buaya lagi, buaya lagi. Keberadaan polisi di tengah jalan ga serta merta membuat supir bus jadi lebih tertib. Seringkali supir bus tertib ketika melihat polisi di depan mata, tetapi akan menjadi beringas ketika polisinya sudah pergi. Yang anehnya terkadang polisi ga bertindak apapun ketika melihat keberingasan para supir dalam memacu kendaraannya. Kalaupun ditindak, biasanya ada “jalan tol” menuju pembebasan (yah, u know lah apa maksudku).

Kesimpulan

Mungkin kesimpulan yang paling tepat: inilah budaya angkutan umum di Indonesia dan di Jakarta khususnya. Jadi kalau Anda baru pertama kali datang ke Jakarta dan menikmati sesuatu yang namanya Metromini dan Kopaja ada baiknya berpegangan yang erat apapun yang terjadi, sampai Anda mulai beradaptasi dengan keadaan ini. Sayangnya karena dinamakan budaya akan sulit dihilangkan tanpa campur tangan pihak penjajah atau penguasa. Sistem yang diterapkan pada angkutan umum Jakarta pada umumnya adalah sistem uang setoran, di mana berarti supir harus sering-sering mendapat penumpang untuk menutup biaya setoran tiap harinya. Keadaan inilah yang menjadi penyebab supir bertindak sendiri-sendiri tanpa aturan yang baku, sedangkan pengusaha hanya tahu mengenai administrasi dan ijin angkutan umum, dan menerima uang setoran saja. Bila sesekali diperlukan, baru suku cadang diganti dengan yang lebih “manusiawi”. Alternatifnya, preteli suku cadang dari kendaraan lainnya yang masih bisa dipakai alias kanibalisasi.

Susahnya kalau sistem ini diubah menjadi sistem gaji tapi tanpa kontrol. Entah kenapa di bayanganku para supir akan ogah-ogahan mengantar penumpang berhubung berapapun jumlah penumpangnya yang didapat dan yang disetor kepada pengusaha, mereka akan mendapat gaji yang sama, dengan kata lain gaji buta.

Kadang kepikiran, kapan yah kita bisa menikmati bus umum seperti layaknya bus Transjakarta yang lebih bersih, rapi dan manusiawi. Ga perlulah pakai AC, yang penting penumpang bisa duduk nyaman dan merasa aman tanpa harus melakukan sport jantung tiap kali naik kendaraan umum. Mungkin kita bisa memulai dengan memberi komentar kepada Organda sebagai organisasi yang menaungi pengusaha-pengusaha angkutan umum di websitenya www.organda.or.id. Siapa tahu dengan kekompakkan para penumpang, kenyamanan itu bisa tercapai (walau aku sendiri pesimis dengan hasilnya).

This entry was last modified on: November 19th, 2009 at 0:03

Kenapa Harus Protes atas Kemajuan Teknologi dan Sains?

Kita hidup di jaman yang bisa dibilang modern dan maju. Yah, pernyataan ini secara relatif, karena 50 tahun yang lalu pun kalau kita hidup di jaman itu dan hidup di tempat dan lingkungan yang tepat, kita sudah bisa dibilang modern walaupun di jaman sekarang dibilang kuno. Ketika televisi muncul pertama kali untuk dinikmati keluarga kaya raya, setiap orang yang memiliki televisi bisa dibilang modern. Sekarang, bahkan punya sebuah handphone saja bisa dibilang sudah biasa dan bukan lagi indikasi sebagai seorang yang modern.

Oke, cukup cuap-cuap mengenai modern dan ga modern itu dilihat dari sisi teknologi yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak. Sekarang kita lihat dari sisi produsen, khususnya produsen dalam ilmu pengetahuan dan sains (atau sains itu sama dengan ilmu pengetahuan?).

Kita ga perlu melihat jauh-jauh ke negara seberang, mari kita lihat ke negara kita sendiri dulu. Bisa dibilang Indonesia sudah cukup maju dalam bidang teknologi dan sains di mana Indonesia berhasil menciptakan teknologi yang sudah pernah diciptakan di negara lain secara mandiri. Selain itu prestasi dalam bidang sains dengan banyaknya memenangkan lomba di tingkat internasional menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Tapi satu yang disayangkan, masih banyak orang yang ga paham mengenai percobaan sains dan kemajuan teknologi di negara lainnya. Paling ga, mereka melihat kemajuan itu hanya dari sisi negatif, bukan dari sisi positif. Oke lah, ini normal, kebanyakan orang memang sirik, tapi ingat bahwa sirik tanda ga mampu (katanya).

Mungkin rasa sirik ini bermula karena memang Indonesia ga terlalu menonjol dalam hal astronomi dan teknologi luar angkasa. Di astronomi, Indonesia bisa dibilang cukup tertinggal dibanding negara-negara besar lainnya seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan India. Yah, kita memang menang di Olimpiade Astronomi dunia, tapi sayangnya kemenangan itu ga diikuti dengan praktek yang ada. Indonesia masih menjadi negara konsumen yang pretasinya sebatas meluncurkan satelit komunikasi dan satelit-satelit lainnya, itupun komponennya dirakit di luar negeri dan kendaraan peluncurnya pun merupakan peluncur dari luar negeri. Kalaupun ada prestasi dari warga negara Indonesia, mereka adalah orang-orang yang bekerja di luar negeri, bukan di negeri ini sendiri, mungkin karena memang di negeri orang lain mereka lebih dihargai dan fasilitas yang disediakan lebih baik untuk penelitian astronomi mereka. Alhasil karena bekerja di luar negeri, maka prestasi itu adalah prestasi negara seberang.

Lucunya, selalu saja ada alasan bagi orang-orang yang tidak mengerti soal sains untuk memprotes kemajuan yang terjadi di negara lainnya, ga terkecuali Indonesia, dan masalah ini kadang dikaitkan dengan masalah agama dan politik. Beberapa waktu lalu NASA meluncurkan sebuah kendaraan luar angkasa bernama LCROSS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite). Salah satu misinya adalah meluncurkan sebuah instrumen ke permukaan bulan dengan kecepatan tinggi untuk membuat kawah baru di bulan dan mencari bukti keberadaan air di sana. Pada tanggal 9 Oktober 2009, instrumen dari satelit ini berhasil menghantam bulan dan mengembalikan informasi ilmiah. Aksi NASA ini memancing perdebatan antara kalangan “orang biasa” dengan kalangan ilmuwan yang memang tahu apa yang mereka perbuat. Banyak yang memprotes dengan berbagai alasan, mulai dari akan mengubah orbit bulan, mengubah lama bulan mengorbit bumi, sampai alasan konyol seperti mengubah siklus bulanan wanita.

Sedangkan dari Indonesia? Tentu saja ada protes. Dan ini dikait-kaitkan dengan isu agama dan politik. Entah apa hubungannya astronomi dan sains dengan agama dan politik. Beberapa di antaranya berkata bahwa itu cuma kegiatan orang Yahudi yang ga puas dengan mengebom Irak dan Afganistan, dan akhirnya mau ngebom bulan juga. Yang lainnya berkata seharusnya NASA ga seenaknya melakukan itu atas apa yang diciptakan Tuhan. Lain lagi yang menyanggah pembelaan mengenai meteor yang sudah sejak lama menghantam bulan, dengan alasan meteor yang menghantam bulan adalah kemauan sang pencipta, sedangkan roket adalah ciptaan manusia. Di sini letak kejanggalannya, bagaimana mereka tahu bahwa roket benar-benar ciptaan dan keinginan manusia? Apakah ga mungkin kalau itu adalah rencana sang pencipta juga yang mengingkan manusia menghantamkan ciptaannya ke permukaan bulan untuk mendapatkan data sains yang akhirnya berguna bagi manusia pula?

Dan mungkin yang ga disadari oleh banyak orang adalah NASA bukan yang pertama kali melakukan ini. Sebelumnya sudah ada 2 negara yang melakukan hal serupa yaitu Rusia dan India, dan lagi karena isu politik dan rasa sirik (tanda ga mampu itu) akhirnya NASA yang notabennya di bawah naungan pemerintah Amerika Serikat menjadi bulan-bulanan. Rusia melalui satelit Luna 2 menghantam bulan di tahun 1959. Sedangkan ISRO atau Badan Antariksa India melakukannya tahun lalu, di tahun 2008 dengan sebuah kendaraan yang bernama MIP (Moon Impact Probe) yang berhasil menghantam bulan pada tanggal 14 November 2008. Tujuan dari MIP ini pun sama dengan NASA yaitu mencari bukti keberadaan air.

Tapi tentu saja, karena belum ada sentimen negatif ke India, dan anggapa negatif lainnya, akhirnya keberadaan MIP pun tenggelam. Alhasil hanya yang dari Amerika Serikat lah yang selalu jelek dan dia lah: NASA. Orang-orang yang berkomentar negatif juga kebanyakan tidak menyadari apa yang sudah dilakukan NASA selama ini, mulai dari banyaknya data sains yang didapat dari satelit-satelit lainnya yang diluncurkan, sampai gambar-gambar indah dari luar angkasa dari teleskop Hubble atau Spitzer.

Lalu apakah perkembangan teknologi termasuk juga astronomi seperti ini tidak pernah memiliki resiko? Pasti selalu ada resiko di balik semuanya. Dan tentu saja ini jadi alasan bagi para pemrotes yang takut bahwa bulan rusak lah, atau mengubah orbit bulan atau mendatangkan marah bahaya karena dewa bulan marah. Sejak dulu, perkembangan teknologi selalu membawa resiko yang mungkin belum terlihat. Kita bisa melihat perkembangan nuklir, dari yang dulunya dipakai sebagai senjata perang di Hiroshima dan Nagasaki, sampai dengan kecelakaan di reaktor nuklir Chernobyl. Tapi apa lantas perkembangan nuklir dihentikan begitu saja untuk keperluan damai? Apa jadinya dunia kedokteran dan bioteknologi tanpa nuklir?

Lain lagi dengan perkembangan teknologi listrik di mana batu bara dan bahan bakar fosil lain menjadi pemicu pemanasan global dan polusi udara. Listrik sudah ditemukan sejak lama dan berkembang dalam revolusi industri sampai saat ini, yang akhirnya menimbulkan efek global warming. Bayangkan bagaimana kalau dari dulu ilmuwan menemukan mengenai “global warming” ini dan lantas menghentikan riset kelistrikan dan ga cukup waktu untuk membuat energi bersih untuk menutupi kebutuhan listrik seluruh orang yang ada sekarang. Mungkin sampai saat ini tidak akan ada teknologi internet, telekomunikasi dan Anda tidak bisa membaca tulisan ini, dan di depan Anda sekarang hanya ada sebuah lilin, tentu saja dengan udara yang bersih sebagai efek positifnya. Kalaupun memang menghantam bulan akan mengubah orbitnya, berarti mungkin yang berkomentar perlu takut kalau sewaktu-waktu teknologi itu dipakai untuk balik menghantam bumi dan mengubah orbitnya sampai nyemplung ke matahari. Yah, itu adalah resiko dan hanya orang gila atau teroris yang akan melakukan hal ini.

Mungkin sebelum kita berkomentar yang negatif mengenai resiko perkembangan teknologi, ada baiknya kita melihat dulu ke belakang apa yang sudah membuat dunia kita berkembang seperti saat ini. Bukan karena rasa sirik atau iri, bukan karena hanya isu politik, bukan juga karena hanya isu agama sampai harus menjelekkan bangsa lain yang toh teknologinya justru akan dipakai oleh kita sendiri dan berguna untuk orang-orang yang berkomentar negatif tersebut.

Sekarang, apakah keputusan NASA menghantam bulan adalah keputusan yang salah? Apakah kita mau memilih untuk maju, atau tetap jalan di tempat hanya melihat NASA bisa menghantam bulan, berkomentar jelek mengenai apa yang mereka lakukan, sedangkan kita sendiri bahkan belum dapat meluncurkan roket keluar dari atmosfer bumi?

Are We Alone?

The Search

The Search

Sebuah lagi posting blog yang terinsipirasi dari xkcd.com :D Berhubung gambar di atas juga update terbaru dari xkcd.com untuk hari ini, dan topik yang dibahas kali ini memang cukup menarik dari sisi sains dan dimensi. Topik yang menarik karena ada hubungannya dengan ilmu astronomi, astrofisik, kosmologi, biologi dan lain-lain.

Bagi yang belum paham mengenai arti gambar di atas kurang lebih merupakan analogi bahwa kita selalu mencari dari apa yang terlihat oleh mata kita. Ceritanya kedua semut tersebut hanya menjejaki keberadaan “makhluk lainnya” dari feromon yang dikeluarkan makhluk lain, tapi tentu saja karena feromon semut berbeda dengan feromon lainnya, apalagi manusia, maka sang semut pun tidak menyadari keberadaannya. Padahal tentu saja, ada makhluk yang lebih intelek daripada semut itu: manusia, dan mereka tidak menyadarinya karena “dimensi” yang mereka liat agak berbeda. Mungkin hal itu juga berlaku dengan manusia, yang selalu mencari keberadaan kehidupan di alam semesta melalui gelombang, mulai dari ukurang nanoHertz sampai ke ukuran TeraHertz, tapi sampai sekarang belum menemukan sesuatu yang berarti. Maksudku belum menemukan kehidupan lain yang memiliki intelijensi sama seperti manusia sekarang ini di tempat nun-jauh di sana.

Salah satu temanku pernah bercerita mengenai analogi yang kurang lebih sama seperti gambar di atas yang dikutip dari ucapan Michio Kaku, seorang futurists Amerika Serikat. Beliau berkata bahwa bila terdapat makhluk 2 dimensi hidup di alamnya (kalau tidak salah sebutannya Flatlander), maka semua yang terlihat oleh dirinya hanya terdiri dari 2 koordinat, x dan y. Ketika ada sebuah benda 3 dimensi yang mengintervensi semestanya, maka sang makhluk itu tidak melihat benda tersebut sebagai benda 3 dimensi, melainkan hanya 2 dimensi. Bayangkan bila benda itu dijatuhkan dari melintas z positif ke z negatif melewati bidang 2 dimensi yang dapat dilihat oleh makhluk tersebut, anggaplah benda itu merupakan jari kita, maka sang makhluk 2 dimensi itu pun akan kaget melihat tiba-tiba ada sebuah benda yang bulat besar, kecokelatan, muncul dihadapannya. Ketika kita menarik jari kita keluar dari bidang yang terlihat oleh makhluk itu, maka secara otomatis makhluk itu akan melihat bahwa benda itu menghilang begitu saja.

Sekarang manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi adalah makhluk 3 dimensi, yang melihat banyak hal dari arah x, y, dan z. Apakah mungkin bila terdapat makhluk yang lebih intelek dari dimensi yang lebih tinggi, misalnya 4 dimensi? Oke, mungkin ada beberapa dari pembaca yang tertawa membaca “kebodohan” ini, dengan anggapan “sudah jelas manusia adalah makhluk yang terpilih dan cuma kita satu-satunya makhluk hidup di alam semesta ini, mana mungkin ada makhluk lain di luar sana, apalagi pake dimensi-dimensian”. Auuu… Silahkan tutup saja entry ini, toh aku bukan memperdebatkan hal ini dari sisi kepercayaan, tapi dari sisi sains. :cheerful:

Nah, kembali ke topik. Seperti title (alt-text) yang ada di gambar tersebut di atas, belakangan memang banyak misi luar angkasa yang memiliki tujuan mencari kehidupan di luar bumi. Katakanlah sejumlah misi ke planet Mars yang dikatakan mungkin memiliki tekstur yang sama dengan bumi di jaman dahulu kala sebelum semua air menguap dari sana, dan juga sempat ditemukan jejak fosil mikroba di bebatuannya meteorit Mars yang terjatuh di Antartika. Lain lagi misi ke satelit dari Jupiter, Europa yang dikatakan memiliki laut di bawah lapisan permukaan es. Belum cukup sampai di sana, para peneliti pun mulai mencari planet-planet di luar tata surya, disebut exo-planet. Yap, planet dari tata surya lainnya di mana sebuah bintang menjadi mataharinya. Dan sejauh ini memang sudah ditemukan cukup banyak exo-planet ditemukan dan dari sana banyak ditemukan planet gas raksasa semacam Jupiter atau Neptunus. Yeah, science and astronomy are cool. :cool:

Dan sejauh ini memang baru ditemukan planet-planet di galaksi yang sama dengan tata surya kita saja, yaitu Bimasakti atau Milky Way. Itu pun baru dalam jarak beberapa ribu tahun cahaya saja jaraknya. Padahal umur alam semesta diperkirakan lebih dari 14 milyar tahun, yang berarti batas terjauh alam semesta ini adalah 14 milyar tahun cahaya, yang berarti kita baru menemukan sedikit jejak dalam ukuran “mikro” dan masih banyak potensi lainnya di alam semesta ini. Seperti yang ditulis di title text nya, bahwa sekarang terdapat misi Kepler yang dikhususkan mencari exoplanet di konstelasi Cygnus.

Tapi apakah kita bisa menemukan mereka kalau kita hanya selalu melihat dari sisi yang “terlihat” saja? Bahkan dengan teknologi luar angkasa yang mendeteksi mulai dari cahaya yang terlihat, infrared, ultraviolet, X-ray sampai ke ukuran gelombang radio masih belum bisa menemukan makhluk lain di luar sana. Tampaknya memang masih lama sampai perjuangan manusia untuk terus mencari membuahkan hasil. Belum lagi kita harus melakukan komunikasi atau transportasi dengan teknologi kuno yang kita miliki kalaupun kita berhasil menemukan tanda-tanda kehidupan di luar sana. Yah, kuno karena untuk berkomunikasi dengan jarak 5 tahun cahaya saja, kita harus bersabar selama 10 tahun (dengan asumsi kecepatan pengiriman pesan sama dengan kecepatan rambat gelombang cahaya) sebelum pesan yang kita kirim benar-benar dapat dibalas lagi, itupun kalau pesannya segera dibalas. Belum lagi teknologi transportasi yang mungkin membutuhkan ratusan tahun untuk sampai ke tempat yang “hanya” berjarak 5 tahun cahaya itu.

Seperti semut-semut itu, mungkin kita hanya tidak menyadari bahwa kita tidak perlu mencari sampai sejauh itu. Toh, mungkin saja ada makhluk hidup lainnya yang lebih dekat dengan kita, hanya saja kita ga menyadari keberadaannya karena cara pandang kita yang berbeda, salah satunya dari sudut dimensi. Sekarang hanya tinggal menunggu bahwa teknologi yang kita miliki cukup canggih untuk mencari dan menemukan dari apa yang terlihat dulu, sebelum kita beralih ke sesuatu yang tidak terlihat. Lama-lama udah seperti ilmu cenayang nih.

Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya yang berhubungan dengan ini, tapi sekian dulu untuk kali ini. Lain kali baru aku lanjutkan lagi dengan pembahasan lain, khususnya kosmologi dan hal-hal berbau astronomi lainnya yang merupakan ilmu yang sangat favoritkan selain ilmu-ilmu sains lainnya. :)

Referensi? Wikipedia dan Google. Yap, Wikipedia yang pertama, Google yang kedua kalau Anda tidak yakin dengan isi Wikipedia. :)

This entry was last modified on: September 18th, 2009 at 15:43

Kenapa harus ada bom lagi sih?

Pagi-pagi, baru bangun tidur ceritanya, tiba-tiba dengar suara TV mengenai berita tentang bom di daerah Mega Kuningan, Jakarta. Padahal berita kayak begini sudah lama ga pernah kedengaran lagi, biasanya kalaupun ada berita semacam ini, hanya terjadi di negara-negara yang lagi dilanda konflik seperti Irak atau Pakistan, tapi sekarang tiba-tiba kembali lagi ke Indonesia? :blink: What the heck?

Bahkan peristiwa ini pernah terjadi di tempat yang persis sama sebelumnya yaitu Hotel JW Marriott, di mana peristiwa ledakan bom pernah terjadi juga pada tahun 2003 kemarin. Ga tau napa harus hotel itu yang menjadi sasaran lagi untuk ledakan kali ini, mungkin karena sasaran empuk banyaknya pendatang asing yang menginap di hotel tersebut. Selain JW Marriott, ternyata ledakan juga terjadi di Hotel Ritz Charlton, sebuah hotel berkelas juga, dan katanya juga banyak dihuni oleh orang-orang asing.

Sekarang bukan cuma masalah korban meninggal dan korban luka saja yang menjadi masalah, perekonomian Indonesia yang sedang bangkit dan mulai berjaya tampaknya harus terpuruk lagi karena kepercayaan investor akan menurun karena kasus ini. Jadi bersiap-siap kalau harga dollar akan naik lagi dan harga saham turun lagi. Selain itu ada juga yang takut club sepakbola kenamaan Manchester United bakal batal datang ke Indonesia karena kasus ini, apalagi ternyata MU bakal menginap di salah satu hotel yang dilanda ledakan itu. Semoga saja ga ada pembatalan acara.

Ga habis pikir, ada yah orang-orang yang dengan ga bertanggung jawabnya mau mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. Mending lah kalau itu orang-orang luar negeri yang mau mengganggu Indonesia sendiri, tapi ternyata dari dulu kebanyakan juga orang-orang Indonesia sendiri yang menghancurkan negeri ini. Mulai dari pelaku ledakan di Bali, sampai pelaku ledakan di sana-sini, pasti isinya jaringan teroris yang anggotanya orang-orang Indonesia sendiri. Padahal kalau mereka seberani itu buat melakukan teror dan kejahatan, mereka pasti bisa juga seberani itu membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang maju dan jaya melalui tindakan yang baik. Kadang ga habis pikir ideologi yang mereka anut dan perjuangkan itu, apakah ras, agama, negeri, tapi aku melihatnya ini cuma tindakan politik untuk membuat sebuah negara ambruk baik dari sisi kepercayaan dari negara lain dan juga dari sisi ekonomi. Dan dalam kasus ini, juga untuk membuat fans MU kecewa berat. :|

Aku bukan fans MU, tapi aku bisa merasakan gimana rasanya kalau ternyata acara yang ditunggu-tunggu ternyata batal, karena aku juga pernah mengalaminya waktu jaman SMA dulu, walaupun saat itu menjadi panitia sih.

Yah, semoga kasus ini bisa segera diusut tuntas akar masalahnya, kemudian para pelakunya ditangkap dan diadili dengan seadil-adilnya karena tindakan yang mereka lakukan itu. Atau jangan-jangan itu cuma ledakan gas dari kompor seperti yang sering terjadi belakangan ini? Untuk sementara jangan berspekulasi dulu ah, biar polisi aja yang melakukan penyelidikan. Dan semoga juga MU tetap bakal tampil, soalnya walau aku bukan fans sepak bola tetapi acara seperti ini sangat jarang (masih lebih jarang dari World Cup malah) jadi sayang juga kalau dilewatkan. :D

Kiamat oh kiamat, tahun 2012 kah?

Adalah sebuah event yang paling ga ditunggu-tunggu manusia, atau justru malah ditunggu-tunggu, tergantung persepsi orang terhadap sebuah hal yang dinamakan kiamat. Banyak juga kata lain untuk menggantikan kata “kiamat” ini, mulai dari akhir jaman, akhir semesta, hari terakhir, atau hari-di-mana-tidak-akan-ada-lagi-matematika (yeay!) sampai kepada penggunaan bahasa keren seperti armageddon, end of day dan sebagainya. Banyak juga alasan dan teori-teori mengenai hari yang spesial ini, dan akhirnya banyak juga yang mengupasnya ke dalam berbagai film, mulai dari bencana kosmik dan astronomi seperti Knowing, Armageddon, Deep Impact; atau juga karena bencana alam, seperti gunung berapi raksasa selayaknya letusan Gunung Tambora dan letusan gunung api pembentuk danau Toba; atau malah karena ulah manusia sendiri seperti perang dunia yang menggunakan nuklir atau senjata biologis. Sedangkan satu hal yang semakin sering didengungkan adalah karena global warming dan juga karena kalender orang jaman dulu cuma diproduksi sampai tahun 2012.

Oke, aku di sini bukan orang yang mau menyanggah kiamat semakin dekat dan bakal datang dalam 3 tahun lagi kalau mengikuti ramalan bangsa Maya. Paling ga kiamat di jaman digital udah dilewati ketika melewati batas milenium yang terakhir yaitu Y2K, dan tentu tidak semua menikmati dan merasakan hari kiamat ini, termasuk juga aku. Kemudian para ilmuwan jaman sekarang dengan ilmu eksaknya meyakini bahwa kiamat akan datang lagi nanti tahun 2038, tepatnya tanggal 19 Januari 2038, jam 03:14:07 GMT, dan aku lebih percaya dengan ramalan ini. Yeah, pada saat itu kita semua akan mengucapkan selamat tinggal pada arsitektur 32-bit dan beralih ke dunia baru bernama 64-bit, kecuali ada yang mau kembali lagi ke masa di mana dunia ini terbentuk pada tanggal 1 Januari 1970. :) We call it UNIX epoch, dude.

Kembali ke masalah serius, kiamat, yang sesungguhnya tentunya. Makin dekat ke hari kiamat yang diramal-ramalkan dan banyak dibicarakan oleh orang-orang itu, makin sering pula banyak isu-isu mengerikan. Seperti link YouTube yang diberikan kepada salah seorang temanku yang juga me-request artikel ini juga, seakan-akan banyak teori konspirasi mengenai akhir jaman, seperti seakan-akan ingin dibuat manusia. Di sana dikatakan bahwa pemerintah dunia sudah setuju untuk melakukan pengurangan penduduk secara masal pada beberapa tahun mendatang untuk menyeimbangkan alam dan akhirnya mengontrol aktivitas manusia karena jumlahnya lebih sedikit, yeah, mungkin dengan menanamkan chip setan yang diisu-isukan dulu itu.

Dan tentu pikiran pertama yang datang setelah melihat video itu, “great, another hoax”. Kalau dipikir-pikir seberapa mungkin dan siap pemerintahan negara-negara dunia akan menghadapi milyaran mayat bergelimpangan yang menimbulkan penyakit karena proses biologis dalam pembusukan itu? Lagipula seberapa siap pemerintah negara-negara kehilangan potensi sumber daya manusia, kekuatan negara, kekuatan militer dan politik karena pengurangan penduduk itu? Hey, remember, humans are greedy. Yah, semua manusia itu rakus dan ingin menjadi lebih berkuasa dibandingkan dengan yang lain, termasuk juga pemerintahan negara, apalagi yang dinamakan politik. Memotong jumlah penduduk berarti memotong kekuatan sendiri. Sekarang aja lagi isu-isunya, bahwa para remaja dan anak-anak adalah suplai masa depan sebagai konsumen rokok. Artinya memotong jumlah penduduk berarti mengurangi suplai konsumen di masa yang akan datang, dan kalau ekstrimnya dan hiperbola-nya yang berhubungan dengan pemerintahan adalah mengurangi suplai tentara masa depan.

Dulu aku pernah membaca di Kompas — mungkin sudah 1 tahun lebih, bahwa suplai pangan dunia saat ini sudah tidak seimbang dengan jumlah ledakan penduduknya. Toh akhirnya ketika jumlah penduduk bumi sudah melebihi 8 milyar atau 10 milyar, pertumbuhan penduduk akan berbalik arah menjadi di bawah nol alias negatif dengan sendirinya karena bumi sudah tidak bisa menyuplai makanan dan air bersih kepada penduduk dunia, di mana yang akan terkena dampak paling besar adalah negara-negara miskin, terutama yang berada di daerah sub-sahara Afrika. Hal ini semakin diperparah dengan konversi lahan pertanian untuk konsumsi menjadi lahan pertanian untuk produksi tanaman bahan bakar, seperti penghasil bio-diesel dan bio-etanol. Yak, secara umum memang alam akan menemukan titik keseimbangannya, ketika populasi bertambah banyak, suatu saat populasi akan menurun dengan sendirinya mungkin karena sebuah hal yang disebut sebagai hari kiamat.

Bukan tidak mungkin juga keadaan ini ditambah dengan bumbu-bumbu mistis dan teologis bahwa Tuhan menghukum manusia karena keserakahan manusia sendiri. Hey, lagipula kalau Tuhan ingin menghukum manusia atau menciptakan hari kiamat, apakah kita tahu kalau kapan kiamat itu terjadi? Apakah Tuhan memberi wahyu kepada bangsa Maya dan mengatakan akhir jaman terjadi tahun 2012? Oke, sekarang berpikir rasional, kalau kiamat benar-benar terjadi 3 tahun lagi, lalu apa yang Anda lakukan dalam 3 tahun ini? Pilihannya: memuaskan diri Anda dengan kesenangan duniawi, pergi ke seluruh penjuru dunia untuk berbuat baik dengan harapan masuk surga, lakukan semua hal seperti biasa karena menganggap ini cuma kegilaan yang dibuat oleh orang-orang kuno, atau justru mengharapkan diri Anda keluar dari dunia Matrix secepatnya. There is no spoon? Atau Anda punya pilihan Anda sendiri? :D

Kalau 2012 memang akhir dunia, percayalah, bahwa akhir dunia itu ga sepenuhnya buruk karena dunia baru selalu akan hadir setelah yang lama berakhir, yah semacam daur ulang gitu lah. Mungkin sudah saatnya manusia berubah dan menuju ke arah baik. Ups, aku lupa, ternyata kiamat aja ga cukup membuat manusia bisa berubah jadi baik, apalagi aku menulis pilihan untuk bersenang-senang dengan hal duniawi ketika kiamat sudah mau datang. My bad. Kembali ke realita, memang seperti inilah adanya, ketika kiamat datang, histeria pun mengguncang, terdengar suara-suara lantang, toh masih ada yang hirau kacang. :p

Andaikan kiamat bisa ditawar:

Kenapa sih kiamat cepat banget datang tahun 2012? Ga bisa diundur lagi yah? Yah, 3 tahun aja lah jadi 2015. Eh tunggu, kayanya jangka waktu segitu belum cukup buat jadi orang sukses. Mundur 10 tahun deh jadi 2022, angka bagus tuh buat kiamat banyak 2 nya. Eh, kalau segitu belum tentu blablabla… dengan tawar menawar dan argumen sendiri akhirnya: Kalau gitu sekalian deh tunggu aku tua dan bisa lihat anak cucu, kemudian meninggal dunia dengan tenang, baru kiamat itu terjadi.

Kalau kiamat bisa ditawar, maka pasti dunia ini ga akan kiamat sampai kapan pun. :) Dan ga perlu diusik rasa penasaran nanti tahun 2012 bakal terjadi apa. Asik juga. Keep thinking like that if it can save the humanity. :D

Sudah deh, kembali ke aktivitas seperti biasa. Lagian masih 3 tahun lagi kan baru tahun 2012 nya. Urusan kiamat besar itu urusan belakangan deh, soalnya kiamat-kiamat kecil bisa terjadi di samping Anda-Anda semua kalau Anda ga belajar dengan giat, atau nilai ulangan / ujian Anda ga lewat dari 5, atau ga lulus kuliah, atau dipecat dari kantor karena kerjaan ga beres karena baca blog ini. Huh? Tenang, sekarang harusnya karena baca blog ini justru membuat Anda sadar kalau ada kiamat kecil yang lebih mengerikan daripada kiamat besar tadi. Hehehe. Am I rite? :)

Hidup dalam Virtual Reality

Entah kenapa aku sekarang merasa bahwa aku terlalu banyak hidup dalam duniaku sendiri. Serasa hidup dalam dunia Virtual Reality (VR) atau seperti hidup dalam dunia the Matrix. Semua yang aku rasa seperti nyata dan real, tapi sebenarnya semua hanyalah stimulasi yang dikirim oleh dunia VR ke dalam otak seakan-akan aku melihat apa yang tampaknya aku lihat, mendengar apa yang tampaknya aku dengar, dan merasakan apa yang tampaknya seperti aku rasakan.

Mungkin benar kata pacarku bahwa aku terlalu banyak hidup dalam duniaku sendiri. Sejak kecil aku memang sering berimajinasi atas apa yang sudah pernah aku lihat dan aku dengar. Kemampuan abstraksi dan imajinasi di dalam otakku bisa dikatakan cukup tinggi, tapi kadang inilah yang membuat aku terlalu banyak berpikir atas sesuatu yang seharusnya mungkin ga perlu kupikirkan. Aku bahkan bisa mengganggap sesuatu yang tidak benar-benar terjadi justru terjadi, misalkan saja seseorang yang tampak diam kepadaku, aku bisa seakan-akan merasa bahwa orang tersebut marah padaku, padahal hal itu belum tentu benar, dan kenyataannya memang kebanyakan hal itu adalah salah.

Mungkin itulah yang menyebabkan dalam test kepribadian di internet, aku selalu menunjukkan nilai interpersonal yang rendah dibanding dengan orang lain. Aku terlalu banyak curiga, terlalu waspada dan pikiranku terlalu sensitif untuk menanggapi apa yang terjadi di sekitarku. Yah, entah salah siapa, tapi yang jelas aku merasa ini merupakan warisan genetik yang kemudian terus aku asah sampai bisa menjadi seperti ini. Apakah ini sesuatu yang buruk? Atau sesuatu yang baik?

Aku bahkan terkadang ga tahu harus berpikiran positif atau negatif. Banyak orang berkata “think positive aja lah”, tapi setiap kali aku mencoba hal ini, aku merasa bahwa aku terlalu cuek akan duniaku. Katakanlah ketika aku bersalah kepada temanku, dan aku think positive bahwa temanku hanya marah untuk sementara dan toh sebentar lagi akan hilang, aku merasa bahwa aku ini orang yang tidak tahu diri karena aku cuek dan alhasil, bisa saja temanku itu bertambah marah atas sikapku yang cuek bebek seakan-akan menganggapnya ga marah. Di sisi lain, kalau aku think negative, berkata seakan-akan temanku itu marah besar padaku, lalu aku berusaha memikirkan solusi terbaik dan menebusnya, maka yang aku dapatkan adalah pernyataan dari orang lain bahwa aku ini terlalu berlebihan. Dan ketika aku tidak berpikir untuk positif ataupun untuk negatif, maka konsekuensinya pasti sama dengan ketika aku berpikir positif, yaitu dianggap terlalu cuek. Jadi harus bagaimana?

Kalau aku hidup dalam dunia VR seperti ini terus, entah sampai kapan aku bisa bertahan. Itulah sebabnya aku memiliki tujuan hidup yaitu mencari arti hidup ini di dunia. Masih cukup banyak waktu sampai aku menemukannya. Masih cukup banyak waktu sampai usahaku untuk terlepas dari dunia VR ini berhasil dan terwujud. Yah, kalaupun aku hidup dalam dunia the Matrix, aku ingin hidupku terbebas dari sana seperti Neo, tahu kapan aku harus berada di dunia VR dan kapan aku harus berada di dunia nyata, dan alhasil berakhir sebagai manusia seutuhnya yang melakukan perubahan besar di dunia ini.