Bad Bad Sales
Sedikit cerita pembuka, hari ini aku pergi ke Mangga Dua Mall untuk membeli beberapa “peralatan tempur” untuk “berperang” esok harinya di luar kota. Yap, kalau namanya Mangga Dua Mall, tentu kurang lebih nyangkutnya adalah ke peralatan elektronik atau peralatan yang berhubungan dengan komputer. Tepatnya sih aku membeli modem CDMA. Beberapa toko aku kunjungi untuk menanyakan harga dan melihat seperti apa modem yang dijual, dan tentu saja ada penjual atau sales yang ramah dan mau menjawab dengan baik, tetapi ada juga yang membuatku tidak nyaman di tempat itu. Dan di sini aku ingin menceritakan juga beberapa pengalamanku yang membuatku tidak suka terhadap salesman atau woman. Not all, but just some of them.
Pertama-tama yang perlu aku tekankan, aku bukan orang marketing atau orang yang mengerti dunia jual beli secara mendalam. Aku juga belum pernah menjadi salesman secara langsung untuk menjual produk apapun, jadi pengalamanku dalam memperlakukan calon costumer masih bisa dibilang mendekati nihil. Mungkin bila Anda mencari sebuah artikel, bacaan atau panduan untuk menjadi seorang sales yang baik, Anda akan lebih banyak menemukannya bertebaran di toko-toko buku di sekitar Anda. Akan tetapi aku rasa pengalamanku sebagai seorang awam atau seorang calon customer cukup untuk menulis beberapa hal menyebalkan yang sering kali dilakukan oleh sales yang menawarkan produknya, yang akhirnya bisa membuat seseorang menjadi ilfil bahkan malah jadi anti dengan produk yang ditawarkan itu untuk seumur hidup. Silahkan mengatakan hal ini konyol, tapi pada kenyataannya, kalau Anda menghadapi orang sepertiku, bisa saja terjadi dendam kesumat antiproduk seperti yang aku bilang tadi.
Mari kita mulai saja.
Cerita pertama terjadi sekitar kurang lebih 1 bulan yang lalu ketika aku berjalan di sebuah mall di Jakarta. Ketika naik eskalator, ada sebuah sales sebuah bank yang sudah siap menunggu di ujung eskalator. Ketika aku baru saja menginjakkan kaki di lantai itu, tiba-tiba sang sales menyodorkan sebuah brosur. Tentu saja ada 2 pilihan yang dapat aku lakukan ketika disodorkan, menolak (dan cuekin) atau mengambilnya. Pilihanku saat itu adalah mengambilnya. Saat itu aku sudah sempat menarik brosur itu supaya aku bisa membacanya, tetapi ternyata sang sales masih saja memegang brosur tersebut seakan tak rela kehilangan sebuah brosur atau mungkin sedang ada penghematan kertas dan brosur di bank tempat dia bekerja.
Sambil tetap memegang brosur itu, dia berkata “masih kerja atau sudah kuliah nih?”. Mengingat statusku masih di twilight zone alias zona yang ga jelas, dan mengingat KTP juga masih tertulis sebagai pelajar, alhasil aku bilang “masih kuliah”. Terus tiba-tiba sang sales langsung menarik brosur yang daritadi belum rela dilepaskannya. Sambil tersenyum (dan aku melihatnya seakan seperti tersenyum picik dan meremehkan sambil berpikir “ah, anak kecil bau kencur”), dia pun berkata “wah, kalau gitu ga bisa, harus yang udah kerja”. Setelah dilihat tampaknya memang di sekitar sana terdapat stand untuk kartu kredit. Oke, kebetulan saja produk itu bukan produk yang membuatku tertarik mengingat aku sebisa mungkin memang ga mau memegang kartu utang itu, jadi kalaupun aku sampai ilfil dengan produk tersebut, mungkin memang ga bakal terlalu bermasalah, atau justru malah bagus. Dan komitmenku untuk anti kartu kredit justru akan semakin mantab. Thanks buat sales menyebalkan itu. Hiehehehe… >:)
Ga tau yah kalau dari pengalaman ini, sang sales itu memang diharuskan menghemat brosurnya, atau mungkin sales nya aja yang gila sendiri. Mungkin juga brosur itu sekaligus formulir sehingga jumlahnya sebisa mungkin dihemat. Entahlah. Yang jelas, kenapa ga tanya dulu dengan sopan, misalnya “bapak / ibu sudah bekerja?”, sebelum menyodorkan kertas itu. Bila jawabannya sudah pasti, barulah menyodorkan kertas itu. Atau justru itu memang strategi marketing?
Cerita kedua merupakan pengalamanku hari ini. Seperti yang aku tulis di atas bahwa hari ini aku pergi ke Mangga Dua Mall untuk membeli modem CDMA. Setelah bertanya-tanya ke beberapa toko, akhirnya aku sampai di sebuah toko yang agak sepi dibanding toko di sekitarnya. Di sana ada seorang mba-mba yang menjaga toko tersebut, dan langsung saja aku bertanya “Mba, di sini jual modem CDMA ga?”. Dia pun mengiyakan dan mengambilkan satu kotak yang berisi paket modemnya. Lalu seperti biasa aku bertanya “ini berapaan yah harganya?”. Kemudian dia bilang 450 ribu. Lalu aku bertanya lagi untuk memastikan harga bersihnya berapa. Dan yang ga aku sadari, dia sudah mulai mengeluarkan kertas kwitansi dan meletakkan ujung pulpennya di atas kertas itu sambil berkatan 400 ribu. Saat itu aku juga tengah melihat-lihat keterangan dari kotak itu, dan dia bertanya “memangnya mau ambil berapa?”, tentu aja aku bilang 1. Lucunya, dia langsung menuliskan harganya di kwitansinya itu. Aku sempat melihatnya menulis, tetapi aku mengira dia menulis untuk orang lain atau cuma mau memperlihatkan harganya saja.
Setelah melihat-lihat, seperti biasa aku meletakkan kotak itu, lalu berjalan keluar sambil berkata terima kasih dan mau lihat-lihat yang lain dulu di sekitar sana. Akan tetapi baru berjalan satu langkah, si mbak tersebut malah manggil lagi (ngiranya mau nurunin harga lagi supaya aku balik lagi), sambil bilang kalau kwitansinya sudah ditulis dan aku harus membelinya. Damn!! Sadarlah aku kalau ternyata dia tulis kwitansi itu karena ingin aku membayar. Ga sopan amat, aku belum kasih konfirmasi untuk beli, dia udah nulis duluan. Lalu aku bilang kalau aku masih mau melihat-lihat dulu dan belum berniat beli modemnya, dan bahkan udah meyakinkan dia kalau memang harganya cocok aku bakal balik lagi. Tapi tetap aja dia bilang kalau itu artinya aku udah beli. Alhasil, aku dan pacarku akhirnya pergi aja deh dari tempat itu. Kok cuma bermodalkan sebuah kertas bertuliskan harga aja udah dianggap pasti beli? Kalau semudah itu, napa ga nulis aja kwitansi itu sembarangan, terus kasi ke orang yang tengah berjalan di sana sambil bilang kalau kertas itu sudah dituliskan untuk orang tersebut? Depresi yah mbak di sono sepi sampai harus maksa orang beli?
Cerita ketiga, berhubungan dengan MLM alias Multi Level Marketing. Sesuatu yang tidak selalu buruk, tetapi di otakku sudah tertanam dogma kalau MLM merupakan sesuatu yang buruk. Memang ga semua MLM itu buruk, ada yang memang murni menjual barang dan barang itu memang diperlukan oleh orang-orang disekitarnya, tetapi ada juga yang tampak seperti hanya meminta orang membayar uang untuk sesuatu yang ga nyata. Huff, aku ga ngerti lah sebenarnya dunia MLM itu seperti apa, yang pasti sebelum aku mengerti, aku sudah membencinya.
Dan tentu beberapa teman sekolahku di SMA pernah mengalaminya juga terjebak dalam arus marketing dan penjualan “barang” seperti ini. Tiba-tiba diundang oleh salah satu teman yang padahal juga bukan teman dekat untuk makan-makan di sebuah mall. Ketika kita memenuhi janjinya, beberapa orang sudah menunggu untuk menceramahi mengenai kesuksesan mengikuti program yang mereka ikuti ini, dan kita pun merasakan siksaan api neraka selama mendengar ceramah orang-orang tersebut untuk menjadikan kita sebagai “bawahan” mereka. Yang jelas, aku dulu pernah hampir terjebak juga menjadi orang yang terbakar di neraka tersebut, akan tetapi terselamatkan oleh temanku lainnya. Walau demikian karena hal itu, kepercayaanku sudah luntur terlebih dahulu. Yang jelas satu hal yang perlu diingat, kalau diajak oleh teman yang ga gitu dekat, tapi ketika ditanya alasannya cuma dibilang “mau ketemu aja”, jangan pernah ge’er tuh orang mau nembak atau mau mentraktir makan. Tanamkan di otakmu kalau orang itu mau “menculik” Anda dan “meminta tebusan” secara halus. Yay, atau anggap aja dia orang ga dikenal, kemudian ingat kata mama: “kalau orang yang ga dikenal ngajak jalan-jalan, jangan pernah mau (kalau perlu teriakin maling sekeras-kerasnya)”.
Tetapi kasus serupa mungkin bisa ditemukan juga di luar MLM. Misalnya si sales menawarkan barang sambil terus mengikuti seraya memaksa untuk membeli atau memakai produknya. Dan yang paling mengerikan kalau sampai diteror lewat telepon untuk memastikan kalau kita memang 100% bakal membeli dari dia, dia, dia, dan dia, tanpa boleh melalui orang lain.
Itu aja sih cerita soal kejelekan di bidang “penjualan” yang pernah aku alami. Kalau aku mau kasih saran kepada orang yang sedang berkutat atau mau berkutat di bidang marketing atau sebagai sales, jangan cuma berorientasi memenuhi target yang diberikan perusahaan atau bos, tetapi berusaha untuk memenuhi kebutuhan calon customer juga. Alhasil kalau memang akhirnya si calon customer cocok dengan produk yang ditawarkan dan cocok juga dengan Anda, maka customer itu akan melakukan marketing secara ga langsung juga, dan tentu Anda juga yang akan ketiban untung kalau sang customer merefer Anda sebagai sales-nya. Sebaliknya, kalau orang malah jadi ga nyaman dengan strategi penjualan Anda, bisa-bisa malah timbul perasaan anti, dan bisa menyebar ke mana-mana (toh akhirnya jalan yang paling jelek itu dibalas dengan gugatan pencemaran nama baik).
Anyway, akhirnya bisa publish entry blog lagi setelah sekian lama males nulis. Hehehehe…




Berhubung gambar di atas juga update terbaru dari xkcd.com untuk hari ini, dan topik yang dibahas kali ini memang cukup menarik dari sisi sains dan dimensi. Topik yang menarik karena ada hubungannya dengan ilmu astronomi, astrofisik, kosmologi, biologi dan lain-lain.
What the heck?



Latest Comments