Moral dari sebuah kisah
Ini adalah sebuah kisah nyata dari dunia yang fana, bukan kisah dari dunia antah-berantah. Walau demikian sebuah kisah nyata pun bisa ditarik nilai moralnya. Di sini aku tidak menjadi seorang yang moralis atau cendikiawan yang pandai menarik nilai dan moral dari sebuah cerita, jadi para pembaca lah yang harus menarik ceritanya (yap, Anda lah orangnya). Walau demikian aku akan mencoba menarik moralnya walaupun ini menjadi sulit mengingat aku belum mencapai tingkat kebijaksanaan seorang Aristoteles. Arghh!! Banyak basa-basi, kita mulai saja ceritanya.
Berawal dari sebuah negeri antah-berantah. Eh… salah, dari negeri nyata yang terjadi sejak beberapa bulan yang lalu, sebuah acara direncanakan untuk dibuat oleh sekelompok para pelajar besar (baca: mahasiswa). Sebuah acara permainan bola, seukuran bakso (lebih gede dikit), bulat, berwarna kuning, kadang putih, ada bintangnya. Dan para pelajar itu pun menyusun rencana untuk bertemu di sebuah gubuk tua di pinggiran kota dekat dengan kuil di mana orang-orang banyak berbelanja dan menonton layar tancep raksasa. (ini ceritanya mulai ngaco nih
)

Dan kali ini aku tidak tinggal diam seperti sebelumnya. Aku malah membalas messagenya, tapi mungkin si pengirim itu sendiri ga membaca message-ku karena terlalu banyak orang yang kembali mengirimkan message yang sama kepadanya.
Sepertinya benar-benar mengerikan message itu. Sama mengerikan dengan message lainnya yang serupa walau tak sama. Yeah. You’re right! To sleep with a dead body? And it is a FACT? Ah, dunia ini memang gila, seperti biasa. Dan tampaknya tidak berubah dari waktu ke waktu.
Semoga aja banyak handphone tipe baru yang diluncurkan SE dalam 2-3 bulan ini supaya harganya cepat turun. Lagipula sekarang masih harus nabung buat beberapa kebutuhan dasar, mulai dari bayar kuliah sendiri, balikin modal buat laptop, beli gitar baru, beli modem cable yang baru dan kemungkinan buat pasang Fastnet berhubung dd-ku juga bakal tinggal di tempatku yang membuat bandwidth 1GB / bulan ga akan cukup.



