Aku menyerah. Mungkin itu yang bisa aku katakan saat ini. Menyerah terhadap sesuatu yang sudah lama kuperjuangkan. Menyerah dalam keadaan yang sebenarnya tidak rela tapi aku rasa memang jalan ini harus kutempuh. Baik ataupun tidak baik, aku memilih untuk menyerah dari perjuangan cintaku kepadanya.
Toh sejak lama aku mendekati dia dan berusaha memahaminya, aku tetap tidak pernah bisa menebak isi hatinya. Aku bahkan tidak yakin bahwa di dalam hatinya ada sedikit bagian dari diriku. Rasanya selama ini dia masih belum bisa menganggapku “setara” dengannya, dan masih menganggapku sebagai “senior”-nya walau hal ini sudah berulang kali aku tegaskan padanya untuk tidak lagi memangganggapku sebagai senior. Yah, tidak lebih dari itu. Apalagi ketika dia menolakku saat aku menyatakan perasaanku, dia tidak mengatakan bahwa “lebih baik kita temanan aja yah” seperti yang sering dikatakan oleh para perempuan yang menolak pernyataan suka laki-laki.
Satu lagi yang menjadi pengganjal di hatiku dan pikiranku, bila nanti dia sudah lulus (dan sudah pasti lulus), apakah mungkin aku masih bisa menemuinya dan mengejarnya? Temannya sempat mengatakan hal itu kepadaku. Tetapi kini aku menyadari bahwa ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Mungkin setelah lulsu, dalam satu tahun aku hanya dapat menemuinya maksimal 3 kali yaitu pada saat Persami PMR sekolahku. Itupun kalau dia mau datang karena teman baiknya yang juga ikut di PMR tidak melanjutkan study di Indonesia, melainkan Malaysia. Kalau soal mengajak ketemuan sih secara logis memang merupakan satu-satunya jalan. Minggu lalu aku sempat mengajaknya menonton lewat SMS, akan tetapi jawabannya cukup simple “ga mau ah” tanpa adanya pertanyaan lebih lanjut misalnya “nonton sama siapa?” atau “bagus ya?”. Dia hanya mengatakan “ga mau aja”, sebuah jawaban tanpa alasan yang membuat aku putus asa dan kecewa.
Untuk saat ini tampaknya memang enak menjomblo dan hidup bebas. Memiliki dia di hatiku sebagai tempatku memberi perhatian sudah cukup berarti bagiku. Toh siapa tahu ke depannya kita justru akan bertemu lagi dan memulai awal yang baru. Yah, siapa tahu. Seperti saudara sepupuku dengan pacarnya yang kini sudah bertunangan. Mereka tidak bertemu sejak lulus SMP tetapi sejak 1 tahun yang lalu menjalin hubungan kembali sampai akhirnya bertunangan. Kemungkinan ini memang bisa terjadi.
Agak berat untuk melepaskannya, tapi itulah yang aku lihat sebagai pengorbananku yang paling besar sampai saat ini. Walau aku melepaskannya, perasaan yang kumiliki kepadanya mungkin tidak akan hilang dengan segera. Aku masih menyukainya, jujur saja. Hanya saja ini mengingat kondisi antara kami berdua yang belum cocok untuk berhubungan lebih lanjut.
Temanku sempat berkata “paling ga karena lu ga mikirin dia lagi, pikiran lu lebih tenang kan”. Sayangnya aku harus mengatakan tidak. Aku malah ingin memiliki seseorang yang aku sayangi untuk aku pikirkan daripada tidak memikirkan apapun. Lagipula ketika aku dulu masih mengejarnya dan sangat memikirkan dia, aku bisa mengerjakan proyek, pekerjaan-pekerjaanku dan berkuliah dengan baik. Hal yang tidak berbeda dengan saat ini, yang menandakan memikirkan seseorang seperti dia tidak mempengaruhiku bidang lain.
Hm, oleh karena itu, di blog ini akan sangat jarang menemui tulisan mengenai dia lagi. Apalagi belakangan ini aku juga sudah jarang menulis mengenai dia. Sampai saatnya aku menemukan dia-dia yang lain, blog ini pun akan berisi mengenai sisi hidupku yang lain.
Aku, masih memiliki hidupku. Kini aku menjalaninya tanpa dia. Aku rasa masih lama sampai aku mendapatkan “seorang pendamping hidup yang sejati”. (hmm, terlalu berat yah istilahnya?)