Posts Tagged ‘astronomi’

Kenapa Harus Protes atas Kemajuan Teknologi dan Sains?

Kita hidup di jaman yang bisa dibilang modern dan maju. Yah, pernyataan ini secara relatif, karena 50 tahun yang lalu pun kalau kita hidup di jaman itu dan hidup di tempat dan lingkungan yang tepat, kita sudah bisa dibilang modern walaupun di jaman sekarang dibilang kuno. Ketika televisi muncul pertama kali untuk dinikmati keluarga kaya raya, setiap orang yang memiliki televisi bisa dibilang modern. Sekarang, bahkan punya sebuah handphone saja bisa dibilang sudah biasa dan bukan lagi indikasi sebagai seorang yang modern.

Oke, cukup cuap-cuap mengenai modern dan ga modern itu dilihat dari sisi teknologi yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak. Sekarang kita lihat dari sisi produsen, khususnya produsen dalam ilmu pengetahuan dan sains (atau sains itu sama dengan ilmu pengetahuan?).

Kita ga perlu melihat jauh-jauh ke negara seberang, mari kita lihat ke negara kita sendiri dulu. Bisa dibilang Indonesia sudah cukup maju dalam bidang teknologi dan sains di mana Indonesia berhasil menciptakan teknologi yang sudah pernah diciptakan di negara lain secara mandiri. Selain itu prestasi dalam bidang sains dengan banyaknya memenangkan lomba di tingkat internasional menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Tapi satu yang disayangkan, masih banyak orang yang ga paham mengenai percobaan sains dan kemajuan teknologi di negara lainnya. Paling ga, mereka melihat kemajuan itu hanya dari sisi negatif, bukan dari sisi positif. Oke lah, ini normal, kebanyakan orang memang sirik, tapi ingat bahwa sirik tanda ga mampu (katanya).

Mungkin rasa sirik ini bermula karena memang Indonesia ga terlalu menonjol dalam hal astronomi dan teknologi luar angkasa. Di astronomi, Indonesia bisa dibilang cukup tertinggal dibanding negara-negara besar lainnya seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan India. Yah, kita memang menang di Olimpiade Astronomi dunia, tapi sayangnya kemenangan itu ga diikuti dengan praktek yang ada. Indonesia masih menjadi negara konsumen yang pretasinya sebatas meluncurkan satelit komunikasi dan satelit-satelit lainnya, itupun komponennya dirakit di luar negeri dan kendaraan peluncurnya pun merupakan peluncur dari luar negeri. Kalaupun ada prestasi dari warga negara Indonesia, mereka adalah orang-orang yang bekerja di luar negeri, bukan di negeri ini sendiri, mungkin karena memang di negeri orang lain mereka lebih dihargai dan fasilitas yang disediakan lebih baik untuk penelitian astronomi mereka. Alhasil karena bekerja di luar negeri, maka prestasi itu adalah prestasi negara seberang.

Lucunya, selalu saja ada alasan bagi orang-orang yang tidak mengerti soal sains untuk memprotes kemajuan yang terjadi di negara lainnya, ga terkecuali Indonesia, dan masalah ini kadang dikaitkan dengan masalah agama dan politik. Beberapa waktu lalu NASA meluncurkan sebuah kendaraan luar angkasa bernama LCROSS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite). Salah satu misinya adalah meluncurkan sebuah instrumen ke permukaan bulan dengan kecepatan tinggi untuk membuat kawah baru di bulan dan mencari bukti keberadaan air di sana. Pada tanggal 9 Oktober 2009, instrumen dari satelit ini berhasil menghantam bulan dan mengembalikan informasi ilmiah. Aksi NASA ini memancing perdebatan antara kalangan “orang biasa” dengan kalangan ilmuwan yang memang tahu apa yang mereka perbuat. Banyak yang memprotes dengan berbagai alasan, mulai dari akan mengubah orbit bulan, mengubah lama bulan mengorbit bumi, sampai alasan konyol seperti mengubah siklus bulanan wanita.

Sedangkan dari Indonesia? Tentu saja ada protes. Dan ini dikait-kaitkan dengan isu agama dan politik. Entah apa hubungannya astronomi dan sains dengan agama dan politik. Beberapa di antaranya berkata bahwa itu cuma kegiatan orang Yahudi yang ga puas dengan mengebom Irak dan Afganistan, dan akhirnya mau ngebom bulan juga. Yang lainnya berkata seharusnya NASA ga seenaknya melakukan itu atas apa yang diciptakan Tuhan. Lain lagi yang menyanggah pembelaan mengenai meteor yang sudah sejak lama menghantam bulan, dengan alasan meteor yang menghantam bulan adalah kemauan sang pencipta, sedangkan roket adalah ciptaan manusia. Di sini letak kejanggalannya, bagaimana mereka tahu bahwa roket benar-benar ciptaan dan keinginan manusia? Apakah ga mungkin kalau itu adalah rencana sang pencipta juga yang mengingkan manusia menghantamkan ciptaannya ke permukaan bulan untuk mendapatkan data sains yang akhirnya berguna bagi manusia pula?

Dan mungkin yang ga disadari oleh banyak orang adalah NASA bukan yang pertama kali melakukan ini. Sebelumnya sudah ada 2 negara yang melakukan hal serupa yaitu Rusia dan India, dan lagi karena isu politik dan rasa sirik (tanda ga mampu itu) akhirnya NASA yang notabennya di bawah naungan pemerintah Amerika Serikat menjadi bulan-bulanan. Rusia melalui satelit Luna 2 menghantam bulan di tahun 1959. Sedangkan ISRO atau Badan Antariksa India melakukannya tahun lalu, di tahun 2008 dengan sebuah kendaraan yang bernama MIP (Moon Impact Probe) yang berhasil menghantam bulan pada tanggal 14 November 2008. Tujuan dari MIP ini pun sama dengan NASA yaitu mencari bukti keberadaan air.

Tapi tentu saja, karena belum ada sentimen negatif ke India, dan anggapa negatif lainnya, akhirnya keberadaan MIP pun tenggelam. Alhasil hanya yang dari Amerika Serikat lah yang selalu jelek dan dia lah: NASA. Orang-orang yang berkomentar negatif juga kebanyakan tidak menyadari apa yang sudah dilakukan NASA selama ini, mulai dari banyaknya data sains yang didapat dari satelit-satelit lainnya yang diluncurkan, sampai gambar-gambar indah dari luar angkasa dari teleskop Hubble atau Spitzer.

Lalu apakah perkembangan teknologi termasuk juga astronomi seperti ini tidak pernah memiliki resiko? Pasti selalu ada resiko di balik semuanya. Dan tentu saja ini jadi alasan bagi para pemrotes yang takut bahwa bulan rusak lah, atau mengubah orbit bulan atau mendatangkan marah bahaya karena dewa bulan marah. Sejak dulu, perkembangan teknologi selalu membawa resiko yang mungkin belum terlihat. Kita bisa melihat perkembangan nuklir, dari yang dulunya dipakai sebagai senjata perang di Hiroshima dan Nagasaki, sampai dengan kecelakaan di reaktor nuklir Chernobyl. Tapi apa lantas perkembangan nuklir dihentikan begitu saja untuk keperluan damai? Apa jadinya dunia kedokteran dan bioteknologi tanpa nuklir?

Lain lagi dengan perkembangan teknologi listrik di mana batu bara dan bahan bakar fosil lain menjadi pemicu pemanasan global dan polusi udara. Listrik sudah ditemukan sejak lama dan berkembang dalam revolusi industri sampai saat ini, yang akhirnya menimbulkan efek global warming. Bayangkan bagaimana kalau dari dulu ilmuwan menemukan mengenai “global warming” ini dan lantas menghentikan riset kelistrikan dan ga cukup waktu untuk membuat energi bersih untuk menutupi kebutuhan listrik seluruh orang yang ada sekarang. Mungkin sampai saat ini tidak akan ada teknologi internet, telekomunikasi dan Anda tidak bisa membaca tulisan ini, dan di depan Anda sekarang hanya ada sebuah lilin, tentu saja dengan udara yang bersih sebagai efek positifnya. Kalaupun memang menghantam bulan akan mengubah orbitnya, berarti mungkin yang berkomentar perlu takut kalau sewaktu-waktu teknologi itu dipakai untuk balik menghantam bumi dan mengubah orbitnya sampai nyemplung ke matahari. Yah, itu adalah resiko dan hanya orang gila atau teroris yang akan melakukan hal ini.

Mungkin sebelum kita berkomentar yang negatif mengenai resiko perkembangan teknologi, ada baiknya kita melihat dulu ke belakang apa yang sudah membuat dunia kita berkembang seperti saat ini. Bukan karena rasa sirik atau iri, bukan karena hanya isu politik, bukan juga karena hanya isu agama sampai harus menjelekkan bangsa lain yang toh teknologinya justru akan dipakai oleh kita sendiri dan berguna untuk orang-orang yang berkomentar negatif tersebut.

Sekarang, apakah keputusan NASA menghantam bulan adalah keputusan yang salah? Apakah kita mau memilih untuk maju, atau tetap jalan di tempat hanya melihat NASA bisa menghantam bulan, berkomentar jelek mengenai apa yang mereka lakukan, sedangkan kita sendiri bahkan belum dapat meluncurkan roket keluar dari atmosfer bumi?

Are We Alone?

The Search

The Search

Sebuah lagi posting blog yang terinsipirasi dari xkcd.com :D Berhubung gambar di atas juga update terbaru dari xkcd.com untuk hari ini, dan topik yang dibahas kali ini memang cukup menarik dari sisi sains dan dimensi. Topik yang menarik karena ada hubungannya dengan ilmu astronomi, astrofisik, kosmologi, biologi dan lain-lain.

Bagi yang belum paham mengenai arti gambar di atas kurang lebih merupakan analogi bahwa kita selalu mencari dari apa yang terlihat oleh mata kita. Ceritanya kedua semut tersebut hanya menjejaki keberadaan “makhluk lainnya” dari feromon yang dikeluarkan makhluk lain, tapi tentu saja karena feromon semut berbeda dengan feromon lainnya, apalagi manusia, maka sang semut pun tidak menyadari keberadaannya. Padahal tentu saja, ada makhluk yang lebih intelek daripada semut itu: manusia, dan mereka tidak menyadarinya karena “dimensi” yang mereka liat agak berbeda. Mungkin hal itu juga berlaku dengan manusia, yang selalu mencari keberadaan kehidupan di alam semesta melalui gelombang, mulai dari ukurang nanoHertz sampai ke ukuran TeraHertz, tapi sampai sekarang belum menemukan sesuatu yang berarti. Maksudku belum menemukan kehidupan lain yang memiliki intelijensi sama seperti manusia sekarang ini di tempat nun-jauh di sana.

Salah satu temanku pernah bercerita mengenai analogi yang kurang lebih sama seperti gambar di atas yang dikutip dari ucapan Michio Kaku, seorang futurists Amerika Serikat. Beliau berkata bahwa bila terdapat makhluk 2 dimensi hidup di alamnya (kalau tidak salah sebutannya Flatlander), maka semua yang terlihat oleh dirinya hanya terdiri dari 2 koordinat, x dan y. Ketika ada sebuah benda 3 dimensi yang mengintervensi semestanya, maka sang makhluk itu tidak melihat benda tersebut sebagai benda 3 dimensi, melainkan hanya 2 dimensi. Bayangkan bila benda itu dijatuhkan dari melintas z positif ke z negatif melewati bidang 2 dimensi yang dapat dilihat oleh makhluk tersebut, anggaplah benda itu merupakan jari kita, maka sang makhluk 2 dimensi itu pun akan kaget melihat tiba-tiba ada sebuah benda yang bulat besar, kecokelatan, muncul dihadapannya. Ketika kita menarik jari kita keluar dari bidang yang terlihat oleh makhluk itu, maka secara otomatis makhluk itu akan melihat bahwa benda itu menghilang begitu saja.

Sekarang manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi adalah makhluk 3 dimensi, yang melihat banyak hal dari arah x, y, dan z. Apakah mungkin bila terdapat makhluk yang lebih intelek dari dimensi yang lebih tinggi, misalnya 4 dimensi? Oke, mungkin ada beberapa dari pembaca yang tertawa membaca “kebodohan” ini, dengan anggapan “sudah jelas manusia adalah makhluk yang terpilih dan cuma kita satu-satunya makhluk hidup di alam semesta ini, mana mungkin ada makhluk lain di luar sana, apalagi pake dimensi-dimensian”. Auuu… Silahkan tutup saja entry ini, toh aku bukan memperdebatkan hal ini dari sisi kepercayaan, tapi dari sisi sains. :cheerful:

Nah, kembali ke topik. Seperti title (alt-text) yang ada di gambar tersebut di atas, belakangan memang banyak misi luar angkasa yang memiliki tujuan mencari kehidupan di luar bumi. Katakanlah sejumlah misi ke planet Mars yang dikatakan mungkin memiliki tekstur yang sama dengan bumi di jaman dahulu kala sebelum semua air menguap dari sana, dan juga sempat ditemukan jejak fosil mikroba di bebatuannya meteorit Mars yang terjatuh di Antartika. Lain lagi misi ke satelit dari Jupiter, Europa yang dikatakan memiliki laut di bawah lapisan permukaan es. Belum cukup sampai di sana, para peneliti pun mulai mencari planet-planet di luar tata surya, disebut exo-planet. Yap, planet dari tata surya lainnya di mana sebuah bintang menjadi mataharinya. Dan sejauh ini memang sudah ditemukan cukup banyak exo-planet ditemukan dan dari sana banyak ditemukan planet gas raksasa semacam Jupiter atau Neptunus. Yeah, science and astronomy are cool. :cool:

Dan sejauh ini memang baru ditemukan planet-planet di galaksi yang sama dengan tata surya kita saja, yaitu Bimasakti atau Milky Way. Itu pun baru dalam jarak beberapa ribu tahun cahaya saja jaraknya. Padahal umur alam semesta diperkirakan lebih dari 14 milyar tahun, yang berarti batas terjauh alam semesta ini adalah 14 milyar tahun cahaya, yang berarti kita baru menemukan sedikit jejak dalam ukuran “mikro” dan masih banyak potensi lainnya di alam semesta ini. Seperti yang ditulis di title text nya, bahwa sekarang terdapat misi Kepler yang dikhususkan mencari exoplanet di konstelasi Cygnus.

Tapi apakah kita bisa menemukan mereka kalau kita hanya selalu melihat dari sisi yang “terlihat” saja? Bahkan dengan teknologi luar angkasa yang mendeteksi mulai dari cahaya yang terlihat, infrared, ultraviolet, X-ray sampai ke ukuran gelombang radio masih belum bisa menemukan makhluk lain di luar sana. Tampaknya memang masih lama sampai perjuangan manusia untuk terus mencari membuahkan hasil. Belum lagi kita harus melakukan komunikasi atau transportasi dengan teknologi kuno yang kita miliki kalaupun kita berhasil menemukan tanda-tanda kehidupan di luar sana. Yah, kuno karena untuk berkomunikasi dengan jarak 5 tahun cahaya saja, kita harus bersabar selama 10 tahun (dengan asumsi kecepatan pengiriman pesan sama dengan kecepatan rambat gelombang cahaya) sebelum pesan yang kita kirim benar-benar dapat dibalas lagi, itupun kalau pesannya segera dibalas. Belum lagi teknologi transportasi yang mungkin membutuhkan ratusan tahun untuk sampai ke tempat yang “hanya” berjarak 5 tahun cahaya itu.

Seperti semut-semut itu, mungkin kita hanya tidak menyadari bahwa kita tidak perlu mencari sampai sejauh itu. Toh, mungkin saja ada makhluk hidup lainnya yang lebih dekat dengan kita, hanya saja kita ga menyadari keberadaannya karena cara pandang kita yang berbeda, salah satunya dari sudut dimensi. Sekarang hanya tinggal menunggu bahwa teknologi yang kita miliki cukup canggih untuk mencari dan menemukan dari apa yang terlihat dulu, sebelum kita beralih ke sesuatu yang tidak terlihat. Lama-lama udah seperti ilmu cenayang nih.

Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya yang berhubungan dengan ini, tapi sekian dulu untuk kali ini. Lain kali baru aku lanjutkan lagi dengan pembahasan lain, khususnya kosmologi dan hal-hal berbau astronomi lainnya yang merupakan ilmu yang sangat favoritkan selain ilmu-ilmu sains lainnya. :)

Referensi? Wikipedia dan Google. Yap, Wikipedia yang pertama, Google yang kedua kalau Anda tidak yakin dengan isi Wikipedia. :)

This entry was last modified on: September 18th, 2009 at 15:43