Posts Tagged ‘browser’

Welcome to New Etersoul.com

Hmm, apakah Anda merasakan adanya perbedaan pada Etersoul.com hari ini? Tentu saja Anda akan merasakan hal yang berbeda bila sebelumnya sudah sering ke blog ini. Yap, tampilannya berbeda. Dan sebenarnya di balik tampilan itu juga ada beberapa hal yang berbeda. :)

Untuk mendukung performa dan pekerjaanku sebagai freelance web developer, aku memilih untuk pindah ke hosting web yang baru yaitu MasterWebNet atau biasa yang disebut dengan MWN. Perpindahan ini sendiri sudah dilakukan sejak 1 minggu yang lalu, dan harus aku akui memang selama 1 minggu uji coba aku merasa puas dibanding dengan hosting sebelumnya. Dengan space yang ditawarkan lebih lapang, maka aku bisa melakukan banyak hal dengan lebih tenang tanpa takut kehabisan space untuk menampung data lagi.

Dan tentu saja seperti yang aku bilang, themes atau tampilan untuk blog ini juga berubah. Akhirnya, setelah diendapkan dan ditelantarkan hampir 2 tahun lamanya, themes ini bisa bebas juga dipamerkan ke publik. :D

Tema dari themes ini sendiri cukup berbeda dari sebelumnya. Bila sebelumnya nuansanya redup-redup gitu, sekarang lebih ngejreng dan terang. Selain itu themes ini juga menggunakan 2 buah sidebar di sebelah kanan. Layout dari tampilan ini bersifat fluid, yang artinya Anda akan dapat melihatnya secara penuh dengan menggunakan layar yang lebar sekali pun, tapi sudah aku sesuaikan untuk mendukung layar terkecil berukuran 1024 pixels. Pemilihan untuk mensupport 1024 pixels ke atas juga karena sebagian besar pengujung situs ini sudah menggunakan layar dengan ukuran 1024 pixels ke atas. Dan itu terbukti dengan layout Facebook (situs social networking yang pasti Anda juga kenal) yang juga sudah dirancang untuk layar ukuran 1024 pixels ke atas.

Tema baru ini juga menggunakan beberapa standar terbaru, yaitu CSS level 3 atau CSS3. Beberapa bagian dari web ini menggunakan teknologi seperti Web Open Font Format (WOFF) atau downloadable font, text-shadow, box-shadow, font-face, opacity, serta border-radius. Oke, tentu saja web ini ga akan lolos validasi CSS untuk sementara ini, tapi who cares, if you just keep using old technology, you will too late to learn new knowledge. Sedangkan untuk HTML sendiri, aku masih menggunakan teknologi XHTML 1.0 mengingat masih sedikit browser yang sudah mendukung tag-tag HTML5 seperti <header> atau <navigation>. Akan tetapi bila nanti browser-browser sudah mengadopsi HTML5 ini, aku akan mengubahnya sedikit demi sedikit menuju HTML5 (atau kalau perlu sekalian ke versi XHTML nya).

Mengingat banyaknya standar baru yang digunakan untuk tema baru ini, maka beberapa pengujung mungkin akan merasakan sedikit “diskriminasi” tampilan. Untuk sementara ini IE6 sudah tidak aku support lagi. Anda yang menggunakan IE6 sebisa mungkin melakukan upgrade ke versi selanjutnya (versi 7 atau 8) atau ke browser lain. Browser lainnya yang lebih modern dapat menampilkan web ini dengan baik, tapi mungkin kehilangan beberapa tampilan yang menggunakan standar modern. Sejauh ini Firefox 3.6 merupakan browser yang paling mendukung hampir semua standar CSS yang terbaru. Selain itu terdapat pula Opera 10.50, yang sudah mengadopsi hampir semuanya attribut CSS3 yang digunakan di tema ini, kecuali WOFF. Google Chrome 4 dan Safari 4 juga mendapatkan tampilan yang mirip dengan Opera 10.50.

Diharapkan dengan tema baru ini, banyak hal yang bisa didapatkan sekaligus. Seperti demonstrasi atas standar-standar dan teknologi terbaru, serta diharapkan memberi kemudahan bagi pengunjung untuk melakukan navigasi dan membaca artikel yang ada.

Bila Anda menemukan masih terdapat beberapa bagian yang “rusak”, harap dimaklumi karena tema ini masih terus aku kembangkan. Dan jangan sungkan juga untuk memberi masukan, atau melaporkan bila melihat beberapa bagian yang mungkin terlihat janggal atau salah.

Thanks ;)

Looking to CSS Level 3

Bagi kalangan web designer dan juga web developer, CSS alias Cascading Style Sheet sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam membangun sebuah web yang bagus secara visual. Bahkan ketika membangun interaktivitas, CSS menjadi salah satu element penting yang bisa dimanipulasi menggunakan JavaScript, termasuk juga ketika membuat animasi dan transisi konten. Sampai saat ini, bisa dikatakan 90% browser sudah men-support dengan baik CSS Level 2 (disingkat CSS 2) di mana hal yang paling spektakuler ditandai dengan keberhasilan Internet Explorer 8 menembus Acid2 tanpa cacat.

Kini generasi baru CSS sudah hadir dan dipersiapkan untuk memperindah tampilan web tanpa perlu lagi usaha keras dan mengurangi ketergantungan terhadap JavaScript. Saatnya untuk menyambut CSS Level 3 (alias CSS 3). :D

Memang pada dasarnya CSS 3 sendiri sudah cukup lama dikembangkan oleh W3C yang merupakan lembaga standarisasi teknologi web, bisa dibilang sejak awal abad 21 ini. Pengembangan CSS 3 ini sendiri agak unik dibanding dengan CSS 2, di mana modul-modul CSS 3 ini terpisah-pisah dan bisa mendapat status kesiapan rilis yang berbeda-beda satu sama lain. Bandingkan ketika CSS 2 dikembangkan, ketika ada 1 hal yang harus diperbaiki, maka seluruh modul CSS 2 akan otomatis diturunkan peringkatnya. Seperti yang terjadi ketika CSS 2.1 harus diturunkan peringkatnya menjadi Working Draft (WD), dan kemudian kembali lagi menjadi Candidate Recommendation (CR).

(more…)

IE6 Must Die

Kalau dunia nyata bisa digalang suatu bentuk perubahan, di dunia maya pun ternyata bisa dilakukan. Sebuah perubahan untuk ke arah yang lebih baik lagi tentunya sehingga semua orang bisa mendapatkan sesuatu yang lebih daripada sebelumnya. Dan perubahan kali ini adalah dalam hal web browser.

Seperti yang banyak orang ketahui, sekarang ini internet sudah bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya, walaupun di Indonesia tarif internet masih terbilang cukup mahal. Orang-orang yang tidak melek internet saat ini bisa dianggap sebagai orang yang tidak lagi produktif karena internet dianggap sebagai sumber informasi dan sebagainya yang dapat membantu manusia dalam melakukan berbagai hal, mulai dari hal yang baik maupun hal yang jahat. Penggunaan internet secara otomatis tidak akan terlepas dari peran web browser. Dan tentu saja, saat ini kompetisi web browser makin ketat antara beberapa produsen, seperti Microsoft dengan Internet Explorer (IE), Mozilla dengan Firefox (Fx), Apple dengan Safari, Google dengan Chrome, Opera dengan browser Opera, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Seiring perkembangan jaman, browser pun harus diupdate sesuai dengan standard yang terus berkembang saat ini. Berbagai standard teknologi baru, mulai dari HTML 5, CSS level 3, SVG, EcmaScript (JavaScript), RSS dan sebagainya mulai diterapkan di browser-browser modern saat ini. Sayangnya, adaptasi teknologi ini sejak beberapa tahun yang lalu sering terhambat karena masalah kompabilitas antar browser. Bila sebuah halaman web dibuka dari suatu browser, tampilannya belum tentu sama di browser lain. Sama juga dengan kasus standarisasi di JavaScript, di mana belum tentu semua browser dapat melakukan suatu hal, padahal browser lainnya bisa hanya karena tidak mengadaptasi teknologi standar yang dipakai browser lainnya. Akibatnya, developer akan berusaha mengembangkan suatu aplikasi web untuk menjaga kompabilitas dan mengorbankan standar, yang pada akhirnya mengakibatkan terhambatnya adopsi standar baru di web yang dibangun. Lambatnya adopsi ini pun akan mengakibatkan lamanya pengembangan standar web baru yang lebih canggih dan lebih baik ke depannya.

(more…)

This entry was last modified on: July 17th, 2009 at 19:01

Firefox 3.5 Review

Setelah sekian lama Firefox 3.0 dirilis, akhirnya update terbaru untuk browser yang naik daun ini kembali diluncurkan kemarin, tepatnya tanggal 30 Juni 2009. Dan seperti biasa, aku sudah mencobanya selama 1 hari untuk aktivitas normalku, seperti browsing, Facebook, dan web developing, dan di sinilah aku akan menceritakan mengenai browser terbaru besutan Mozilla ini.

Dari sisi interface atau tampilan tidak banyak berubah dibandingkan dengan Firefox 3.0. Semua tampilan seperti susunan tombol, icon standard serta layout menu tidak terjadi perubahan dan Anda tidak akan tahu apakah sedang memakai Firefox 3.0 atau sudah mengupdate ke Firefox 3.5 kalau hanya melihat dari interface.

Satu hal yang baru dari Firefox 3.5 ini adalah fitur private browsing yang sudah muncul terlebih dahulu di browser Google Chrome di mana para Firefox tidak akan meninggalkan jejak history atau apapun bila menggunakan fitur private browsing ini. Semua history, cookie dan data pribadi lainnya akan otomatis dihapus oleh Firefox bila menutup fitur ini. Bagi yang masih bingung ingin menggunakan “fitur porno” ini, bisa mengaksesnya melalui Tools > Start Private Browsing.

(more…)

This entry was last modified on: July 1st, 2009 at 19:42

Review Singkat Internet Explorer 8

Persaingan web kembali memanas dengan hadirnya browser-browser baru yang merebut perhatian, sebut saja versi beta Mozilla Firefox 3.5, Safari 4, Google Chrome 2 dan Opera 10. Dan kali ini seperti tidak mau ketinggalan dengan browser-browser yang sedikit demi sedikit menggerogotinya usage share nya, Microsoft pun meluncurkan Internet Explorer (IE) 8 setelah melalui beberapa kali tahap beta dan release candidate. Aku sudah sempat mencoba browser baru ini dan akan sedikit mereviewnya dari sudut pandangku sendiri.

Screenshot of Internet Explorer

Screenshot of Internet Explorer

Tampaknya perubahan front-end dari IE 7 ke IE 8 tidak terlalu banyak. Tampilan user interface masih mirip dengan IE 7 dan banyak fungsi-fungsi yang sama yang ditawarkan seperti IE 7 sehingga pengguna IE 7 tidak akan terlalu sulit beradaptasi dengan browser ini. Sejak dimulainya instalasi pun tidak terlalu merepotkan seperti ketika IE 7 pertama kali diluncurkan. Masih teringat bahwa saat instalasi IE 7 di awal-awal peluncurannya, Microsoft mengharuskan penggunanya melakukan validasi keaslian lisensi Windows yang terpakai sehingga menyulitkan IE 7 digunakan oleh para pengguna Windows bajakan (yang tentu membuat beberapa penggunanya memilih untuk menggunakan browser alternatif saja) walau akhirnya keputusan itu dicabut setelah beberapa bulan. Untuk IE 8 kali ini, pengguna tidak diharuskan melakukan validasi sehingga instalasi dapat dilakukan dengan cukup cepat dan mudah tanpa masalah berarti.

(more…)

This entry was last modified on: March 26th, 2009 at 21:06

Google Chrome: “Bye Bye Beta”

Ternyata tanggal 11 Desember 2008 kemarin bukan hanya hari istimewa bagi tim WordPress dengan peluncuran versi terbaru 2.7 yang membawa perubahan yang besar dalam aplikasi blogging itu, tetapi juga merupakan hari istimewa bagi tim Google Chrome yang berhasil membawa Chrome ke dalam “kedewasaan”. Bagi orang-orang yang belum mengerti, Google Chrome adalah sebuah web browser yang dikembangkan oleh salah satu perusahaan IT teranyar di dunia yaitu Google.

Setelah melalui beberapa tahap beta dan uji coba dalam kurang lebih 4 bulan, akhirnya browser ini menghilangkan status betanya karena sudah dianggap sebagai aplikasi yang stabil oleh developernya. Google Chrome dapat dibilang sebagai sebuah web browser yang membawa perubahan yang cukup besar dari sisi arsitektur yaitu dengan menggunakan sebuah management memory terpisah antara satu tab dengan tab lain sehingga bila terdapat sebuah tab yang crash, maka tidak keseluruhan browser harus ikut crash, melainkan hanya tab itu saja. Hal ini menunjukkan bahwa Chrome siap dipergunakan untuk aplikasi masa depan di mana aplikasi berbasis web menjadi hampir mirip dengan aplikasi desktop yang membuat proses terpisah untuk tiap aplikasi yang dijalankan. Anggap saja bila kita membuka Facebook, Friendster, Yahoo!, Google, dan sebagainya sebagai sebuah aplikasi online, bukan sebagai halaman web biasa lagi.

Harus diakui bahwa setelah mencoba menggunakan beberapa saat, browser open source ini dapat digunakan dengan cepat dan stabil tanpa masalah. Bahkan eksekusi JavaScript dan membuka halaman web juga terasa sangat ringan. Mungkin juga karena masih belum menggunakan addons sama sekali sehingga tidak ada beban lain yang harus diolah oleh browser. Mengapa aku bisa mengatakan demikian? Sewaktu aku menginstall Firefox 3.0 pertama kali tanpa addons (karena waktu itu masih sedikit addons yang compatible dengan Firefox 3.0), browser itu berjalan dengan cepat. Tetapi setelah mengintegrasikan beberapa addons di dalam browser favorit ku ini, akhirnya terasa perlambatannya.

(more…)

This entry was last modified on: December 19th, 2008 at 5:06

Lynx Browser

Di era modern sekarang ini di mana internet menjadi bagian dari hidup manusia, infrastuktur dan software yang mempermudah pengguna dalam menjelajahi internet menjadi suatu hal yang penting. Software yang sering kita namakan sebagai web browser (atau disingkat sebagai browser saja) menjadi tidak terelakkan untuk mengakses suatu situs web di internet.

Banyak browser yang menawarkan berbagai feature, banyak pula yang mengklaim dirinya sebagai browser tercepat, teringan, teraman, terlengkap fiturnya, dan ter-ter-ter lainnya. Mulai dari Mozilla Firefox, Internet Explorer (IE), Opera, Safari, Google Chrome sampai browser-browser lain yang memiliki pangsa pasar yang tidak lebih dari 1% ikut berkompetisi menarik perhatian kalangan netters.

Dan ada satu browser yang agak menarik perhatianku, dan mungkin ini jawaban yang dicari-dicari bila ingin mencari browser tercepat, teringan, teraman walau ga lengkap fiturnya. :D Namanya Lynx. Inilah tampilan Lynx ketika membuka halaman etersoul.com ini:

Screenshot of Lynx Browser

Screenshot of Lynx Browser

Sebagian besar orang yang melihat screenshot browser ini pasti akan bilang “browser apaan nih?” atau “jangan becanda deh?” atau malah “hidup di jaman apa tuh yang bikin (ama yang pake) tuh browser?”. That’s okay. Tapi aku masih belum akan menarik pernyataan bahwa ini merupakan browser teringan dan tercepat yang pernah ada.

Bila sebagian besar web browser yang sehari-hari kita gunakan merupakan browser visual di mana semua aspek multimedia dapat ditampilkan di sana seperti gambar, lagu dan video, maka Lynx merupakan text-based browser yang berjalan di atas console (dalam contoh di atas adalah Command Prompt). Yap, itulah sebabnya browser ini sangat sederhana dan hanya menampilkan text saja. Dan juga browser ini tidak mendukung JavaScript ;)

Lalu buat apa memakai browser yang tidak bisa menampilkan multimedia seperti browser kebanyakan? Buat apa pula melihat website yang hanya terdiri dari text dan tulisan semata? Jawabannya untuk melihat tulisan-tulisan yang ada di web itu sendiri.

Browser yang mendukung multimedia umumnya memiliki fitur seperti CSS yang mampu menyembunyikan suatu baris text atau element. Maka melalui Lynx, semua text itu akan tampil apa adanya tanpa perbedaan warna dan manipulasi lainnya. Selain itu Lynx juga umumnya dipakai untuk mengetahui cara kerja suatu spider bot atau crawler dari search engine. Bot seperti Google Bot dan Yahoo menelusuri dan melakukan indexing akan suatu web dengan cara yang hampir sama dengan yang ditampilkan Lynx, yaitu hanya melihat text saja. Dari text-text tersebut, bot akan mencari dan mengikuti links yang ada di halaman itu. Dengan fakta tersebut, browser ini juga dapat digunakan bagi para web developer atau designer yang mementingkan kualitas struktur (semantik) suatu web dibandingkan hanya tampilan semata karena struktur yang baik cenderung akan menghasilkan index yang baik pada search engine. Powerfull, eh?

Selain itu, walau interface atau tampilan browser ini cenderung “kuno” atau “jadul” sebenarnya browser ini masih dikembangkan sampai saat ini, dan mungkin salah satu browser yang paling tua yang bertahan sampai saat ini karena browser ini dikembangkan sejak tahun 1992. Jadi jangan melihat kacang dari kulitnya saja. ;)

Tertarik mencoba browser ini?

This entry was last modified on: November 18th, 2008 at 19:12