Berapa banyak orang pintar di dunia ini? Jawabannya mungkin relatif karena batas antara kepintaran dan kebodohan itu tidak terlihat jelas. Ada yang mengatakan orang yang pintar itu adalah orang yang memiliki IQ lebih dari 120. Di sisi lain, walau orang itu memiliki IQ di bawah 100 tetapi bisa memainkan alat musik sampai mengadakan konser tunggal internasional, orang itu juga dikatakan pintar.
Tapi ada satu hal yang agak menyinggung, menyentuh atau mengena di hati saya mengenai seberapa banyak orang yang “pintar” di dunia ini. Jawabannya mungkin adalah banyak. Mungkin sangat banyak lebih tepatnya. Hampir setiap orang di sekitar saya yang saya temui merupakan orang yang tergolong dalam status “pintar”. Karena apa? Karena mereka bisa mengatakan orang lain itu bodoh atau “bego” atau yang lebih kasarnya lagi adalah “guoblok”. Mulai dari pengamen, sopir bus, sopir angkot, pedagang kaki lima, mahasiswa, dosen, profesor ilmu sampai ke orang yang memang benar-benar pintar. Tidak terbatas status maupun kecerdasan aslinya. Mulai dari anak kecil yang baru bisa bicara sampai kepada kakek-nenek yang sudah tua bisa menyatakan diri sebagai orang “pintar”.
Satu hal yang pasti, mereka yang menyatakan diri sebagai “pintar” justru telah menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu pintar dalam hal lain yang lebih serius. Maksud saya di sini adalah kepintaran hati mereka. Walau “kepintaran” ini sering juga dipakai dalam bercanda, tetapi tetap saja memiliki efek menyentuh seperti yang saya bilang di atas. Sesabar-sabarnya orang yang menerima perkataan dari sang orang “pintar”, saya rasa mereka memiliki sisi lain dari hati mereka yang tersinggung atas kata yang dilontarkan dari yang “pintar” tersebut.
Tentunya di sini saya juga ga terlepas dari status ini karena dalam beberapa kejadian saya juga bisa menyatakan bahwa diri saya “pintar” seperti orang-orang di atas. Saat ini saya lebih menahan diri untuk mengatakan bahwa saya “pintar” atau mengatakan orang lain “tidak pintar”, kecuali dalam satu kasus di mana saya harus membela orang lain yang saya rasa memang lebih pintar atau diri saya sendiri yang dikatakan oleh orang lain “tidak pintar”. Sangat disayangkan kalau saya harus melontarkan hal ini kepada seseorang karena benar-benar terpaksa.
Lalu kenapa saya menulis hal ini? Mudah saja, saya sudah beberapa kali diceramahi oleh orang “pintar”. Beberapa kali diceramahi di blog saya, dan satu kali diceramahi di blog orang lain. Semua menyatakan “kepintaran” mereka atas pendapat saya. Ironisnya dalam beberapa kasus — bahkan sering, pendapat mereka setelah mereka melontarkan “kepintaran” mereka itu justru lebih kacau dan tidak masuk akal dari “kepintaran” mereka.
Satu saran saya untuk orang-orang yang merasa “pintar” kalau memberi pendapat kepada apa yang dilontarkan oleh orang lain: tunjukkan kalau Anda juga pintar dalam arti sebenarnya. Khususnya bagi yang berkomentar di blog dan web, pertanggungjawabkan apa yang ditulis sebagai komentar. Tunjukkan intelektual yang sebenarnya Anda miliki sebelum menghakimi kadar intelektual orang lain, dan ingat bahwa walau identitas dalam dunia web dan blog bisa disamarkan, dunia maya ini juga memiliki etika yang harus diikuti.
Tambahan saran (sekalian mau perbaikin isi blog di atas yang agak rancu), kalau mau komentar yang “tidak pintar”, jangan bilang orang lain “tidak pintar” juga. Yah maksudnya kalau mau kirim komentar yang isinya main-main atau becanda atau ga masuk akal, jangan bilang orang lain “ga pintar” karena merasa komentar Anda lebih “pintar”. Yah namanya main-main atau becanda mana ada yang “pintar” di dalamnya, kecuali yah kalau memang dicampur ama satu hal yang serius juga.