Looking to CSS Level 3
Bagi kalangan web designer dan juga web developer, CSS alias Cascading Style Sheet sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam membangun sebuah web yang bagus secara visual. Bahkan ketika membangun interaktivitas, CSS menjadi salah satu element penting yang bisa dimanipulasi menggunakan JavaScript, termasuk juga ketika membuat animasi dan transisi konten. Sampai saat ini, bisa dikatakan 90% browser sudah men-support dengan baik CSS Level 2 (disingkat CSS 2) di mana hal yang paling spektakuler ditandai dengan keberhasilan Internet Explorer 8 menembus Acid2 tanpa cacat.
Kini generasi baru CSS sudah hadir dan dipersiapkan untuk memperindah tampilan web tanpa perlu lagi usaha keras dan mengurangi ketergantungan terhadap JavaScript. Saatnya untuk menyambut CSS Level 3 (alias CSS 3).
Memang pada dasarnya CSS 3 sendiri sudah cukup lama dikembangkan oleh W3C yang merupakan lembaga standarisasi teknologi web, bisa dibilang sejak awal abad 21 ini. Pengembangan CSS 3 ini sendiri agak unik dibanding dengan CSS 2, di mana modul-modul CSS 3 ini terpisah-pisah dan bisa mendapat status kesiapan rilis yang berbeda-beda satu sama lain. Bandingkan ketika CSS 2 dikembangkan, ketika ada 1 hal yang harus diperbaiki, maka seluruh modul CSS 2 akan otomatis diturunkan peringkatnya. Seperti yang terjadi ketika CSS 2.1 harus diturunkan peringkatnya menjadi Working Draft (WD), dan kemudian kembali lagi menjadi Candidate Recommendation (CR).




