Posts Tagged ‘love’

Love is still dominating

2 Comments
Tags: , , , , ,

Berasa udah lama ga membahas soal cinta alias love alias amor alias apalah. Entah lagi males mikirin soal cinta, atau terlalu sibuk sampai ga sempat mikirin soal cinta, atau mungkin juga takut lagi-lagi cinta cuma jadi kenangan pahit yang harus dilupakan lagi. Apalagi ternyata terakhir kali ketemu “dia” sikapnya dingin dan langsung pergi aja setelah menyapa dengan “hai”. :-l

Kalau diliat-liat dari tag love di blog ini, terakhir kali dipakai adalah bulan Mei yang lalu. Itu berarti sudah 5 bulan ga menulis soal cinta lagi. Dan hebatnya, tag love itu masih mendominasi sampai sekarang dengan 30 topik (sampai tulisan ini diturunkan), sedangkan tag kedua yang mendominasi masih “dia“. Kemudian dilanjutkan dengan tag “smabhk” (21 topik) dan “blog” (19 topik). Parahnya perbedaan jumlah antara tag yang berhubungan dengan cinta itu sendiri dengan tag yang serius terpaut jauh dan masih belum terkejar sampai sekarang. (Yeah, 5 bulan ga nulis soal cinta aja masih belum terkejar, bisa dibayangkan bagaimana aku tergila-gila dengan yang namanya cinta dulu).

Tapi untungnya dari sisi kategori terdapat bagian lain yang menyamai kategori seputar cinta-cinta itu. :| Yap, my minds. Banyak pikiran yang bikin mumet, sampe cinta pun hampir dikalahkan. :D

Berhubung dalam rangka menekan tulisan soal cinta dan juga tagnya, maka entry ini akan sedikit dicurangi dengan tidak dimasukkan ke dalam kategori The romance. Hehehe… Tapi karena masih berhubungan soal cinta, yah ga ada salahnya di tag dengan love juga.

Ah, rasanya pengen mengalami masa-masa penuh kenangan indah nan pahit itu lagi. 8-> (Arghh!! Nostalgia…)

Jumlah mereka memang banyak

5 Comments
Tags: , ,

Satu hal yang bikin aku mikir, napa orang punya pikiran yang begitu simple soal cinta ketika orang itu mengatakan “cewe / cowo di dunia itu masih banyak, jadi ga usah putus asa”, ataupun ucapan-ucapan belasungkawa atau mengobarkan semangat seperti itu. Inti dari ucapan itu adalah banyak.

Yah tentu saja jumlah mereka banyak, sangat banyak tepatnya. Masing-masing jender porsinya lebih dari 3 milyar di seluruh dunia ini. Aku ga begitu suka pemikiran bahwa dengan banyaknya jumlah lawan jenis di dunia ini, kita ga boleh putus asa. Soalnya siapapun juga tahu mengenai jumlah cewe dan cowo di dunia ini. Dan ini bukan salah satu alasan aku ga akan menyerah dalam cinta.

Seakan-akan kalau jumlah cowo atau cewe di dunia ini banyak, dengan mudah kita bisa memilih mereka terus langsung menikahi mereka dan hidup bahagia selama-lamanya seperti dunia dongeng di negeri antah-berantah sana. Atau mungkin hal itu bisa terucap karena tampaknya enak sekali melihat para cewe-cewe cantik atau cowo-cowo ganteng berseliweran di luar sana, mengagguminya, kemudian mengharap-harap geje untuk bisa berkencan dengannya. Yah, sapa sih yang ga senang bermimpi bisa dekat dengan orang-orang seperti itu. Apalagi bermimpi untuk menikahi pangeran berkuda atau putri yang cantik jelita. But, hey, this is reality, not dream. You may dream, but you can not live in it all time in your life.

Satu hal yang pasti bahwa walau jumlah cowo atau cewe itu masih banyak di dunia (paling ga sebelum menjadi langka), mencari yang tepat itu ga susah. Berapa kemungkinan yang tepat? Apa 1% dari seluruh orang itu? Atau 0,1%? Oh, ternyata ga. Ternyata cuma 0,00000001% atau cuma 1 orang saja seharusnya. Yah, “seharusnya”. Maka kalau ga “seharusnya”, orang akan menjalani perselingkuhan atau poligami.

Yah, betapa mudahnya mengatakan jumlah cewe atau cowo masih banyak di dunia ini, tapi kenyataan begitu sulit menemukan orang yang bertahan di hati selamanya.

I’m surrender

13 Comments
Tags: , , , ,

Aku menyerah. Mungkin itu yang bisa aku katakan saat ini. Menyerah terhadap sesuatu yang sudah lama kuperjuangkan. Menyerah dalam keadaan yang sebenarnya tidak rela tapi aku rasa memang jalan ini harus kutempuh. Baik ataupun tidak baik, aku memilih untuk menyerah dari perjuangan cintaku kepadanya.

Toh sejak lama aku mendekati dia dan berusaha memahaminya, aku tetap tidak pernah bisa menebak isi hatinya. Aku bahkan tidak yakin bahwa di dalam hatinya ada sedikit bagian dari diriku. Rasanya selama ini dia masih belum bisa menganggapku “setara” dengannya, dan masih menganggapku sebagai “senior”-nya walau hal ini sudah berulang kali aku tegaskan padanya untuk tidak lagi memangganggapku sebagai senior. Yah, tidak lebih dari itu. Apalagi ketika dia menolakku saat aku menyatakan perasaanku, dia tidak mengatakan bahwa “lebih baik kita temanan aja yah” seperti yang sering dikatakan oleh para perempuan yang menolak pernyataan suka laki-laki.

Satu lagi yang menjadi pengganjal di hatiku dan pikiranku, bila nanti dia sudah lulus (dan sudah pasti lulus), apakah mungkin aku masih bisa menemuinya dan mengejarnya? Temannya sempat mengatakan hal itu kepadaku. Tetapi kini aku menyadari bahwa ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Mungkin setelah lulsu, dalam satu tahun aku hanya dapat menemuinya maksimal 3 kali yaitu pada saat Persami PMR sekolahku. Itupun kalau dia mau datang karena teman baiknya yang juga ikut di PMR tidak melanjutkan study di Indonesia, melainkan Malaysia. Kalau soal mengajak ketemuan sih secara logis memang merupakan satu-satunya jalan. Minggu lalu aku sempat mengajaknya menonton lewat SMS, akan tetapi jawabannya cukup simple “ga mau ah” tanpa adanya pertanyaan lebih lanjut misalnya “nonton sama siapa?” atau “bagus ya?”. Dia hanya mengatakan “ga mau aja”, sebuah jawaban tanpa alasan yang membuat aku putus asa dan kecewa.

Untuk saat ini tampaknya memang enak menjomblo dan hidup bebas. Memiliki dia di hatiku sebagai tempatku memberi perhatian sudah cukup berarti bagiku. Toh siapa tahu ke depannya kita justru akan bertemu lagi dan memulai awal yang baru. Yah, siapa tahu. Seperti saudara sepupuku dengan pacarnya yang kini sudah bertunangan. Mereka tidak bertemu sejak lulus SMP tetapi sejak 1 tahun yang lalu menjalin hubungan kembali sampai akhirnya bertunangan. Kemungkinan ini memang bisa terjadi. :)

Agak berat untuk melepaskannya, tapi itulah yang aku lihat sebagai pengorbananku yang paling besar sampai saat ini. Walau aku melepaskannya, perasaan yang kumiliki kepadanya mungkin tidak akan hilang dengan segera. Aku masih menyukainya, jujur saja. Hanya saja ini mengingat kondisi antara kami berdua yang belum cocok untuk berhubungan lebih lanjut.

Temanku sempat berkata “paling ga karena lu ga mikirin dia lagi, pikiran lu lebih tenang kan”. Sayangnya aku harus mengatakan tidak. Aku malah ingin memiliki seseorang yang aku sayangi untuk aku pikirkan daripada tidak memikirkan apapun. Lagipula ketika aku dulu masih mengejarnya dan sangat memikirkan dia, aku bisa mengerjakan proyek, pekerjaan-pekerjaanku dan berkuliah dengan baik. Hal yang tidak berbeda dengan saat ini, yang menandakan memikirkan seseorang seperti dia tidak mempengaruhiku bidang lain.

Hm, oleh karena itu, di blog ini akan sangat jarang menemui tulisan mengenai dia lagi. Apalagi belakangan ini aku juga sudah jarang menulis mengenai dia. Sampai saatnya aku menemukan dia-dia yang lain, blog ini pun akan berisi mengenai sisi hidupku yang lain.

Aku, masih memiliki hidupku. Kini aku menjalaninya tanpa dia. Aku rasa masih lama sampai aku mendapatkan “seorang pendamping hidup yang sejati”. (hmm, terlalu berat yah istilahnya?)

Akhir bulan selalu seperti ini

No Comments
Tags: , ,

Akhir bulan… Hhh… Selalu seperti ini.

Entah rasanya tiap akhir bulan selalu kontras dengan awal bulan. Awal bulan rasanya selalu menggembirakan soalnya tampak seperti ada yang baru dan berbeda, padahal semuanya juga sama saja dengan awal bulan sebelumnya. Di akhir bulan rasanya selalu menyebalkan karena banyak hal dan mungkin kejenuhan atas aktifitas yang udah dilakukan sejak awal sampai akhir bulan ini.

Yang aneh juga, napa pikiran yang ada di kepalaku selalu ga begitu baik kalau sudah sampai ke akhir-akhir bulan. Rasanya jadi ga mood buat melakukan apapun. Mencari kegembiraan dan kegiatan pun rasanya ga bergairah. Giliran cuma duduk di depan komputer dan nulis-nulis blog ini juga sama aja. Pengen tidur dan bermalas-malasan, tapi ga enak juga. Yah, itulah kenyataan yang terjadi, ga nyaman buat melakukan apapun.

How about love? Hmm, I miss her of course. But realizing that she doing her final exam this month and next month, I think I must be patient before I can really enjoy doing any activity with her.

Bulan muda, membuat orang bersemangat buat apapun. Bulan tua, membuat orang enggan melakukan aktifitas apapun. Mungkin ini memang benar.

Loves change the world

No Comments
Tags: , , , , ,

Ternyata bukan cuma pemanasan global yang mengubah wajah dunia. Cinta pun ikut mengubah dunia dengan keceriaan dan kebahagiaan, menjadikannya lebih berwarna dan lebih cerah. Walau di sisi lain membuat kesedihan dan pikiran kacau, menjadikan warnanya kusam dan keruh alias butek.

Saya sendiri gimana? Saya juga ga terlepas dari hal ini. Walau sekarang sudah lebih bebas karena udah bisa menyatakan apa yang kurasakan ke dia beberapa waktu yang lalu. :| Ga mau terlalu pusing karena hal ini lagi lah.

Sebuah pilihan

9 Comments
Tags: , , , , , ,

Yak, tepat tanggal 15 Maret 2008 kemaren akhirnya aku melakukan langkah yang cukup besar dalam hal cinta. Hmm, mungkin kedua terbesar sih. :p Beberapa orang mengatakan langkah ini disebut penembakan, ada orang lain lagi menyebut hal ini sebagian pengakuan, pengungkapan atau pernyataan cinta atau perasaan, dan dalam bahasa Inggris terkenal dengan sebutan to confess.

Yah memang tampaknya aku harus mengambil langkah ini mengingat sudah terlalu lama aku bertahan dalam posisi yang diam dan tidak banyak berubah. Perlu lebih dari satu setengah tahun sampai akhirnya aku menyatakan perasaanku. Sebuah rentang waktu yang cukup lama bagi kebanyakan orang karena aku melihat banyak orang yang berpacaran sekarang ini hanya perlu waktu 1 minggu sampai 1 bulan untuk pendekatan.

(more…)

Terlalu berlebihankah diriku?

4 Comments
Tags: , , , ,

Kadang aku merasa semakin hari aku semakin berlebihan dalam sebuah hal yang bernama “cinta”. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang pada kenyataannya aku berlebihan. Lalu kenapa aku bisa berpikir bahwa aku berlebihan dalam hal ini?

Tampaknya aku terlalu sering membicarakan dia dengan orang lain. Tapi jujur aja, aku membicarakan dia karena aku ga ingin memendamnya di dalam hati dan pikiranku sendiri. Aku suka padanya (atau bolehkah aku bilang bahwa aku sayang padanya?), tidak untuk dijadikan suatu rahasia dan penyangkalan. Tapi tentu saja aku hanya membicarakan ini dengan orang-orang yang benar-benar kukenal, tidak ke sembarang orang. Apakah aku memang terlalu sering membicarakan dia sampai aku tampak menyebalkan?

Ataukah aku terlalu berlebihan kalau menulis cerita mengenai dia dalam blog ini?

Entahlah, rasanya pikiran ini seperti makin memberatkan diriku saja. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak memikirkan yang seharusnya ga kupikirkan. Bahkan isi pikiranku pun terlalu berlebihan.

Pandangan untuk melihat dirinya dalam hatiku tidak jarang tertutup oleh pikiran-pikiran itu. Ingin rasanya membuang jauh semua pikiran-pikiran itu supaya aku bisa benar-benar melihat dia dalam hati ini dan juga melakukan sesuatu yang nyata dan berarti baginya.

Hanya itu.