Posts Tagged ‘meninggal’

Akhir dari Mbah Surip

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
enak tahu…

Harusnya sebagian besar orang tahu mengenai lirik lagu apa itu. Yap, Tak Gendong, yang dinyanyikan oleh Mbah Surip. Lagu yang populer sejak 1 atau 2 bulan yang lalu ini terus didendangkan di layar TV tiap hari, sampai di batasan antara membosankan atau tidak membosankan berhubung lagu ini cukup unik dibanding lagu-lagu yang didominasi cinta dan asmara. Sosok Mbah Surip yang unik juga menambah daya tarik untuk diekspos, apalagi gaya tawanya, HA… HA… HA… (ini bukan ketawa gaya Squidward).

Tiba-tiba saja, belum sampai 1 tahun terkenal dan menikmati ketenarannya, beliau sudah dipanggil ke akhirat. Awalnya sih aku mendengar berita itu sempat mengira kalau berita ini cuma candaan orang-orang dan pers doank. Soalnya kepikiran video klip Tak Gendong yang ditayangin tiap hari itu menampilkan Mbah Surip sebagai sosok sebuah roh yang ga keliatan, jadi kepikiran “yah, di video klip juga udah mati”. Eh, tau-taunya pas online dan melihat ke Kompas.com dan Detik.com ada juga beritanya di bagian paling depan.

Melalui lagu Tak Gendong, konon katanya Mbah Surip bisa mengumpulkan milyaran rupiah dan berkeinginan beli helikopter, tapi tetap tampil sebagai sosok yang sederhana dengan penampilan yang sama dengan yang sebelumnya. Sayangnya sebuah sosok yang unik ini harus cepat dipanggil ke akhirat, padahal kehadirannya cukup menghibur bagi orang-orang Indonesia, apalagi kehadirannya bertepatan dengan banyak isu sensitif seperti Pilpres, Bom JW Marriot dan Ritz Carlton sampai masalah krisis ekonomi.

Bagi beberapa orang mungkin memang Mbah Surip seorang yang diutus Tuhan untuk menghibur dan mengingatkan masyarakat kita untuk tetap ceria walau banyak keadaan yang menyulitkan saat ini, walaupun hanya sebentar. Toh, memang pada akhirnya beliau berhasil memberi penghiburan yang cukup mengena bagi masyarakat Indonesia. Semoga atas segala hal yang dilakukannya, Mbah Surip dapat diterima di sisi-Nya.

Good bye, Mbah Surip. Thank you for the entertainment.

R.I.P Michael Jackson

Berita besar seperti ini tentu saja sudah menjadi basi bila baru aku publikasikan sekarang ini, apalagi berhubungan dengan salah satu “raja” dunia. Yah, seorang raja musik yaitu King of Pop, Michael Jackson telah meninggal dunia kemarin di Los Angeles, Amerika Serikat dalam usia 50 tahun. Dan tentu saja menjadi pukulan yang berarti bagi para penggemar musik, khususnya yang sudah ada di era 80 dan 90-an.

Pria yang akrab dipanggil Jacko ini pun dulu sempat menjadi idolaku di kala aku masih SD dengan tarian-tarian dan gerakan-gerakan yang “aneh”, termasuk moonwalks yang menjadi salah satu gerakan paling extraordinary sepanjang masa. Tapi sejak tahun 2000, memang jarang mengikuti soal Jacko lagi berhubung memang tampaknya jarang ada publikasi mengenainya sejak tahun 2000-an, apalagi kalaupun ada biasanya hanya kasus-kasus yang kontroversial yang menarik perhatian media. Dan anehnya, sekarang yang paling aku ingat dari Michael Jackson adalah dirinya yang diplesetkan di film Scary Movie. :blink:

Tampaknya ga perlu panjang lebar lagi menceritakan kronologi dan sebagainya berhubung memang sudah banyak diberitakan di tempat lain.

Akhir kata, “Rest in Peace, Michael Jackson”.

Words about misery and life

Kemarin, aku mendapatkan sebuah kabar bahwa seorang temanku, Jonly telah meninggal dunia. Walau aku sempat mengenalnya hanya waktu di bangku SMA kelas 1 dan ga begitu dekat, berita ini cukup mengagetkan juga karena meninggalnya secara mendadak. Mendengar cerita dari sana sini banyak yang bilang beberapa hari sebelumnya ia masih sempat kuliah tanpa ada masalah apapun alias keadaannya normal saja, akan tetapi tiba-tiba saja sudah ada berita seperti ini. Penyebabnya juga masih belum diketahui secara jelas sampai sekarang.

Belakangan ini aku menjadi sering mendengar berita-berita serupa dari orang-orang. Yap, mengenai kematian secara mendadak. Tanpa berpikir panjang, tiba-tiba saja kematian bisa menghampiri dan tanpa belas ampun langsung mencabut nyawa kita dengan berbagai macam cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Apakah karena penyakit, apakah karena kecelakaan, apakah karena bencana alam, semua bisa saja terjadi. Dan tentu saja, kematian seperti ini membuat orang-orang dekat di sekitarnya menjadi shock berat dan sulit menerima itu. Bayangkan saja, belum sempat mengatakan selamat tinggal, tiba-tiba saja semua sudah berlalu.

Selain mengenai temanku, aku masih ingat cerita mengenai seseorang yang diceritakan oleh pacarku. Seorang teman dekat dari adiknya, yang tiba-tiba saja harus berpisah dengan cara yang tragis, membuat orang tuanya shock akan hal ini, dan membuatku berpikir bahwa sebenarnya apa tujuan dari kita dilahirkan di dunia ini. Dan waktu itu sempat juga ditunjukkan profile Friendster-nya, dan ketika melihat fotonya, aku sempat kaget juga karena di sana dia terlihat sangat ceria. Ironisnya, saat profile itu ditunjukkan anak itu sedang berulang tahun (atau mungkin sudah lewat beberapa hari), dan di sana banyak teman-temannya yang masih mengirimkan ucapan selamat.

Yah, paling tidak ia tahu masih ada yang mengingatnya walau ia sendiri sudah tiada di dunia ini.

Sebenarnya apa tujuan kita hidup di dunia ini? Apakah kita hidup hanya untuk mempersiapkan kematian kita yang bisa kapan saja terjadi? Apakah kita hidup untuk membuat orang lain sedih karena kematian kita, apalagi bila terjadi secara mendadak? Kemudian pikiran pun beralih, apakah kita bisa memutuskan rantai yang selalu berulang ini: sedih karena orang lain, dan kemudian membuat orang lain sedih?

I still don’t have the answer, at least for now. Dan mungkin masih belum akan mendapat jawabannya sampai nanti aku akhirnya harus berada dalam rantai itu.

Selamat jalan, Pak Giyo

Kemaren, tepatnya pada tanggal 4 Maret 2008, tersebar berita duka mengenai meninggalnya seorang guru di SMA BHK yaitu Pak FX Giyo. Beliau pernah mengajar mata pelajaran fisika ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 1 dan 2. Selama ini saya mengenal beliau sebagai seorang guru yang baik dan ramah terhadap para muridnya.

Berdasarkan informasi, Pak Giyo meninggal dunia pada pukul 13.05 tanggal 4 Maret 2008. Pada tanggal 5 Maret 2008 dimakamkan di daerah Joglo, Jakarta Barat.

Semoga beliau dapat beristirahat dengan tenang. Kami para murid dan alumni akan selalu mengenang jasa dan keceriaan selama hidup Bapak.

This entry was last modified on: March 6th, 2008 at 0:46