Posts Tagged ‘provider’

AADF (Ada Apa Dengan Friendster)

2 Comments
Tags: , , , , , , , , ,

UPDATED! (18 Nov 2008, 18:49)

Tampaknya ada masalah baru yang terjadi pada server Friendster (FS) dalam 2 hari belakangan ini. Aku mencoba untuk membuka halamannya, akan tetapi selama 2 hari yang terjadi adalah pemberitahuan bahwa Server Not Found dari browser yang aku gunakan, seakan-akan tidak terdapat sebuah website yang bernama friendster.com. Dan masalah ini juga dihadapi oleh teman-temanku yang lain sehingga bisa dipastikan masalahnya bukan dari provider internet.

Entah kenapa bilapun ada masalah pada situs jejaring sosial yang terkenal di kawasan Asia tersebut, penanganannya bisa dikatakan lambat dibandingkan situs lainnya. Apalagi selama 2 hari berturut-turut tidak bisa membuka halaman FS itu sendiri.

Aku sendiri kurang tahu apakah ini terjadi karena server FS sedang di-maintenance atau terdapat kendala lain sehingga situs ini tidak bisa online. Pukul 22:00 tadi sempat mencoba untuk membuka FS lagi, akan tetapi yang ditunjukkan adalah halaman pemberitahuan bahwa FS sedang di-maintenance. Sedangkan ketika dibuka lagi pukul 22:30, yang muncul adalah halaman error dengan judul ERROR: The request URL could not be retrieved.

(more…)

Big outcome, bigger income (hope so)

2 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Yah mungkin bulan ini jadi bulan yang paling banyak pengeluaran lagi, terutama pengeluaran rutin dan pengeluaran non-rutin. Semuanya dimulai sejak awal bulan September ini.

Sudah mulai sejak bulan Agustus aku memikirkan untuk menggunakan Speedy sebagai provider internet saya. Apalagi mumpung saat ini Telkom memang sedang promosi kemerdekaan dengan memberi diskon 30% ke abodemen bulanan dan juga gratis modem dengan harga hanya Rp. 63.000,-. Tepat pada tanggal 1 September aku menelpon ke 147 dan pada hari Kamis (4/9), teknisi dari Speedy pun datang dan membantu pemasangan internet dan modemnya. Setelah dicoba menggunakan modem ADSL dari pihak Speedy, kecepatan koneksi mendekati 1 Mbps seperti yang diobral oleh pihak Speedy, tepatnya sekitar 850 Kbps. Cukup memuaskan! Dan memang kecepatan yang didapat tergantung dari kualitas jaringan dan infrastruktur telefoni di sekitar daerah pemasangan (misalnya kabel telepon dan noise), jadi bisa ditarik kesimpulan daerah saya tidak terlalu memiliki banyak gangguan jaringan.

Setelah itu, besoknya saya menuju ke Mangga Dua untuk membeli modem ADSL baru soalnya koneksi internet Speedy ini dibagi ke 3 komputer, sedangkan dengan modem yang didapatkan dari Speedy-nya hanya bisa digunakan untuk 1 komputer saja. Saya sendiri sudah merencanakan hal ini dan sudah berniat membeli modem ini bila memang Speedy sudah terpasang. Alhasil seharian muter-muter mencari modem dengan harga yang pas, dan didapatkanlah modem Linksys seharga Rp 700.000,-. Berhubung dollar lagi naik dan saya juga mengecek di bhinneka.com, ternyata harga yang saya dapatkan ini lumayan miring. Sebelum saya memutuskan membeli modem ini, saya beberapa kali ditawarkan menggunakan modem merek lain yang belum pernah saya dengar, dari pengakuan penjualnya modem tersebut juga dipakai dan bagus. Yah, tapi yang namanya penjual, ga mungkin mengatakan hal yang jelek mengenai produk yang dijualnya apalagi kalau mungkin keuntungan yang bisa didapatkan lebih besar. Dan parahnya, saya belum pernah tahu tentang merek ini dan belum sempat mencari dan membaca review dari pengguna lain di internet, jadi belum tahu kualitasnya.

(more…)

1GB pun sudah tidak cukup

5 Comments
Tags: , , , , , , , , ,

Setelah 2 tahun menggunakan StarOne sebagai provider internetku, rasanya sekarang kapasitas yang ditawarkan sebesar 1GB / bulan sudah tidak mencukupi lagi. Apalagi ketika proyek-proyek mulai mendekatiku dan aku mulai lebih banyak berkorespondensi melalui dunia web.

Berawal dari tahun 2006, bulan Juli ketika aku mulai menjalani aktivitas sebagai calon mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang dikenal dengan nama UBiNus, aku mulai mendaftarkan diri sebagai pengguna internet StarOne. Pada saat itu, StarOne menawarkan tarif yang lebih murah dibandingkan dengan provider lainnya yaitu sebesar Rp. 200.000,-. Tarif ini pun terus dikoreksi ke Rp 150.000 dan kemudian saat ini Rp. 100.000, akan tetapi jumlah bandwidth yang disediakan tetap tidak beranjak dari angka 1GB.

Sebenarnya seandainya Indosat menawarkan paket StarOne dengan jumlah bandwidth yang lebih tinggi, aku pasti akan mengambilnya tanpa pindah ke provider lain. Tidak benar-benar pindah sih, tetapi kemungkinan besar akan mengambil provider lain bersamaan dengan StarOne ini yang masih dipertahankan. Provider yang saat ini aku pertimbangkan itu adalah Fastnet dan Speedy.

Untuk Fastnet sendiri belakangan aku lebih sering mendengar berita yang tidak enak, mulai dari jaringan yang sering bermasalah dan down, speed yang turun, sampai ke customer service yang memberi pelayanan atau jawaban yang kurang memuaskan atas masalah pelanggan. Tapi di sisi lain, Fastnet menawarkan kecepatan yang cukup tinggi (paling tidak dibandingkan StarOne yang rata-rata berada di speed 144 kbps) dengan harga yang relatif murah juga, bahkan tanpa batasan bandwidth per bulan. Aku sudah pernah mencoba menghubungi Fastnet melalui form yang disediakan di websitenya, akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Yah, mungkin juga itu cuma form untuk penghias webnya, atau mungkin memang bagianku terlewatkan oleh pihak Fastnet-nya. Untuk telepon, aku masih belum sempat menghubungi Fastnet nya secara langsung. Sempat juga mengecek apakah jaringannya sudah ada di tempatku atau tidak, walau yang aku temukan di website yang sama tadi rumahku masih belum tercover. Akan tetapi sering melihat mobil Firstmedia nangkring di depan rumah, entah apa yang dilakukan orang Firstmedia di sekitar rumahku kalau bukan untuk memasang atau melayani pelanggan yang sudah pasang.

Sedangkan Speedy, dengan harga yang relatif mahal tetapi masih terdapat batasan dalam bandwidth per bulan atau pun waktu. Akan tetapi memiliki prospek yang bagus juga menurutku, karena sudah beberapa kali menawarkan promosi yang menggiurkan mulai dari pemasangan gratis, modem gratis, bahkan yang sekarang lagi hebohnya adalah speed yang mencapai 1 Mbps dan gratis pemakaian sepuasnya dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi yang berlaku sampai akhir Januari 2009. Dan mungkin ke depannya akan ada promosi-promosi lainnya yang lebih menggiurkan lagi.

Keputusan untuk mengambil 2 provider sekaligus juga ga terlepas dari kebutuhan untuk backup karena seringkali ketika bug ditemukan di proyekku, aku harus segera memperbaiki dan kemudian mengirim email yang di attach dengan revisi terbaru dari proyekku. Dan tentu itu jadi ga lucu kalau karena internet down, aku harus kelabakan mencari warnet (tapi untungnya di sebelah rumahku adalah warnet walau aku belum pernah ke sana). Saat ini aku menggunakan StarOne sebagai provider utama dan Mentari sebagai provider cadangan, dan kedua provider itu saling membackup bila ada masalah. Tetapi Mentari hanya aku gunakan dalam waktu singkat mengingat mahalnya biaya koneksinya.

Kalau diingat-ingat, dalam 1 bulan terakhir ini, aku sudah menggunakan bandwidthku untuk mengirim email hampir sampai 30 MB. Bahkan pernah dalam satu hari mencapai 5 MB karena saat itu hasil kerjaku sedang dipresentasikan dan aku harus mengirim revisi beberapa kali atas bug yang ditemukan saat presentasi dilakukan.

Kalau misalnya ada yang menemukan provider yang menawarkan yang lumayan murah dan bisa aku gunakan sebagai provider utamaku, tolong informasinya yah. :) Bantuan Anda akan menolong sejuta manusia. Loh… @_@ Hehehe… Thanks…

Baking cookie, baking the privacy and bandwidth

No Comments
Tags: , , , , ,

Lagi lagi mengenai web. Dan yang sekarang akan dibicarain adalah mengenai cookie.

Cookie merupakan data yang dibuat oleh web-server dan disimpan di komputer client untuk kemudian digunakan lagi suatu waktu. Contoh mudahnya adalah bila Anda berkunjung ke suatu situs web dan kemudian melakukan login, beberapa hari kemudian Anda kembali ke situs web tersebut dan ternyata masih dalam keadaan logged in, umumnya hal ini disebabkan adanya file cookie yang disimpan dalam web browser atau komputer Anda.

Dalam kasus di atas cookie bisa menjadi berguna di mana user tidak perlu lagi melakukan login berkali-kali ketika berkunjung. Di sisi lain, cookie bisa menjadi batu sandungan bagi pengguna situs tersebut bila ternyata ada orang lain yang menggunakan komputer yang belum di logged out tersebut. Dengan tertinggalnya file cookie (dan belum di log out nya pengguna tersebut dari situs itu) maka tidak tertutup kemungkinan account user tersebut dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Bila kita telaah lebih mendalam, cookie sering digunakan untuk melakukan tracking atau penjejakan terhadap pengunjung web atau visitor. Contoh di atas merupakan bentuk tracking juga karena web-server tahu mengenai account user yang sedang dalam keadaan logged in. Beberapa situs bahkan melakukan tracking untuk mencatat dan merekam data pribadi user, termasuk juga seberapa sering user tersebut masuk ke situs itu. Privasi pengguna pun dapat hilang dalam sekejap karena hal ini. Apalagi tracking cookie terkadang memiliki rentang batas waktu sampai bertahun-tahun lamanya sebelum akhirnya expired dan terhapus dari komputer user.

Browser-browser modern telah memiliki fasilitas untuk menghapus semua jejak browsing termasuk juga cookie. Contohnya adalah Mozilla Firefox di mana fasilitas ini bisa diakses melalui menu Tools > Clear private data… atau dapat diakses dengan menekan tombol Ctrl + Shift + Del.

Satu hal lagi yang perlu diketahui dari cookie adalah hubungannya dalam penggunaan bandwidth internet. Cookie dikirim oleh browser sebagai bagian dari request ke web-server sehingga untuk setiap file yang direquest yang berada dalam suatu domain, subdomain atau direktori (tergantung dari konfigurasi cookie) maka cookie akan dikirim sebagai bagian dari request untuk file tersebut. Beberapa web-server dan situs mencantumkan banyak cookie pada komputer user sehingga tentu saja akan meningkatkan jumlah data cookie yang harus dikirim sebagai request ke server.

Maka ketika browser meminta 20 file gambar yang hanya berukuran 1 kilobyte dan tidak memerlukan cookie untuk pemrosesannya, sedangkan cookie yang ada di pihak user memiliki ukuran total 1 kilobyte juga maka jumlah bandwidth yang digunakan hanya untuk request adalah 20 x 1 kilobyte = 20 kilobyte. Total bandwidth yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan 20 file tersebut adalah 40 kilobyte. Suatu bentuk pemborosan bandwidth yang sering dilupakan oleh para web-developer. Beberapa developer terkadang memilih untuk meletakkan file yang tidak memerlukan cookie pada direktori atau subdomain khusus dan juga mengkonfigurasikan cookienya untuk subdomain atau direktori tertentu saja, tapi hal ini lebih sering dilupakan sehingga tanpa disadari memberatkan pihak visitor web tersebut.

Tentu saja user yang telah menggunakan provider internet yang memiliki bandwidth tidak terbatas atau unlimited dan speed yang tinggi tidak akan terlalu terpengaruh oleh hal ini.

Saya sendiri menemukan beberapa situs web (terutama social networking) yang mengalami masalah “kebocoran bandwidth” ini dan tentu ini bukan hal yang menyenangkan mengingat saya masih menggunakan koneksi dengan bandwidth yang terbatas.

Provider internet vs. bandwidth

17 Comments
Tags: , , ,

Mari kita membahas berita yang tengah hangat untuk minggu ini.

Seminggu terakhir, di koran-koran maupun dari mulut ke mulut terdengar beberapa kata berikut sering diucapkan: “internet cepekceng sebulan” atau “unlimited seratus ribu”. Kuping ampe gatel sebenernya denger kaya ginian. Tapi mau gimana lagi, saya ga bisa menghalangi orang untuk mengeluarkan pendapat (walau pendapat itu seperti gema karena selalu berulang-ulang).

Mari kembali ke permasalahan. Satu minggu terakhir di koran terdapat iklan mengenai Firstmedia, sebuah provider internet (yang katanya provider baru) menghadirkan paket internet dengan harga yang fantastis dan bandwidth yang bombastis. Bagaimana ga fantastis kalau harganya anda cuma harus membayar seratus ribu per bulan? Bagaimana pula ga bombastis kalau dengan harga segitu murah anda mendapat bandwidth yang unlimited dan speed yang hampir 7 kali TelkomNet Instan? Siapapun pasti akan ngiler mendengar hal itu. Nenek-nenek juga pasti bakal merem melek denger berita ini kalau tuh nenek cukup gaul dan suka main internet.

Bisa dipastikan bahwa ratusan, bahkan ribuan pelanggan Speedy, TelkomNet, atau provider internet lainnya bakal ngacir ke Firstmedia. Itupun kalau mereka bisa. Loh? Kenapa ga bisa? Usut punya usut, ga semua daerah terjangkau oleh provider baru ini. Dan setau saya, provider ini menggunakan jaringan Cable sehingga pelanggan harus berlangganan TV Cable terlebih dahulu sebelum dapat memasang internetnya. Tapi beberapa teman yang (katanya) sudah menghubungi provider tersebut mengatakan bahwa tidak memerlukan kepelangganan TV Cable untuk memasangnya.

Itu baru masalah yang pertama. Dengan membludaknya jumlah pelanggan yang ngibrit ke provider baru ini, tentu jumlah bandwidth yang akan digunakan meningkat tajam, sedangkan kapasitas bandwidth yang disediakan tidak akan cukup memadai. Layaknya air 100 liter dimasukkan ke sedotan minuman yang cuma berdiameter 0,5 cm, tentu yang keluar di ujung satunya cuma se’iprit saja dan mengakibatkan air tersebut akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk ditransfer dari ujung satu ke ujung lainnya. Prinsip ini juga berlaku untuk jaringan internet. Seberapa besar sih kapasitas bandwidth yang disediakan provider baru ini? Apalagi untuk jaringan yang unlimited di mana tentu para pelanggan akan dimanja dengan “download sepuasnya sampai hard disk anda meledup karena terlalu penuh”.

Yuk main matematika dikit yuk:

Pertama-tama, bandwidth untuk paket 100 ribu adalah 352 Kbps. Kemudian 200 pelanggan menggunakan bandwidth ini secara penuh untuk mendownload, hmm, katakanlah film sehingga kapasitas total yang digunakan adalah 352 Kbps x 200 = 70.400 Kbps atau 70 Mbps. Itu baru dengan asumsi 200 pelanggan. Ga mungkin yang ngacir ke provider ini cuma 200 orang doank (mengingat kalau nenek-nenek tadi cukup gaul, berarti dia juga bisa ngajak teman-temannya. Hehehe. :p )

Andaikata ada 1000 pelanggan, maka penggunaan akan menjadi 352 Mbps. Wow, backbone Indonesia ke luar negeri aja kapasitasnya cuma berapa puluh Gbps. Jaringan serat optik biasa paling hanya bisa menampung sampai tingkat ratusan Mbps (apalagi ditambah transfer data yang digunakan untuk TV Cable sendiri). Mari kita berandai-andai lagi kalau kapasitas yang ada adalah 100 Mbps, maka pada saat 1000 pelanggan tersebut menggunakan secara penuh bandwidth yang ada, ga mungkin bisa melebihi 100 Mbps. Kalau sudah begitu, maka kita coba pukul rata kecepatan yang ada sehingga perhitungan kembali ke 100 Mbps / 1000 pelanggan = 0,1 Mbps / pelanggan atau bisa juga dibilang cuma 100 Kbps / pelanggan. Jauh di bawah yang dikatakan yaitu 352 Kbps.

Bukan bermaksud menghasut anda untuk tidak pindah ke provider ini, tapi pikirkan secara matang sebelum pindah. Saya sendiri ga ada keinginan buat pindah ke provider ini walau saat ini saya harus membayar 150 ribu per bulan untuk bandwidth 1 GB. Bagi saya bandwidth 1 GB sudah cukup bahkan berlebihan, untung-untungan beberapa bulan ke depan harganya diturunin atau bandwidthnya dinaikin. Sebenarnya makin banyak yang pindah ke provider baru ini justru saya makin bersyukur, karena saya menggunakan jaringan CDMA untuk internet yang berarti prinsipnya hampir sama dengan air dan sedotan yang sudah dibahas. Jadi makin banyak yang kabur dari provider saya, makin lancar pula internet yang saya gunakan. :p Hahaha…

Jadi masihkah anda berpikiran untuk pindah provider? Jawabannya ada di tangan anda. :)

Tambahan (1/3/2008): Kasus di mana terjadi penyempitan jalur karena bandwidth yang diminta terlalu besar tetapi jalur yang disediakan terlalu sedikit sering disebut sebagai connection bottleneck. Selama provider internet secara konsisten tetap menyediakan tambahan jaringan baru dibarengi juga penambahan jumlah kapasitas bandwidth maka kasus bottleneck dapat dikurangi atau ditiadakan sama sekali.