Secuil Kisah 3 Hari di Semarang (dan Sekitarnya)
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pada tanggal 12 April 2010 sampai dengan 14 April 2010 yang lalu aku pergi ke Semarang untuk bekerja. Yap, bekerja. Loh, emangnya aku udah punya pekerjaan yah? Untuk sementara ini statusnya masih kerja sebagai freelancer, choy. Tapi yah akhirnya juga tetap aja namanya bekerja karena aku pergi ke sono memang tujuannya untuk memenuhi tugas pekerjaanku.
Dan aku akui bahwa selama 3 hari 2 malam di Semarang sangat melelahkan karena seperti yang aku tulis di judul entry ini, bahwa aku bukan cuma ke Semarang saja, tapi juga kota-kota di sekitarnya yaitu Pekalongan dan Purwokerto. Perjalanan ini aku tempuh bersama Pak Henry, manajer proyek yang selama ini membimbingku, hanya saja aku harus melakukan perjalanan terpisah dengan Pak Hen yang menuju ke Blora dan Magelang. Dan masing-masing kedua kota itu ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil. Berjam-jam duduk di mobil tentu ga menyenangkan.
Oke, kita mulai saja ceritanya.
Hari 1: Tanggal 12 April 2010, Kampus 6 Pekalongan
Hari ini merupakan hari keberangkatanku. Bangun jam setengah 4 pagi, memperbaiki programnya sedikit sebelum mandi, kemudian mandi, siap-siap dan naik ke taksi. Seperti biasa, taksinya sudah datang dari jam 4 pagi, padahal aku pesan untuk jam setengah 5 pagi. Karena masih pagi-pagi buta, lalu lintas pun lancar dan ga sampai 20 menit sudah sampai ke Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3. Ga sampai 10 menit kemudian, Pak Henry pun datang, kemudian kami melakukan check-in. Tak ada delay, akhirnya kami pun naik ke pesawat dan berangkat menempuh perjalanan udara selama 45 menit.
Pukul 07.00 kurang, kami tiba di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Dan di sana kami dijemput oleh staf Poltekkes yang akan menemani kami ke masing-masing kota. Dari bandara, kami langsung berpisah menuju kota tujuan kami masing-masing. Pak Henry menuju ke Blora yang menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam, aku sendiri menuju ke Pekalongan yang menghabiskan waktu 2 jam perjalanan.
Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya sampai ke kampus Poltekkes di Pekalongan. Setelah sedikit ramah tamah dengan staf kampus, akhirnya aku pun diajak menuju perpustakaan untuk memasang aplikasi dan mengaturnya agar bisa digunakan. Karena ini merupakan hari pertama, jadinya agak kebingungan juga apa yang musti dilakukan. Apalagi server yang disediakan adalah Windows Server 2008, sedangkan client nya menggunakan Windows 7. Kedua operating system ini merupakan sesuatu yang cukup baru bagiku yang sampai saat ini masih senang berkutat cukup hanya di Windows XP dan Linux saja. Apalagi SQL Server yang digunakan di dalam servernya masih SQL Server 2000. Yah, kalau mau dibilang perbandingannya antara langit dan bumi antara SQL Server 2000 dengan Windows Server 2008.
Setelah utak-atik yang hampir 30 menit masih belum bisa mengkoneksikan client-nya, akhirnya aku mulai membawa training untuk aplikasi online library terlebih dahulu berhubung aplikasi ini merupakan aplikasi web yang dapat diakses dari internet. Training yang dijadwalkan 1 jam akhirnya molor menjadi 2 jam, terutama karena juga merupakan kali pertama aku memberi training di sini, jadinya semua aku jelaskan secara detail bahkan sampai meminta trainee mencoba modulnya satu per satu.
Setelah molor itu, akhirnya aku memasang aplikasinya Sistem Informasi Akademik di komputer server agar bisa dicoba langsung di sana mengingat client-nya masih belum bisa terhubung. Training untuk SIA pun dimulai dan pesertanya cukup banyak karena hampir semua staf di sana diperbolehkan untuk ikut walaupun tidak menggunakan aplikasi ini nantinya. Sama seperti library, training ini memakan waktu 4 jam dari 3 jam yang dijadwalkan karena masih sedikit kagok dengan aplikasinya mengingat aplikasi ini bukan aplikasi yang aku buat sehingga belum terlalu lancar dalam mendemokannya. Akhirnya training selesai pukul 17.00, dan aku melanjutkan kembali pengaturan server-nya. Sempat berkomunikasi dengan Pak Henry yang sedang ada di Blora juga, tetapi ternyata Pak Henry juga mengalami kegagalan di sana.
Di sini muncul diagnosa bahwa kemungkinan SQL Server 2000 sudah tidak compatible lagi dengan Windows Server 2008 di mana mungkin ada beberapa hal yang tidak tercatat karena perbedaan versi yang terlalu jauh sehingga port TCP/IP yang digunakan untuk berkomunikasi antara server dan client tidak terbuka. Alhasil setelah berkutat selama hampir 1 jam dan tidak mendapatkan hasil, ditambah lagi karena sudah mahgrib, aku pun menyerah dan menjanjikan akan mengirim panduan bila sudah berhasil nantinya. Bersama supir dan staf dari Semarang sebelumnya, kami langsung menuju ke Purwokerto karena perjalanan yang akan memakan waktu 2 sampai 3 jam. Ketika di bandara, staf tersebut sempat bilang bahwa setelah Pekalongan, kami akan kembali ke Semarang dulu dan besoknya akan berangkat ke Purwokerto jam 5 pagi, akan tetapi dibatalkan mengingat lebih mudah langsung ke Purwokerto.
Perjalanan kali ini tidak lancar, apalagi supirnya belum pernah menempuh perjalanan dari Pekalongan langsung ke Purwokerto. Melewati hutan yang gelap dan sepi, lalu tiba-tiba hujan deras, dan kemudian ada kecelakaan tepat di depan mata kami di mana seorang pengemudi motor dari arah berlawanan jatuh di saat hujan deras di tengah hutan tersebut. Untung saja supir mobil yang aku tumpangi langsung membelokkan mobil ke kiri dan memperlambat lajunya, kalau tidak, mungkin pengendara motor itu bisa tergilas. Mengingat keadaan yang gelap dan hujan lebat, supir pun memutuskan untuk berhenti sebentar dan menyalakan lampu darurat untuk memperingatkan pengemudi lainnya sampai ketika pengendara motor sudah bisa berdiri sendiri lagi. Yang agak aku tidak suka adalah ketika staf dan supirnya mengatakan kalau aku takut ketika melewati hutan ini, dan juga masih dilanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain bahwa seolah-olah aku anak kecil yang masih perlu ditemani sampai setiap detik dan inch-nya. Padahal memang ga ada sesuatu yang bisa dibicarakan sehingga yah aku diam saja menikmati perjalanan itu. Yeah, whatever. Kemudian perjalanan kami lanjutkan lagi.
Ga sampai di sana, kami pun melewati jalan yang sempit di mana terdapat banyak tanjakan dan turunan yang curam. “Gila, ini nyasar atau apa?”. Aku sempat mencoba aplikasi Google Maps yang terdapat di handphone-ku, ternyata prediksi posisi saat ini cukup tepat selama perjalanan. Dan dari sana aku bisa tahu sampai di mana kami nyasar.
Yang masih membuatku bingung adalah bagaimana caranya Google mengetahui posisiku hanya menggunakan perkiraan dari pemancar atau BTS di sekitar daerah itu, tanpa GPS. Setelah 1 jam berkutat dengan keadaan yang gelap, akhirnya kami sampai juga di Purwokerto setelah 4 jam perjalanan dari perkiraan sebelumnya yang hanya 2 sampai 3 jam. Di sana kami makan malam terlebih dulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke hotel. Agak lain dari perkiraanku karena sebelumnya aku dan Pak Henry diberitahu akan menginap di guest house.
Di hotel, aku pun segera mandi, kemudian mencari-cari informasi mengenai masalah yang aku temui melalui handphone. Kemudian aku mendapat kabar buruk di mana Pak Henry harus pulang terlebih dulu karena terdapat rapat dadakan pada tanggal 14. Alhasil akhirnya aku harus pulang belakangan sendirian dan juga membawakan training ke 2 kampus sekaligus di hari terakhir nanti. Padahal sebelumnya seharusnya setiap lokasi ini nantinya akan dikunjungi olehku dan Pak Henry masing-masing. Akhirnya lokasi training dijadikan satu saja untuk menghemat waktu. Setelah menerima berita tersebut, karena udah ga kuat lagi akhirnya aku memilih tidur saja, apalagi pagi-paginya aku harus bangun dan siap-siap ke kampus selanjutnya.
Hari 2: Tanggal 13 April 2010, Kampus 7 Purwokerto
Bangun pukul 07.00, kemudian siap-siap dan checkout pukul 07.30. Bukannya langsung berangkat ke kampus di Purwokerto, kami justru naik dulu ke kawasan Batu Raden, cuma sekedar untuk menunjukkan kepadaku keindahan kawasan itu. Katanya daerah ini merupakan “Puncak” nya Jawa Tengah. Di sepanjang jalan memang banyak penginapan dan rumah makan. Setelah menunjukkan kepadaku sebentar kawasan itu, akhirnya kami sarapan dulu di rumah makan padang. Yah, ga di Jakarta, ga di Semarang, ga di Purwokerto, makannya selalu nasi padang.
Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke kampus di Purwokerto yang hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari hotel kami. Kampus ini mungkin merupakan kampus terluas yang aku kunjungi dan suasananya sangat tenang dan sejuk. Yah mengingat kampus ini terdapat di daerah pegunungan. Setelah ramah tamah, akhirnya kami menuju ke ruang komputer kampus itu, dan di sana aku mulai membawakan training untuk aplikasi library online. Setelah 1 setengah jam training library online, aku pun ke ruang server-nya untuk mengatur aplikasi yang ada, dan kasusnya masih sama seperti yang kemarin. Alhasil karena server masih bermasalah, acara berikutnya adalah training untuk aplikasi SIA, masih di ruang komputer. Setelah 3 jam training, aku pun kembali ke ruang server untuk mengutak-atik server dan jaringan.
Setelah 1 jam mencari-cari di internet, akhirnya aku menemukan titik terang di mana terdapat artikel di internet yang menyatakan SQL Server 2000 memang bermasalah kalau belum terinstall Service Pack 4 (SP4) nya. Akhirnya aku memanfaatkan koneksi internet di sana untuk mendownload SP4 tersebut, dan menginstallnya. Akan tetapi hujan deras tiba-tiba turun, dan berdasarkan yang aku dengar, di kampus ini sudah banyak terdapat korban yang terbakar karena petir. Dan buktinya terdapat di belakang ruang server di mana banyak korban-korban tersebut tergeletak begitu saja tak bernyawa lagi. Yah, bukan korban jiwa maksudnya, hanya korban alat-alat elektronik seperti switch dan CPU.
Sudah begitu, selama aku mengutak-atik itu, semua orang pergi begitu saja dan meninggalkanku di ruang server situ. Mau mencoba menkoneksikan client nya ke ruang lainnya juga bingung karena semua terkunci, akhirnya yang bisa aku lakukan adalah menunggu. Beberapa saat kemudian, akhirnya staf-staf yang terdapat di kampus itu kembali dan jadi agak ramai, dan akhirnya ruang lainnya bisa diakses. Hanya saja setelah melihat-lihat, jaringannya justru putus di bagian switch, tampaknya karena switch tersebut terbakar juga karena petir. Oke, yang penting server sudah beres.
Setelah itu aku kembali ke ruang server dan diajak makan malam oleh staf di sana. Makan malam pun yang aku pesan adalah bihun goreng, yang bisa aku dapatkan di Jakarta juga.
Soalnya di rumah makan tersebut juga ga ada menu makanan yang spesial khas Purwokerto. Selama makan malam ini, sekali lagi aku tidak suka dengan pernyataan beberapa orang yang mengatakan bahwa dari mukaku, aku lebih cocok sebagai anak SMA tingkat 2, dan masih baby face. What the? o_O Dan sempat menyindir biaya kuliahku dan sebagainya. Yeah yeah. Just say what you want.
Setelah makan malam, kami pun kembali ke kampus, dan jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Tetapi ketua prodi Kebidanan di sana masih meminta untuk dipasang aplikasinya di gedung prodi. Alhasil setelah berkutat selama setengah jam dan tidak berhasil karena masalah switch-nya yang terdapat di ruang lain yang terkunci, kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang. Perjalanan ini yang paling melelahkan di antara perjalanan lainnya karena memakan waktu 5 sampai 6 jam, padahal supirnya sudah mengemudikan mobilnya dengan full speed.
Hari 3: Tanggal 14 April 2010, Semarang dan Jakarta
Jam menunjukkan pukul 00.00 dan ternyata kami masih dalam perjalanan ke Semarang. Dan dari Google Maps terlihat bahwa kami belum sampai setengah perjalanan. Aku sempat beberapa kali tertidur karena ga tahan, dan ga tau apakah supirnya mengantuk atau tidak. Sekitar pukul 00.30, kami tiba di Temanggung. Di sana kami sempat berhenti dulu untuk menjenguk ibu salah satu staf yang mengalami kecelakaan yang harusnya mendampingi Pak Henry di Magelang, mumpung lewat di daerah ini. Kemudian kami melanjutkan lagi perjalanan.
Kemudian sempat sekali lagi berhenti untuk mengisi bensin pada pukul 01.00. Di sini kami mengalami masalah di mana ternyata ban belakang kiri mobil kempis sehingga kami mencoba memompanya menggunakan fasilitas pompa angin gratis di pom bensin tersebut. Ternyata setelah dipompa tidak berhasil karena tampaknya ban bocor. Setelah beberapa lama berkutat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi, dan berhenti sekali lagi untuk mengisi angin di tengah jalan di tukang ban pinggir jalan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan, dan kami pun tiba di Semarang pukul 02.30 dan langsung menuju ke hotel tempat Pak Henry menginap. Setelah men-drop aku di sana, staf dan supir kembali melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.
Di hotel, Pak Henry bilang bahwa beliau harus pulang terlebih dahulu dan berangkat ke airport pukul 05.00. Alhasil yah aku ditinggal sendirian nantinya. Jujur aja sih bahwa ini pengalaman pertamaku terbang dengan pesawat sendirian. Tapi yah, tampaknya seru jadi yah kenapa ga dicoba
Setelah tidur beberapa saat, pukul 05.00 aku dibangunkan Pak Hen yang berpamitan dan kemudian mengunci pintu kamar. Setelah itu aku melanjutkan tidur lagi dan terbangun pukul 06.30. Aku mandi, bersiap-siap, kemudian breakfast di restoran hotel tersebut. Setelah itu pukul 08.10 supir menjemputku, dan aku pun check out dengan menyerahkan kunci hotel. Kami berangkat ke Semarang, dan di perjalanan itu, supir tersebut bercerita bahwa dalam perjalanan Purwokerto Semarang, dia sempat hampir tertidur sambil mengemudi sebanyak 2 kali. Untung saja saat itu jalanan cukup sepi dan lurus sehingga tidak terjadi hal-hal yang ga diinginkan.
Pukul 09.00 tiba di kampus Semarang dan melakukan installasi di server dan client. Karena sudah mengetahui masalahnya didukung dengan jaringan yang waras, akhirnya aku bisa dengan mudah mengatur server dan client yang ada di lokasi ini dan semuanya terkoneksi dengan mudah. Kemudian kami melanjutkan dengan training penggunaan SIA, dilanjutkan dengan library online. Akan tetapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, sedangkan pesawat berangkat pukul 18.00 yang berarti aku harus di bandara untuk check-in pukul 17.00, maka staf Poltekkes tersebut pun memintaku untuk menuju ke lokasi kampus satunya untuk mengatur client dan server. Sedangkan training akan dilanjutkan oleh staf Poltekkes tersebut.
Kami pun langsung menuju ke lokasi satunya yang memakan waktu sampai setengah jam, untungnya lokasi tersebut dekat dengan bandara. Setelah tiba di lokasi, aku pun melakukan installasi express, yang hanya berlangsung selama kurang dari 20 menit. Untung saja jaringannya tidak bermasalah jadinya semua bisa dilakukan dengan cepat. Selanjutnya kami langsung menuju ke bandara dan tiba di sana pukul 17.05, lewat sedikit dari yang seharusnya tidak masalah. Oh iya, di Purwokerto sebelumnya aku sudah diberi oleh-oleh, jadinya untuk di Semarang aku tidak membelinya lagi, selain juga karena alasan waktu. Setelah mengucapkan salam perpisahan ke supir, aku masuk ke dalam bandara dan check-in kemudian menunggu di sana.
Di bandara, aku mendengar terjadinya kerusuhan di Jakarta. Bah, 3 hari aku ga di Jakarta aja udah amburadul gitu yah. Setelah itu panggilan untuk naik pesawat pun dikumandangkan, dan aku segera naik ke pesawat. Tampaknya karena Pak Henry mengubah jadwalnya, maka kursi di sebelahku kosong. Akan tetapi sayangnya aku mendapat kursi yang paling dekat ke arah lorong, daripada kursi di dekat jendela. Sedangkan kursi di dekat jendela itu diisi oleh seorang perempuan. Perjalanan udara ini aku tempuh dalam 45 menit.
Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, aku memesan taksi. Tapi sayangnya taksi yang biasa aku gunakan tidak ada, malahan adanya taksi yang tidak aku kenal. Alhasil daripada tidak pulang sama sekali atau menggunakan taksi yang aneh-aneh, aku menggunakan taksi yang ada saja. Sampai di rumah pukul 19.30, dan tepar karena kelelahan. Fiuh.
Conclusion
Akhirnya perjalanan 3 hari 2 malam selesai juga. Walau banyak hal yang ga terduga, semuanya bisa jadi pengalaman yang menyenangkan, walau beberapa merupakan hal-hal yang patut disayangkan. Satu hal yang aku ingat pasti, jangan menggunakan SQL Server 2000 tanpa service pack. Kemudian jauhkan kabel atau peralatan listrik lainnya lebih dari 5 centimeter dari media kontak yang tersambung ke luar yang dapat menghantarkan listrik dari petir. Satu lagi, whatever they said about maturity, bravery, and face, I don’t care.
Cukup mengganggap mereka hanya becanda saja.
Itu saja pengalaman yang dapat aku ceritakan mengenai perjalananku di Semarang. Akhirnya setelah kembali ke Jakarta harus kembali ke rutinitas seperti biasa lagi. Hiks. Tapi tetap harus berjuang. Semangat!! Sekian dulu deh.
Okay, see you later, Semarang. Semoga bisa kembali lagi suatu saat lagi dan semoga lebih menyenangkan.






Latest Comments