Posts Tagged ‘speed’

Facebook Lite: Lightweight Version of Facebook

Bagi sebagian besar orang, dengan bandwidth 384 Kbps melakukan browsing di Facebook sudah cukup memadai dan cukup cepat untuk menikmati fitur-fitur yang ada, bahkan sampai menggunakan aplikasinya. Jadi sebenarnya bersyukurlah bagi orang-orang yang sudah bisa menikmati kecepatan bandwidth “up to” 384 Kbps untuk bisa mengakses Facebook. Akan tetapi apabila kamu kurang beruntung (atau merasa seperti itu) dan merasa melakukan browsing di Facebook memakan waktu yang cukup banyak, bukan karena kamu ketagihan untuk muter-muter dan klik ke sana kemari menjelajahi Facebook, tapi karena loading yang ga kunjung selesai, maka mungkin kamu perlu mencoba fitur baru dari Facebook, yaitu Facebook Lite.

Facebook Lite

Facebook Lite

Facebook Lite ini pada dasarnya mirip dengan layanan Facebook biasa, hanya saja dipermak sehingga tidak terlalu memakan banyak bandwidth internet. Bagi yang belum tahu seberapa besar Anda membuang bandwidth untuk membuka halaman home Facebook, aku telah menguji coba sendiri (per tanggal 12 September 2009). Ketika seorang pengguna Facebook membuka halaman home, kurang lebih 210 KB file JavaScript, 34 KB file CSS, ditambah lebih dari 30 KB halaman HTML didownload oleh seorang pengguna. Jumlah ini belum termasuk file-file gambar, yang totalnya ketika aku melakukan pengujian mencapai lebih dari 1 MB!

Lalu bagaimana dengan Facebook Lite sendiri? Ketika aku mencobanya, browser yang aku gunakan mendownload 15 KB file JavaScript, 11 KB file CSS dan 11 KB halaman HTML. Jumlah gambar yang didownload pun jauh lebih sedikit, sehingga total sampai keseluruhan halaman berhasil di-load hanya 206 KB!

Tentu saja halaman sekecil ini bisa dicapai dengan melakukan beberapa pemotongan fitur, seperti tidak tersedianya feed mengenai aplikasi dan tampilan yang jauh lebih sederhana. Kamu ga akan menemukan fitur AJAX yang membuat tampilan lebih “smooth” dan interaktif (contohnya bisa ditemukan di profile tiap orang, dengan memilih tab yang berbeda seperti photos atau profile), oleh sebab itu jangan bingung kalau kamu harus me-load ulang seluruh halaman baru hanya untuk pindah tab di bagian profile. Tetapi sejauh pengamatanku, hal  ini masih tetap lebih ringan ketimbang menggunakan versi penuh walau dengan AJAX sekalipun. Fitur lainnya seperti aplikasi yang bukan buatan Facebook dan chat tidak bisa dipergunakan sama sekali di halaman ini, oleh sebab itu bagi yang ingin menikmati segala fitur secara penuh lebih baik tetap menggunakan versi asli Facebook.

Sementara itu, bagian settings yang seharusnya bisa digunakan untuk mengubah identitas seperti mengganti isi profile, email, password dan sebagainya sampai artikel ini ditulis pun masih belum selesai diterapkan sehingga untuk melakukan beberapa hal tetap harus melalui versi yang penuh.

Seperti yang aku tulis di atas, versi lite ini memang untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang memiliki bandwidth yang kecil, yang ingin tampilan Facebook-nya lebih ringan dan juga bagi sebagian besar user yang tidak banyak menggunakan aplikasi. Beberapa media bahkan membandingkan Facebook dengan Twitter, yang memang dari pengamatanku makin mirip seperti microblogging melalu versi lite ini, tetapi lebih lengkap karena bisa mem-posting video dan foto secara langsung juga. Dan yang pasti fitur yang ada akan terus ditambah di masa yang akan datang, tentunya dengan mempertimbangkan aspek tampilan yang simple dan ringan.

Bila kamu merasa Facebook yang biasa kamu gunakan sudah terlalu “overcrowded”, mungkin saatnya kamu mencoba Facebook Lite di lite.facebook.com.

Moore’s Law vs. Wirth’s Law and Software Development

Tanpa kita sadari bahwa sekarang kita sudah semakin masuk ke dalam era teknologi yang semakin lama semakin canggih. Dan seperti biasa, kebanyakan dari kita hanya melihat sisi terang dari perkembangan teknologi itu, mulai dari prosesor yang semakin cepat, program-program yang semakin canggih, tampilan yang semakin memukau sampai kepada koneksi internet yang semakin tinggi kecepatannya. Di sisi lain, banyak kekacauan mulai menggerogoti semua hal tersebut dan sebenarnya menghilangkan semua hal itu sehingga apa yang sebenarnya kita rasakan tidak lebih dari teknologi yang kita rasakan beberapa tahun yang lalu.

Aku membaca sebuah artikel yang menarik di IEEE Spectrum mengenai hukum-hukum perkembangan teknologi. Di sana terdapat 5 hukum + 1 hukum yang menggungkapkan fakta di balik realita semu yang banyak dilihat oleh orang-orang. Kelima hukum tersebut adalah Moore’s Law, Rock’s Law, Machrone’s Law, Metcalfe’s Law, dan Wirth’s Law, ditambah dengan sebuah hukum yang tidak terkait secara langsung dengan yang ingin aku bahas di sini Nielsen’s Law.

Moore’s Law diungkapkan oleh Gordon E. Moore mengatakan bahwa jumlah transistor dalam sebuah prosesor akan berganda setiap tahun. Akan tetapi prediksi ini agak meleset sampai akhirnya sekarang prediksi ini menjadi setiap 18 bulan (walau rata-rata terjadi setiap 22 – 24 bulan), dan hukum ini dijalankan oleh perusahaan prosesor terkemuka: Intel. Di sisi lain dengan penambahan transistor ini, perubahan terjadi pada proses fabrikasi dan berarti tentu berpengaruh pada harga, yang akhirnya dikemukakan melalui Rock’s Law.

Rock’s Law yang didedikasikan kepada Arthur Rock, seorang penemu di Intel, mengatakan bahwa harga peralatan semikonduktor (dalam hal ini untuk membuat prosesor) akan mengganda setiap 4 tahun sekali. Secara peralatan yang diperlukan untuk melakukan “pembedahan” atas prosesor memang semakin canggih, tentu peralatan ini akan semakin mahal. Hal ini akan berpengaruh kepada harga produksi prosesor yang semakin mahal tetapi di-eliminasi oleh hukum ekonomi tentang persediaan dan permintaan barang, dengan kata lain produksi massal.  Akibatnya? Muncullah Machrone’s Law tentang harga PC.

(more…)

WordPress 2.8 dan Masalah Timeout dengan Auto-Update

Yay, akhirnya setelah WordPress versi 2.8 resmi diluncurkan 2 hari yang lalu, blog ini terupdate juga dengan versi teranyar. Awalnya sih banyak masalah, tapi masalah ini sama seperti yang sebelum-sebelumnya ketika aku mencoba untuk melakukan auto-update melalui fasilitas baru yang disediakan sejak versi 2.7 yang lalu, yaitu timeout.

Untuk WordPress 2.8 sendiri, ga banyak perubahan sih sejauh yang aku liat dalam beberapa menit ini. Hanya ada tambahan satu submenu yaitu “Add new themes” yang terletak di bawah menu Appearance. Selain itu interface untuk widgets juga agak berubah dengan dipisahkannya widgets yang sudah dipakai dan juga widgets yang belum terpakai. Dan masih di menu Appearance, untuk Editor themes juga sudah tersedia fungsi syntax highlighting yang bisa mempermudah dalam mengedit source code untuk themes. Hanya itu sih untuk sementara yang aku lihat dari WordPress baru ini.

Dan seperti yang aku katakan, aku sedikit mengalami masalah ketika menggunakan fitur auto-update untuk meng-update engine WP 2.8. Ketika menjalankan auto-update, WP tidak berhasil mendownload file WP 2.8 terbaru karena masalah timeout yang hanya disediakan sebanyakan 30 detik saja. Di sana didapatkan hasil bahwa hosting yang aku gunakan hanya berhasil mendownload 1,8 MB file dari wordpress.org, mungkin juga karena speed download hosting yang kurang. Adapun pesan yang muncul di layar adalah:

Download failed.: Operation timed out after 30000 milliseconds with 1840273 bytes received

Dengan inisiatif dan juga rasa kesal karena kemarin juga gagal menggunakan auto-update karena DNS lookup gagal, akhirnya aku mencari dengan Google juga untuk solusinya dan langsung kena sasaran. Dan hasilnya adalah sebuah solusi jitu untuk meningkatkan lama waktu sebelum terjadi timeout di nazham.com (dan memang ini yang aku cari, cara untuk meningkatkan waktu timeout). :D Ga terlalu susah sih caranya. Anyway jangan lupa backup dulu file yang disebutkan di sini supaya kalau ada apa-apa, aku ga disalahkan, ups… maksudnya supaya Anda ga pusing sendiri kalau error :p

  1. Pertama-tama, download dan buka direktori wp-admin/includes dan cari file files.php yang terdapat di blog Anda, kemudian buka di editor kesayangan Anda.
  2. Cari baris yang berisi
    $response = wp_remote_get($url, array('timeout' => 30));
    Oke, di sini mungkin agak susah kalau menelusuri satu per satu, dan setiap versi WP pun mungkin berbeda barisnya. Cara yang paling gampang adalah dengan menggunakan fasilitas search dan mengetikkan “30″ sebagai keywordnya. Yup, cuma tulis angka itu saja soalnya aku udah coba dan memang cuma hanya ada di satu tempat saja kata yang menggunakan keyword itu.
  3. Ubah angka 30 menjadi 60 atau 90 (kalau aku sih menaruh nilai 120 di sana :D ), sehingga kurang lebih baris itu menjadi:
    $response = wp_remote_get($url, array('timeout' => 60));
  4. Simpan perubahan dan upload lagi ke direktori sebelumnya (bila menggunakan FTP dan membuka langsung dari server, harusnya file otomatis diupload ketika perubahan disimpan).
  5. Coba gunakan lagi fasilitas auto update dan ucapkan selamat tinggal pada timeout :)

Jadi kalau Anda menemukan hosting yang Anda gunakan cukup lemot untuk mendownload WP versi terbaru secara otomatis, maka Anda bisa coba menggunakan cara di atas. Bila hosting memerlukan lebih banyak waktu, kita berikan mereka lebih banyak waktu. Hiehehehe… :devil:

Oke deh, selamat mencoba dan ber-WordPress ria.