Archive for April, 2009

Spam vs. Tulisan tentang Spam

Aku baru menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh, lucu, dan unik yang terjadi di blog ini belakangan, khususnya berkaitan dengan spam dan tulisanku tentang spam.

Sekitar 1 bulan kemarin, aku sempat menulis tentang Spam dari Rusia (SPD) yang menyerang inbox emailku yang menggunakan yang terdapat di contact (at) etersoul.com. Dan tentu saja itu sangat menyebalkan sampai akhirnya aku harus membuat filter khusus untuk langsung menolak dan menyingkirkan email yang dikirimkan dari suatu IP address tertentu yang aku identifikasikan sebagai IP address spambot dari Rusia.

Dan anehnya, setelah aku menulis mengenai entry tersebut, rata-rata setiap hari aku mendapat lebih dari 10 spam comments di blog ini. Dan entry penyumbang spam comments ini adalah entry SPD tadi. Bisa dibilang 90% spam comments menyerang entry yang satu ini. Dan tiap hari pula ada yang lolos dari Akismet sampai ditampilkan di entry itu, walaupun jumlahnya hanya berkisar 1 atau 2. Anehnya, WordPress pun menerima saja spam tersebut, padahal pada bagian option juga sudah dibuat untuk memfilter email yang memiliki lebih dari 2 links yang berarti seharusnya comment tersebut harus aku moderate dan approve terlebih dahulu sebelum bisa ditampilkan.

Entah apa ini wujud kemarahan para spammer atau spam bot karena aku membeberkan IP address yang menyebalkan itu, atau justru karena ada tulisan mengenai Spam dan Rusia di sana jadi dianggapnya itu memang tempat untuk ngiklan? :D Apa ada yang punya clue? Atau justru ada yang mengalami juga? :D

Ah iya, satu lagi. Spam comments ini berasal dari IP yang berbeda dengan spam email yang aku terima. Kepikiran buat ngeblock akses dari IP itu, tapi takutnya yah nanti ternyata itu IP anonymous proxy yang bisa dipakai buat umum. Jadi untuk sementara ini aku membiarkan dulu Akismet menangani masalah ini.

“Sakti”-nya Mentari

Masih teringat iklan televisi sebuah operator seluler di mana ada seorang aktor yang memutar jam sambil berkata bahwa nelpon 5 rupiah per detik dari jam 12 (pagi) sampai jam 5 (sore). Dan pada akhirnya muncul tulisan produknya: Mentari Sakti. Iklan ini ditayangkan ketika sedang heboh-hebohnya perang-perangan tarif antara “si biru”, “si kuning”, dan “si merah”.

Entah karena perang tarif udah mereda atau gimana, tiba-tiba aja ada perubahan sistem tarif untuk Mentari. Dan selama ini aku membaca koran Kompas dan menggunakan internet bahkan ga tau kalau ada perubahan tarif. Selain itu ga ada pula SMS pemberitahuan mengenai perubahan tarif ini. Atau mungkin cuma diumumkan lewat televisi yang berarti aku ga tau beritanya karena hampir ga pernah nonton TV lagi sekarang? Tapi operator atau perusahaan mana yang sebodoh-bodohnya mengumumkan kenaikan tarif lewat media sebesar itu? Yeah, who knows?

Kalau kemaren-kamaren pas lagi heboh-hebohnya perang-perang dan “ngata-ngatain” operator lain, dan akhirnya dicetuskan tarif Sakti di mana untuk semua operator itu tarifnya Rp. 5/detik dari jam 00.00 sampai jam 16.59 dan Rp. 20/detik dari jam 17.00 – 23.59, maka sekarang tarifnya jadi Rp. 5/detik dari jam 23.00 sampai jam 04.59 serta Rp. 20/detik dari jam 05.00 sampai jam 22.59.

Kemudian bonus gratis nelpon berkali-kali juga turun jadi 3600 detik alias 1 jam saja dari yang sebelumnya 2 jam. Itupun dengan syarat yang berubah juga, yaitu setiap hari Senin sampai Jumat, kita harus menggunakan Rp. 1500,- sebelum bisa menikmati gratis bicara 1 jam itu. Sedangkan hari Sabtu sampai Minggu kita harus menggunakan sedikit lebih banyak, yaitu Rp 2000,-. Padahal dulunya cukup menggunakan Rp. 1500,- saja udah cukup untuk menikmati gratis bicara itu.

Oke lah kalau ada perubahan gini, tapi yah bok dikasi tau dulu ke pelanggan napa? Kacau juga kalau-kalau orang yang ga sadar tau-taunya udah pakai pulsa berpuluh-puluh ribu alias 4 kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya. Aku sendiri aja dulu memakai 5 menit untuk bisa menggunakan fitur gratis bicara di atas dengan menghabiskan pulsa Rp. 1500,-, tetapi untuk hari ini menggunakan 5 menit tiba-tiba kehilangan Rp. 6000,- lebih karena tarifnya ternyata sudah Rp. 20/detik. Dan ketika menggunakan gratis nelpon berkali-kali pun aku harus benar-benar menelpon “berkali-kali” karena setiap 5 menit sekali sambungannya diputus. Itu berarti aku harus menelpon ulang sebanyak 12 kali untuk bisa menghabiskan bonus itu! Skema ini hanya berlaku untuk wilayah Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Tampaknya skema baru ini diberlakukan sejak 15 April 2009 kemaren. Dan akhirnya alasannya selalu: operator berhak melakukan perubahan tarif tanpa memberitahu penggunanya terlebih dahulu. Jadi pertanyaannya: masih “Sakti”-kah Mentari sekarang ini kalau tarifnya sudah semahal yang dulu lagi yaitu Rp 1.200/menit ke semua operator?

Ubuntu 9.04: Masalah pada driver Intel

Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope hadir juga sejak kemaren, tanggal 24 April 2009. Tanpa menunggu lama, aku langsung melakukan upgrade dari Update Manager yang disediakan di Intrepid. Upgrade memakan waktu yang lumayan lama, dari jam 4 sore kemarennya, dan harus aku hidupkan laptopku sampai jam 2 keesokan harinya (hari ini). Masalahnya bukan hanya karena Speedy sudah semakin pelit dalam ngasi bandwidth nya, tapi juga karena internet yang beberapa kali disconnect sehingga saya harus sabar-sabar dan berusaha ga cepat naik darah. Perjuangan mendownload 900 MB lebih file untuk diupdate oleh Ubuntu pun berakhir sukses beberapa jam yang lalu.

Dan mulailah aku menelusuri satu per satu kisah indah di Ubuntu ini. Splash screen pada saat baru booting ke Ubuntu berubah dengan bar yang lebih sempit, begitu juga ketika di shut down. Saat mengaktifkan Pidgin, setiap ada orang yang logout atau login dari YM, terdapat notifikasi pada bagian kanan atas, begitu juga ketika ada orang yang mengirimkan message. Sayangnya tampilan notification itu terlalu kaku, muncul tiba-tiba, hilangpun tiba-tiba, tanpa ada efek fading. Selebihnya tidak ada yang terlalu berubah jauh dari segi fitur yang ada.

Sayang seribu saya, beberapa hal yang menambah daya tarik di atas hancur ketika mengatahui kenyataan pahit di balik Jaunty ini. Seperti ketika aku mengupdate dari 8.04 ke 8.10, Compiz membuat sedikit masalah dengan tidak menampilkan beberapa efek window, dan akupun harus mencari cara di Google untuk mengaktifkan Compiz ini kembali. Ketika mengupdate ke 9.04 ini, masalah kembali timbul ketika Compiz kembali “membandel” di mana ga bisa diaktifkan dan digunakan sama sekali. Akhirnya karena bingung, aku cari lagi lah cara atau orang yang punya masalah serupa di forum Ubuntu-nya.

(more…)

This entry was last modified on: April 25th, 2009 at 15:58

Membuat Home Web Server dengan Dynamic DNS

Bagi sebagian orang yang memiliki web pribadi atau berkecimpung di dunia web, web hosting adalah suatu hal yang wajib dimiliki. Apalagi dengan menggunakan jasa web hosting walaupun hanya sebatas shared web hosting, seseorang dapat memiliki keleluasaan mengatur situs web yang dijalankannya. Beberapa di antaranya seperti pengaturan nama domain, subdomain, konfigurasi web server, konfigurasi file, email dan sebagainya. Dan tentu saja semua itu dilakukan dengan menyewa space atau tempat di penyedia layanan hosting web. Bagaimana kalau kita mencoba untuk menggunakan komputer sendiri di rumah untuk membangun web hosting sederhana? Ga ada salahnya untuk dicoba, dan di sini aku akan sedikit memberi tips dan trick cara membangun web hosting / server di rumah alias home web server.

Terdapat beberapa persyaratan untuk menjalankan web server sederhana di rumah Anda sendiri. Beberapanya adalah seperti berikut:

  • Internet Service Provider (ISP) dengan private public IP (non-shared). Umumnya provider yang menyediakan IP public seperti ini adalah provider broadband di mana IP yang digunakan tidak dibagi-bagi dengan pengguna lainnya, entah apakah IP itu dynamic atau static (akan lebih bagus kalau static sehingga setiap kali terkoneksi, IP nya tidak akan berubah). Sedangkan provider dial-up umumnya menggunakan satu IP untuk beberapa komputer yang terkoneksi ke internet sehingga tidak akan memungkinkan pembangunan web server. Pada contoh di sini aku menggunakan paket Speedy sebagai providernya yang menggunakan Dynamic IP.
  • Modem atau router. Umumnya menggunakan modem yang hanya menuju ke satu client tidak memerlukan konfigurasi yang berarti, akan tetapi bila menggunakan router wireless seperti yang aku lakukan, maka Anda akan sedikit harus mengatur konfigurasi router seperti Port Forwarding atau membuka firewall di modem atau router. Pada contoh di sini, aku menggunakan modem Linksys WAG200G.
  • Server. Tidak harus menggunakan server IBM atau HP yang berbasis Xeon atau Opteron yang harganya selangit. Bahkan komputer atau laptop biasa yang terknoneksi dengan modem dan ISP yang aku sebut di atas juga bisa dipakai sebagai web-server. Aku sendiri menggunakan laptopku yang terkoneksi dengan WiFi ke modem Linksys di atas. Operating system di server bisa berupa Windows, Linux atau sebagainya.
  • Software seperti Apache webserver dan software-software pendukung lainnya seperti PHP, MySQL, dan sebagainya.
  • Domain name. Agak sulit menerapkan secara langsung agar sebuah domain dapat menunjuk ke sebuah alamat IP untuk server sederhana seperti ini apalagi menggunakan Dynamic IP. Solusinya adalah dengan menggunakan layanan DynDNS.com yang akan mengubah sebuah nama domain (lebih tepatnya subdomain) untuk menunjuk ke IP server Anda. Mengenai ini akan dijelaskan di bawah.
  • Pengatahuan dasar mengenai networking, seperti cara mengatur IP address sesuai sistem operasi masing-masing, cara mengatur modem atau router, dan beberapa istilah networking (istilah-istilah yang belum dimengerti dapat dicari di internet).

Perhatian! Dengan mencoba membuat home web server ini, berarti Anda akan membuka kemungkinan komputer Anda diakses oleh orang lain dari luar (remote). Harap memperhatikan software-software keamanan seperti firewall dan antivirus agar selalu aktif dan selalu terupdate sebelum membuka web server Anda untuk diakses dari luar.

(more…)

This entry was last modified on: September 22nd, 2009 at 17:11

Quick Post for Susan Boyle

Seorang peserta acara Britain’s Got Talent 2009 yang ditayangkan di Inggris memukau banyak orang dengan suaranya yang bening dan cemerlang. Dengan penampilan fisik yang biasa-biasa saja dan umur yang sudah menginjak kepala 40 (ga seperti penyanyi-penyanyi idols atau semacamnya yang masih muda), Susan Boyle mendapat sambutan yang positif dari penonton dan juga juri-juri yang ada, bahkan Simon Cowell sekalipun yang biasa punya gaya bicara yang pedas.

Langsung saja menuju ke Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=9lp0IWv8QZY

Berita tentang Susan Boyle ini sendiri aku dapat dari Kompas 17 April 2009. Selamat menikmati video dan lagunya :) (maaf, ga ada link video langsung berhubung fitur itu dimatikan oleh author video YouTube yang mengupload video itu.)

Dilema “Class of” vs Angkatan

Pengguna Facebook yang memperhatikan profile tentu akan menyadari sebuah bagian profile yang mencantumkan informasi mengenai pendidikan, mulai dari tingkat SMA alias high school, sampai dengan tingkat perguruan tinggi. Dan tentu bagi yang benar-benar memperhatikan, akan ditemui banyak sekali “keanehan” di sini, misalnya saja aku yang meletakkan tahun 2010 sebagai isi dari field class of atau class year atau angkatannya yang terletak di samping nama sekolah dan perguruan tinggi. Sedangkan sebagian teman-temanku yang seangkatan denganku malah menulis 2006 sebagai class of nya. Lalu yang mana yang benar?

Awalnya aku meletakkan angka 2010 juga bukan karena tanpa alasan, dan tentu saja Facebook meletakkan angka itu dalam dropdown list juga bukan tanpa alasan. Bahkan untuk tahun 2009 ini, Facebook sudah meletakkan batas sampai tahun 2015 sebagai isi dari dropdown list class of tersebut. Aku sempat berpikir waktu akan memilih isi dari field ini (saat itu tahun 2007 dan batas akhirnya adalah 2013), “kalau Facebook meletakkan 2013, dan kalau itu berarti angkatan ketika masuk sebuah perguruan tinggi, betapa optimisnya orang yang akan mengisi 2013 sebagai tahun untuk dia masuk ke perguruan tinggi itu.” Jadi buat apa juga Facebook meletakkan tahun sejauh itu? Aku pun mulai memburu arti kata class of ini, dan yang pasti source pertama yang aku telanjangi adalah WordWeb yang salah satu isinya “a body of students who graduate together” ketika mengetikkan kata class.

Tidak cukup sampai di situ, aku pun mencoba mencari-cari di Google makna dari class of ini dan juga melihat-lihat profile orang lain dan aku pun jadi yakin kalau class of itu adalah tahun kelulusannya karena tahun kelulusan bisa dikira-kira ketika kita mulai bergabung dengan institusi pendidikan. Karena perbedaan budaya antara Indonesia dan barat, maka sebagian orang yang kurang tahu mengenai hal ini akan menuliskan tahun masuknya. Selain itu terdapat fitur mengganti ke bahasa Indonesia yang tidak diterjemahkan secara sesuai dengan arti dalam Bahasa Inggris nya, sehingga jadilah “angkatan” yang digunakan dalam field itu, padahal akan lebih cocok kalau diterjemahkan sebagai “tahun kelulusan”.

Alhasil teman seangkatanku di Binus banyak yang memiliki class of 2006 karena aku sendiri menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di Facebook. Dan mungkin akan banyak juga yang terheran-heran menemukan “teman seangkatannya” yang jauh lebih tua 4 tahun hanya karena masalah ini. :D Tapi kembali lagi dari sudut pandang mana field itu dilihat, apakah class of, atau justru angkatan. Paling tidak dengan mengetahui fakta ini kita bisa mengira-ngira sebenarnya “nih orang ketuaan ga sih buat jadi mahasiswa / murid SMA”. :)

Floaters in my eyes

Mungkin dari teman-teman ada yang pernah ngerasain sesuatu dalam bentuk bercak yang menghalangi pemandangan di mata kalian, dan makin mudah terlihat waktu ngeliat ke benda-benda yang terang dan polos seperti langit atau tembok berwarna putih. Bentuknya sendiri memang ga jelas, bisa bentuk bulat, atau panjang, atau malah seperti benang. Bahkan yang paling menakutkan bentuknya seperti cacing yang berada di dalam mata dan bisa bergerak-gerak seiring dengan pergerakan bola mata kita. Waktu ngelirik kiri, “makhluk” itu memanjang. Waktu ngelirik kanan, “makhluk” itu malah ikutan memendek atau menggulung, atau justru sebaliknya. Kadang-kadang kalau kita ngeliat, eh, dia malah kabur ke mana-mana. Makin cepat kita ikutin, makin cepat pula menghilangnya.

Ternyata bukan aku aja yang mengalami pengelihatan seperti ini, ternyata banyak juga yang mengalaminya. Sama seperti sebelum aku menyadari bahwa aku mengalami deuteranomaly alias defisiensi visual pada warna hijau, awalnya aku sempat takut mengakuinya atau menyebutkannya, bahkan cenderung menyangkalnya kalau aku agak buta warna. Tapi setelah mengetahui yang sebenarnya (dan bahkan ternyata banyak orang yang mengalami hal serupa), aku malah mengakuinya bahkan mempublikasikannya, dengan harapan banyak orang yang ga takut lagi akan hal itu.

Mahkluk yang aku sebut daritadi bernama floaters. Maka, sekarang berkenalanlah dengan makhluk tersebut dan bersahabatlah dengannya karena ada pepatah “ga kenal maka ga sayang” :) Itu dalam bahasa Inggris. Lalu bahasa Indonesia nya apa? Masih aku selidiki, tapi mungkin bisa disebut sebagai bercak melayang dulu kali yah?

(more…)

This entry was last modified on: April 13th, 2009 at 19:30