Filosofi Orang Tua

Dalam hidup kita, pasti kita sering sekali mendengar filosofi-filosofi dari orang-orang di sekitar kita, apakah orang tua, teman, saudara bahkan sampai dari orang yang belum kita kenal. Terserah kepada kita apakah kita akan mendengarkan filosofinya, atau bahkan sampai menerapkan filosofi itu dalam hidup kita yang akhirnya menjadi prinsip hidup kita, atau justru hanya menganggapnya hanya angin lalu saja. Dan hal ini juga terjadi padaku, beberapa hanya aku dengarkan saja, beberapa juga aku laksanakan dan beberapa malah menjadi prinsip hidupku.

Ada sebuah filosofi atau petuah yang menarik dari seseorang, mungkin lebih baik disebut sebagai orang tua. Orang tua, bukan dalam arti bahwa filosofi ini diungkapkan oleh orang yang sudah tua renta, berumur 60 tahun, berambut putih dan berjenggot. No! Bukan orang tua seperti itu yang aku maksud. Tapi yang aku maksud adalah orang tua sebagai orang tua yang memiliki anak. Aku memang belum terlalu mengenal orang ini, tetapi filosofinya memang cukup menarik, dan tentu saja walau sudah sering aku dengar hal yang serupa, tapi ada satu bagian yang cukup mengena di hatiku, khususnya soal anak. Tapi seperti biasa, supaya posting ini agak panjang, aku akan mencoba menceritakan filosofi yang dimaksudnya. :)

Seperti yang aku bilang tadi, bahwa orang ini tidak begitu aku kenal. Aku hanya mengenalnya sebagai salah satu manager dari suatu perusahaan, dan aku rasa ga perlu sampai menyebutkan nama perusahaannya. Orangnya masih cukup muda, berumur sekitar 30-an tahun, dan beliau memiliki anak. Kebetulan saat itu aku ada bersama 2 orang temanku, sehingga “dakwah” ini lebih mengena karena bisa tenggo alias menengok ke kanan kiri dan diri sendiri sebagai bahan refleksi, hampir sama seperti seminar motivasi. Awalnya mungkin terasa membosankan bagi sebagian orang karena hal ini tentu sudah sering dilontarkan oleh orang tua manapun. Beliau menceritakan bahwa kami bertiga sangat beruntung karena masih muda dan oleh karena itu seharusnya banyak mencoba dan ga takut akan kegagalan.

Beliau mengatakan bahwa untuk menjadi orang yang sukses memang ga mudah, tapi yang penting adalah semangat pantang menyerah, kemudian juga harus melihat dari realita yang ada di negeri ini, Indonesia. Untuk menjadi peneliti atau seorang idealis, bila bekerja di Indonesia maka tidak akan dihargai. Lihat saja B.J. Habibie, seorang insinyur mesin yang terkenal sebagai profesor dan lulusan Jerman. Di Jerman, Pak Habibie disanjung-sanjung, akan tetapi ketika sampai di Indonesia yang ada hanya cemooh dan tidak adanya penghargaan. Realitanya, kalau ingin bisa hidup makmur dan sejahtera di Indonesia, jangan pernah menjadi peneliti karena peneliti adalah pekerjaan idealis, dan idealis tidak dihargai di Indonesia. Tidak aneh kalau profesi-profesi idealis lainnya termasuk juga atlet akhirnya justru senjata makan tuan bagi negaranya sendiri karena banyak dari mereka yang pindah ke luar negeri untuk mendapat penghargaan yang layak, dan akhirnya toh belakangan negara ini kelabakan sendiri karena banyak anak-anak muda yang berotak jenius belajar di luar negeri daripada belajar di dalam negeri sendiri. Yah, bagaimana ga keluar negeri kalau untuk melakukan riset atau latihan sudah dipenuhi fasilitasnya di negeri lain, sedangkan di negeri sendiri untuk melakukan riset dan latihan semacamnya saja dananya sering menguap ga karuan dengan peralatan-peralatan jaman baheula atau pra-sejarah yang ga ter-upgrade.

Dari sana, beliau pun mengatakan bahwa ada 2 jenis pekerjaan yang bisa membuat seseorang hidup makmur di Indonesia, pertama adalah politisi, dan kedua adalah pengusaha. Ketika Anda bisa berpolitik dan menghantam lawan-lawan Anda, maka Anda akan menjadi idola di Indonesia. Selain itu orang Indonesia dikenal sebagai orang yang konsumtif, gengsi selalu nomor satu. Kalau ada produk baru dikeluarkan, pasti ga sampai satu minggu sudah bisa dilihat orang-orang mulai memakai produk tersebut. Selain itu daya beli masyarakat di Indonesia juga cukup tinggi, walaupun daya beli itu ga seimbang dengan keuangan yang dimiliki. Ambil saja contoh, saat ini saja ketika sedang krisis, masih saja banyak orang yang berbondong-bondong mengantri untuk membeli sebuah produk baru yang dikeluarkan oleh salah satu operator telepon seluler Indonesia. Oleh sebab itu, peluang menjadi pengusaha di Indonesia masih terbuka lebar karena masih didukung oleh pola konsumtif masyarakat Indonesia dan “uang selalu berputar di Indonesia”.

Beliau juga mengatakan bahwa kita jangan takut untuk mencoba menjadi seorang yang sukses. Kalau misalnya buka usaha, satu minggu kemudian bangkrut, coba untuk bangun kembali dan memulai usaha baru lagi. Kalau masih bangkrut lagi, coba lagi dan jangan menyerah. Justru dari sana akan timbul pengalaman-pengalaman yang akhirnya menempa kita supaya kita menjadi kuat mental dan tahan banting. Yang penting dari suatu usaha adalah pengalaman yang didapat bukan modal materi yang kuat. Kalau hanya mengandalkan modal materi tetapi mentalnya lemah, ga aneh kalau muncul kasus bunuh diri.

Selain itu juga jangan pernah takut untuk mencoba membuat prestasi, mumpung masih muda dan belum ada halangan sama sekali. Lalu apa halangan yang dimaksud? Dan beliau terang-terangan mengatakan bahwa halangan itu adalah pasangan hidup, apakah istri, suami atau pacar. Ketika masih single, kita bebas melakukan apapun tanpa takut dihalang-halangi oleh sang pendamping hidup. Bayangkan ketika kita sudah memiliki pendamping hidup, mau melakukan ini akan dibilang “jangan”, mau melakukan itu dibilang “nanti begini loh”, mau melakukan riset tau-tau disuruh datang “ngapel”, tentu saja hal-hal seperti ini yang akan membuat kita susah berkembang. Beliau pun mengatakan jangan takut ga akan pernah mendapatkan pacar atau pendamping hidup, apalagi takut stoknya sudah kehabisan duluan karena toh kita ga tau apa yang akan terjadi di masa depan kita dan yang pasti “stok masih mencukupi”.

Akhirnya beliau pun bertanya, kenapa Bruce Lee bisa menjadi sukses di Amerika kepada kami bertiga? Aku menjawab karena dia pindah ke Amerika, temanku yang lain menjawab karena dia punya talenta, sedangkan satu temanku lagi mengatakan karena dia mau berusaha. Akan tetapi sang manager mengatakan bahwa yang membuat dia sukses karena istrinya orang Amerika dan dia sangat mendukung semua usaha Bruce Lee. Kalau saja waktu itu Bruce Lee menikahi orang China, maka pasti beliau hanya menjadi kepala perguruan silat, bukan lagi sebagai aktor yang kita sanjung-sanjung sampai saat ini.

Dan akhirnya sampailah ke sebuah topik mengenai anak yang merupakan topik yang ingin aku ceritakan di sini. Yap, sebuah topik yang tentu belum pernah aku dan temanku pahami berhubung kami memang belum punya keturunan. Tapi karena sang manager sudah mempunyai anak, beliau tidak segan-segan bercerita mengenai pengalamannya ke kami. Menurut beliau, bila istri saja suatu saat nanti dijadikan sebagai penghalang, maka anak pun akan menjadi sebuah tembok besar China yang menghalangi usaha kita dalam meraih kesuksesan. Akan tetapi di sisi sebaliknya, bisa juga anak menjadi motivasi agar kita berusaha menjadi lebih sukses.

Beliau mengatakan memiliki anak laki-laki sebenarnya jauh lebih sulit daripada memiliki anak perempuan. Dan tentu saja hal ini terbalik dari anggapan banyak orang yang mengatakan memiliki anak laki-laki lebih menguntungkan, ‘kan? Ternyata ada alasan di balik pernyataan beliau. Jaman dulu, mungkin memiliki anak laki-laki lebih menguntungkan karena anak laki-laki bisa bekerja dan anak perempuan akhirnya hanya menghabiskan uang dan menjadi ibu rumah tangga yang ga memberi penghasilan apapun. Alhasil, ga aneh kalau lebih banyak orang yang mengharapkan anak lelaki dibanding anak perempuan walau pada akhirnya kemungkinan dapat anak perempuan lebih besar (secara biologis katanya begitu).

Nah, di jaman sekarang? Justru anak laki-laki harus diajarkan menjadi mandiri, sebagai laki-laki yang tidak cuma bergantung dari orang lain saja. Maksud dari mandiri di sini adalah bagaimana sang laki-laki hidup sebagai dirinya sendiri. Suatu ketika bila ada seorang perempuan yang mendekati sang anak lelaki, dan sang perempuan bertanya “loh, mana mobilnya?”, maka beliau ingin sang anak lelaki bisa menjawab seperti “yang punya mobil adalah papa gue, kalau lu mau jalan ama gue, lu harus nerima gue yang memang belum punya apa-apa”. Itulah yang dimaksud dengan mandiri oleh beliau. Sang anak harus bisa mangatur hidupnya sendiri dengan sumber daya yang dimilikinya sendiri walau hal itu dimulai dari bawah dan harus hancur-hancuran, bukan cuma mengklaim sesuatu yang dimiliki oleh orang tua sebagai milik dirinya saja. Beliau mengungkapkan bahwa beliau bisa mengatakan hal seperti ini dengan melihat realita bahwa saat ini banyak anak laki-laki yang semakin manja, malas dan ga mau berusaha karena semua sudah tersedia. Mungkin maksud beliau ada hubungannya juga dengan pola konsumtif penduduk Indonesia dan lingkungan pergaulan yang serba instan yang bisa berimbas pada kemandirian sang anak juga.

Lalu bagaimana dengan anak perempuan? Anak perempuan bagi beliau hanya cukup dipelihara dan dirawat seperti biasa saja, tidak ada yang spesial. Kalau si anak perlu membeli suatu barang, tinggal dibelikan. Ketika sudah cukup umur dan menemukan jodoh yang kaya raya dan akhirnya menikah, hampir tidak ada yang perlu dipusingkan lagi karena kebutuhannya sudah terpenuhi. Tapi kalau menemukan jodoh yang pas-pasan yah tetap saja yang bertanggung jawab toh adalah suaminya. Agak kejam? Tapi tampaknya memang itulah hukum yang berlaku, karena pada dasarnya anak perempuan akan bergantung pada orang lain, entah pada orang tua atau pada suami atau pada yang lainnya. “Bagus kalau ada yang melanggar kodratnya dengan hidup secara mandiri juga,” kata beliau.

Dan itulah hal terakhir yang sempat diungkapkan oleh beliau. Kejadian ini sebenarnya sudah cukup lama, kurang lebih 1 bulan yang lalu dan memang sempat mau aku tulis tetapi baru terealisasi hari ini. Mengenai apakah filosofi ini memang benar-benar bisa diterima oleh pembaca sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan, itu tergantung kepada prinsip hidup yang pembaca anut. Aku pribadi setuju akan filosofi ini dan mengatakan ada benarnya juga semua yang dikatakan sang manager menilik dari pengalaman yang sudah pernah dilalui beliau.

This entry was last modified on: May 22nd, 2009 at 20:22

6 Responses to “Filosofi Orang Tua”

  1. Selain itu orang Indonesia menurutku pada kalangan remaja pada umumnya masih banyak yang menerapkan istilah “Tolong, carikan saya kerjaan”, Faktor dalam diri mereka dalam berwirausaha masih belum begitu dalam. Dan itu sering terlintas dalam pikiranku setelah lulus sekolah dulu, sejak kenal internet ini saya bersyukur sekali, bisa mencukupi kebutuhan hidup dengan santai meskipun pas pasan dan wawasan bertambah tiap harinya.

    Tapi yang ditakutkan jika nantinya sang orang tua pacar kita bertanya,”apa kerjaan anda sekarang” :angel: (Dalam arti pola pikir mereka masih didominasi oleh faham yang menganut punya menantu PNS lebih baik, lebih punya dana pensiun {tentara, polisi, dsb… } :blush: )

    “I hate to advocate drugs, alcohol, violence, or insanity to anyone, but they’ve always worked for me.”
    Hunter S. Thompson

    Untuk saya sendiri sih pengennya seperti itu, tapi sayang ngga nyampe nyampe :D

    • Mungkin sebagian besar orang-orang terlalu takut mengambil resiko dan akhirnya berpikir kalau kerja untuk orang lain akan lebih aman (ga usah pikirin nanti usaha yang dibangunnya bangkrut) padahal sebenarnya sama aja sekarang resikonya. Kalau perusahaan tempat kerja itu juga bangkrut, malah repot gara-gara di-PHK dan musti nyari kerja lagi.

      Boleh lah kerja dulu ama orang lain, terus kalau udah cukup modal dan pengalaman di tempat kerja lama, baru deh coba-coba buka usaha sendiri. :) Kalau buka usaha modal nekat doank sih juga susah :D

      Soal orang tua pacar yang nanya pekerjaan sih pasti udah biasa lah. Orang tua mana sih yang mau anaknya hidup sama orang yang pengangguran atau ga punya pekerjaan jelas. Pasti orang tua mau anaknya hidup bersama orang yang mapan (dan yang pasti ini untuk orang tua si cewe). :D Tapi tetap aja, biasanya banyak toh anak yang akhirnya ga peduli juga ama peringatan orang tuanya dan lebih memilih cinta. Hahaha…

      :D

  2. Eits. Tapi banyak juga koq orang tua yang masih memegang filosofi siti nurbaya.. :ninja: :happy:

  3. #15559 Rengga
    July 31st, 2009 at 19:18

    Laki-laki dan perempuan sama2 makhluk ciptaan tuhan.. menurut saya artikel ini kurang menarik, kerana memandang materi yang terpenting. jika saja anak perempuan lebih untung dibandikan anak laki-laki, dan setiap orng menginginkan anak perempuan dan jika hal itu terjadi, siapa yg akan jadi jodoh perempuan.. :star:

    ada bagian kalimt ug menyebitkan anak perempuan lebih baik dari laki-laki, ” nak perempuan bagi beliau hanya cukup dipelihara dan dirawat seperti biasa saja, tidak ada yang spesial. Kalau si anak perlu membeli suatu barang, tinggal dibelikan. Ketika sudah cukup umur dan menemukan jodoh yang kaya raya dan akhirnya menikah, hampir tidak ada yang perlu dipusingkan lagi karena kebutuhannya sudah terpenuhi” :star:

    nah sekarang timbul pertanyaan.. Siapa yg melamar perempuan..? yg pasti sepengetahuan sya laki-laki. :star:

    dari apa yg saya sampaikan di atas adalah, bahwa anugerah yg diberikan tuhan tidak ada yg jelek, tetapi tuhan selalu memberikan yang terbauk kpd makhluk ciptaanya.. :star:

    sekarng tergantung dari seorang bapak untk mendidik anak nya.. saya yakin semua orng menginginkan keturunan yg sukses..

    tks.. :cheerful:

    • Artikel ini memandang materi yang terpenting karena memang artikel ini membahas bagaimana hubungan antara orang tua, anak dan bagaimana cara anak memandang materi sejak 5 paragraf terakhir, jadi yah memang materi lah titik utama di sini. Dan tentu saya hanya menulis seperti apa yang saya dengar dan dapatkan dari orang tersebut. Lagipula sebaik-baiknya manusia menghindari diri dari hal-hal meteriil, tetap saja hampir segala hal di hidup ini memerlukan materi, termasuk dalam menghidupi anak-anak kita. Dan saya setuju dengan perkataan Anda sekarang tinggal masalah bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita untuk memandang dan mengolah materi itu sendiri, baik laki-laki dan perempuan.

      Tidak aneh kalau Anda tidak setuju dengan prinsip ini, begitu juga dengan orang lain, makanya saya tulis bahwa tidak semua orang bisa benar-benar menerima filosofi ini. Bagi yang menganggap setiap anak yang didapatkan adalah anugrah Tuhan, yah silahkan. Tetapi ingatlah di sana masih banyak orangtua yang merasa tidak cukup bila hanya memiliki anak laki-laki saja, atau hanya anak perempuan saja, yang akhirnya rela memiliki banyak anak sampai keinginannya tercapai tanpa memikirkan akibat dari sisi materi dan finansial keluarga. Apalagi sekarang ini pasti masih banyak yang berpikir memiliki anak laki-laki lebih baik karena bisa mencari uang dan mendatangkan rezeki, kan? Sekarang tinggal dibalik saja apa yang Anda katakan, bagaimana bila semua mengharapkan laki-laki dan terwujud? Siapa yang akan dilamar laki-laki? Perempuan, kan? :happy:

      Lagipula di artikel saya tidak dibilang bahwa yang diinginkan hanya anak perempuan, tetapi lebih menunjukkan keinginan untuk memiliki anak perempuan dibanding laki-laki. Dan tidak dibilang bilapun mendapatkan anak laki-laki, maka anak itu akan dibuang kan? :) Jadi pada intinya hal ini hanya pengharapan dari beliau (dan juga saya yang memiliki pandangan yang sama dengan beliau), bukan keharusan yang ingin dijalankan.

      Sekarang masalahnya, bila Anda bertindak sebagai orang tua dan memiliki anak laki-laki, bagaimana rasanya bila segala hal dan segala aktifitas nya sampai saat pernikahan semua masih tergantung orang tua? Dan bagaimana juga bila anak itu perempuan dan hal yang sama terjadi? Sebagai orang tua seharusnya akan merasakan perbedaan signifikan, tapi tetap saja ada yang merasa sama saja. Toh inilah manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan jalan pikirannya masing-masing, terkadang ada yang merasa hal yang sama, terkadang ada yang merasa berbeda, dan manusia itu unik jalan pemikirannya untuk tiap orang. :)

  4. Kerja keras dan sesuai dengan realita

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: