Sepenggal Kisah Menegangkan Menuju Central Park

Tahu Mall Taman Anggrek? Kalau gitu tahu Apartemen Mediterania? Kalau tahu keduanya, sekarang apakah Anda semua bangunan baru yang ada di antaranya? Yap, Central Park (disingkat CP), sebuah mall baru untuk kalangan menengah ke atas yang merupakan bagian dari superblok Podomoro City di Tanjung Duren. Memang sih superblok ini udah lumayan lama dibangun (sekitar 2 tahun yang lalu) dan sampai saat ini pembangunan fisiknya masih jelas terlihat belum selesai total soalnya tower untuk apartemen, hotel dan office masih keliatan tulang-tulang betonnya semua. Tapi yang jelas untuk CP sudah dibuka untuk umum sejak tanggal 9 September 2009, pukul 09:09:09. :D

Ceritanya hari ini mumpung libur aku berencana mau jalan-jalan ke sana bersama pacarku untuk melihat-lihat mall baru itu. Kalau dipikir-pikir gila juga nih daerah Jakarta Barat, dikepung mall di mana-mana. Dalam radius 1 kilometer aja bisa ditemui 3 mall yaitu CP, Taman Anggrek dan Citraland a.k.a Mall Ciputra. TA udah sekarang udah kayak rumah kedua soalnya kalau mau nonton atau belanja lebih sering ke sana, sedangkan CL udah mulai ditinggalin karena letaknya ga strategis, apalagi film-film di sono ga sesuai dengan selera mahasiswa-mahasiswa kebanyakan (you know lah). :D Jadi kisah pun dimulai pada pukul 12 siang ini.

Awalnya rutenya adalah rumah – kosan Binus – CP – kosan Binus – rumah, tetapi rutenya harus berubah di tengah-tengah. Setelah makan siang di rumahku sendiri, aku pun langsung berangkat buat naik bus B91 seperti biasa kalau mau ke daerah Binus. Awal-awalnya sih ngerasa ga ada yang aneh, tapi pas duduk tiba-tiba kedengaran suara “meletup” dari belakang bangku. Setelah second attempt buat duduk di bangku itu dan mendengar letupan serupa, aku pun memutuskan buat duduk di bangku di belakangnya, dan melihat bangku di depan itu udah karatan dan copot bagian bawahnya. Bah, udah kebayang aja adegan film Final Destination kalau-kalau ada apa-apanya gitu. :pinch: Waktu itu cuma ada 1 orang cewe di dalam bus dan dia duduk di bagian depan kanan dan 1 orang cowo, yang kayanya temannya si supir dan duduk di paling depan.

Sampai di depan Untar, naiklah sepasang muda-mudi ke bus yang aku tumpangi dan mereka duduk di bangku samping sebelah kiri. Setelah itu sampai di depan FM Hotel atau apalah itu, seperti biasa macet, tiba-tiba ada orang yang naik ke bus nya walaupun biasa jarang ada yang naik dari situ. Perawakannya biasa aja, cenderung kurus, pake topi dan bawa gulungan koran atau kertas gitu, dan dia duduk di belakang bangku yang aku tempati. Sampai di depan Telkom, tiba-tiba aja aku dicolek dan ditanya jam berapa saat itu. Seperti biasa kalau lagi di dalam bus gini perasaan kecurigaan ku sangat tinggi, toh karena di dalam kondisi ini siapa aja bisa jadi penjahat, mau cowo yang keliatan baik, segerombolan penumpang yang naik sekaligus dan sebagainya. Dan combat mode paling pertama yang aku buat adalah anti-hipnotis dengan berkonsentrasi bahwa semua adalah tidak real (ga sampai se-lebay ini sih). :D

Dengan sopan aku bilang kalau aku ga punya jam tangan. Dan anehnya, dia maksa mau liat jam, dan dia suruh aku ngeliat di handphone ku aja, yang saat itu pula aku bilang jam 1 siang karena aku yakin kalau aku berangkat pukul 12.30 tadi dan yakinin dia bahwa memang jam segitu. Tapi yah namanya weirdo, dia masih maksa juga buat ngeliatin jam di handphone ku. Pikiran pertama yang muncul, “gila juga nih orang, udah dibilangin jamnya dan ditolak secara halus masih maksa juga!”. Dan akhirnya dengan ragu-ragu aku narik dikit handphone-ku keluar dari saku celana supaya orang itu ga liat handphone ku secara langsung, lalu masukin lagi ke saku dan aku bilang jam 12.40. Oke, selesai. BELUM!

Ga puas dengan jam, dia bilang “mas, minta duit sepuluh ribu dong, mas”. BAH! Ini udah ga beres nih! Jangankan dia minta sepuluh ribu, pengamen aja suka ga aku kasih sepeser pun, kalau ga mau dibilang ga pernah aku kasih juga sih sebenarnya, hanya sangat amat jarang sekali kecuali aku melihat memang dia punya suara dan permainan yang bagus dan yang dia lakukan keliatan bukan “pekerjaan utama” dia. Dan langsung aja aku menolak nya “maaf mas, ga punya”. Dan dia nawar lagi! Lima ribu aja kalau gitu. Ow darn, dikiranya lagi dagang apa main tawar-tawaran. Dan seperti sebelumnya aku masih bilang ga ada, dan masih pake maaf lagi, sebuah kata yang bagi sebuah orang memiliki nilai yang mahal, tapi malah aku obral ke orang yang ga jelas. Karena dia minta terus sampai sebelum U-turn Tomang, aku pun pindah tempat duduk tepat di depan pintu keluar (sebelah kiri tapi di sisi yang ga dekat dengan jendela).

Waktu aku duduk di sana, ga jelas dia ngomong apa, bodo amat lah, yang penting udah di tempat yang lebih jauh daripada sebelumnya. Dan tepat sebelum U-Turn dia tiba-tiba pindah tempat duduk, ke samping ku! Amboi! (wah, nih kata kerasa udah archaic banget yah, kayaknya ga pernah ada implementasinya dari waktu aku SD). Udah gitu dia duduk di samping masih ngomong, “wah, mas, santai aja dong, ngapain sampe pindah-pindah tempat duduk gitu. Gue kan cuma minta 5000 doang”. Iya lah, ga aneh orang pindah tempat duduk, mana ada orang yang kalau mau disengat lebah atau digilas traktor malah diam diri pasrah di sono. “Gue ga senang nih jadinya. Lu mau berantem sama gue? Ayo aja kalau mau berantem sama gue di sini sekarang. Gue minta 5000 doang.” Wah, kocak nih orang. Kalau duduk disampingku, trus minta maaf sih itu skenario normal, tapi ini benar-benar ga normal nih, malah ngajak berantem.

Trus sampailah di TA, dan aku liat semua penumpang turun dan hanya aku sendiri bersama orang itu. Aish, satu-satunya jalan yang kepintas, turun juga, daripada gue jadi korban penzholiman (atau gimana tulisnya) dari orang ga jelas. Dan saat itu aku bilang “ga punya duit”, dan dia nunjuk-nunjukin jarinya ke kantong celanaku yang sebelah kiri (disentuh) dan bilang “ini apa mas kalau gitu?”. Busyet, muke gile, itu namanya dompet, bukan duit! Dan aku pun turun di TA dan masuk ke TA nya. Sempat diikutin sebentar, mungkin dia masih mau mencoba “meminta”, atau berharap kalau aku cuma turun buat naik lagi ke bus lainnya. Iya, enak yah dapat mangsa empuk kayak gue, udah kecil, kurus, ga bertenaga, sendirian lagi, dan masih mikir kalau gue bego bakal jatuh ke lubang yang sama lagi kali. Tampaknya memang keputusan yang tepat buat turun di TA, apalagi dia membawa gulungan kertas koran itu, ga tau apa itu pisau atau cutter mungkin.

Setelah lepas dari orang itu, aku pun ke sisi TA yang satu lagi dan melanjutkan perjalanan menggunakan bajaj ke daerah Binus. Dan dari sana bersama pacarku naik taksi lagi ke CP. Tapi biayanya masih lebih kecil daripada tuh orang berhasil “minta” duit 5000, ditambah dompet-ku, ditambah juga handphone-ku. Kembali ke Central Park.

Di CP, ternyata supir taksinya juga bingung lewat daerah mana buat masuk ke depan atrium nya. Akhirnya diturunin di depan CP nya, dan kita berdua lanjut jalan kaki ke dalam. Pertama-tama yang dihadapi di sana adalah metal detector. Ga yakin juga sih kalau metal detector nya itu dinyalain, tapi yang jelas keliatannya lumayan ketat penjagaannya, sampai harus keluarin handphone dan benda logam lainnya. Tapi anehnya flashdisk ku belum sempat aku keluarin dan udah lewatin metal detector nya, ga ada masalah tuh. Atau flashdisk ku yang bebas logam kah? Sama aja sama mall lain dong ceritanya.

Di dalamnya cukup luas… ralat, sangat luas. Dan pengunjung juga sangat sedikit, benar-benar kayak belum dibuka untuk umum. Terus sempat foto-foto di sana di mari, lalu ke lantai 2 dan 3-nya, tapi ternyata lebih sepi lagi. Malahan cuma ada para tukang yang masih kerjain proyeknya dan beresin toko yang ada di sana. Lalu setelah itu turun lewat lift nya, tampaknya itu juga masih dalam tahap uji coba karena ada petugasnya yang saling contact dengan petugas lainnya. Ceritanya kita jadi bahan eksperimen atau survey kali yah. :D

Di lower ground (basement), jauh lebih ramai dan ada tanda-tanda kehidupan di sana, walau masih banyak juga yang belum dibuka tokonya. Dan yang pasti, basement-nya jauh lebih luas daripada lantai-lantai atas, karena juga melingkupi bawah tanah dari park yang ada di depan CP nya. Setelah puas jalan-jalan di sana, dan naik lagi, foto-foto, dan turun lagi, dan naik, dan turun, akhirnya kita belanja sedikit di Carefour di lower ground-nya. Lalu sempat ditawarin juga frozen yogurt gratisan, walau cuma sedikit aja sih. Lalu beli BreadTalk yang lagi ada promo beli 5 gratis 1. Setelah itu lanjut buat balik deh. Sempat melihat ke arah park nya sih, tapi memang belum selesai sama sekali jadinya ga bisa menikmati suasana yang katanya menyenangkan dan teduh (sesuai kata websitenya).

Saking sepinya tuh mall, bahkan taksi pun ga ada. Akhirnya petugasnya pun harus manggil dulu taksinya sampai 5 atau 10 menit lamanya. Dan akhirnya dengan selamat sentosa sampai di daerah Binus lagi.

Pulangnya? Naik B91 lagi, dengan harapan ga ketemu orang itu lagi di sana.

Moral kisah ini? Jangan keluar di saat THR menjadi sebuah motivasi untuk “minta” orang, maksudnya jangan keluar kalau udah mau libur-libur lebaran, kecuali pakai kendaraan pribadi. Tampaknya saat sepi dan perlu pemasukan tambahan menjadi pendorong bagi beberapa orang buat maksa dikasi duit di bus-bus.

Di pikiranku sendiri sih aku sempat mau balas semua perkataan orang itu saat itu juga, termasuk ajakan berantem (walau mungkin cuma gertakan balik doang) atau pindah ke bangku lain, tapi ternyata ga strategis karena semua orang udah turun, alias percuma, malah kemungkinan kalau sendirian bisa-bisa dia keluarin senjata tajam yang belum aku liat sebelumnya. Dan udah sempat kepikiran sebelumnya kalau dia minta aku liat handphone supaya dia bisa ngeliat apa tipe handphone-ku yang untungnya ga aku tunjukin secara mentah-mentah, atau mungkin cuma sekedar mau tahu posisi handphone dan dompetku. Pikiran lain yang muncul adalah kalau saat itu aku terjebak mengeluarkan dompet (untungnya di saku celana aku juga biasanya nyimpan duit buat ongkos supaya ga perlu keluarin dompet pas di bus), mungkin bakal langsung diambil semuanya, apalagi kalau orang itu sampai nekat dan ga sopannya nunjuk dompet yang ada di saku celanaku. Satu lagi, memang ternyata pilihanku buat duduk di sisi luar (ga dekat jendela) ada untungnya, supaya ga bisa dijepit oleh orang yang mau macam-macam, yah walau secara langsung bakal keliatan egois mau nguasain bangku sendirian, padahal bakal aku kasih duduk juga kalau memang diminta. Terakhir, ternyata orang yang terlihat biasa saja dengan perawakan sedang malah cenderung terlihat lebih bisa melakukan kejahatan daripada orang besar, gondrong, bertato. Mungkin karena terlihat lebih innocent dan membuat orang ga waspada.

Yah, itulah sekelumit kisahku yang kompleks. Mumpung udah lama juga ga nulis blog tentang keseharianku, mungkin ini bisa jadi awal baru untuk nulis lebih rajin lagi, ga seperti bulan kemaren yang cuma nulis 2 posts. :D

This entry was last modified on: September 16th, 2009 at 22:22

6 Responses to “Sepenggal Kisah Menegangkan Menuju Central Park”

  1. Wow seram juga itu di bis. biasa emg dijakarta kehidupan kejam haha harusnya kita bawa golok kali y biar pada takut tuh org. lebih baik sih jgn ngomong ama org yg kaga dikenal de. hehe

  2. Thanks artikelnya, keep posting and salam kenal… :)

  3. #68035 nitaaaaaaa
    July 26th, 2011 at 13:12

    Agak panjanghttp://etersoul.com/blog/wp-content/plugins/smilies-themer/Etersoul/shocked.pnghttp://etersoul.com/blog/wp-content/plugins/smilies-themer/Etersoul/thumbs_down.png
    TApi tetep good job manhttp://etersoul.com/blog/wp-content/plugins/smilies-themer/Etersoul/wub.pnghttp://etersoul.com/blog/wp-content/plugins/smilies-themer/Etersoul/thumbs_up.png

  4. groups.ischoolindia.com

    Sepenggal Kisah Menegangkan Menuju Central Park | The Life | Etersoul Journey

  5. best site to book hotels in japan

    Sepenggal Kisah Menegangkan Menuju Central Park | The Life | Etersoul Journey

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: