Archive for November, 2009

Hal-hal yang Saya Benci dari Kendaraan Umum (B91 Khususnya)

Sebagai pengguna kendaraan umum dalam keseharianku, banyak hal unik yang sudah aku temui di sini. Mulai dari sisi gelapnya, sampai sisi yang bisa membuat tertawa, yah tertawa ironis. Jujur aja sih, aku mulai menjadi pengguna kendaraan umum sejak 3 tahun yang lalu, tepatnya sejak mulai kuliah. Selama sekolah di TK, SD, SMP sampai SMA, istilah bagi sebagian orang adalah “ngesot sedikit juga udah nyampe ke sekolah”, jadi ga perlu lagi naik kendaraan umum semasa itu. Ditambah pula di jaman itu ke mana-mana lebih sering nebeng mobil teman, diantar atau naik kendaraan umum yang ga bersifat masal seperti bajaj atau taksi.

Sekali memasuki kehidupan sebagai mahasiswa, terpaan siksa naik kendaraan umum (Metromini B91) pun mulai menerjang deras bagaikan badai. Awalnya sih ngerasa aneh aja, tapi makin lama makin terbiasa dan cenderung udah kebal dan hafal dengan sifat-sifat para supir kendaraan umum dan medan yang terdapat selama di jalan. Berikut ini adalah beberapa hal yang paling aku benci dari kendaraan umum.

Berhenti seenak jidat

Yap, ini identik dengan kendaraan umum apapun, mulai dari mikrolet, Kopaja, Metromini sampai ke bus-bus besar. Mungkin kalau ngetem atau berhenti hanya untuk menaikkan penumpang yang sudah tersedia masih bisa dimaklumi. Tapi kebanyakan supir berhenti sembarangan sambil menunggu penumpang mengisi bangku kosong di kendaraan mereka. Berhenti tengah jalan? Ga masalah, yang penting penumpang penuh. Makin serakah supir dan keneknya, makin lama pula bus nya diparkir di tengah-tengah. Kalau diklakson oleh kendaraan di belakangnya, klakson dari mulut sang supir dan kenek jauh lebih nyaring lagi.

Belum lagi ditambah dengan kelakuan konyol para supir dan kenek yang terkadang berhenti ketika berpapasan di tengah jalan dengan “teman sejawatnya”. Mereka bertukar informasi, tertawa, membahas hutang mereka yang bertumpuk, tertawa, ngomongin ini itu anu inu, tertawa, lalu diskusi kalau orang-orang di belakang bus mereka yang memberi klakson berisik sembari mengumpat, tertawa, lalu jalan lagi. Ah, indahnya jalanan di ibukota bila semua supir yang berpapasan selalu seperti ini. Jakarta menjadi kota yang statis alias tidak bergerak dan ceria karena sang supir dan kenek tertawa indah, di kala kendaraan di belakang mereka mukanya nekuk.

Oper sana oper sini

Kelakuan sopir seperti ini yang paling bikin jengkel. Sudah mengambil duit para penumpangnya, lantas penumpangnya diturunkan di tengah jalan seperti sampah yang harus dibuang. Lalu apa yang dilakukan supirnya? Mencari “sampah” lain yang bisa menghasilkan uang dan lalu membuangnya lagi di tengah jalan, ini looping forever sampai si supir merasa udah untuk makan sehari-hari atau ketika sudah harus gantian nyetir dengan supir lain setelah 3 rit. What on earth is the meaning of “rit”? Setauku itu semacam istilah yang sama dengan “lap” kalau di balapan. Yah, maksudnya putaran.

Kalau mengopernya dalam jarak dekat dan penumpangnya sedikit mungkin masih sedikit masuk akal (walau tetap ga bisa ditolerir karena penumpang sudah membayar). Tapi terkadang penumpang diminta untuk mengejar bus di depan yang jauhnya minta ampun kalau sedang macet total. Setelah naik bus tersebut, kenek pun minta bayaran lagi dengan alasan, “ga ada permintaan dari kenek yang ngoper sebelumnya”. Sudah penumpangnya lelah harus mengejar bus di depan, malah ditambah harus ngeluarin ongkos lagi. Belum lagi karena penumpangnya banyak yang dioper, dan bus yang jadi sasarannya pun sedang penuh, alhasil jadi pepes manusia di dalam bus itu.

Aturan dibuat untuk dihilangkan

Aku ingat jelas bahwa dulu sempat ada peraturan yang tertulis di secarik kertas yang ditempel di pintu-pintu bus B91. Isinya adalah bahwa setiap bus harus masuk ke terminal Tanah Abang dari jam sekian sampai jam sekian, lalu harus masuk ke daerah Batusari dari jam sekian sampai jam sekian. Alhasil dengan adanya aturan ini rasio pengoperan penumpang dibanding sampai ke tujuan hanya dengan satu bus pun langsung menjadi sangat berbeda jauh. Ini mungkin menjadi saat-saat terbaik dan mengharukan bagi sebagian penumpang… untuk sementara. Satu atau dua bulan kemudian kertas itu hilang, dan penumpang pun jadi korban penzholiman dari para supir dan kenek.

Masih teringat juga tidak sampai satu bulan yang lalu, terdapat tempelan baru di bus-bus. Isinya bahwa supir yang mengoper penumpang harus membayar penuh kepada supir yang dioper atau dikenai denda 3 kali jumlah penumpang yang dioper. Ada lagi aturan bahwa supir dilarang mendahului dari jalur yang berlawanan dan bila dilanggar akan dikenai sanksi tidak boleh narik dalam 3 hari. Dan di situ tertulis bahwa “hal ini diberlakukan karena adanya pengaduan dari penumpang”. Tiga hari setelah aku pertama kali melihat pengumuman itu, sekelompok supir berkumpul dalam satu bus yang aku tumpangi dan duduk di depan. Mereka membahas bahwa “harusnya pemilik tidak boleh seenaknya menerapkan aturan seperti itu. Kalau ga boleh dahuluin kendaraan lain seperti itu, gimana mereka bisa narik.” Bahkan sesama supir saling mengingatkan supaya ga usah ikut aturan itu karena “ga akan maju”. Satu minggu kemudian, kertas itu bersih dan keadaan kembali menjadi “normal” seperti biasa.

Intinya? Supir dan kenek nomor satu, pemiliki bus nomor dua, penumpang ga memiliki nomor tapi memiliki duit untuk si nomor satu. Right.

Penumpang ga tau diri

Bukan cuma supir aja yang membuat kesal, kadang bahkan penumpangnya sendiri membuat kesal. Mulai dari merokok seenaknya, sampai penumpang gratisan yang justru minta bayaran kepada penumpang lainnya, a.k.a pengamen. Khusus untuk pengamen ini, ada beberapa kesan yang muncul ketika aku melihatnya. Pertama adalah salut, kalau mereka benar-benar niat jadi pengamen dan terlihat mengamen untuk menghibur penumpang, bukan mengutamakan mendapat uang dari penumpangnya sembari menumpang gratisan. Biasanya aku akan memberi apresiasi kepada pengamen tipe seperti ini.

Kedua adalah pengamen yang nyanyinya ga jelas, maksa, bahkan terkadang membacakan sajak bahwa “lebih baik mereka memintanya secara baik-baik daripada merampok, mencuri dan merampas, karena uang seribu tidak akan membuat Anda jatuh miskin.”

Yang jelas ada satu pengamen (peminta-minta) tepatnya yang populer di kalangan penumpang B91: seorang anak kecil yang memberi amplop dengan paksa kepada penumpangnya, lalu berteriak-teriak ga jelas, lalu mengambil lagi amplopnya. Bila ada penumpang yang baru naik, langsung si anak itu menghampiri penumpang dan memberi penumpang itu amplop. Bila ditolak, si anak akan berteriak “ambil!!!”. Beberapa waktu yang lalu seorang bapak sempat memukul anak itu karena dipaksa mengambil amplop itu, alhasil si anak itu pun ga berani berdiri di depan bapak itu sampai si bapak turun, dan sempat terjadi perang kata-kata setelah si bapak turun dengan si anak dengan melontarkan “anjing-anjing”. Dunia memang aneh.

Bus tak layak pakai

Seringkali kalau naik kendaraan umum, yang ditemukan adalah kaca yang sudah pecah (bahkan ga ada kaca sama sekali), bangku yang bergoyang karena besi yang ada sudah patah, langit-langit bus yang terkoyak-koyak, asap hitam yang keluar dari knalpot dan juga tak ada lampu. Dengan keadaan bus yang tidak layak seperti ini, sungguh hebat para penumpang bisa selamat sampai di tujuan ditambah juga supirnya masih bisa narik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa supir-supir bus Mentromini adalah manusia-manusia yang ajaib. Dengan keadaan seperti ini, ditambah lagi kelakuan yang ugal-ugalan, sangat jarang ditemui kejadian fatal yang menimpa penumpang. Mungkin angkanya kurang dari 1% dari jumlah penumpang yang mengalami kecelakaan. Yang pasti bila Anda duduk dengan tenang dan menikmati keadaan bus yang sedang melaju kencang (bayangkan saja berada dalam simulasi games Need for Speed: Underground), Anda akan selamat sampai di tujuan. Kemungkinan Anda kenapa-kenapa akan lebih tinggi ketika Anda mulai berdiri dan beranjak dari tempat duduk Anda untuk turun dari bus.

Oke, kembali ke topik. Memang ada beberapa bus yang terlihat baru dan terlihat lebih “muda” dibanding bus-bus lainnya, tetapi jumlah ini sangatlah terbanting dibanding dengan bus yang ga layak pakai. Coba saja Anda hitung, berapa kali dalam seminggu Anda mendapat bus yang kacanya ga pecah, catnya masih mulus, besi-besi pegangan masih rapi dan ga berkarat dan lampu di dalam bus masih lengkap (walaupun penutupnya sudah ada yang lepas). Bila beruntung bahkan bangku yang ada juga lebih empuk, bukan cuma sebatas bangku plastik dengan besi karatan yang membuat penumpangnya terancam tetanus di sekelilingnya saja.

Polisiku buayaku

Ah, buaya lagi, buaya lagi. Keberadaan polisi di tengah jalan ga serta merta membuat supir bus jadi lebih tertib. Seringkali supir bus tertib ketika melihat polisi di depan mata, tetapi akan menjadi beringas ketika polisinya sudah pergi. Yang anehnya terkadang polisi ga bertindak apapun ketika melihat keberingasan para supir dalam memacu kendaraannya. Kalaupun ditindak, biasanya ada “jalan tol” menuju pembebasan (yah, u know lah apa maksudku).

Kesimpulan

Mungkin kesimpulan yang paling tepat: inilah budaya angkutan umum di Indonesia dan di Jakarta khususnya. Jadi kalau Anda baru pertama kali datang ke Jakarta dan menikmati sesuatu yang namanya Metromini dan Kopaja ada baiknya berpegangan yang erat apapun yang terjadi, sampai Anda mulai beradaptasi dengan keadaan ini. Sayangnya karena dinamakan budaya akan sulit dihilangkan tanpa campur tangan pihak penjajah atau penguasa. Sistem yang diterapkan pada angkutan umum Jakarta pada umumnya adalah sistem uang setoran, di mana berarti supir harus sering-sering mendapat penumpang untuk menutup biaya setoran tiap harinya. Keadaan inilah yang menjadi penyebab supir bertindak sendiri-sendiri tanpa aturan yang baku, sedangkan pengusaha hanya tahu mengenai administrasi dan ijin angkutan umum, dan menerima uang setoran saja. Bila sesekali diperlukan, baru suku cadang diganti dengan yang lebih “manusiawi”. Alternatifnya, preteli suku cadang dari kendaraan lainnya yang masih bisa dipakai alias kanibalisasi.

Susahnya kalau sistem ini diubah menjadi sistem gaji tapi tanpa kontrol. Entah kenapa di bayanganku para supir akan ogah-ogahan mengantar penumpang berhubung berapapun jumlah penumpangnya yang didapat dan yang disetor kepada pengusaha, mereka akan mendapat gaji yang sama, dengan kata lain gaji buta.

Kadang kepikiran, kapan yah kita bisa menikmati bus umum seperti layaknya bus Transjakarta yang lebih bersih, rapi dan manusiawi. Ga perlulah pakai AC, yang penting penumpang bisa duduk nyaman dan merasa aman tanpa harus melakukan sport jantung tiap kali naik kendaraan umum. Mungkin kita bisa memulai dengan memberi komentar kepada Organda sebagai organisasi yang menaungi pengusaha-pengusaha angkutan umum di websitenya www.organda.or.id. Siapa tahu dengan kekompakkan para penumpang, kenyamanan itu bisa tercapai (walau aku sendiri pesimis dengan hasilnya).

This entry was last modified on: November 19th, 2009 at 0:03

Satu bulan tanpa blog

Ga kerasa, sudah satu bulan lebih aku ga menulis blog sama sekali. Memang hal ini dikarenakan beberapa hal, yang pertama adalah kesibukanku dalam skripsi, kedua adalah karena kesibukanku dalam proyek freelance-ku. Yang terakhir tentu saja karena rasa malas menulis blog belakangan ini. Yah jujur aja aku berkata seperti itu karena dalam kesibukanku pun seharusnya pasti aku masih bisa meluangkan waktu untuk mengupdate content blog ini. :)

Selama satu bulan ini, tentu saja banyak hal yang menarik yang sebenarnya ingin aku ceritakan di blog ini. Oleh karena itu, untuk kali ini aku akan merangkumnya dalam satu entry saja, tetapi tentu dengan banyak sale alias potongan sana sini supaya entry ini ga terlalu panjang. Kita mulai saja dengan hari-hari yang paling dekat dengan terakhir kali aku menulis blog.

Tanggal 20 – 21 Oktober 2009, aku mengikuti lomba ACM/ICPC Jakarta Regional Contest di Binus. Ini adalah kali pertama aku mengikuti ICPC, tetapi juga menjadi kali terakhir mengingat waktuku menjadi mahasiswa perguruan tinggi (S1 tentunya) hanya tinggal beberapa bulan lagi (semoga sih begitu karena memang aku pengen cepat lulus). Yah namanya kontes regional, tentu saja ada peserta dari negara Asia lainnya seperti dari Singapura, Malaysia, Taiwan dan China. Soalnya? Susah. Berhubung juga memang karena belakangan aku ga bisa ikut training rutin karena kesibukanku dalam mengurus proyek, jadi bisa dibilang kalau aku mengikuti kontes ini juga seakan-akan main masuk aja tanpa persiapan yang matang. Alhasil tim-ku (EC Panda) hanya menduduki peringkat 37 dari 67 tim peserta kontes. Agak mengecewakan sih, posisi itu masih berada di bawah dari 1/2 jumlah peserta, padahal aku sendiri menargetkan berada di atas 1/2 jumlah peserta itu, minimal peringkat 33. Yah, ga apa-apa, yang penting sudah mencoba daripada ga sama sekali. Thanks buat semua yang udah memberi semangat, dan juga yang udah memberikan kesempatan aku mengikuti lomba semacam ini.

Tanggal 26 Oktober 2009, untuk pertama kali merasakan suasana kompetisi dalam pelelangan proyek bersama dengan project manager-ku. Tentu hanya aku yang baru pertama kali merasakannya, soalnya project manager-ku pasti sudah berkali-kali mengikuti lelang seperti ini. Hari itu aku hanya sebatas membantu project manager-ku dalam menggerakkan slide presentasi dan juga membantu dalam mendemokan prototype aplikasi, sedangkan project manager-ku lah yang mempresentasikan secara keseluruhan. Mungkin pengalaman yang berharga mengingat dari sana aku juga diajari bahwa lelang dan management proyek di dunia nyata itu jauh lebih kejam dari teori yang diajarkan di kelas-kelas perkuliahan.

Sebenarnya 2 paragraf di bawah mengenai Geocities ingin aku tuliskan dalam satu entry khusus pada tanggal 26 Oktober 2009, akan tetapi ga sempat (baca: malas) sehingga dirangkum saja jadi 2 paragraf di sini. Di tanggal ini juga bertepatan juga dengan hari ditutupnya layanan Geocities oleh Yahoo!. Salah satu website yang menjadi kontributor dot com bubble dan internet booming pada awal tahun 2000-an. Aku juga salah satu pengguna Geocities yang sejak tahun 2001 pernah mengupload web pribadi, yang pertama kali aku pelajari dan aku buat. Yah, sampai saat ditutup layanan Geocities tidak banyak berubah sejak pertama kali aku gunakan, misalnya hanya melayani konten statik, bandwidth yang terbatas hanya 4 MB / jam, space yang hanya beberapa puluh MB saja, sampai tampilan file manager-nya. Mungkin bagi sebagian orang yang mengingat Geocities juga akan mengingat penggunaan istilah dan teknologi web kuno (yang bahkan masih digunakan sampai sekarang di jaman sekarang ini), misalnya saja tag <marquee>, tag <blink>, desain layout dengan table, background dengan gambar gif animasi, dan lainnya. Bahkan web semacam xkcd.com pun sempat bernostalgia hari ini dengan menampilkan tampilan web seakan-akan kembali ke jaman baheula.

Sangat disayangkan sih Geocities sampai ditutup, padahal sebelumnya beberapa file bisa dihosting di sana secara gratis. :p Tapi mungkin memang layanan ini sudah ga menguntungkan lagi bagi Yahoo!, dan mungkin juga ga menarik lagi bagi sebagian besar orang untuk digunakan. Apalagi di luar sana banyak hosting-hosting gratis lainnya yang sudah mensupport lebih banyak fasilitas daripada hosting Geocities yang cenderung statik dan beriklan walaupun gratis. Terima kasih untuk Geocities karena telah menjadi salah satu pendorong minatku pada dunia web dan internet. Mungkin kalau dari dulu aku belum mencoba mengenai Geocities, belum tentu aku punya minat pada dunia web, internet dan komputer seperti sekarang. Lalu gimana dengan konten dari account Geocities-ku sendiri? Aku sudah mem-backup nya dan akan diupload suatu saat nanti, termasuk juga web yang paling pertama yang pernah aku buat di tahun 2001 (jadi malu saya :”> ).

Tanggal 29 Oktober 2009, Ubuntu 9.10 Karmic Koala dirilis. :D Tapi tentu saja aku belum mengupdate laptopku hari itu juga karena belum sempat. Aku baru sempat mengupdate nya di bulan November. Tapi secara keseluruhan memang update ini sangat memuaskan. Tidak banyak bug seperti Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope kemarin. Compiz bisa digunakan secara lancar, tombol wireless bisa digunakan tanpa masalah, dan tampilan boot dan splash screen yang menyenangkan, apalagi dengan menggunakan GRUB2 yang sempat membuatku panik karena sempat membuat laptopku ga bisa di boot. Belakangan jadi lebih tertarik menggunakan Ubuntu daripada Windows berhubung memang di Windows pun aku jarang memakainya untuk bermain game (aku rasa inilah alasan kenapa banyak orang yang masih bertahan menggunakan Windows sekalipun hanya bajakan), apalagi IDE yang biasa aku gunakan yaitu NetBeans juga sudah bisa terinstall di Ubuntu tanpa masalah.

Tanggal 3 November 2009, sekali lagi aku diajak oleh manager proyek-ku untuk mengikuti lelang. Kali ini acaranya dilakukan di Bandung, tapi tentu saja hanya dalam satu hari harus bolak-balik Jakarta. Berangkat pagi-pagi jam 6, sampai di Bandung jam 9 dan menunggu acara dimulai jam 11. Acara yang diikuti disebut aanwizjing, yang sempat aku kira tulisannya adalah unwising, semacam technical meeting atau briefing acara kalau dalam kompetisi atau lomba-lomba. Dan di sini dan juga selama perjalanan aku belajar banyak hal.

Tanggal 8 November 2009, adik dari pacarku ulang tahun. Hepi b’day. :D Satu hal yang pasti aku sempat membuat hari ini jadi rada berantakan karena sempat menjatuhkan kue ulang tahunnya ketika pacarku baru saja membelinya di Mall Taman Anggrek. Maaf yah :(

Tanggal 9 November 2009, Mozilla Firefox ulang tahun yang ke-5. Hepi b’day. :D Semoga akan tetap selalu menjadi browser terfavoritku seterusnya. Keep up the good work.

Tanggal 11 November 2009, berselang 2 hari setelah ulang tahunnya, Firefox versi 3.6 beta 2 diluncurkan. Sebenarnya aku sudah mencobanya sejak beta 1, dan perubahan yang terjadi ga terlalu banyak. Mungkin malah dalam Firefox ini yang terbiasa dengan behavior ketika membuka tab baru harus diubah. Sebelumnya, membuka tab baru akan membuat tab tersebut muncul di paling ujung. Sekarang membuka tab baru hasil dari tab yang sudah ada akan membuat tab tersebut muncul di posisi setelah tab tersebut. Agak sulit dijelaskan sih, tapi kalau bingung, coba saja pakai Google Chrome karena behavior-nya sama dengan Chrome atau langsung coba beta 2 ini. :D

Di hari ini juga kiamat menjadi trend tersendiri di kalangan anak muda dan orang tua karena sudah masuk ke dalam dunia Hollywood. Yeah, apalagi kalau bukan 2012. Bukan tahun, tapi judul film, tapi memang berhubungan dengan tahun sih. Bahkan sampai dibahas di berita-berita segala, dan dengar-dengar bahkan antrean di bioskop panjang. Entah karena filmnya bagus, atau karena penasaran dengan visual effect yang katanya banyak banget, atau karena pengen ngeliat akhir dunia itu kayak gimana sebelum memutuskan bakal bertobat atau lebih banyak berbuat dosa lagi sebelum hari itu datang. Paling ga dengan antrian itu membuktikan, “kiamat adalah sesuatu yang keren” alias “apocalypse is cool”. :cool:

Tanggal 12 November 2009, selamat ulang bulan tidak menulis blog. Terakhir kali menulis blog adalah tanggal 12 Oktober 2009 yang lalu, makanya ga aneh kalau kita harus merayakannya :D

Tanggal 14 November 2009, pergi ke CL buat potong rambut ditemani pacar, tapi sialnya pas ngantarin pacar pulang ke daerah Binus, dia malah kena copet. Alhasil sebuah handphone Nokia 6600 pun hilang. Ga habis pikir sih ada aja kenapa di jaman yang handphone pun udah jadi barang yang wajib dimiliki semua orang, masih ada aja yang mau mengambilnya. Harga handphone nya secara materiil memang ga seberapa, tapi kenangannya memiliki nilai yang ga berharga. Tapi yah yang namanya orang jahat mana peduli dengan apa yang dialami orang lain, yang penting dirinya kan senang sendiri. Malah masih sempat-sempatnya minta orang yang ada di daftar kontak handphone itu buat ngirim pulsa segala. Ckckck… Maling jaman sekarang. Semoga aja orang yang ngambil handphone itu hidupnya ga bakal tenang selamanya dan masuk neraka (kalaupun tuh orang percaya ada neraka). Iya betul, ini gue lagi sumpahin tuh orang. Sorry, but no sorry for you. Ah, kutukan itu juga berlaku buat penadah handphone curiannya kalau memang dia tahu itu handphone curian tapi tetap berniat menadahnya. Dan juga jatuh kepada pembelinya yang udah tahu itu handphone curian, tapi tetap beli dan pakai tuh handphone. Jadi dah tuh handphone bertuah. Tunggu kehadiran Hurry Copter: the Sorcerer’s Phone. Kalau mau cerita yang lebih lengkap, silahkan baca di blog pacarku.

Sekian dulu cuap-cuap mengenai 1 bulan terakhir ini. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Masih banyak hal yang harus dilakukan. Dan masih banyak fenomena yang harus diikuti, mulai dari cecak vs. kadal sampai kekonyolan supir Metromini yang membahas soal aturan baru sampai aku bisa menarik kesimpulan bahwa aturan ada di tangan mereka, bukan pemerintah atau pihak yang berkuasa lagi (ini namanya People’s Power kah?). Ah, sedikit cerita aja deh, kemarenan sempat ada tempelan di pintu Metromini B91 yang memberitahu kepada sopir bahwa mereka ga boleh mengoper penumpang, dan kalau mengoper didenda 3 kali ongkos per orang dikali jumlah penumpang yang dioper. Ada lagi peraturan bahwa mereka ga boleh mendahului dari jalur kanan yang berlawanan arah, atau mereka kena skors 3 hari tidak boleh narik. Tapi yah dari pembicaraan yang sempat aku dengar di antara para supir waktu itu, mereka ga peduli dengan hal itu, dan toh memang kenyataannya masih banyak yang mendahului dari lajur kanan dan ngoper-ngoper, bahkan mengingatkan supir lain yang mau tertib untuk melanggar aturan itu. Masa bodo lah, jalanan dikuasai oleh setan jalanan belakangan, termasuk juga orang yang udah kena kutukan di atas itu, apalagi polisi belakangan juga ga bisa terlalu dipercayai lagi karena main jadi buaya-buaya-an, kan?

Kapan-kapan lanjut lagi deh ceritanya. Semoga dalam waktu dekat bisa nulis lagi. :D