Archive for April, 2010

Welcome to New Etersoul.com

Hmm, apakah Anda merasakan adanya perbedaan pada Etersoul.com hari ini? Tentu saja Anda akan merasakan hal yang berbeda bila sebelumnya sudah sering ke blog ini. Yap, tampilannya berbeda. Dan sebenarnya di balik tampilan itu juga ada beberapa hal yang berbeda. :)

Untuk mendukung performa dan pekerjaanku sebagai freelance web developer, aku memilih untuk pindah ke hosting web yang baru yaitu MasterWebNet atau biasa yang disebut dengan MWN. Perpindahan ini sendiri sudah dilakukan sejak 1 minggu yang lalu, dan harus aku akui memang selama 1 minggu uji coba aku merasa puas dibanding dengan hosting sebelumnya. Dengan space yang ditawarkan lebih lapang, maka aku bisa melakukan banyak hal dengan lebih tenang tanpa takut kehabisan space untuk menampung data lagi.

Dan tentu saja seperti yang aku bilang, themes atau tampilan untuk blog ini juga berubah. Akhirnya, setelah diendapkan dan ditelantarkan hampir 2 tahun lamanya, themes ini bisa bebas juga dipamerkan ke publik. :D

Tema dari themes ini sendiri cukup berbeda dari sebelumnya. Bila sebelumnya nuansanya redup-redup gitu, sekarang lebih ngejreng dan terang. Selain itu themes ini juga menggunakan 2 buah sidebar di sebelah kanan. Layout dari tampilan ini bersifat fluid, yang artinya Anda akan dapat melihatnya secara penuh dengan menggunakan layar yang lebar sekali pun, tapi sudah aku sesuaikan untuk mendukung layar terkecil berukuran 1024 pixels. Pemilihan untuk mensupport 1024 pixels ke atas juga karena sebagian besar pengujung situs ini sudah menggunakan layar dengan ukuran 1024 pixels ke atas. Dan itu terbukti dengan layout Facebook (situs social networking yang pasti Anda juga kenal) yang juga sudah dirancang untuk layar ukuran 1024 pixels ke atas.

Tema baru ini juga menggunakan beberapa standar terbaru, yaitu CSS level 3 atau CSS3. Beberapa bagian dari web ini menggunakan teknologi seperti Web Open Font Format (WOFF) atau downloadable font, text-shadow, box-shadow, font-face, opacity, serta border-radius. Oke, tentu saja web ini ga akan lolos validasi CSS untuk sementara ini, tapi who cares, if you just keep using old technology, you will too late to learn new knowledge. Sedangkan untuk HTML sendiri, aku masih menggunakan teknologi XHTML 1.0 mengingat masih sedikit browser yang sudah mendukung tag-tag HTML5 seperti <header> atau <navigation>. Akan tetapi bila nanti browser-browser sudah mengadopsi HTML5 ini, aku akan mengubahnya sedikit demi sedikit menuju HTML5 (atau kalau perlu sekalian ke versi XHTML nya).

Mengingat banyaknya standar baru yang digunakan untuk tema baru ini, maka beberapa pengujung mungkin akan merasakan sedikit “diskriminasi” tampilan. Untuk sementara ini IE6 sudah tidak aku support lagi. Anda yang menggunakan IE6 sebisa mungkin melakukan upgrade ke versi selanjutnya (versi 7 atau 8) atau ke browser lain. Browser lainnya yang lebih modern dapat menampilkan web ini dengan baik, tapi mungkin kehilangan beberapa tampilan yang menggunakan standar modern. Sejauh ini Firefox 3.6 merupakan browser yang paling mendukung hampir semua standar CSS yang terbaru. Selain itu terdapat pula Opera 10.50, yang sudah mengadopsi hampir semuanya attribut CSS3 yang digunakan di tema ini, kecuali WOFF. Google Chrome 4 dan Safari 4 juga mendapatkan tampilan yang mirip dengan Opera 10.50.

Diharapkan dengan tema baru ini, banyak hal yang bisa didapatkan sekaligus. Seperti demonstrasi atas standar-standar dan teknologi terbaru, serta diharapkan memberi kemudahan bagi pengunjung untuk melakukan navigasi dan membaca artikel yang ada.

Bila Anda menemukan masih terdapat beberapa bagian yang “rusak”, harap dimaklumi karena tema ini masih terus aku kembangkan. Dan jangan sungkan juga untuk memberi masukan, atau melaporkan bila melihat beberapa bagian yang mungkin terlihat janggal atau salah.

Thanks ;)

Secuil Kisah 3 Hari di Semarang (dan Sekitarnya)

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pada tanggal 12 April 2010 sampai dengan 14 April 2010 yang lalu aku pergi ke Semarang untuk bekerja. Yap, bekerja. Loh, emangnya aku udah punya pekerjaan yah? Untuk sementara ini statusnya masih kerja sebagai freelancer, choy. Tapi yah akhirnya juga tetap aja namanya bekerja karena aku pergi ke sono memang tujuannya untuk memenuhi tugas pekerjaanku.

Dan aku akui bahwa selama 3 hari 2 malam di Semarang sangat melelahkan karena seperti yang aku tulis di judul entry ini, bahwa aku bukan cuma ke Semarang saja, tapi juga kota-kota di sekitarnya yaitu Pekalongan dan Purwokerto. Perjalanan ini aku tempuh bersama Pak Henry, manajer proyek yang selama ini membimbingku, hanya saja aku harus melakukan perjalanan terpisah dengan Pak Hen yang menuju ke Blora dan Magelang. Dan masing-masing kedua kota itu ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil. Berjam-jam duduk di mobil tentu ga menyenangkan.

Oke, kita mulai saja ceritanya.

Hari 1: Tanggal 12 April 2010, Kampus 6 Pekalongan

Hari ini merupakan hari keberangkatanku. Bangun jam setengah 4 pagi, memperbaiki programnya sedikit sebelum mandi, kemudian mandi, siap-siap dan naik ke taksi. Seperti biasa, taksinya sudah datang dari jam 4 pagi, padahal aku pesan untuk jam setengah 5 pagi. Karena masih pagi-pagi buta, lalu lintas pun lancar dan ga sampai 20 menit sudah sampai ke Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3. Ga sampai 10 menit kemudian, Pak Henry pun datang, kemudian kami melakukan check-in. Tak ada delay, akhirnya kami pun naik ke pesawat dan berangkat menempuh perjalanan udara selama 45 menit.

Pukul 07.00 kurang, kami tiba di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Dan di sana kami dijemput oleh staf Poltekkes yang akan menemani kami ke masing-masing kota. Dari bandara, kami langsung berpisah menuju kota tujuan kami masing-masing. Pak Henry menuju ke Blora yang menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam, aku sendiri menuju ke Pekalongan yang menghabiskan waktu 2 jam perjalanan.

Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya sampai ke kampus Poltekkes di Pekalongan. Setelah sedikit ramah tamah dengan staf kampus, akhirnya aku pun diajak menuju perpustakaan untuk memasang aplikasi dan mengaturnya agar bisa digunakan. Karena ini merupakan hari pertama, jadinya agak kebingungan juga apa yang musti dilakukan. Apalagi server yang disediakan adalah Windows Server 2008, sedangkan client nya menggunakan Windows 7. Kedua operating system ini merupakan sesuatu yang cukup baru bagiku yang sampai saat ini masih senang berkutat cukup hanya di Windows XP dan Linux saja. Apalagi SQL Server yang digunakan di dalam servernya masih SQL Server 2000. Yah, kalau mau dibilang perbandingannya antara langit dan bumi antara SQL Server 2000 dengan Windows Server 2008.

Setelah utak-atik yang hampir 30 menit masih belum bisa mengkoneksikan client-nya, akhirnya aku mulai membawa training untuk aplikasi online library terlebih dahulu berhubung aplikasi ini merupakan aplikasi web yang dapat diakses dari internet. Training yang dijadwalkan 1 jam akhirnya molor menjadi 2 jam, terutama karena juga merupakan kali pertama aku memberi training di sini, jadinya semua aku jelaskan secara detail bahkan sampai meminta trainee mencoba modulnya satu per satu.

Setelah molor itu, akhirnya aku memasang aplikasinya Sistem Informasi Akademik di komputer server agar bisa dicoba langsung di sana mengingat client-nya masih belum bisa terhubung. Training untuk SIA pun dimulai dan pesertanya cukup banyak karena hampir semua staf di sana diperbolehkan untuk ikut walaupun tidak menggunakan aplikasi ini nantinya. Sama seperti library, training ini memakan waktu 4 jam dari 3 jam yang dijadwalkan karena masih sedikit kagok dengan aplikasinya mengingat aplikasi ini bukan aplikasi yang aku buat sehingga belum terlalu lancar dalam mendemokannya. Akhirnya training selesai pukul 17.00, dan aku melanjutkan kembali pengaturan server-nya. Sempat berkomunikasi dengan Pak Henry yang sedang ada di Blora juga, tetapi ternyata Pak Henry juga mengalami kegagalan di sana.

Di sini muncul diagnosa bahwa kemungkinan SQL Server 2000 sudah tidak compatible lagi dengan Windows Server 2008 di mana mungkin ada beberapa hal yang tidak tercatat karena perbedaan versi yang terlalu jauh sehingga port TCP/IP yang digunakan untuk berkomunikasi antara server dan client tidak terbuka. Alhasil setelah berkutat selama hampir 1 jam dan tidak mendapatkan hasil, ditambah lagi karena sudah mahgrib, aku pun menyerah dan menjanjikan akan mengirim panduan bila sudah berhasil nantinya. Bersama supir dan staf dari Semarang sebelumnya, kami langsung menuju ke Purwokerto karena perjalanan yang akan memakan waktu 2 sampai 3 jam. Ketika di bandara, staf tersebut sempat bilang bahwa setelah Pekalongan, kami akan kembali ke Semarang dulu dan besoknya akan berangkat ke Purwokerto jam 5 pagi, akan tetapi dibatalkan mengingat lebih mudah langsung ke Purwokerto.

Perjalanan kali ini tidak lancar, apalagi supirnya belum pernah menempuh perjalanan dari Pekalongan langsung ke Purwokerto. Melewati hutan yang gelap dan sepi, lalu tiba-tiba hujan deras, dan kemudian ada kecelakaan tepat di depan mata kami di mana seorang pengemudi motor dari arah berlawanan jatuh di saat hujan deras di tengah hutan tersebut. Untung saja supir mobil yang aku tumpangi langsung membelokkan mobil ke kiri dan memperlambat lajunya, kalau tidak, mungkin pengendara motor itu bisa tergilas. Mengingat keadaan yang gelap dan hujan lebat, supir pun memutuskan untuk berhenti sebentar dan menyalakan lampu darurat untuk memperingatkan pengemudi lainnya sampai ketika pengendara motor sudah bisa berdiri sendiri lagi. Yang agak aku tidak suka adalah ketika staf dan supirnya mengatakan kalau aku takut ketika melewati hutan ini, dan juga masih dilanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain bahwa seolah-olah aku anak kecil yang masih perlu ditemani sampai setiap detik dan inch-nya. Padahal memang ga ada sesuatu yang bisa dibicarakan sehingga yah aku diam saja menikmati perjalanan itu. Yeah, whatever. Kemudian perjalanan kami lanjutkan lagi.

Ga sampai di sana, kami pun melewati jalan yang sempit di mana terdapat banyak tanjakan dan turunan yang curam. “Gila, ini nyasar atau apa?”. Aku sempat mencoba aplikasi Google Maps yang terdapat di handphone-ku, ternyata prediksi posisi saat ini cukup tepat selama perjalanan. Dan dari sana aku bisa tahu sampai di mana kami nyasar. :D Yang masih membuatku bingung adalah bagaimana caranya Google mengetahui posisiku hanya menggunakan perkiraan dari pemancar atau BTS di sekitar daerah itu, tanpa GPS. Setelah 1 jam berkutat dengan keadaan yang gelap, akhirnya kami sampai juga di Purwokerto setelah 4 jam perjalanan dari perkiraan sebelumnya yang hanya 2 sampai 3 jam. Di sana kami makan malam terlebih dulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke hotel. Agak lain dari perkiraanku karena sebelumnya aku dan Pak Henry diberitahu akan menginap di guest house.

Di hotel, aku pun segera mandi, kemudian mencari-cari informasi mengenai masalah yang aku temui melalui handphone. Kemudian aku mendapat kabar buruk di mana Pak Henry harus pulang terlebih dulu karena terdapat rapat dadakan pada tanggal 14. Alhasil akhirnya aku harus pulang belakangan sendirian dan juga membawakan training ke 2 kampus sekaligus di hari terakhir nanti. Padahal sebelumnya seharusnya setiap lokasi ini nantinya akan dikunjungi olehku dan Pak Henry masing-masing. Akhirnya lokasi training dijadikan satu saja untuk menghemat waktu. Setelah menerima berita tersebut, karena udah ga kuat lagi akhirnya aku memilih tidur saja, apalagi pagi-paginya aku harus bangun dan siap-siap ke kampus selanjutnya.

Hari 2: Tanggal 13 April 2010, Kampus 7 Purwokerto

Bangun pukul 07.00, kemudian siap-siap dan checkout pukul 07.30. Bukannya langsung berangkat ke kampus di Purwokerto, kami justru naik dulu ke kawasan Batu Raden, cuma sekedar untuk menunjukkan kepadaku keindahan kawasan itu. Katanya daerah ini merupakan “Puncak” nya Jawa Tengah. Di sepanjang jalan memang banyak penginapan dan rumah makan. Setelah menunjukkan kepadaku sebentar kawasan itu, akhirnya kami sarapan dulu di rumah makan padang. Yah, ga di Jakarta, ga di Semarang, ga di Purwokerto, makannya selalu nasi padang.

Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke kampus di Purwokerto yang hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari hotel kami. Kampus ini mungkin merupakan kampus terluas yang aku kunjungi dan suasananya sangat tenang dan sejuk. Yah mengingat kampus ini terdapat di daerah pegunungan. Setelah ramah tamah, akhirnya kami menuju ke ruang komputer kampus itu, dan di sana aku mulai membawakan training untuk aplikasi library online. Setelah 1 setengah jam training library online, aku pun ke ruang server-nya untuk mengatur aplikasi yang ada, dan kasusnya masih sama seperti yang kemarin. Alhasil karena server masih bermasalah, acara berikutnya adalah training untuk aplikasi SIA, masih di ruang komputer. Setelah 3 jam training, aku pun kembali ke ruang server untuk mengutak-atik server dan jaringan.

Setelah 1 jam mencari-cari di internet, akhirnya aku menemukan titik terang di mana terdapat artikel di internet yang menyatakan SQL Server 2000 memang bermasalah kalau belum terinstall Service Pack 4 (SP4) nya. Akhirnya aku memanfaatkan koneksi internet di sana untuk mendownload SP4 tersebut, dan menginstallnya. Akan tetapi hujan deras tiba-tiba turun, dan berdasarkan yang aku dengar, di kampus ini sudah banyak terdapat korban yang terbakar karena petir. Dan buktinya terdapat di belakang ruang server di mana banyak korban-korban tersebut tergeletak begitu saja tak bernyawa lagi. Yah, bukan korban jiwa maksudnya, hanya korban alat-alat elektronik seperti switch dan CPU. :p

Sudah begitu, selama aku mengutak-atik itu, semua orang pergi begitu saja dan meninggalkanku di ruang server situ. Mau mencoba menkoneksikan client nya ke ruang lainnya juga bingung karena semua terkunci, akhirnya yang bisa aku lakukan adalah menunggu. Beberapa saat kemudian, akhirnya staf-staf yang terdapat di kampus itu kembali dan jadi agak ramai, dan akhirnya ruang lainnya bisa diakses. Hanya saja setelah melihat-lihat, jaringannya justru putus di bagian switch, tampaknya karena switch tersebut terbakar juga karena petir. Oke, yang penting server sudah beres.

Setelah itu aku kembali ke ruang server dan diajak makan malam oleh staf di sana. Makan malam pun yang aku pesan adalah bihun goreng, yang bisa aku dapatkan di Jakarta juga. :p Soalnya di rumah makan tersebut juga ga ada menu makanan yang spesial khas Purwokerto. Selama makan malam ini, sekali lagi aku tidak suka dengan pernyataan beberapa orang yang mengatakan bahwa dari mukaku, aku lebih cocok sebagai anak SMA tingkat 2, dan masih baby face. What the? o_O Dan sempat menyindir biaya kuliahku dan sebagainya. Yeah yeah. Just say what you want.

Setelah makan malam, kami pun kembali ke kampus, dan jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Tetapi ketua prodi Kebidanan di sana masih meminta untuk dipasang aplikasinya di gedung prodi. Alhasil setelah berkutat selama setengah jam dan tidak berhasil karena masalah switch-nya yang terdapat di ruang lain yang terkunci, kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang. Perjalanan ini yang paling melelahkan di antara perjalanan lainnya karena memakan waktu 5 sampai 6 jam, padahal supirnya sudah mengemudikan mobilnya dengan full speed.

Hari 3: Tanggal 14 April 2010, Semarang dan Jakarta

Jam menunjukkan pukul 00.00 dan ternyata kami masih dalam perjalanan ke Semarang. Dan dari Google Maps terlihat bahwa kami belum sampai setengah perjalanan. Aku sempat beberapa kali tertidur karena ga tahan, dan ga tau apakah supirnya mengantuk atau tidak. Sekitar pukul 00.30, kami tiba di Temanggung. Di sana kami sempat berhenti dulu untuk menjenguk ibu salah satu staf yang mengalami kecelakaan yang harusnya mendampingi Pak Henry di Magelang, mumpung lewat di daerah ini. Kemudian kami melanjutkan lagi perjalanan.

Kemudian sempat sekali lagi berhenti untuk mengisi bensin pada pukul 01.00. Di sini kami mengalami masalah di mana ternyata ban belakang kiri mobil kempis sehingga kami mencoba memompanya menggunakan fasilitas pompa angin gratis di pom bensin tersebut. Ternyata setelah dipompa tidak berhasil karena tampaknya ban bocor. Setelah beberapa lama berkutat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi, dan berhenti sekali lagi untuk mengisi angin di tengah jalan di tukang ban pinggir jalan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan, dan kami pun tiba di Semarang pukul 02.30 dan langsung menuju ke hotel tempat Pak Henry menginap. Setelah men-drop aku di sana, staf dan supir kembali melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

Di hotel, Pak Henry bilang bahwa beliau harus pulang terlebih dahulu dan berangkat ke airport pukul 05.00. Alhasil yah aku ditinggal sendirian nantinya. Jujur aja sih bahwa ini pengalaman pertamaku terbang dengan pesawat sendirian. Tapi yah, tampaknya seru jadi yah kenapa ga dicoba :D

Setelah tidur beberapa saat, pukul 05.00 aku dibangunkan Pak Hen yang berpamitan dan kemudian mengunci pintu kamar. Setelah itu aku melanjutkan tidur lagi dan terbangun pukul 06.30. Aku mandi, bersiap-siap, kemudian breakfast di restoran hotel tersebut. Setelah itu pukul 08.10 supir menjemputku, dan aku pun check out dengan menyerahkan kunci hotel. Kami berangkat ke Semarang, dan di perjalanan itu, supir tersebut bercerita bahwa dalam perjalanan Purwokerto Semarang, dia sempat hampir tertidur sambil mengemudi sebanyak 2 kali. Untung saja saat itu jalanan cukup sepi dan lurus sehingga tidak terjadi hal-hal yang ga diinginkan.

Pukul 09.00 tiba di kampus Semarang dan melakukan installasi di server dan client. Karena sudah mengetahui masalahnya didukung dengan jaringan yang waras, akhirnya aku bisa dengan mudah mengatur server dan client yang ada di lokasi ini dan semuanya terkoneksi dengan mudah. Kemudian kami melanjutkan dengan training penggunaan SIA, dilanjutkan dengan library online. Akan tetapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, sedangkan pesawat berangkat pukul 18.00 yang berarti aku harus di bandara untuk check-in pukul 17.00, maka staf Poltekkes tersebut pun memintaku untuk menuju ke lokasi kampus satunya untuk mengatur client dan server. Sedangkan training akan dilanjutkan oleh staf Poltekkes tersebut.

Kami pun langsung menuju ke lokasi satunya yang memakan waktu sampai setengah jam, untungnya lokasi tersebut dekat dengan bandara. Setelah tiba di lokasi, aku pun melakukan installasi express, yang hanya berlangsung selama kurang dari 20 menit. Untung saja jaringannya tidak bermasalah jadinya semua bisa dilakukan dengan cepat. Selanjutnya kami langsung menuju ke bandara dan tiba di sana pukul 17.05, lewat sedikit dari yang seharusnya tidak masalah. Oh iya, di Purwokerto sebelumnya aku sudah diberi oleh-oleh, jadinya untuk di Semarang aku tidak membelinya lagi, selain juga karena alasan waktu. Setelah mengucapkan salam perpisahan ke supir, aku masuk ke dalam bandara dan check-in kemudian menunggu di sana.

Di bandara, aku mendengar terjadinya kerusuhan di Jakarta. Bah, 3 hari aku ga di Jakarta aja udah amburadul gitu yah. Setelah itu panggilan untuk naik pesawat pun dikumandangkan, dan aku segera naik ke pesawat. Tampaknya karena Pak Henry mengubah jadwalnya, maka kursi di sebelahku kosong. Akan tetapi sayangnya aku mendapat kursi yang paling dekat ke arah lorong, daripada kursi di dekat jendela. Sedangkan kursi di dekat jendela itu diisi oleh seorang perempuan. Perjalanan udara ini aku tempuh dalam 45 menit.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, aku memesan taksi. Tapi sayangnya taksi yang biasa aku gunakan tidak ada, malahan adanya taksi yang tidak aku kenal. Alhasil daripada tidak pulang sama sekali atau menggunakan taksi yang aneh-aneh, aku menggunakan taksi yang ada saja. Sampai di rumah pukul 19.30, dan tepar karena kelelahan. Fiuh.

Conclusion

Akhirnya perjalanan 3 hari 2 malam selesai juga. Walau banyak hal yang ga terduga, semuanya bisa jadi pengalaman yang menyenangkan, walau beberapa merupakan hal-hal yang patut disayangkan. Satu hal yang aku ingat pasti, jangan menggunakan SQL Server 2000 tanpa service pack. Kemudian jauhkan kabel atau peralatan listrik lainnya lebih dari 5 centimeter dari media kontak yang tersambung ke luar yang dapat menghantarkan listrik dari petir. Satu lagi, whatever they said about maturity, bravery, and face, I don’t care. :) Cukup mengganggap mereka hanya becanda saja.

Itu saja pengalaman yang dapat aku ceritakan mengenai perjalananku di Semarang. Akhirnya setelah kembali ke Jakarta harus kembali ke rutinitas seperti biasa lagi. Hiks. Tapi tetap harus berjuang. Semangat!! Sekian dulu deh.

Okay, see you later, Semarang. Semoga bisa kembali lagi suatu saat lagi dan semoga lebih menyenangkan. ;)

Bad Bad Sales

Sedikit cerita pembuka, hari ini aku pergi ke Mangga Dua Mall untuk membeli beberapa “peralatan tempur” untuk “berperang” esok harinya di luar kota. Yap, kalau namanya Mangga Dua Mall, tentu kurang lebih nyangkutnya adalah ke peralatan elektronik atau peralatan yang berhubungan dengan komputer. Tepatnya sih aku membeli modem CDMA. Beberapa toko aku kunjungi untuk menanyakan harga dan melihat seperti apa modem yang dijual, dan tentu saja ada penjual atau sales yang ramah dan mau menjawab dengan baik, tetapi ada juga yang membuatku tidak nyaman di tempat itu. Dan di sini aku ingin menceritakan juga beberapa pengalamanku yang membuatku tidak suka terhadap salesman atau woman. Not all, but just some of them.

Pertama-tama yang perlu aku tekankan, aku bukan orang marketing atau orang yang mengerti dunia jual beli secara mendalam. Aku juga belum pernah menjadi salesman secara langsung untuk menjual produk apapun, jadi pengalamanku dalam memperlakukan calon costumer masih bisa dibilang mendekati nihil. Mungkin bila Anda mencari sebuah artikel, bacaan atau panduan untuk menjadi seorang sales yang baik, Anda akan lebih banyak menemukannya bertebaran di toko-toko buku di sekitar Anda. Akan tetapi aku rasa pengalamanku sebagai seorang awam atau seorang calon customer cukup untuk menulis beberapa hal menyebalkan yang sering kali dilakukan oleh sales yang menawarkan produknya, yang akhirnya bisa membuat seseorang menjadi ilfil bahkan malah jadi anti dengan produk yang ditawarkan itu untuk seumur hidup. Silahkan mengatakan hal ini konyol, tapi pada kenyataannya, kalau Anda menghadapi orang sepertiku, bisa saja terjadi dendam kesumat antiproduk seperti yang aku bilang tadi.

Mari kita mulai saja.

Cerita pertama terjadi sekitar kurang lebih 1 bulan yang lalu ketika aku berjalan di sebuah mall di Jakarta. Ketika naik eskalator, ada sebuah sales sebuah bank yang sudah siap menunggu di ujung eskalator. Ketika aku baru saja menginjakkan kaki di lantai itu, tiba-tiba sang sales menyodorkan sebuah brosur. Tentu saja ada 2 pilihan yang dapat aku lakukan ketika disodorkan, menolak (dan cuekin) atau mengambilnya. Pilihanku saat itu adalah mengambilnya. Saat itu aku sudah sempat menarik brosur itu supaya aku bisa membacanya, tetapi ternyata sang sales masih saja memegang brosur tersebut seakan tak rela kehilangan sebuah brosur atau mungkin sedang ada penghematan kertas dan brosur di bank tempat dia bekerja.

Sambil tetap memegang brosur itu, dia berkata “masih kerja atau sudah kuliah nih?”. Mengingat statusku masih di twilight zone alias zona yang ga jelas, dan mengingat KTP juga masih tertulis sebagai pelajar, alhasil aku bilang “masih kuliah”. Terus tiba-tiba sang sales langsung menarik brosur yang daritadi belum rela dilepaskannya. Sambil tersenyum (dan aku melihatnya seakan seperti tersenyum picik dan meremehkan sambil berpikir “ah, anak kecil bau kencur”), dia pun berkata “wah, kalau gitu ga bisa, harus yang udah kerja”. Setelah dilihat tampaknya memang di sekitar sana terdapat stand untuk kartu kredit. Oke, kebetulan saja produk itu bukan produk yang membuatku tertarik mengingat aku sebisa mungkin memang ga mau memegang kartu utang itu, jadi kalaupun aku sampai ilfil dengan produk tersebut, mungkin memang ga bakal terlalu bermasalah, atau justru malah bagus. Dan komitmenku untuk anti kartu kredit justru akan semakin mantab. Thanks buat sales menyebalkan itu. Hiehehehe… >:)

Ga tau yah kalau dari pengalaman ini, sang sales itu memang diharuskan menghemat brosurnya, atau mungkin sales nya aja yang gila sendiri. Mungkin juga brosur itu sekaligus formulir sehingga jumlahnya sebisa mungkin dihemat. Entahlah. Yang jelas, kenapa ga tanya dulu dengan sopan, misalnya “bapak / ibu sudah bekerja?”, sebelum menyodorkan kertas itu. Bila jawabannya sudah pasti, barulah menyodorkan kertas itu. Atau justru itu memang strategi marketing?

Cerita kedua merupakan pengalamanku hari ini. Seperti yang aku tulis di atas bahwa hari ini aku pergi ke Mangga Dua Mall untuk membeli modem CDMA. Setelah bertanya-tanya ke beberapa toko, akhirnya aku sampai di sebuah toko yang agak sepi dibanding toko di sekitarnya. Di sana ada seorang mba-mba yang menjaga toko tersebut, dan langsung saja aku bertanya “Mba, di sini jual modem CDMA ga?”. Dia pun mengiyakan dan mengambilkan satu kotak yang berisi paket modemnya. Lalu seperti biasa aku bertanya “ini berapaan yah harganya?”. Kemudian dia bilang 450 ribu. Lalu aku bertanya lagi untuk memastikan harga bersihnya berapa. Dan yang ga aku sadari, dia sudah mulai mengeluarkan kertas kwitansi dan meletakkan ujung pulpennya di atas kertas itu sambil berkatan 400 ribu. Saat itu aku juga tengah melihat-lihat keterangan dari kotak itu, dan dia bertanya “memangnya mau ambil berapa?”, tentu aja aku bilang 1. Lucunya, dia langsung menuliskan harganya di kwitansinya itu. Aku sempat melihatnya menulis, tetapi aku mengira dia menulis untuk orang lain atau cuma mau memperlihatkan harganya saja.

Setelah melihat-lihat, seperti biasa aku meletakkan kotak itu, lalu berjalan keluar sambil berkata terima kasih dan mau lihat-lihat yang lain dulu di sekitar sana. Akan tetapi baru berjalan satu langkah, si mbak tersebut malah manggil lagi (ngiranya mau nurunin harga lagi supaya aku balik lagi), sambil bilang kalau kwitansinya sudah ditulis dan aku harus membelinya. Damn!! Sadarlah aku kalau ternyata dia tulis kwitansi itu karena ingin aku membayar. Ga sopan amat, aku belum kasih konfirmasi untuk beli, dia udah nulis duluan. Lalu aku bilang kalau aku masih mau melihat-lihat dulu dan belum berniat beli modemnya, dan bahkan udah meyakinkan dia kalau memang harganya cocok aku bakal balik lagi. Tapi tetap aja dia bilang kalau itu artinya aku udah beli. Alhasil, aku dan pacarku akhirnya pergi aja deh dari tempat itu. Kok cuma bermodalkan sebuah kertas bertuliskan harga aja udah dianggap pasti beli? Kalau semudah itu, napa ga nulis aja kwitansi itu sembarangan, terus kasi ke orang yang tengah berjalan di sana sambil bilang kalau kertas itu sudah dituliskan untuk orang tersebut? Depresi yah mbak di sono sepi sampai harus maksa orang beli?

Cerita ketiga, berhubungan dengan MLM alias Multi Level Marketing. Sesuatu yang tidak selalu buruk, tetapi di otakku sudah tertanam dogma kalau MLM merupakan sesuatu yang buruk. Memang ga semua MLM itu buruk, ada yang memang murni menjual barang dan barang itu memang diperlukan oleh orang-orang disekitarnya, tetapi ada juga yang tampak seperti hanya meminta orang membayar uang untuk sesuatu yang ga nyata. Huff, aku ga ngerti lah sebenarnya dunia MLM itu seperti apa, yang pasti sebelum aku mengerti, aku sudah membencinya.

Dan tentu beberapa teman sekolahku di SMA pernah mengalaminya juga terjebak dalam arus marketing dan penjualan “barang” seperti ini. Tiba-tiba diundang oleh salah satu teman yang padahal juga bukan teman dekat untuk makan-makan di sebuah mall. Ketika kita memenuhi janjinya, beberapa orang sudah menunggu untuk menceramahi mengenai kesuksesan mengikuti program yang mereka ikuti ini, dan kita pun merasakan siksaan api neraka selama mendengar ceramah orang-orang tersebut untuk menjadikan kita sebagai “bawahan” mereka. Yang jelas, aku dulu pernah hampir terjebak juga menjadi orang yang terbakar di neraka tersebut, akan tetapi terselamatkan oleh temanku lainnya. Walau demikian karena hal itu, kepercayaanku sudah luntur terlebih dahulu. Yang jelas satu hal yang perlu diingat, kalau diajak oleh teman yang ga gitu dekat, tapi ketika ditanya alasannya cuma dibilang “mau ketemu aja”, jangan pernah ge’er tuh orang mau nembak atau mau mentraktir makan. Tanamkan di otakmu kalau orang itu mau “menculik” Anda dan “meminta tebusan” secara halus. Yay, atau anggap aja dia orang ga dikenal, kemudian ingat kata mama: “kalau orang yang ga dikenal ngajak jalan-jalan, jangan pernah mau (kalau perlu teriakin maling sekeras-kerasnya)”. :devil:

Tetapi kasus serupa mungkin bisa ditemukan juga di luar MLM. Misalnya si sales menawarkan barang sambil terus mengikuti seraya memaksa untuk membeli atau memakai produknya. Dan yang paling mengerikan kalau sampai diteror lewat telepon untuk memastikan kalau kita memang 100% bakal membeli dari dia, dia, dia, dan dia, tanpa boleh melalui orang lain. :sick:

Itu aja sih cerita soal kejelekan di bidang “penjualan” yang pernah aku alami. Kalau aku mau kasih saran kepada orang yang sedang berkutat atau mau berkutat di bidang marketing atau sebagai sales, jangan cuma berorientasi memenuhi target yang diberikan perusahaan atau bos, tetapi berusaha untuk memenuhi kebutuhan calon customer juga. Alhasil kalau memang akhirnya si calon customer cocok dengan produk yang ditawarkan dan cocok juga dengan Anda, maka customer itu akan melakukan marketing secara ga langsung juga, dan tentu Anda juga yang akan ketiban untung kalau sang customer merefer Anda sebagai sales-nya. Sebaliknya, kalau orang malah jadi ga nyaman dengan strategi penjualan Anda, bisa-bisa malah timbul perasaan anti, dan bisa menyebar ke mana-mana (toh akhirnya jalan yang paling jelek itu dibalas dengan gugatan pencemaran nama baik).

Anyway, akhirnya bisa publish entry blog lagi setelah sekian lama males nulis. Hehehehe…