Archive for August 11th, 2014

Good Luck?

Ketika seseorang mau melakukan sesuatu yang cukup besar, berisiko atau menantang, misalnya wawancara kerja, ujian, atau mengejar jodoh, kadang kala kita mendengar orang lain mengucapkan “Good Luck”, atau kalau dibahasakan ke Bahasa Indonesia menjadi “semoga beruntung”. Yup, semoga beruntung, alias hoki, atau kalau mau menggunakan kebalikannya, maka “semoga tidak sial”. Sejujurnya dulu saya sendiri sudah menyadari maknanya tersebut, tapi ah, biarlah, toh memang kadang saya perlu keberuntungan atas apa yang saya lakukan.

Beberapa bulan belakangan, saya menghadapi cukup banyak masalah yang bisa dibilang tidak mudah saya hadapi, khususnya masalah sosial. Bila Anda sekalian membaca post-post saya sebelumnya, tentunya yang ada dalam Bahasa Inggris, maka Anda akan mengerti bahwa masalah saya berhubungan dengan perasaan. Tapi jangan salah, masalah yang saya maksudkan di sini lebih ke masalah pekerjaan, yang membutuhkan rasionalitas dibanding hanya menerka-nerka atau mencoba-coba seperti masalah jodoh.

Ketika saya dihadapi oleh kesulitan, seringkali saya mendengar teman-teman saya mengatakan “GL alias Good Luck” tersebut, tapi entah kenapa saya merasa ga nyaman dengan sebutan tersebut. Seperti yang saya tuliskan di atas, kecenderungan kata tersebut seperti menganggap bahwa saya hanya akan berhasil bila saya memiliki keberuntungan yang besar. Padahal bila saya cek diri saya, keburuntungan saya hampir ga ada sama sekali. Saya belum pernah menang judi, belum pernah mendapatkan hadiah undian, belum pernah mendapatkan tiba-tiba uang saya di bank bertambah sendiri; bagaimana bisa mereka meminta saya untuk mengandalkan keberuntungan? Tapi tetap, walau demikian, saya mengapresiasi kata-kata teman saya tersebut, yang sebagian besar mungkin tidak tahu mengenai makna di baliknya, dan juga tidak mengetahui bahwa saya tidak terlalu suka mendengar kata tersebut.

Lalu apa yang bisa dikatakan oleh rekan-rekan saya tersebut? Sebenarnya banyak alternatif ucapan lainnya yang tidak terlalu mengandalkan “kekuatan alam dan ilahi” tersebut, misalnya saja, “selamat berjuang” atau “semoga sukses”. Dalam Bahasa Inggris juga bisa disebutkan “do well” (lakukan yang terbaik), “all the best” (sama, lakukan yang terbaik), atau “finger crossed” (silangkan jari). Saya mendapatkan frase tersebut dengan mudah dari pencarian Google dengan menggunakan kata kunci “good luck alternatives”.

Saat pencarian tersebut (sebenarnya sudah cukup lama saya mencari alternatifnya), saya menemukan ternyata tidak sedikit orang yang menghindari menggunakan kata-kata yang bermuatan mistis tersebut, alias keberuntungan. Mungkin karena sudah lekat di telinga orang Indonesia, banyak dari kita yang lebih mengandalkan kata “good luck”, dibanding alternatif-alternatif tersebut, dan akhirnya menjadi terbiasa dengan kata tersebut, baik sebagai pendengar maupun sebagai pengucap. Tidak ada masalah dengan kata tersebut, hanya memang sebagian kecil orang seperti saya sedikit sensitif atas penggunaan kata-kata yang kurang tepat dalam keseharian. Pada akhirnya hal itu kembali kepada masing-masing orang sebagai preferensi :)

Oh iya, bagi saya tentu saja “good luck” bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dihilangkan. Kata ini bisa digunakan sebagai sarkasme terhadap orang yang tidak kita suka. Misalnya saja:

A: Hei, saya bisa mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya diselesaikan dalam 14 hari dalam semalam saja. Jadi biarin lah saya main sebentar, oke?

B: Oh, gitu ya? Kalau gitu good luck yah!

A: Sip.

Dalam kasus di atas, keberuntungan memang sangat diperlukan, apalagi Anda tahu bahwa si A bukan orang yang mampu mengerjakan dalam 1 hari dan hanya keberuntungan yang bisa menyalamatkan dia. Yah, terkadang saya menggunakan kata tersebut untuk diri saya sendiri yang dalam beberapa kejadian lebih memilih untuk menunda pekerjaan sampai akhirnya harus berjuang keras di hari terakhir. Hhhhh… Kebiasaan yang memang tidak boleh terus menerus dilanjutkan, dan tentu saja hanya memerlukan niat untuk menghilangkannya.

Lalu bagaimana bila Anda tidak suka dengan frase tersebut diucapkan oleh orang lain? Bagaimana caranya mengatakannya kepada teman kita tersebut? Masa kita bilang frontal, “maaf, saya ga perlu keberuntungan karena saya punya skill dan kemampuan untuk menghadapi masalah tersebut”? Kalimat tersebut seolah-olah membuat kita terlihat sombong karena, yup, kadang bagi mereka menggunakan kemampuan sendiri adalah sombong, apalagi di negara agama seperti Indonesia di mana kuasa ilahi masih merupakan sebuah kewajiban yang disertakan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Tapi memang kadang kita perlu seperti itu bila memang mau dilihat sebagai orang yang rasional.

Cara lainnya yang bisa kita lakukan adalah menghindari kata tersebut dari diri kita sendiri. Bila kita terbiasa menggunakan kalimat lain, beberapa orang yang cukup sensitif akan dapat menangkap maksud dari kita bahwa kita memang menghindari kata tersebut. Tentu saja ini hanya untuk orang-orang yang cukup sensitif untuk dapat mencerna maksud Anda tersebut. Bila bertemu orang yang kurang sensitif, katakan saja dengan sedikit bercanda, “jangan good luck lah, kalau ga hoki gimana coba, ‘sukses selalu’ aja mendingan”, atau kalau perlu dengan kalimat pertama yang saya katakan tadi. Toh bila orangnya kurang sensitif, dia juga bukan tipe orang yang mudah tersinggung atau berpikiran macam-macam kepada Anda.

Jadi secara tak langsung, mari kita budayakan saja menghindari ucapan “good luck” tersebut, dan ganti menjadi “semoga sukses” atau “all the best” bila Anda ingin sedikit terlihat keren karena Bahasa Inggris. :)

Entry ini ditulis oleh seseorang yang cukup sensitif terhadap kata-kata yang diucapkan orang. Bersikaplah lebih sensitif (empati) kepada orang sensitif, karena sewaktu-waktu Anda akan mendapatkan balasan yang setimpal atas empati Anda tersebut.

PS: Sekali-kali pakai Bahasa Indonesia aja untuk posting blog ini, berhubung sebentar lagi 17 Agustus, jadi harus lebih nasionalis dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan sedikit gaul. Hehehe… Ga juga, ke depannya akan ada beberapa post yang menggunakan bahasa ibu pertiwi koq. Kadang penggunaan bahasa menjadi dilema bagi saya mengingat saya ingin terus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris tertulis, tapi di sisi lain tetap ingin dapat menulis dengan cepat. Yup, menulis menggunakan Bahasa Inggris memerlukan waktu yang lebih lama daripada menggunakan Bahasa Indonesia seperti ini, apalagi kadang saya masih harus menambah perbendaharaan bahasa saya serta berkali-kali mengecek (proofread) tulisan saya supaya memiliki grammar dan structure yang benar.

This entry was last modified on: September 7th, 2017 at 1:29

What is Love

Well, I don’t really like to write about my love and relationship on my blog as if I don’t know that I already old enough for this kind of crap, but still my mind keeps tell me to write what I think before I fall into deeper depression. I’m not the kind of man that is easily depressed because of love… Well, perhaps I am. It’s simply because I can’t easily leave my past after it happened. So if you think this entry is immature or inappropriate since it is my personal thought, or doesn’t meet your personal expectation because you need more information about me since this is my personal website, I kindly ask you to stop reading now and find another interesting article in the web instead, or read another post in another category that’s available In this blog.

“Baby don’t hurt me, don’t hurt me no more.” perhaps is the best answer for the title question.

On the previous post, I wrote about a girl, the third girl I met, which gave enough impact to me lately. Actually, the impact is far too strong and affected me until now. I still keep thinking about her, and even I always keep trying to get noticed by her.

I keep thinking about her but don’t have enough courage to make any contact to her. I just afraid I will end up disappointed with her replies, make her upset to me because I keep bothering her. I think it’s my selfishness so that I end up always want to bother her, despite of the fact that I almost never have chats lately. In the end I bothered more people in a chat group where she is one of the members, just because I want her attention. Sigh… I should just thinking more about other people before did that.

Some people will say, “grow your balls and text her!”, but it’s not as easy as they think. I had issues with her in the past which developed into a big barrier for my relation with her. Then why don’t you solve the issues and patch up your relationship with her? I’ve tried but I kept creating new other issues after that. It keeps repeating and perhaps annoyed her so much that she might think it’s better not to have any relation with me, or even worsen her thought about males in general. I can’t really guest what’s on her mind now, probably she doesn’t even really care about those issues since I’m not “somebody” for her. Who knows.

Sometimes I wish I can be more like other males who can easily moves on and search for other females. Instead I just want to prove to her that I can be the one for her, but still I’m stuck because I’m afraid. I’m afraid that I will cause her depressed about her future. I’m afraid that I will hurt her. I’m afraid that I will affect her in wrong way. I’m afraid that I cannot protect her and support her when she needs me. I’m afraid that some hurtful words will be spoken from her mouth just because she feels despair in me. I’m afraid the relationship will be ended up as what has happened in the past with my previous relationship.

The more I think about this, the more I realize that I have done something wrong. If I really love someone, I should simply let her happy. If they are happy but I don’t feel that happiness, it’s perhaps just lust or temporary love. Even if she dates another guy, I should be happy, at least I know that her mind has been changed and she can trust other males, though I know I will feel sad in reality. I just wonder that her smile will brighten everyone’s day, that’s the power of happiness.

Somehow, as a single guy, I wonder that it will be better if I don’t meet any single girls. It just hurt me more and make me feel responsible on what has happened around them. However, it’s part of experience that I will get, so it should not really matter if I think it thoroughly. Sadness, happiness, hope, despair, acceptance, rejection, for something called love is always worthy for your life lessons not matter how hard that lessons are. It teaches us how to behave to another person who is precious to you and you treasured her so much.

Perhaps I will not go to try to make any special relationship with another girl for some time since I feel betrayed and afraid for relationship lately. In fact, even since I have just get acquainted to a new girl, I just can’t keep my communication up with that girl lately, not because I’m lazy, but because I don’t have faith that the relationship will end up in the right direction, especially I get acquainted to her just because I have that relationship target to begin with. It just felt wrong.

Lastly, I will keep that good memory of her and hopefully my faith in girls in general can be restored, as with her faith to guys in general can also be restored. In the end, from what has happened in the past, for every girl that I have feeling towards who I wrote in this blog or other media, it will not ended up in “happy ending”, so I will just accept that fate as long as she is happy with her life. :D

PS: Oh, before I forgot, I’ve been said by some people that posts like this are immature, and if you think the same, I would like to thank you. Just let me decide what’s mature or immature for myself because the value of maturity is different between each people. You can say someone who are kept hurt by other people who can keep calm and don’t do any retaliation is mature, but for me it’s just as plain stupid as being raped but simply accepted it when it’s happen. I would rather write what I need to write and spill out what are on my mind rather than keep it and let it rotten, which may cause me to being depressed. Yeah, I know it’s not a fairy tale, which when she knows I wrote about my feeling and somehow –with miracle– she read this post and ended up fall in love in me. That’s why I wrote that this will not ended up as happy ending, at least for me.

This entry was last modified on: September 7th, 2017 at 1:29