Good Luck?

Ketika seseorang mau melakukan sesuatu yang cukup besar, berisiko atau menantang, misalnya wawancara kerja, ujian, atau mengejar jodoh, kadang kala kita mendengar orang lain mengucapkan “Good Luck”, atau kalau dibahasakan ke Bahasa Indonesia menjadi “semoga beruntung”. Yup, semoga beruntung, alias hoki, atau kalau mau menggunakan kebalikannya, maka “semoga tidak sial”. Sejujurnya dulu saya sendiri sudah menyadari maknanya tersebut, tapi ah, biarlah, toh memang kadang saya perlu keberuntungan atas apa yang saya lakukan.

Beberapa bulan belakangan, saya menghadapi cukup banyak masalah yang bisa dibilang tidak mudah saya hadapi, khususnya masalah sosial. Bila Anda sekalian membaca post-post saya sebelumnya, tentunya yang ada dalam Bahasa Inggris, maka Anda akan mengerti bahwa masalah saya berhubungan dengan perasaan. Tapi jangan salah, masalah yang saya maksudkan di sini lebih ke masalah pekerjaan, yang membutuhkan rasionalitas dibanding hanya menerka-nerka atau mencoba-coba seperti masalah jodoh.

Ketika saya dihadapi oleh kesulitan, seringkali saya mendengar teman-teman saya mengatakan “GL alias Good Luck” tersebut, tapi entah kenapa saya merasa ga nyaman dengan sebutan tersebut. Seperti yang saya tuliskan di atas, kecenderungan kata tersebut seperti menganggap bahwa saya hanya akan berhasil bila saya memiliki keberuntungan yang besar. Padahal bila saya cek diri saya, keburuntungan saya hampir ga ada sama sekali. Saya belum pernah menang judi, belum pernah mendapatkan hadiah undian, belum pernah mendapatkan tiba-tiba uang saya di bank bertambah sendiri; bagaimana bisa mereka meminta saya untuk mengandalkan keberuntungan? Tapi tetap, walau demikian, saya mengapresiasi kata-kata teman saya tersebut, yang sebagian besar mungkin tidak tahu mengenai makna di baliknya, dan juga tidak mengetahui bahwa saya tidak terlalu suka mendengar kata tersebut.

Lalu apa yang bisa dikatakan oleh rekan-rekan saya tersebut? Sebenarnya banyak alternatif ucapan lainnya yang tidak terlalu mengandalkan “kekuatan alam dan ilahi” tersebut, misalnya saja, “selamat berjuang” atau “semoga sukses”. Dalam Bahasa Inggris juga bisa disebutkan “do well” (lakukan yang terbaik), “all the best” (sama, lakukan yang terbaik), atau “finger crossed” (silangkan jari). Saya mendapatkan frase tersebut dengan mudah dari pencarian Google dengan menggunakan kata kunci “good luck alternatives”.

Saat pencarian tersebut (sebenarnya sudah cukup lama saya mencari alternatifnya), saya menemukan ternyata tidak sedikit orang yang menghindari menggunakan kata-kata yang bermuatan mistis tersebut, alias keberuntungan. Mungkin karena sudah lekat di telinga orang Indonesia, banyak dari kita yang lebih mengandalkan kata “good luck”, dibanding alternatif-alternatif tersebut, dan akhirnya menjadi terbiasa dengan kata tersebut, baik sebagai pendengar maupun sebagai pengucap. Tidak ada masalah dengan kata tersebut, hanya memang sebagian kecil orang seperti saya sedikit sensitif atas penggunaan kata-kata yang kurang tepat dalam keseharian. Pada akhirnya hal itu kembali kepada masing-masing orang sebagai preferensi :)

Oh iya, bagi saya tentu saja “good luck” bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dihilangkan. Kata ini bisa digunakan sebagai sarkasme terhadap orang yang tidak kita suka. Misalnya saja:

A: Hei, saya bisa mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya diselesaikan dalam 14 hari dalam semalam saja. Jadi biarin lah saya main sebentar, oke?

B: Oh, gitu ya? Kalau gitu good luck yah!

A: Sip.

Dalam kasus di atas, keberuntungan memang sangat diperlukan, apalagi Anda tahu bahwa si A bukan orang yang mampu mengerjakan dalam 1 hari dan hanya keberuntungan yang bisa menyalamatkan dia. Yah, terkadang saya menggunakan kata tersebut untuk diri saya sendiri yang dalam beberapa kejadian lebih memilih untuk menunda pekerjaan sampai akhirnya harus berjuang keras di hari terakhir. Hhhhh… Kebiasaan yang memang tidak boleh terus menerus dilanjutkan, dan tentu saja hanya memerlukan niat untuk menghilangkannya.

Lalu bagaimana bila Anda tidak suka dengan frase tersebut diucapkan oleh orang lain? Bagaimana caranya mengatakannya kepada teman kita tersebut? Masa kita bilang frontal, “maaf, saya ga perlu keberuntungan karena saya punya skill dan kemampuan untuk menghadapi masalah tersebut”? Kalimat tersebut seolah-olah membuat kita terlihat sombong karena, yup, kadang bagi mereka menggunakan kemampuan sendiri adalah sombong, apalagi di negara agama seperti Indonesia di mana kuasa ilahi masih merupakan sebuah kewajiban yang disertakan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Tapi memang kadang kita perlu seperti itu bila memang mau dilihat sebagai orang yang rasional.

Cara lainnya yang bisa kita lakukan adalah menghindari kata tersebut dari diri kita sendiri. Bila kita terbiasa menggunakan kalimat lain, beberapa orang yang cukup sensitif akan dapat menangkap maksud dari kita bahwa kita memang menghindari kata tersebut. Tentu saja ini hanya untuk orang-orang yang cukup sensitif untuk dapat mencerna maksud Anda tersebut. Bila bertemu orang yang kurang sensitif, katakan saja dengan sedikit bercanda, “jangan good luck lah, kalau ga hoki gimana coba, ‘sukses selalu’ aja mendingan”, atau kalau perlu dengan kalimat pertama yang saya katakan tadi. Toh bila orangnya kurang sensitif, dia juga bukan tipe orang yang mudah tersinggung atau berpikiran macam-macam kepada Anda.

Jadi secara tak langsung, mari kita budayakan saja menghindari ucapan “good luck” tersebut, dan ganti menjadi “semoga sukses” atau “all the best” bila Anda ingin sedikit terlihat keren karena Bahasa Inggris. :)

Entry ini ditulis oleh seseorang yang cukup sensitif terhadap kata-kata yang diucapkan orang. Bersikaplah lebih sensitif (empati) kepada orang sensitif, karena sewaktu-waktu Anda akan mendapatkan balasan yang setimpal atas empati Anda tersebut.

PS: Sekali-kali pakai Bahasa Indonesia aja untuk posting blog ini, berhubung sebentar lagi 17 Agustus, jadi harus lebih nasionalis dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan sedikit gaul. Hehehe… Ga juga, ke depannya akan ada beberapa post yang menggunakan bahasa ibu pertiwi koq. Kadang penggunaan bahasa menjadi dilema bagi saya mengingat saya ingin terus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris tertulis, tapi di sisi lain tetap ingin dapat menulis dengan cepat. Yup, menulis menggunakan Bahasa Inggris memerlukan waktu yang lebih lama daripada menggunakan Bahasa Indonesia seperti ini, apalagi kadang saya masih harus menambah perbendaharaan bahasa saya serta berkali-kali mengecek (proofread) tulisan saya supaya memiliki grammar dan structure yang benar.

This entry was last modified on: September 7th, 2017 at 1:29

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: