Problematic Employment (De)Generation

Mungkin sebagian besar dari Anda pernah membaca bahwa generasi yang ada sebelum generasi Anda akan kecewa dengan generasi Anda, dan saya yakin sebagian besar orang-orang yang berada di generasi Anda akan kecewa dengan generasi di bawah Anda. Anggaplah bahwa setiap generasi memiliki gap sekitar 4-5 tahun, dan dengan keadaan umur saya sekarang ini yang sudah pertengahan 20 menuju 30, generasi di bawah saya merupakan generasi yang diisi oleh orang-orang yang umumnya baru lulus kuliah atau populernya disebut fresh graduate.

Sebelum saya melakukan pembahasan yang serius mengenai generasi, saya ingin menekankan bahwa sebagian besar dari tulisan ini hanya opini walau beberapa akan saya sertakan dengan fakta. Saya juga menyertakan tips dan trik pada akhir tulisan ini, yang mungkin akan berguna bagi teman-teman yang akan mencari kerja dan mau sukses. Selain itu, ada baiknya kita lihat dulu kenyataan mengenai lapangan pekerjaan serta juga pekerjanya.

Pengangguran Intelektual

Berdasarkan laporan BPS atau Badan Pusat Statistik Indonesia, pengangguran yang telah mengenyam pendidikan lanjut atau yang belakangan sering disebut sebagai pengangguran intelektual memiliki komposisi sebesar 610 ribu orang dari keseluruhan jumlah pengangguran yang berjumlah 7,17 juta orang [Sumber]. Bahkan beberapa pengamat mulai memprediksikan bahwa jumlah ini akan bertambah banyak seiring dengan semakin mudahnya akses pendidikan di Indonesia. [Sumber]

Dari sumber di atas ada beberapa solusi yang ditawarkan, seperti sertifikasi, sehingga diharapkan para pekerja Indonesia ini bisa bersaing. Apalagi mengingat Indonesia akan memasuki pasar bebas ASEAN di mana nantinya pekerja dari luar negeri akan lebih mudah masuk ke Indonesia, tentu saja hal ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi calon pekerja. Sampai saat ini, sepengatahuan saya, sertifikasi belum menjadi standar di dalam kurikulum yang diajarkan di perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi memang sudah mulai melakukan sertifikasi sebelum para mahasiswanya lulus, tetapi itupun belum terlalu efektif untuk menggenjot kemampuan dari para lulusan baru.

Perguruan Tinggi dan IT

Belakangan sebagai seseorang yang mulai membuka usaha sendiri, saya memiliki kendala yang dihadapi oleh beberapa orang yang memiliki usaha saat ini, yaitu calon pekerja. Sebagai catatan, bahwa saya memiliki pengalaman kerja hampir 8 tahun, terutama di dunia Teknologi Informasi yang tentu belakangan ini sedang wah-wah nya bagi anak muda. Dengan cepatnya perkembangan teknologi, tentu ada pengaruh ke minat dari calon mahasiswa untuk mendaftar ke jurusan yang berorientasi ke dunia IT, misalnya saja Teknik Informatika atau Sistem Informasi. Selain itu pihak perguruan tinggi juga mulai jor-joran melakukan promosi dan marketing untuk jurusan ini. Perguruan tinggi yang sebelumnya tidak memiliki jurusan ini atau expertise di bidang ini pun tidak sungkan untuk membuka jurusan baru berbasis IT, bahkan perguruan tinggi baru mulai bermunculan dengan IT sebagai fokus mereka.

Tentu perguruan tinggi tidak bisa disalahkan, apalagi kita kembali ke dalam ranah pemasaran atau marketing, di mana bila ada permintaan maka ada penawaran. Bila memang ada trend baru di dunia, kenapa tidak dimanfaatkan. Semua kembali kepada pilihan masing-masing orang, apakah memang akan termakan kepada penawaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi atau tidak.

Masalahnya, tidak semua orang paham bahwa dunia IT tidak sekedar berkutat di masalah utak-atik perangkat lunak atau software, atau utak-atik di perangkat keras. Saya pernah, bahkan sering mendengar bahwa mahasiswa-mahasiswa baru memiliki motivasi di dunia IT karena sebelumnya mereka tertarik ke dunia hiburannya alias video game. Sebagian lain tertarik karena dunia IT pada akhirnya berhasil menelurkan puluhan orang yang menembus daftar billionaire terkaya di dunia.

Mindset seperti itulah yang memiliki kecenderungan menjerumuskan calon mahasiswa ini sehingga akhirnya setelah lulus mereka tidak memiliki tujuan yang jelas, bahkan kehilangan minat di dunia ini sama sekali setelah merasakan kejamnya dunia IT. Bahkan beberapa di antaranya mengambil karir yang jauh berbeda dengan jurusan yang dienyam selama menjadi mahasiswa, tapi paling tidak mereka masih mendapatkan pekerjaan.

Kembali kepada bidang yang saya tekuni, bahwa sebagian besar mahasiswa IT yang pada akhirnya masuk ke jalur yang tepat, menekuni pekerjaan sebagai programmer. Sebenarnya menjadi programmer tidak harus melalui proses pendidikan di perguruan tinggi terlebih dahulu, apalagi dengan mudahnya akses untuk belajar programming saat ini. Banyak materi yang disajikan di internet sehingga seorang yang belum lulus SMA pun sudah bisa menjadi programmer, toh tujuan programmer hanya mengetikkan kode dan menjalankannya menjadi sebuah aplikasi atau program saja. Yang mereka tidak sadari, untuk bersaing di dunia ini, bukan hanya sekedar bisa mengetik dengan cepat dan menghindari kesalahan sebanyak mungkin, tetapi juga bagaimana merancang dan mengevaluasi seluruh sistem yang ada.

Pada kenyataannya, saya belum banyak melihat kemampuan ini dimiliki oleh fresh graduate dari jurusan IT. Beberapa orang akan beralasan bahwa kemampuan ini akan didapatkan seiring dengan pengalaman yang didapatkan pada saat bekerja. Lalu, apakah mereka harus disalahkan karena mereka tidak mulai bekeja dulu saat mereka kuliah? Dan apakah saya sendiri memiliki keuntungan karena sudah lebih dahulu kerja sambil kuliah? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Seperti yang saya katakan, bahwa saat ini sangat mudah mengakses materi-materi pembelajaran melalui internet, dan itu tidak sebatas pada programming saja, tetapi juga konsep-konsep dan desain yang dapat diimplementasikan di dunia nyata. Bahkan berbagai proyek open-source dapat diakses dengan mudah setiap orang yang ingin belajar bisa membuka dan mempelajari aplikasi yang sudah dibuat dan digunakan secara luas. Tapi apakah ini cukup untuk menggugah para mahasiswa untuk belajar lebih banyak semasa kuliah? Belum tentu.

Di satu sisi, dengan tidak banyaknya orang yang berpikir lebih jauh ke dalam IT, terutama dengan posisi programmer atau software engineer, saya pribadi mendapatkan posisi yang cukup diuntungkan karena tentu saja persaingan menjadi berkurang. Tetapi di sisi lain, keadaan ini akan menyulitkan saya karena sebagian besar pekerjaan harus saya handle sendiri.

Mindset yang Benar dan Salah dalam Gaji

Terlepas dari apakah setiap orang memiliki skill dan pengalaman yang cukup untuk masuk ke dunia kerja, terdapat satu lagi masalah yang dimiliki oleh fresh graduate, yaitu mindset atau cara pikir atas pekerjaan yang akan dihadapi di dunia nyata. Dan tentu bila kita bicara mindset, sebenarnya kembali lagi ke pengalaman individual mengingat mindset dapat dibentuk seiring dengan waktu. Tentu keterbentukan mindset ini bisa benar dan juga bisa mengarah ke jalan yang salah. Bagi saya, belakangan mindset yang salah lebih banyak dikembangkan pada anak-anak fresh graduate, tanpa bermaksud men-generalisir karena tentu masih ada fresh graduate yang memiliki mindset yang benar. Selain itu, benar dan salah adalah masalah etika sehingga yang benar bagi saya, belum tentu benar bagi Anda, jadi semua relatif, tetapi di sini saya akan mencoba menumpahkan pemikiran saya pribadi.

Kebetulan saya sempat berbincang-bincang dengan seseorang yang merupakan salah satu petinggi sebuah perusahaan, dan perbincangan seputar dunia kerja dan pekerjanya. Beliau cukup antusias untuk menceritakan pengalamannya dalam merekrut para lulusan perguruan tinggi, dan kebanyakan yang diceritakan adalah lulusan-lulusan baru yang memiliki mindset yang menurutnya dan menurut saya pribadi salah.

Saat ini ada kecenderungan bahwa para lulusan akan mematok harga tinggi untuk gaji mereka, tentu hal ini sangat logis. Siapa yang tidak mau mendapatkan gaji tinggi, apalagi di Jakarta yang memiliki biaya hidup yang tinggi serta gaya hidup yang tidak terbatas dan terus berkembang? Tetapi logika ini akan segera dipatahkan ketika gaji ini dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Seperti yang saya katakan di atas bahwa sebagian besar fresh graduate tidak memiliki pengalaman kerja maupun skill yang cukup untuk mendapatkan gaji yang diharapkan. Beberapa dari fresh graduate sempat cerita ke saya bahwa mereka sengaja mematok gaji yang tinggi supaya bilapun ditawar, maka harganya akan turun sedikit.

Sebagai perbandingan bahwa saat ini (2014), gaji standar untuk seorang fresh graduate yang belum berpengalaman di dunia IT adalah sekitar 2,7 juta sampai dengan 3 juta rupiah, beberapa sudah termasuk uang makan dan transport, sedangkan beberapa perusahaan lainnya mematok gaji tersebut sebagai gaji bersih, sehingga nilai tertinggi yang syukur-syukur bisa didapatkan oleh seorang fresh graduate yang belum memiliki pengalaman apapun adalah 3,5 juta rupiah. Bila perusahaan yang Anda lamar cukup sukses dan memiliki title multinasional, mungkin bisa mendapatkan 4 sampai 5 juta rupiah sebagai fresh graduate, tetapi tentunya ekspektasi dan seleksi yang dilakukan akan lebih ketat. Siapapun tidak akan membayar seseorang dengan harga yang tinggi yang tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pihak perusahaan.

Anehnya, beberapa orang masih menganggap bahwa nilai 5 juta rupiah per bulan masih sangat kecil untuk ukuran mereka. Ada beberapa kemungkinan mereka memiliki pemikiran seperti itu. Pertama, beberapa orang membandingkan gaji di Indonesia dengan gaji di luar negeri, khususnya negara maju. Tanpa logika yang baik, konversi langsung gaji standar pekerja di Amerika Serikat yang sebesar 5 digit dolar per tahun, asumsikan saja $12.000 per tahun, maka ketika dikonversikan ke rupiah akan menjadi Rp 10.000.000 per bulan.

Kedua, karena mereka merupakan perantauan sehingga biaya hidup mereka akan bertambah. Sebagian mahasiswa yang berasal dari daerah umumnya akan tinggal di indekos sekitar kampus mereka agar kampus lebih mudah diakses, dan belakangan harga indekos tidak lagi murah. Kamar kos dengan fasilitas AC umumnya dipatok sebesar 1,2 juta per bulan saat ini. Bila dengan kamar mandi dalam, tidak menutup kemungkinan bisa mencapai harga 1,5 juta per bulan. Selain itu, beberapa mahasiswa yang saya temukan memiliki kecenderungan sudah cukup nyaman dengan kamar kos yang ditempati selama 3 tahun perkuliahan, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk keluar. Tentu saja hal ini berimplikasi ke biaya transportasi untuk ke tempat kerja. Dengan perhitungan bahwa setiap kali pergi / pulang kerja menggunakan 2 kali angkutan umum dengan biaya Rp 3.000 per perjalanan, maka dalam sehari harus menghabiskan Rp 12.000, atau Rp 240.000 sebulan (20 hari kerja).

Tidak lupa juga dengan uang makan sebesar Rp 10.000 untuk sekali makan, sehingga dalam satu bulan akan menjadi Rp 900.000 bila makan 3 kali sehari. Dengan hitungan ini, ditambah minimal biaya lainnya Rp 1 juta untuk cadangan, maka biaya yang diperlukan untuk satu bulan minimal sekitar Rp 3.340.000, angka yang cukup fantastis hanya untuk bertahan hidup di Jakarta dengan 4 komponen tersebut sebagai seorang perantauan, . Tentu saja hal ini menjadi pertimbangan bagi para pekerja untuk mematok gaji tinggi, dan juga bagi perusahaan untuk merekrut karyawan yang memiliki domisili yang dekat serta memang tinggal di Jakarta sejak awal. Jadi bagi perusahaan jangan berharap untuk mendapatkan pekerja dengan range gaji di bawah Rp 3.500.000 bagi anak-anak daerah yang memiliki standar hidup yang cukup tinggi tersebut. Dan, saya akui mindset ini cukup logis dan benar, walau kembali lagi ke masing-masing orang apakah akan berusaha lebih untuk mendapatkan lebih atau tidak.

Ketiga, adalah keinginan untuk bisa menabung lebih banyak sejak awal, dan pada akhirnya melakukan pengeluaran lebih sejak awal. Saya tidak dapat membantah bahwa budaya konsumtif sudah cukup mengakar kuat di Indonesia, apalagi di Jakarta. Setiap orang ingin memiliki perangkat gadget yang terbaru dan terbaik, bisa menikmati makanan yang terbaik dan termahal, serta menikmati hidup dengan hiburan yang terbaik pula, tapi tanpa usaha yang keras dan tidak tahan banting.

Keempat, mungkin ini cukup tidak masuk akal bila ada orang yang mengatakan hal ini, tetapi kenyataannya memang ada. Beberapa orang masih menganggap bahwa kerja hanyalah opsional bagi mereka, mengingat mereka dari kalangan yang berada. Tanpa bekerja pun, mereka bisa mendapat penghasilan dari orang tua atau perusahaan yang dijalankan oleh orang tua mereka. Untuk dapat bekerja, mereka ingin agar penghasilan yang didapat dari bekerja lebih tinggi dari penghasilan yang didapatkan dari orang tua mereka. Bila alasannya seperti ini, maka hanya masalah waktu saja mereka menjumpai masalah di masa depan mereka.

Pemanjaan Mental

Seluruh masalah tersebut berakar dari mental masing-masing orang. Akses teknologi yang mudah saat ini, membuat orang makin merasa hidup lebih mudah dan nyaman, serta beberapa hal dapat dilakukan dengan instan. Sayangnya, bagi beberapa orang, sukses mungkin juga bisa didapatkan dengan instan tanpa pengorbanan. Beberapa fresh graduate yang saya kenal, dengan mudah keluar dari perusahaan tempatnya bekerja hanya karena tidak tahan dengan beban training yang dilaksanakan oleh perusahaan tersebut, padahal perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan yang terkenal di Indonesia. Yup, bahkan belum melewati training sudah menyerah di tengah jalan. Lalu kenapa sejak awal orang ini tidak dihentikan saat rekruitmen?

Sebenarnya perusahaan memiliki cara untuk menangkal orang-orang seperti ini yang dinamakan psikotest. Test ini merupakan cara yang digunakan untuk melihat potensi seseorang, serta sifat seseorang dalam hal profesionalisme, misalnya team work atau kemampuan menghadapi masalah, fokus terhadap pekerjaan dan berpikir dengan cepat. Dengan test-test seperti ini, walau tidak 100% dapat menyaring orang-orang yang kurang cocok, akan tetapi umumnya dapat mengurangi kemungkinan perusahaan merekrut orang-orang yang salah dan berpotensi merusak. Walau demikian, trik-trik untuk menghadapi test ini sudah mulai banyak beredar di internet dan sangat mudah untuk dicari, sehingga hasil test saat ini belum tentu murni menunjukkan perilaku seseorang dalam bekerja. Dalam kasus orang yang saya ceritakan sebelumnya, orang tersebut memiliki channel berupa kerabat dekat sehingga rekrutmen dapat dilewati dengan mudah.

Bila test yang sudah menjadi standar ini saja tidak reliable, bagaimana lagi cara untuk menyaring dan melihat potensi karyawan? Sebagian besar perusahaan akan melakukan probation period, atau dengan kata lain masa uji coba, yang umumnya berlangsung selama 3 bulan sampai 6 bulan. Selama masa ini, karyawan mendapatkan gaji yang lebih kecil dari yang dijanjikan, dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu bila perusahaan tidak puas, dan ada kemungkinan pihak pekerja juga dapat mengajukan penghentian. Umumnya pada masa ini beban kerja yang diberikan akan sama dengan beban kerja umum untuk melihat skill dan kemampuan pekerja tersebut dalam menghadapi tekanan pekerjaan.

Lalu bila probation period masih tidak cukup, pihak perusahaan juga dapat mengajukan kontrak kerja yang umumnya berlaku 1 atau 2 tahun (dengan undang-undang ketenagakerjaan Indonesia maksimal 3 tahun), sehingga perusahaan dapat memberhentikan pekerjanya bila performa tidak mencukupi dan pekerja juga dapat mundur setelah masa kontrak selesai.

Permasalahan seperti ini sebenarnya sudah cukup familiar bagi saya sendiri, mengingat bila membaca dari post-post sebelum ini (dalam Bahasa Inggris), saya menceritakan bahwa adanya anggota tim yang menghilang tanpa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dan dapat dipastikan sangat sulit mencari pekerja-pekerja yang loyal dan tidak berorientasi kepada gaji besar semata.

Tips dan Trik

Di bagian ini, saya memberikan tips dan trik untuk menjadi sukses dari berbagai perspektif, termasuk dari pengalaman saya selama ini. Tentu saja kesuksesan relatif bagi setiap orang, silahkan Anda nilai sendiri target sukses Anda seperti apa, karena sampai saat ini pun saya masih berusaha untuk sukses. :)

  • Jangan bekerja dengan orientasi gaji semata, akan tetapi orientasi kepada pengalaman dan skill. Dengan pengalaman dan skill yang cukup, otomatis gaji akan disesuaikan dengan sendirinya.
  • Jangan menutup diri kepada proses pembelajaran. Bagi sebagian orang, belajar sudah usai setelah tidak lagi di bangku perkuliahan, akan tetapi di kehidupan nyata, pembelajaran dilakukan terus menerus sepanjang hidup. Ketika Anda berhenti belajar, maka saat itulah Anda berhenti untuk berkembang.
  • Jangan takut untuk membantu orang lain. Apalagi bila bantuan yang diminta bukan sesuatu yang benar-benar kita kuasai, karena justru dari sana kita dapat belajar lebih untuk menguasai sesuatu yang belum pernah kita lakukan.
  • Percaya atas usaha Anda. Tidak ada orang yang secara instan dari orang kecil menjadi sukses atau miliuner seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg. Selalu percaya bahwa sekecil dan seberat apapun usaha Anda tidak akan sia-sia dan memiliki hasil di masa depan.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dengan pengalaman yang cukup banyak di dunia IT, pekerjaan datang dengan cukup mudah kepada saya. Tahun lalu ketika saya memasang profile di LinkedIn, bisa dikatakan bahwa hampir setiap minggu saya mendapatkan tawaran kerja dengan berbagai posisi di dunia IT. Selain itu tawaran kerja juga datang dari beberapa kenalan dengan posisi yang cukup menggiurkan, salah satunya CIO dalam perusahaan. Akan tetapi mengingat saya selalu ingin mencoba sesuatu yang baru dan tidak pernah ingin terikat, maka seluruh tawaran tersebut tidak saya ambil sampai saat ini.

Kesimpulan

Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan generasi di bawah saya, saya menulis tulisan ini untuk membagi pemikiran saya atas apa yang saya alami selama ini. Seperti yang saya katakan, kesuksesan dan definisi sukses ini kembali ke pribadi masing-masing orang, begitu pula dengan cara mencapai kesuksesan tersebut, atau mundur dari kesuksesan. Hanya saja fenomena yang terjadi belakangan membuat saya tertarik untuk menuliskan mengenai lemahnya daya saing fresh graduate saat ini.

Pada akhirnya, semoga saja pendapat saya ini merupakan pendapat atau opini yang salah dan dapat dipatahkan dengan pembuktian di dunia kerja. :)

4 Responses to “Problematic Employment (De)Generation”

  1. #505285 unknown
    October 11th, 2014 at 20:29

    Ente jadi CIO ? jadi programmer aja gak bener bro gimana mau jadi CIO.. atitude lu tuh perbaiki bro. jangan cuma menulis apa yang lu impikan…AHAHAHAHAHAHA

    • Wih, lama ga liat nih blog, ternyata ada yang comment. Hahahaha… Yup, makanya sampai sekarang saya masih belajar jadi programmer yang benar, tolong ajarin donk cara jadi programmer yang benar. Mungkin situ bisa memberikan contoh attitude yang baik juga seperti apa, bisa jadi coba berkaca dulu sendiri dimulai dari diri Anda dengan menjadi komentator yang baik, belajar memberikan comment dengan identitas yang benar. :) Lagipula, koq situ bisa tahu attitude saya baik atau ga ya? Jangan-jangan kita saling mengenal tapi ga berani saling berbicara di dunia nyata nih? Cheers.

  2. hotels near downtown vancouver bc

    Problematic Employment (De)Generation | General | Etersoul Journey

  3. http://www.bsarch.org

    Problematic Employment (De)Generation | General | Etersoul Journey

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: