Archive for the ‘Environment’ Category

Earth Hour, Earth Hour? Apaan sih?

Eyah, satu minggu ini message yang sama berseliweran di YM ku tanpa bisa dikendalikan. Bukan cuma karena copy paste atau broadcast ke semua orang aja, tapi kadang juga pertanyaan yang secara ga langsung menanyakan sesuatu yang bernama Earth Hour. Ini salah satu message nya.

Earth Hour meminta anda untuk mematikan lampu anda, minimal satu saja, yang biasa anda biarkan menyala pada malam hari selama 60 menit pada tanggal 28 Maret 2009 pukul 20.30 untuk “bersatu-padu” untuk sejenak “mendinginkan” bumi dari serangan pemanasan global. karna dengan selama satu jam saja di setiap rumah tangga dapat ikut menyelamatkan bumi dari pemanasan global by: Earth Hour dipelopori pertama kali oleh WWF Australia…

Lucu yah, sesuatu yang kaya gini bisa rame-rame dibahas ampe orang bertanya sana sini seakan-akan mau mastiin kalau setiap orang ikut juga acara kaya ginian. Bukannya gue skeptis ama masalah kaya ginian ato ga peduli sama sekali, tapi gimana yah, kesannya kaya ginian percuma doank dilakuin juga. Kenapa ampe kepikiran gitu? Pertama, mank nya kalau lampu rumah sekalipun berjuta-juta jumlahnya, di semua rumah penduduk indonesia matiin satu biji per rumah, PLN juga bakal ngebakar batu bara dan minyak lebih dikit yah? Kedua, mank 1 jam itu ngefeknya seberapa dalam sih bagi bumi, padahal kalau di hari lain orang-orang sibuk ninggalin TV nyala seharian walau ga ditonton, lampu WC dinyalain walau ga dipake, komputer nyala cuma karena males nyala matiin karena booting lama ato lagi download sesuatu? Ketiga, seberapa banyak sih orang yang memang ikutan matiin lampu setelah dapat message itu? Keempat, kalo tuh ada orang itu matiin satu lampu, tapi di saat bersaman nyalain kulkas ato AC yang makan listrik 4 kali lebih banyak daripada lampu yang dimatiin, percuma ga tuh?

Bagi anggota WWF atau yang mengaku mencintai lingkungan, silahkan lanjutkan kampanye Anda, gue dukung 100%. Tulisan gue ini bukan meminta orang ga ikutan kampanye Anda semua (seakan-akan minta orang-orang ngikut golput kalau ini udah mau Pemilu), cuma mau ngingetin aja yang ikutan kaya ginian supaya ga mikir se-simple “gue udah ikut nyelamatin bumi selama 1 jam dengan hemat listrik 1 lampu, taon depan ikut lagi, tapi sebelumnya dan sesudahnya gue nyalain 100 lampu deh”. Paling ga kalau tinggal di Indonesia, ada satu perusahaan yang peduli dengan lingkungan yakni PLN, mematikan lampu dan elektronik satu kompleks atau kecamatan sekaligus selama 5 jam lebih berkali-kali dalam satu bulan, jauh lebih dahsyat daripada 1 rumah matiin 1 lampu selama 1 jam per tahun. Jadi bersyukurlah tinggal di Indonesia, karena ada perusahaan macam gitu dan ada kampanye macam ginian. :D

Bagi yang nanya gue bakal ikutan ga, jawaban gue “mungkin” karena gue ga tau apakah gue yakin gue bisa bertahan kalau gelap-gelapan di kamar gue sambil mainin laptop gara-gara matiin lampu kamar selama 1 jam. Palingan juga mata gue picek dikit. Ga apa-apa lah, ngompres bumi bentar walau cuma 0,00000001 °C atau 10-20 °C.

Intisarinya? Matiin satu lampu selama satu jam setaun sekali percuma. Mending ga usah ikut kaya ginian daripada jadi munafikis lingkungan hidup (istilah baru untuk orang-orang munafik yang ngakunya nyelamatin bumi dari global warming, padahal jadi satu biang penyebab global warming itu sendiri, termasuk orang kaya gue sih :p Kalau kamu? :D ). Lebih baik berhemat listrik dan melakukan sesuatu yang bener-bener lebih berarti bagi bumi tercinta ini.

Update (31/3/2009): Baca komentar di bawah untuk mengetahui makna yang tersirat dari tulisan ini. Terutama kalau Anda merasa yakin bahwa mematikan lampu selama 1 jam akan mengubah dunia dan juga kalau Anda merasa bahwa Anda dikatai munafik oleh saya karena mematikan lampu pada saat Earth Hour. Dan tentu, bila Anda merasa seperti itu. :) Also you can leave your comment if you think there is something better that we can do for the Earth and humanity rather than just turn off the light and electricity for 1 hour every year. I appreciate for every comment and for every real effort you shown that you are really care for Earth. Thanks.

This entry was last modified on: March 31st, 2009 at 15:24

What season is this?

Huh? Sekarang musim apa sih? Bukannya harusnya musim kemarau yah? Lalu kenapa sekarang masih hujan?

Sepertinya musim di bumi ini sudah mulai kacau karena apa yang disebut sebagai pemanasan global. Perubahan iklim di dunia membuat cuaca makin ga menentu arahnya. Bila hari ini panas menyengat, bisa saja besok malah turun hujan deras. Tidak perlu hitungan hari, terkadang dalam hitungan jam saja perubahan cuaca bisa menjadi signifikan.

Jakarta juga tampaknya tidak terbebas dari gejala aneh ini. Kemarin saja panas terik dengan sinar matahari yang begitu terang. Tiba-tiba saja hari ini kembali turun hujan yang ga berhenti-berhenti sejak 1 jam lalu.

Lagipula belakangan ini menurut laporan yang saya baca di Kompas, suhu bumi sedikit turun karena gejala La Nina (kalau ga salah sekitar 0,2°C). Tapi penurunan ini hanya bersifat sementara. Bila gejala La Nina telah selesai, maka otomatis suhu bumi akan kembali naik sebagai akibat dari pemanasan global.

Kapan yah jadi benar-benar kemarau lagi? Rasanya ga enak kalau cuacanya ganti-ganti secara cepat kaya gini terus tiap hari. Sebentar panas, sebentar hujan. Hhhh…

This entry was last modified on: April 26th, 2008 at 1:48

Mispersepsi dalam global warming (efek rumah kaca)

Kalau ga salah ingat, bukannya harusnya sekarang musim hujan ya? Kok kayanya malah panas banget. Hiy… Ada apa dengan cuaca yang aneh ini? Masih teringat dengan jelas kalau tahun lalu, ketika saya sedang menjalani ujian akhir semester pertama, saya harus berjuang untuk mencapai kampus karena banjir besar di Jakarta. Sedangkan mulai minggu depan, saya harus menjalani ujian akhir semester ketiga. Semoga aja ga seperti tahun lalu lagi keadaannya.

Tapi tetap aja, kenapa di musim hujan yang seharusnya lebih sering hujan malah lebih sering panas terik? Tampaknya jawabannya berhubungan dengan sebuah hal yang terkenal saat ini: global warming yang menyebabkan perubahan iklim bumi.

Sebagian besar orang pasti sudah mengetahui mengenai global warming, karena sekarang ini kata itu sudah diajarkan mungkin sejak SD bahkan TK. Cukup banyak sebenarnya istilah yang berhubungan dengan global warming, cuma ada beberapa istilah yang kadang belum benar-benar dimengerti oleh orang. Salah satu istilah yang paling terkenal karena mispersepsi itu adalah “Efek Rumah Kaca”.

Sampai saat ini, masih banyak yang salah dalam mengartikan efek rumah kaca. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya baru mengetahui bahwa masih ada saja anak SMA bahkan mahasiswa yang belum mengetahui arti sebenarnya. Banyak yang akan mengartikan kalimat “global warming disebabkan oleh efek rumah kaca” sebagai “membangun rumah kaca dapat membuat global warming”. Jadi apa arti sebenarnya dari efek rumah kaca?

Secara singkat, efek rumah kaca adalah efek atau fenomena di mana panas / radiasi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi, seperti layaknya rumah kaca yang juga memerangkap panas dari cahaya matahari untuk menghidupi tanaman di dalamnya. Jadi intinya, efek rumah kaca adalah suatu efek atau fenomena, bukan benda.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai hal-hal yang menyebabkan global warming, anda dapat melihat dari blog teman saya di http://herwin.wordpress.com/global-warming/

This entry was last modified on: January 18th, 2008 at 23:25

Hell on Earth

Pernah melihat neraka di dunia? Kalau anda tinggal di Jakarta, maka itu kemungkinan yang akan anda lihat setiap hari. Neraka yang disebut dengan kemacetan itu sekarang ada hampir di setiap sudut jalan raya di ibukota yang kita cintai ini. Belakangan ini neraka itu semakin meluas karena pembangunan sebuah jalur surga yang disebut busway. Pembangunan jalur surga itu membuat warga Jakarta semakin menggila dan mengganas dari waktu ke waktu. Asap pun mengepul di mana-mana dengan motor-motor yang berseliweran di trotoar sehingga pejalan kaki pun harus mengeluarkan bahasa rohnya. Bahkan bukan cuma pejalan kaki, tapi jugapara supir.

Sebenarnya bukan cuma di tempat yang terdapat pembangunan jalur busway aja yang macet setengah mati. Di jalur yang ga terokupasi dengan pembangunan jalur busway juga ngalamin hal yang sama. Saya yang kuliah di Binus juga harus mengalami dan mendalami makna kemacetan itu.

Berangkat dari depan Trisakti dengan menggunakan Metromini B91, sampai di depan Mall Taman Anggrek (TA) harus melihat rumitnya sistem transportasi dengan kemacetan yang cukup parah. Setelah terlepas dari TA, bus pun masuk ke Tanjung Duren yang cuma terdiri dari satu jalur untuk tiap arah. Di sini pun adrenalin kadang terpacu kalau ketemu ama supir 91 yang nekat nerobos dari arah berlawanan. Setelah terbebas dari jalan satu jalur, bus pun melaju ke jalan 2 jalur satu arah. Sampai di depan pasar Kopro harus macet-macet ria lagi. Setelah lewat itu, masih harus terancam dioper ke 91 yang lain yang harus disertai dengan kejar-mengejar bus yang lain karena kadang bisa aja ditinggal pergi begitu aja.

Sudah dioper masih harus macet-macet di “jembatan maut” yang melintasi tol Jakarta – Merak. Kadang di daerah ini jadi daerah yang paling parah dan harus menghisap paling banyak asap dibanding tempat lainnya. Setelah bebas dari jembatan, masih harus macet-macetan lagi di 2 titik terakhir sebelum akhirnya sampai di Binus dengan selamat sentosa.

Yah, neraka akan makin meluas di Jakarta walaupun jalur surga sudah dibangun. >_< Anyway napa sih yang pake kendaraan pribadi makin banyak aja? Saya sendiri aja jadi ga punya niat buat ngendarain mobil gara-gara keadaan Jakarta kaya gini. Tapi masih ada aja yang bela-belain berjalan 1 jam hanya untuk 5 KM aja. Weeew… Kapan neraka aspal di Jakarta bakal menghilang, atau paling ga berkurang. Hiks.

Save the earth

Yuhuu… Bumi kita sudah semakin tua. Dan belakangan ini semakin cepat tua lagi karena emisi CO2 yang berlebihan dari para makhluk yang menghuninya. So, apa yang membuat emisi CO2 itu semakin bertambah tiap harinya? Trus apa yang bisa kita lakukan?

(more…)

This entry was last modified on: August 10th, 2007 at 13:21