Archive for the ‘Society’ Category

Hal-hal yang Saya Benci dari Kendaraan Umum (B91 Khususnya)

Sebagai pengguna kendaraan umum dalam keseharianku, banyak hal unik yang sudah aku temui di sini. Mulai dari sisi gelapnya, sampai sisi yang bisa membuat tertawa, yah tertawa ironis. Jujur aja sih, aku mulai menjadi pengguna kendaraan umum sejak 3 tahun yang lalu, tepatnya sejak mulai kuliah. Selama sekolah di TK, SD, SMP sampai SMA, istilah bagi sebagian orang adalah “ngesot sedikit juga udah nyampe ke sekolah”, jadi ga perlu lagi naik kendaraan umum semasa itu. Ditambah pula di jaman itu ke mana-mana lebih sering nebeng mobil teman, diantar atau naik kendaraan umum yang ga bersifat masal seperti bajaj atau taksi.

Sekali memasuki kehidupan sebagai mahasiswa, terpaan siksa naik kendaraan umum (Metromini B91) pun mulai menerjang deras bagaikan badai. Awalnya sih ngerasa aneh aja, tapi makin lama makin terbiasa dan cenderung udah kebal dan hafal dengan sifat-sifat para supir kendaraan umum dan medan yang terdapat selama di jalan. Berikut ini adalah beberapa hal yang paling aku benci dari kendaraan umum.

Berhenti seenak jidat

Yap, ini identik dengan kendaraan umum apapun, mulai dari mikrolet, Kopaja, Metromini sampai ke bus-bus besar. Mungkin kalau ngetem atau berhenti hanya untuk menaikkan penumpang yang sudah tersedia masih bisa dimaklumi. Tapi kebanyakan supir berhenti sembarangan sambil menunggu penumpang mengisi bangku kosong di kendaraan mereka. Berhenti tengah jalan? Ga masalah, yang penting penumpang penuh. Makin serakah supir dan keneknya, makin lama pula bus nya diparkir di tengah-tengah. Kalau diklakson oleh kendaraan di belakangnya, klakson dari mulut sang supir dan kenek jauh lebih nyaring lagi.

Belum lagi ditambah dengan kelakuan konyol para supir dan kenek yang terkadang berhenti ketika berpapasan di tengah jalan dengan “teman sejawatnya”. Mereka bertukar informasi, tertawa, membahas hutang mereka yang bertumpuk, tertawa, ngomongin ini itu anu inu, tertawa, lalu diskusi kalau orang-orang di belakang bus mereka yang memberi klakson berisik sembari mengumpat, tertawa, lalu jalan lagi. Ah, indahnya jalanan di ibukota bila semua supir yang berpapasan selalu seperti ini. Jakarta menjadi kota yang statis alias tidak bergerak dan ceria karena sang supir dan kenek tertawa indah, di kala kendaraan di belakang mereka mukanya nekuk.

Oper sana oper sini

Kelakuan sopir seperti ini yang paling bikin jengkel. Sudah mengambil duit para penumpangnya, lantas penumpangnya diturunkan di tengah jalan seperti sampah yang harus dibuang. Lalu apa yang dilakukan supirnya? Mencari “sampah” lain yang bisa menghasilkan uang dan lalu membuangnya lagi di tengah jalan, ini looping forever sampai si supir merasa udah untuk makan sehari-hari atau ketika sudah harus gantian nyetir dengan supir lain setelah 3 rit. What on earth is the meaning of “rit”? Setauku itu semacam istilah yang sama dengan “lap” kalau di balapan. Yah, maksudnya putaran.

Kalau mengopernya dalam jarak dekat dan penumpangnya sedikit mungkin masih sedikit masuk akal (walau tetap ga bisa ditolerir karena penumpang sudah membayar). Tapi terkadang penumpang diminta untuk mengejar bus di depan yang jauhnya minta ampun kalau sedang macet total. Setelah naik bus tersebut, kenek pun minta bayaran lagi dengan alasan, “ga ada permintaan dari kenek yang ngoper sebelumnya”. Sudah penumpangnya lelah harus mengejar bus di depan, malah ditambah harus ngeluarin ongkos lagi. Belum lagi karena penumpangnya banyak yang dioper, dan bus yang jadi sasarannya pun sedang penuh, alhasil jadi pepes manusia di dalam bus itu.

Aturan dibuat untuk dihilangkan

Aku ingat jelas bahwa dulu sempat ada peraturan yang tertulis di secarik kertas yang ditempel di pintu-pintu bus B91. Isinya adalah bahwa setiap bus harus masuk ke terminal Tanah Abang dari jam sekian sampai jam sekian, lalu harus masuk ke daerah Batusari dari jam sekian sampai jam sekian. Alhasil dengan adanya aturan ini rasio pengoperan penumpang dibanding sampai ke tujuan hanya dengan satu bus pun langsung menjadi sangat berbeda jauh. Ini mungkin menjadi saat-saat terbaik dan mengharukan bagi sebagian penumpang… untuk sementara. Satu atau dua bulan kemudian kertas itu hilang, dan penumpang pun jadi korban penzholiman dari para supir dan kenek.

Masih teringat juga tidak sampai satu bulan yang lalu, terdapat tempelan baru di bus-bus. Isinya bahwa supir yang mengoper penumpang harus membayar penuh kepada supir yang dioper atau dikenai denda 3 kali jumlah penumpang yang dioper. Ada lagi aturan bahwa supir dilarang mendahului dari jalur yang berlawanan dan bila dilanggar akan dikenai sanksi tidak boleh narik dalam 3 hari. Dan di situ tertulis bahwa “hal ini diberlakukan karena adanya pengaduan dari penumpang”. Tiga hari setelah aku pertama kali melihat pengumuman itu, sekelompok supir berkumpul dalam satu bus yang aku tumpangi dan duduk di depan. Mereka membahas bahwa “harusnya pemilik tidak boleh seenaknya menerapkan aturan seperti itu. Kalau ga boleh dahuluin kendaraan lain seperti itu, gimana mereka bisa narik.” Bahkan sesama supir saling mengingatkan supaya ga usah ikut aturan itu karena “ga akan maju”. Satu minggu kemudian, kertas itu bersih dan keadaan kembali menjadi “normal” seperti biasa.

Intinya? Supir dan kenek nomor satu, pemiliki bus nomor dua, penumpang ga memiliki nomor tapi memiliki duit untuk si nomor satu. Right.

Penumpang ga tau diri

Bukan cuma supir aja yang membuat kesal, kadang bahkan penumpangnya sendiri membuat kesal. Mulai dari merokok seenaknya, sampai penumpang gratisan yang justru minta bayaran kepada penumpang lainnya, a.k.a pengamen. Khusus untuk pengamen ini, ada beberapa kesan yang muncul ketika aku melihatnya. Pertama adalah salut, kalau mereka benar-benar niat jadi pengamen dan terlihat mengamen untuk menghibur penumpang, bukan mengutamakan mendapat uang dari penumpangnya sembari menumpang gratisan. Biasanya aku akan memberi apresiasi kepada pengamen tipe seperti ini.

Kedua adalah pengamen yang nyanyinya ga jelas, maksa, bahkan terkadang membacakan sajak bahwa “lebih baik mereka memintanya secara baik-baik daripada merampok, mencuri dan merampas, karena uang seribu tidak akan membuat Anda jatuh miskin.”

Yang jelas ada satu pengamen (peminta-minta) tepatnya yang populer di kalangan penumpang B91: seorang anak kecil yang memberi amplop dengan paksa kepada penumpangnya, lalu berteriak-teriak ga jelas, lalu mengambil lagi amplopnya. Bila ada penumpang yang baru naik, langsung si anak itu menghampiri penumpang dan memberi penumpang itu amplop. Bila ditolak, si anak akan berteriak “ambil!!!”. Beberapa waktu yang lalu seorang bapak sempat memukul anak itu karena dipaksa mengambil amplop itu, alhasil si anak itu pun ga berani berdiri di depan bapak itu sampai si bapak turun, dan sempat terjadi perang kata-kata setelah si bapak turun dengan si anak dengan melontarkan “anjing-anjing”. Dunia memang aneh.

Bus tak layak pakai

Seringkali kalau naik kendaraan umum, yang ditemukan adalah kaca yang sudah pecah (bahkan ga ada kaca sama sekali), bangku yang bergoyang karena besi yang ada sudah patah, langit-langit bus yang terkoyak-koyak, asap hitam yang keluar dari knalpot dan juga tak ada lampu. Dengan keadaan bus yang tidak layak seperti ini, sungguh hebat para penumpang bisa selamat sampai di tujuan ditambah juga supirnya masih bisa narik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa supir-supir bus Mentromini adalah manusia-manusia yang ajaib. Dengan keadaan seperti ini, ditambah lagi kelakuan yang ugal-ugalan, sangat jarang ditemui kejadian fatal yang menimpa penumpang. Mungkin angkanya kurang dari 1% dari jumlah penumpang yang mengalami kecelakaan. Yang pasti bila Anda duduk dengan tenang dan menikmati keadaan bus yang sedang melaju kencang (bayangkan saja berada dalam simulasi games Need for Speed: Underground), Anda akan selamat sampai di tujuan. Kemungkinan Anda kenapa-kenapa akan lebih tinggi ketika Anda mulai berdiri dan beranjak dari tempat duduk Anda untuk turun dari bus.

Oke, kembali ke topik. Memang ada beberapa bus yang terlihat baru dan terlihat lebih “muda” dibanding bus-bus lainnya, tetapi jumlah ini sangatlah terbanting dibanding dengan bus yang ga layak pakai. Coba saja Anda hitung, berapa kali dalam seminggu Anda mendapat bus yang kacanya ga pecah, catnya masih mulus, besi-besi pegangan masih rapi dan ga berkarat dan lampu di dalam bus masih lengkap (walaupun penutupnya sudah ada yang lepas). Bila beruntung bahkan bangku yang ada juga lebih empuk, bukan cuma sebatas bangku plastik dengan besi karatan yang membuat penumpangnya terancam tetanus di sekelilingnya saja.

Polisiku buayaku

Ah, buaya lagi, buaya lagi. Keberadaan polisi di tengah jalan ga serta merta membuat supir bus jadi lebih tertib. Seringkali supir bus tertib ketika melihat polisi di depan mata, tetapi akan menjadi beringas ketika polisinya sudah pergi. Yang anehnya terkadang polisi ga bertindak apapun ketika melihat keberingasan para supir dalam memacu kendaraannya. Kalaupun ditindak, biasanya ada “jalan tol” menuju pembebasan (yah, u know lah apa maksudku).

Kesimpulan

Mungkin kesimpulan yang paling tepat: inilah budaya angkutan umum di Indonesia dan di Jakarta khususnya. Jadi kalau Anda baru pertama kali datang ke Jakarta dan menikmati sesuatu yang namanya Metromini dan Kopaja ada baiknya berpegangan yang erat apapun yang terjadi, sampai Anda mulai beradaptasi dengan keadaan ini. Sayangnya karena dinamakan budaya akan sulit dihilangkan tanpa campur tangan pihak penjajah atau penguasa. Sistem yang diterapkan pada angkutan umum Jakarta pada umumnya adalah sistem uang setoran, di mana berarti supir harus sering-sering mendapat penumpang untuk menutup biaya setoran tiap harinya. Keadaan inilah yang menjadi penyebab supir bertindak sendiri-sendiri tanpa aturan yang baku, sedangkan pengusaha hanya tahu mengenai administrasi dan ijin angkutan umum, dan menerima uang setoran saja. Bila sesekali diperlukan, baru suku cadang diganti dengan yang lebih “manusiawi”. Alternatifnya, preteli suku cadang dari kendaraan lainnya yang masih bisa dipakai alias kanibalisasi.

Susahnya kalau sistem ini diubah menjadi sistem gaji tapi tanpa kontrol. Entah kenapa di bayanganku para supir akan ogah-ogahan mengantar penumpang berhubung berapapun jumlah penumpangnya yang didapat dan yang disetor kepada pengusaha, mereka akan mendapat gaji yang sama, dengan kata lain gaji buta.

Kadang kepikiran, kapan yah kita bisa menikmati bus umum seperti layaknya bus Transjakarta yang lebih bersih, rapi dan manusiawi. Ga perlulah pakai AC, yang penting penumpang bisa duduk nyaman dan merasa aman tanpa harus melakukan sport jantung tiap kali naik kendaraan umum. Mungkin kita bisa memulai dengan memberi komentar kepada Organda sebagai organisasi yang menaungi pengusaha-pengusaha angkutan umum di websitenya www.organda.or.id. Siapa tahu dengan kekompakkan para penumpang, kenyamanan itu bisa tercapai (walau aku sendiri pesimis dengan hasilnya).

This entry was last modified on: November 19th, 2009 at 0:03

Akhir dari Mbah Surip

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
enak tahu…

Harusnya sebagian besar orang tahu mengenai lirik lagu apa itu. Yap, Tak Gendong, yang dinyanyikan oleh Mbah Surip. Lagu yang populer sejak 1 atau 2 bulan yang lalu ini terus didendangkan di layar TV tiap hari, sampai di batasan antara membosankan atau tidak membosankan berhubung lagu ini cukup unik dibanding lagu-lagu yang didominasi cinta dan asmara. Sosok Mbah Surip yang unik juga menambah daya tarik untuk diekspos, apalagi gaya tawanya, HA… HA… HA… (ini bukan ketawa gaya Squidward).

Tiba-tiba saja, belum sampai 1 tahun terkenal dan menikmati ketenarannya, beliau sudah dipanggil ke akhirat. Awalnya sih aku mendengar berita itu sempat mengira kalau berita ini cuma candaan orang-orang dan pers doank. Soalnya kepikiran video klip Tak Gendong yang ditayangin tiap hari itu menampilkan Mbah Surip sebagai sosok sebuah roh yang ga keliatan, jadi kepikiran “yah, di video klip juga udah mati”. Eh, tau-taunya pas online dan melihat ke Kompas.com dan Detik.com ada juga beritanya di bagian paling depan.

Melalui lagu Tak Gendong, konon katanya Mbah Surip bisa mengumpulkan milyaran rupiah dan berkeinginan beli helikopter, tapi tetap tampil sebagai sosok yang sederhana dengan penampilan yang sama dengan yang sebelumnya. Sayangnya sebuah sosok yang unik ini harus cepat dipanggil ke akhirat, padahal kehadirannya cukup menghibur bagi orang-orang Indonesia, apalagi kehadirannya bertepatan dengan banyak isu sensitif seperti Pilpres, Bom JW Marriot dan Ritz Carlton sampai masalah krisis ekonomi.

Bagi beberapa orang mungkin memang Mbah Surip seorang yang diutus Tuhan untuk menghibur dan mengingatkan masyarakat kita untuk tetap ceria walau banyak keadaan yang menyulitkan saat ini, walaupun hanya sebentar. Toh, memang pada akhirnya beliau berhasil memberi penghiburan yang cukup mengena bagi masyarakat Indonesia. Semoga atas segala hal yang dilakukannya, Mbah Surip dapat diterima di sisi-Nya.

Good bye, Mbah Surip. Thank you for the entertainment.

Kenapa harus ada bom lagi sih?

Pagi-pagi, baru bangun tidur ceritanya, tiba-tiba dengar suara TV mengenai berita tentang bom di daerah Mega Kuningan, Jakarta. Padahal berita kayak begini sudah lama ga pernah kedengaran lagi, biasanya kalaupun ada berita semacam ini, hanya terjadi di negara-negara yang lagi dilanda konflik seperti Irak atau Pakistan, tapi sekarang tiba-tiba kembali lagi ke Indonesia? :blink: What the heck?

Bahkan peristiwa ini pernah terjadi di tempat yang persis sama sebelumnya yaitu Hotel JW Marriott, di mana peristiwa ledakan bom pernah terjadi juga pada tahun 2003 kemarin. Ga tau napa harus hotel itu yang menjadi sasaran lagi untuk ledakan kali ini, mungkin karena sasaran empuk banyaknya pendatang asing yang menginap di hotel tersebut. Selain JW Marriott, ternyata ledakan juga terjadi di Hotel Ritz Charlton, sebuah hotel berkelas juga, dan katanya juga banyak dihuni oleh orang-orang asing.

Sekarang bukan cuma masalah korban meninggal dan korban luka saja yang menjadi masalah, perekonomian Indonesia yang sedang bangkit dan mulai berjaya tampaknya harus terpuruk lagi karena kepercayaan investor akan menurun karena kasus ini. Jadi bersiap-siap kalau harga dollar akan naik lagi dan harga saham turun lagi. Selain itu ada juga yang takut club sepakbola kenamaan Manchester United bakal batal datang ke Indonesia karena kasus ini, apalagi ternyata MU bakal menginap di salah satu hotel yang dilanda ledakan itu. Semoga saja ga ada pembatalan acara.

Ga habis pikir, ada yah orang-orang yang dengan ga bertanggung jawabnya mau mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. Mending lah kalau itu orang-orang luar negeri yang mau mengganggu Indonesia sendiri, tapi ternyata dari dulu kebanyakan juga orang-orang Indonesia sendiri yang menghancurkan negeri ini. Mulai dari pelaku ledakan di Bali, sampai pelaku ledakan di sana-sini, pasti isinya jaringan teroris yang anggotanya orang-orang Indonesia sendiri. Padahal kalau mereka seberani itu buat melakukan teror dan kejahatan, mereka pasti bisa juga seberani itu membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang maju dan jaya melalui tindakan yang baik. Kadang ga habis pikir ideologi yang mereka anut dan perjuangkan itu, apakah ras, agama, negeri, tapi aku melihatnya ini cuma tindakan politik untuk membuat sebuah negara ambruk baik dari sisi kepercayaan dari negara lain dan juga dari sisi ekonomi. Dan dalam kasus ini, juga untuk membuat fans MU kecewa berat. :|

Aku bukan fans MU, tapi aku bisa merasakan gimana rasanya kalau ternyata acara yang ditunggu-tunggu ternyata batal, karena aku juga pernah mengalaminya waktu jaman SMA dulu, walaupun saat itu menjadi panitia sih.

Yah, semoga kasus ini bisa segera diusut tuntas akar masalahnya, kemudian para pelakunya ditangkap dan diadili dengan seadil-adilnya karena tindakan yang mereka lakukan itu. Atau jangan-jangan itu cuma ledakan gas dari kompor seperti yang sering terjadi belakangan ini? Untuk sementara jangan berspekulasi dulu ah, biar polisi aja yang melakukan penyelidikan. Dan semoga juga MU tetap bakal tampil, soalnya walau aku bukan fans sepak bola tetapi acara seperti ini sangat jarang (masih lebih jarang dari World Cup malah) jadi sayang juga kalau dilewatkan. :D

Menjelang skripsi Binus

A: Oke, sebentar lagi skripsi.
B: So?
A: Yah, ga napa-napa sih, cuma mau bilang itu aja.
B: Emang kenapa dengan skripsi?
A: Itu nentuin KELULUSAN kita, bro. Kalau ga lulus skripsi mah nanti kita bakal jadi mahasiswa lagi lebih lama. Atau malah mahasiswa abadi.
B: Lalu kenapa kalau jadi mahasiswa lagi lebih lama? Bukannya enak yah jadi mahasiswa lagi, kan banyak teman, trus bisa sering jalan-jalan, banyak cowo dan cewe cakep juga di kampus kan?
A: Hey-hey-hey, emang enak hidup jadi mahasiswa, aku malah mau jadi di SMA lagi, tapi yah apa yang namanya hidup selalu berputar maju dan kita pun harus tetap melangkah maju biar ga ketinggalan, ‘kan? Selain itu kita juga harus berusaha mencari penghasilan karena kita ga mungkin tergantung dari orang lain melulu, dalam hal ini orang tua. Kalau jadi mahasiswa kan bayar duit mulu buat perguruan tingginya.

Apa yang tertulis di atas hanya ilustrasi belaka, apakah benar tidaknya sampai saat ini masih aku pertanyakan ke diriku sendiri. :D

Skripsi menjadi satu persyaratan buat lulus di tingkat perguruan tinggi. Memang skripsi sendiri ga selalu menjadi syarat mutlak untuk lulus dan diakui sebagai seorang sarjana, ada juga perguruan tinggi lainnya yang meluluskan mahasiswanya dengan melakukan kerja praktek atau magang. Tapi tentu saja, bisa dipastikan lebih dari 80% mahasiswa lulus dengan jalur skripsi tidak terkecuali dengan mahasiswa-mahasiswi di Binus tempatku kuliah saat ini.

Skripsi, dari kata dasarnya adalah script, yang berarti “tulisan” memiliki arti kurang lebih adalah sebuah karya tulis ilmiah dari mahasiswa sebagai salah satu jalan meraih gelar sarjana. Karya tulis ini bisa dibuat dengan melakukan penelitian terhadap suatu hal, atau dengan mencoba menerapkan teknologi baru yang mungkin saja suatu waktu nanti berguna untuk orang-orang lainnya. Tanpa disadari, topik skripsi yang kita ambil juga akan menentukan nilai akhir dan peluang sewaktu kita bekerja nanti (tapi yah, mau dikata apa, untuk bekerja di Indonesia yang penting lulus aja dulu deh).

Di Binus sendiri, untuk jurusan TI (dan aku rasa juga jurusan lainnya) terdapat 2 jalur skripsi yang berbeda yaitu skripsi class dan skripsi non-class. Seperti namanya, skripsi class memiliki sistem yang mempermudah mahasiswa untuk mendapatkan dosen pembimbing. Mahasiswa tidak perlu repot-repot mengatur jadwal pertemuan dengan dosen pemimbing, tidak perlu kecewa karena ternyata dosennya sibuk dan ga bisa memberikan bimbingan skripsi, dan yang pasti jadwal kelasnya sudah fixed alias tetap. Topik skripsi pun merupakan topik yang umum, sehingga sewaktu sidang skripsi nanti tentu akan menjadi hal umum juga bagi para dosen penguji untuk menanyakan hal-hal yang mematikan, dan yang berarti agak sulit mendapatkan nilai sempurna. Penyebabnya adalah pengerjaan skripsi yang terlalu umum dan mengundang pertanyaan yang kadang ga bisa dijawab karena udah lupa dengan kuliah-kuliah yang didapat sebelumnya.

Untuk skripsi non-class justru kebalikan dari skripsi class. Topik-topik yang disediakan adalah topik yang advanced alias susah. Dan menjadi perjuangan karena kita harus mengejar sendiri dosen pembimbingnya. Tapi semuanya terjamin karena umumnya skripsi non-class menjamin nilai yang baik pula, tentu dengan syarat skripsi bisa diselesaikan dengan baik juga. Dengar-dengar sih kebanyakan dosen penguji akan bingung bertanya di sidang nanti berhubung topiknya advanced dan sebagian besar belum dimengerti oleh sang dosen. Salah satu pihak yang menyediakan topik untuk skripsi non-class adalah IT Directorate Binus atau Applied Technology Laboratory (ATL).

Aku sendiri akan mencoba untuk mengambil skripsi non-class ATL bersama kelompokku karena ada topik yang menarik di sana dan semoga saja bisa mendapatkannya. Hmmm, tadi aku tulis kelompok yah? Oh iya, satu lagi yang perlu diketahui bahwa mahasiswa Binus diharapkan memiliki satu kelompok skripsi yang jumlahnya maksimal 3 orang. :D Mungkin tujuannya supaya bisa bekerja sama dengan baik, atau mungkin karena mahasiswanya kebanyakan.

Oke deh, itu aja yang aku tahu soal skripsi di Binus. Buat anak-anak semester 6 sekarang, ayo semangat buat menghadapi skripsi. :D

Indonesia Masuk Daftar Hitam AS? Memang Pantas!

Seperti biasa setiap hari aku membaca detikinet.com dan khusus hari ini terdapat berita yang cukup menyentak bagi Indonesia. Indonesia masuk kembali ke dalam daftar hitam Amerika Serikat soal pelanggaran atas Hak Kekayaan Intelektual alias HaKI. Lalu bagaimana tanggapanku sendiri? Aku sendiri akan mengatakan dengan lantang SETUJU!!

Mengapa sampai aku bisa mengatakan hal ini? Realita di lapangan memang menunjukkan kalau orang-orang di Indonesia ga menghargai karya yang dibuat oleh orang lain, mungkin karena miskin kreatifitas atau memang pengen maju dengan cara yang instan. Tapi untuk miskin kreatifitas aku sendiri merasa ga terlalu benar, karena toh banyak anak bangsa yang akhirnya bisa membawa negara ini menjadi lebih terkenal dalam hal yang positif. Tapi tetap saja kenyataannya ada kemiskinan kreatifitas yang akhirnya membuat bangsa ini senang memplagiat karya orang lain dan mengambil keuntungan dari sana.

Ambil saja contoh dari blog ini. Anda bisa mencari kata “Melalui menu settings, Anda memiliki kekuasaan untuk mengubah-ubah nama kamu, tentu bukan untuk sembarangan mengubah nama.” yang merupakan penggalan asli dari artikel mengenai 13 hal yang bisa membuat account Facebook diblokir. Dan di sana Anda akan mendapatkan artikel yang sama persis dengan yang aku tulis. Beberapa menyertakan link, beberapa lagi hanya menyertakan alamat ke artikel asli tanpa link, sedangkan yang lainnya diplagiat 100% dengan mengubah format dan tanpa ada referensi sama sekali ke blog ini. Bahkan bukan hanya satu artikel saja yang diambil, tetapi juga artikel-artikel lainnya yang terdapat di blog ini, bahkan sampai gambar screenshot yang aku buat. Oh yeah!

Dan artikelku sendiri dalam hasil search itu? Agak sulit menerima keadaan ini, tapi memang artikel ini berada di urutan bawah ketika ada user mencari kata kunci yang harusnya dapat menunjuk ke entry blog yang aku sebutkan di atas. Aneh memang. Tapi mau diapakan lagi, mungkin memang algoritma Google yang membuat hal itu bisa terjadi dan akhirnya artikel hasil replika lah yang muncul di bagian atas.

So, kalau begitu apakah aku kapok buat menulis seperti ini lagi? Sejauh ini, biarlah hal ini terjadi. Biarlah kekacauan ini terus terjadi di dunia maya ini, paling ga khusus di Indonesia, toh memang ga bisa berbuat banyak koq. :)

Biarpun polisi bertindak untuk memberantas obat-obat palsu, DVD bajakan, atau bahkan sampai merambah ke dunia maya dengan menangkap para plagiarist artikel, tetap saja ga akan efektif selama di otak orang-orang yang hidup di negara ini hanya cara instan saja yang terpikirkan. What a shame. Ternyata ada benarnya kata seorang manager di tempatku melakukan kerja praktek, kalau memang pengen jadi orang yang kreatif dan idealis (termasuk juga peneliti) serta mau dihargai, susah untuk melakukan di Indonesia. Lebih baik melakukannya di luar negeri kalau memungkinkan.

Anyway, sorry kalau yang ngebaca entry ini mengira seakan-akan aku merendahkan bangsaku sendiri dan ga mau bangsa ini maju. Aku sangat ingin agar bangsa ini maju, tapi lihatlah realitanya di negara ini dan Anda akan menyadari bahwa ini benar adanya. Dan tanpa mengurangi apa yang aku rasakan, apa yang aku tulis di sini karena aku sendiri juga merasakan bagaimana rasanya menjadi korban. Sedangkan para tersangka pelanggar HaKI malah bangga dan kaya raya karena bisa melakukan pelanggaran itu. Kalau mau lebih kejam, harusnya Indonesia ga keluar dari daftar itu, karena bukan cuma HaKI atas obat-obat dan cakram digital saja yang menjadi masalahnya, tetapi juga buku dan banyak lagi yang masih bisa dijadikan senjata untuk mereka agar Indonesia ga keluar dari daftar itu.

This entry was last modified on: May 1st, 2009 at 19:34

H-1 Pemilu Legislatif

Seperti yang tertulis di judul entry ini, hari ini merupakan H-1 menjelang Pemilu Legislatif. Jadi, apa yang berkesan dari Pemilu ini? Sebagian orang akan bilang liburnya karena berbarengan dengan hari libur besar keagamaan lainnya sehingga bisa lebih lama menikmati liburan ini. Sebagian lagi akan bilang ini saatnya kita melakukan perubahan (inilah contoh optimisme). Sedangkan sebagian lain, mengganggapnya hanya sebagian hari lain di mana pemerintah buang-buang duit untuk melakukan hal yang ga berguna (yeah, ini contoh pesimisme).

Aku sendiri udah pernah sekali mengikuti Pemilu, errr, Pilkada maksudnya. Yap, waktu itu aku mengikuti Pilkada DKI Jakarta untuk memilih seseorang yang akan menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, dan yang seperti kita tahu hasilnya sekarang ini Pak Fauzi Bowo yang terpilih dan memimpin Jakarta ini. Bedanya waktu Pilkada itu sistemnya masih pake coblos-coblosan alais membolongi kertas dengan paku atau alat lainnya yang disediakan oleh Panitia Pemilihan Suara (PPS) nya, kali ini di Pemilu Legislatif 2009 para pemilih diminta untuk mencontreng (dan katanya karena baru pertama kali dilakukan di Indonesia, maka mencoblos masih dianggap sah). Jumlah partainya sendiri cukup ekstrim yang berarti ukuran kertas suaranya juga akan sama ekstrimnya, berbeda dengan surat suara waktu Pilkada kemaren yang bisa dibilang cukup kecil.

(more…)

Naik ke kendaraan umum, turun ke bukit BBM

Setelah sempat menaikkan BBM beberapa bulan yang lalu sampai rakyat megap-megap karena harus mengeluarkan biaya untuk transportasi menjadi lebih besar, tiba-tiba saja dalam satu bulan ini yaitu bulan Desember 2008 pemerintah menurunkan harga BBM premium dan solar. Alasannya karena harga minyak dunia yang terus merosot yang mencapai puncaknya di bawah 50 dollar US per barrel. Kondisi yang tentu menguntungkan bagi Indonesia yang sekarang sudah bukan lagi berstatus sebagai pengekspor minyak, melainkan sebagai pengimpor minyak.

Di sini aku bukan menulis untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai mengambil untuk dari selisih harga keekonomian minyak mentah dengan harga jual ke masyarakat, tetapi untuk membahas pengaruhnya ke kendaraan umum.

Seperti yang kita ketahui bahwa sejak 1 Desember yang lalu pemerintah sudah menurunkan harga bahan bakar premium 2 kali yaitu dari 6000 rupiah per liter menjadi Rp. 5500 /liter dan kemudian Rp. 5000 / liter, sedangkan solar turun dari Rp. 5500 / liter menjadi Rp. 4800 / liter. Kalau dihitung-hitung maka bila seorang supir angkutan umum yang membeli 20 liter solar, maka supir itu akan mendapatkan selisih Rp 14.000 dibanding bila membeli solar dengan harga lama. Kalau dilihat dari sisi angkutan yang sering aku gunakan ketika pergi ke kampus yaitu B91, maka Rp 14.000 itu sama dengan 5 atau 6 penumpang.

(more…)