Archive for the ‘Telecomunication’ Category

“Sakti”-nya Mentari

Masih teringat iklan televisi sebuah operator seluler di mana ada seorang aktor yang memutar jam sambil berkata bahwa nelpon 5 rupiah per detik dari jam 12 (pagi) sampai jam 5 (sore). Dan pada akhirnya muncul tulisan produknya: Mentari Sakti. Iklan ini ditayangkan ketika sedang heboh-hebohnya perang-perangan tarif antara “si biru”, “si kuning”, dan “si merah”.

Entah karena perang tarif udah mereda atau gimana, tiba-tiba aja ada perubahan sistem tarif untuk Mentari. Dan selama ini aku membaca koran Kompas dan menggunakan internet bahkan ga tau kalau ada perubahan tarif. Selain itu ga ada pula SMS pemberitahuan mengenai perubahan tarif ini. Atau mungkin cuma diumumkan lewat televisi yang berarti aku ga tau beritanya karena hampir ga pernah nonton TV lagi sekarang? Tapi operator atau perusahaan mana yang sebodoh-bodohnya mengumumkan kenaikan tarif lewat media sebesar itu? Yeah, who knows?

Kalau kemaren-kamaren pas lagi heboh-hebohnya perang-perang dan “ngata-ngatain” operator lain, dan akhirnya dicetuskan tarif Sakti di mana untuk semua operator itu tarifnya Rp. 5/detik dari jam 00.00 sampai jam 16.59 dan Rp. 20/detik dari jam 17.00 – 23.59, maka sekarang tarifnya jadi Rp. 5/detik dari jam 23.00 sampai jam 04.59 serta Rp. 20/detik dari jam 05.00 sampai jam 22.59.

Kemudian bonus gratis nelpon berkali-kali juga turun jadi 3600 detik alias 1 jam saja dari yang sebelumnya 2 jam. Itupun dengan syarat yang berubah juga, yaitu setiap hari Senin sampai Jumat, kita harus menggunakan Rp. 1500,- sebelum bisa menikmati gratis bicara 1 jam itu. Sedangkan hari Sabtu sampai Minggu kita harus menggunakan sedikit lebih banyak, yaitu Rp 2000,-. Padahal dulunya cukup menggunakan Rp. 1500,- saja udah cukup untuk menikmati gratis bicara itu.

Oke lah kalau ada perubahan gini, tapi yah bok dikasi tau dulu ke pelanggan napa? Kacau juga kalau-kalau orang yang ga sadar tau-taunya udah pakai pulsa berpuluh-puluh ribu alias 4 kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya. Aku sendiri aja dulu memakai 5 menit untuk bisa menggunakan fitur gratis bicara di atas dengan menghabiskan pulsa Rp. 1500,-, tetapi untuk hari ini menggunakan 5 menit tiba-tiba kehilangan Rp. 6000,- lebih karena tarifnya ternyata sudah Rp. 20/detik. Dan ketika menggunakan gratis nelpon berkali-kali pun aku harus benar-benar menelpon “berkali-kali” karena setiap 5 menit sekali sambungannya diputus. Itu berarti aku harus menelpon ulang sebanyak 12 kali untuk bisa menghabiskan bonus itu! Skema ini hanya berlaku untuk wilayah Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Tampaknya skema baru ini diberlakukan sejak 15 April 2009 kemaren. Dan akhirnya alasannya selalu: operator berhak melakukan perubahan tarif tanpa memberitahu penggunanya terlebih dahulu. Jadi pertanyaannya: masih “Sakti”-kah Mentari sekarang ini kalau tarifnya sudah semahal yang dulu lagi yaitu Rp 1.200/menit ke semua operator?

Hati-hati mem-forward email

Maraknya berita yang mengerikan belakangan seperti eksekusi pelaku bom Bali, monster Ancol sampai krisis keuangan global membuat sebagian kalangan menjadi ketakutan dan kalang kabut. Berita ini muncul dari berbagai media, mulai dari televisi, koran, telepon, SMS dan internet. Khusus untuk SMS dan internet sekarang penggunanya harus lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan informasi ke orang lain. Salah-salah bisa-bisa Anda ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh polisi.

Yup, baru saja ada kasus seseorang yang menyebarkan email mengenai krisis keungan global yang berimbas kepada bank lokal yang ditangkap dan diancam hukuman pidana penjara. Dikhawatirkan bila email itu sampai tersebar luas dan menyebabkan kepanikan, orang-orang bisa saja menarik dana yang disimpan di bank beramai-ramai sehingga menyebabkan peredaran uang yang berlebihan di masyarakat, sedangkan bank sendiri menjadi kekurangan dana. Dan akhirnya diketahui bahwa niat sebenarnya dari penyebar email hanya iseng menyampaikan kabar yang ia dengar dari koleganya.

Masih ingat juga beberapa minggu yang lalu ketika trio pelaku bom Bali yang akan dieksusi, tiba-tiba saja marak muncul berita berantai mengenai ancaman ledakan bom melalui SMS di beberapa lokasi. Dan ujung-ujungnya pelaku penyebar berita yang meresahkan ini ditangkap tapi orang itu berdalih bahwa hal ini hanya iseng belaka.

Dan yang dulu sempat heboh juga adalah berita mengenai salah satu operator telepon selular yang katanya merupakan hasil dari sponsorship dari gereja setan dan juga SMS santet yang mengubah warna layar menjadi merah. Pada akhirnya pelaku penyebaran ditemukan dan dia mengakui bahwa ia melakukan hal ini hanya sekedar iseng kepada teman-temannya.

Ternyata bukan hanya penyebar awal saja yang bisa dikenai hukum pidana, akan tetapi orang-orang yang turut serta menyebarkan rumor meresahkan ini juga bisa ditangkap oleh polisi. Singkat kata, bila seseorang ikut mem-forward berita yang tidak benar, maka pelaku bisa ditangkap karena dianggap ikut serta menyebarkan teror yang meresahkan masyarakat.

(more…)

This entry was last modified on: November 18th, 2008 at 14:26

3G penyebab baterai boros?

Apa teknologi 3G menyebabkan baterai handphone menjadi boros? Mungkin jawabannya iya, mungkin juga ga.

Aku pernah membaca artikel di koran mengenai bagaimana caranya menghemat baterei handphone, dan di sana ga ditulis bahwa mengaktifkan mode 3G bisa membuat baterai handphone lebih boros. Tapi pada kenyataannya, G900 yang aku pakai sekarang ini cukup menghabiskan baterai ketika 3G dinyalakan. Bila dengan 3G baterai hanya bertahan 3 sampai 4 hari, tanpa mengaktifkan 3G baterai handphone ku masih berada pada posisi 68% setelah 3 hari tidak di-charge.

Selidik punya selidik, ternyata saat menggunakan sinyal 3G, handphone ku hanya menangkap 2 sampai 3 bar sinyal saja dari 5 bar yang ada. Sedangkan pada mode GSM/GPRS, sinyal yang didapat 4 sampai 5 bar alias penuh. Kemungkinan terbesar dari keborosan itu adalah G900 yang aku pakai berusaha mencari sinyal 3G yang lebih kuat sehingga menggunakan lebih banyak energi baterai. Tapi itu baru kemungkinan. Soalnya sewaktu aku menggunakan K618i, sinyal 3G yang ada di rumahku cenderung 4 sampai 5 bar, ga seperti G900 ini.

Kenapa bisa beda-beda gini yah? o_O

1GB pun sudah tidak cukup

Setelah 2 tahun menggunakan StarOne sebagai provider internetku, rasanya sekarang kapasitas yang ditawarkan sebesar 1GB / bulan sudah tidak mencukupi lagi. Apalagi ketika proyek-proyek mulai mendekatiku dan aku mulai lebih banyak berkorespondensi melalui dunia web.

Berawal dari tahun 2006, bulan Juli ketika aku mulai menjalani aktivitas sebagai calon mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang dikenal dengan nama UBiNus, aku mulai mendaftarkan diri sebagai pengguna internet StarOne. Pada saat itu, StarOne menawarkan tarif yang lebih murah dibandingkan dengan provider lainnya yaitu sebesar Rp. 200.000,-. Tarif ini pun terus dikoreksi ke Rp 150.000 dan kemudian saat ini Rp. 100.000, akan tetapi jumlah bandwidth yang disediakan tetap tidak beranjak dari angka 1GB.

Sebenarnya seandainya Indosat menawarkan paket StarOne dengan jumlah bandwidth yang lebih tinggi, aku pasti akan mengambilnya tanpa pindah ke provider lain. Tidak benar-benar pindah sih, tetapi kemungkinan besar akan mengambil provider lain bersamaan dengan StarOne ini yang masih dipertahankan. Provider yang saat ini aku pertimbangkan itu adalah Fastnet dan Speedy.

Untuk Fastnet sendiri belakangan aku lebih sering mendengar berita yang tidak enak, mulai dari jaringan yang sering bermasalah dan down, speed yang turun, sampai ke customer service yang memberi pelayanan atau jawaban yang kurang memuaskan atas masalah pelanggan. Tapi di sisi lain, Fastnet menawarkan kecepatan yang cukup tinggi (paling tidak dibandingkan StarOne yang rata-rata berada di speed 144 kbps) dengan harga yang relatif murah juga, bahkan tanpa batasan bandwidth per bulan. Aku sudah pernah mencoba menghubungi Fastnet melalui form yang disediakan di websitenya, akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Yah, mungkin juga itu cuma form untuk penghias webnya, atau mungkin memang bagianku terlewatkan oleh pihak Fastnet-nya. Untuk telepon, aku masih belum sempat menghubungi Fastnet nya secara langsung. Sempat juga mengecek apakah jaringannya sudah ada di tempatku atau tidak, walau yang aku temukan di website yang sama tadi rumahku masih belum tercover. Akan tetapi sering melihat mobil Firstmedia nangkring di depan rumah, entah apa yang dilakukan orang Firstmedia di sekitar rumahku kalau bukan untuk memasang atau melayani pelanggan yang sudah pasang.

Sedangkan Speedy, dengan harga yang relatif mahal tetapi masih terdapat batasan dalam bandwidth per bulan atau pun waktu. Akan tetapi memiliki prospek yang bagus juga menurutku, karena sudah beberapa kali menawarkan promosi yang menggiurkan mulai dari pemasangan gratis, modem gratis, bahkan yang sekarang lagi hebohnya adalah speed yang mencapai 1 Mbps dan gratis pemakaian sepuasnya dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi yang berlaku sampai akhir Januari 2009. Dan mungkin ke depannya akan ada promosi-promosi lainnya yang lebih menggiurkan lagi.

Keputusan untuk mengambil 2 provider sekaligus juga ga terlepas dari kebutuhan untuk backup karena seringkali ketika bug ditemukan di proyekku, aku harus segera memperbaiki dan kemudian mengirim email yang di attach dengan revisi terbaru dari proyekku. Dan tentu itu jadi ga lucu kalau karena internet down, aku harus kelabakan mencari warnet (tapi untungnya di sebelah rumahku adalah warnet walau aku belum pernah ke sana). Saat ini aku menggunakan StarOne sebagai provider utama dan Mentari sebagai provider cadangan, dan kedua provider itu saling membackup bila ada masalah. Tetapi Mentari hanya aku gunakan dalam waktu singkat mengingat mahalnya biaya koneksinya.

Kalau diingat-ingat, dalam 1 bulan terakhir ini, aku sudah menggunakan bandwidthku untuk mengirim email hampir sampai 30 MB. Bahkan pernah dalam satu hari mencapai 5 MB karena saat itu hasil kerjaku sedang dipresentasikan dan aku harus mengirim revisi beberapa kali atas bug yang ditemukan saat presentasi dilakukan.

Kalau misalnya ada yang menemukan provider yang menawarkan yang lumayan murah dan bisa aku gunakan sebagai provider utamaku, tolong informasinya yah. :) Bantuan Anda akan menolong sejuta manusia. Loh… @_@ Hehehe… Thanks…

Adu hoki dengan angka sial

Kalau dulu ada sebuah trend yang bernama gunakan angka nol sebanyak-banyaknya untuk meraup keuntungan, maka saat ini ada lagi sebuah trend baru yang dipakai sebagai strategi pemasaran operator telepon seluler, yaitu gunakan angka sial untuk meraih untung sebanyak mungkin.

Bagi beberapa kalangan, angka 666 atau 13 merupakan angka keramat. Saat ini angka ini justru digunakan untuk “ngadu nyali” dan “menuai perhatian” dari para calon pelanggan. Kontroversi yang terjadi saat peluncuran AXIS sebagai seluler baru Indonesia yang menuai banyak kritik dan kecaman bagi dari beberapa kalangan karena dianggap merupakan jelmaan dari keberadaan setan atau iblis, justru membawa keberuntungan tersendiri bagi pihak AXIS. Pada saat itu AXIS menawarkan skema tarif yang menggunakan banyak angka 6, di mana beberapa pihak dengan kreatifnya mengintepretasikan hal ini sebagai angka 666 yang merupakan angka yang tabu bagi mereka. Secara tidak langsung AXIS mendapatkan publikasi besar dari masyarakat tanpa perlu melakukan strategi pengiklanan tanpa perlu mengeluarkan uang yang berlebihan. Apalagi saat ini telah ditemukan penyebar SMS gelap mengenai nomor telepon “setan” yang sempat heboh belakangan dan hal ini akan sedikit “memperbaiki” keadaan AXIS. Walau tentu saja beberapa kalangan yang tertentu hal ini tetap saja masih ada unsur “setan”-nya. Yah, paling ga itulah pendapat pribadi saya mengenai isu AXIS.

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah iklan baru dari Telkomsel yang berisi promosi tarif dengan angka 13 sebagai lama teleponnya. Bahkan dalam iklan itu terdapat banyak angka 13, seakan-akan menantang para “setan” dalam berbisnis telepon seluler. Seperti yang diketahui, angka 13 bagi beberapa kalangan juga dianggap sebagai angka sial (dan bahkan mungkin pihak tersebut sama dengan pihak yang mengganggap angka 666 merupakan angka sial). Apa yang dilakukan Telkomsel menunjukkan bahwa Telkomsel tertarik dengan apa yang terjadi di AXIS yang justru mendapatkan “nama” karena kontroversinya. Segala hal dapat dipergunakan sebagai bagian dari strategi pemasaran dengan melihat dan mengikuti apa yang terjadi di pesaing usaha. Atau mungkin ini memang sudah rencana tarif yang ada di benak management Telkomsel yang sudah direncanakan sebelum terdapat kontroversi AXIS? Who knows? Hanya pihak Telkomsel yang tahu akan hal ini kan?

Yah, beberapa waktu sebelum strategi angka sial mencuat ke permukaan, Indosat dan XL telah melakukan perang tarif menggunakan angka biner (binary digit) di mana angka nol dan satu diprioritaskan. Dimulai dari hanya sebuah angka nol atau sebuah angka satu, lama-kelamaan jumlah nol pun bertambah sampai tidak bisa dihitung lagi. Seakan-akan kedua perusahaan itu sedang mengajarkan masyarakat menggunakan matematika dan bilangan mikro yang bahkan lebih dahsyat daripada menghitung jumlah digit di belakang koma pada bilangan PI. Bahkan sampai ada iklan sumpah-sumpahan sampai kawin dengan binatang-binatang yang bagi beberapa pihak sebagai wujud pelecehan terhadap martabat manusia hanya karena ingin menunjukkan sebuah angka untuk waktu yang “sepuasnya”.

Lucu memang melihat perkembangan saat ini. Apa saja bisa dimanfaatkan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, bahkan dengan terang-terangan menyindir pihak lain sampai terkadang keluar dari etika yang belaku dalam masyarakat. Seharusnya masyarakat sudah cukup dewasa untuk melihat kelihaian para operator dalam memainkan angka mengingat memang banyak penggunaan angka dalam dunia telekominakasi ini, mulai dari tarif, biaya percakapan, jarak, waktu, besar data dan jumlah. Banyaknya angka justru membuat pandangan masyarakat bias dan tidak memerhatikan “bintang-bintang kecil” yang menjadi biang keladi setan yang sebenarnya. Alhasil ujung-ujungnya orang-orang yang mau untung dengan menggunakan angka sial atau angka biner tersebut malah buntung karena tidak membaca “keterangan lebih lanjut”.

This entry was last modified on: May 17th, 2008 at 9:38

Operator GSM baru (lagi): AXIS

Mari kita belajar berhitung lagi, berapa jumlah operator GSM di Indonesia? Telkomsel (Simpati, Halo), Indosat (Mentari, IM3, Matrix), Excelcomindo (Bebas, Jempol), Hutchison Whampoa (Three). Kini ada lagi operator baru yaitu Natrindo Telepon Selular dengan produk barunya, AXIS.

Sebenarnya sudah agak lama saya mendengar mengenai nama Natrindo. Mungkin sejak beberapa bulan yang lalu, walau belum tahu bahwa nama itu akan menjadi nama operator salah satu telepon seluar di Indonesia. Operator ini sendiri baru beroperasi di kawasan Bandung dan Surabaya. Berdasar berita yang ada di TV, AXIS akan tersedia secara nasional dalam waktu 2 tahun mendatang. Pemegang saham utama AXIS adalah Saudi Telecom Company (51%) dan Maxis Communications (44%) sementara 5% sisanya dimiliki oleh perusahaan local. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa AXIS merupakan hasil investasi dari negara luar seperti juga Three.

(more…)

This entry was last modified on: May 9th, 2008 at 12:10

Indosat Price Cut

Sesuai dengan keputusan pemerintah yang menetapkan bahwa operator seluler harus menurunkan tarif telepon antar operator seluler pada bulan April 2008 ini, hari ini Indosat memasang iklan besar-besaran di Kompas yang berisi daftar perubahan harga yang kebanyakan berlaku mulai tanggal 10 April 2008 ini.

Yang menarik adalah bahwa penurunan tarif percakapan tidak terlalu banyak. Saya sendiri karena menggunakan kartu Mentari segera melihat perubahan harga yang dilakukan oleh pihak Indosat. Tarif telepon untuk sesama Indosat maupun ke operator lain ternyata masih tetap berkutat pada angka Rp 700 per 30 detik (dari sebelumnya Rp 750 / 30 detik).

Penurunan tarif yang besar justru terjadi pada tarif SMS di mana tarif pengiriman SMS dari Mentari ke sesama Indosat menjadi Rp 99 (dibanding sebelumnya Rp 350), dan Rp 149 untuk tarif pengiriman SMS ke operator lain (dari sebelumnya Rp 350 juga).

Walau demikian, banyak pula tawaran-tawaran yang tercantum di halaman iklan tersebut, semisal Mentari Hebat Ber-5, Telepon Rp 50 / 30 detik, sampai Gratis 1 Menit pertama setiap pengisian ulang pulsa dengan nominal tertentu.

Saya justru tertarik pada tarif yang ditawarkan Matrix yang merupakan layanan seluler pascabayar dari Indosat. Tarif yang ditawarkan lebih murah dari Mentari. Yah, dulu memang saya berniat untuk pindah ke Matrix, tapi sekarang lihat dulu deh soalnya masih banyak sisa pulsa di Mentari saya dan juga tidak terlalu mendesak untuk pindah ke Matrix.

Untuk IM3, saya tidak mau berkomentar terlalu banyak karena tarif murah memang sudah diterapkan di layanan ini dengan jargon Rp 0,0000000000…1 / menit serta bonus layanan SMS yang beraneka rupa, dengan beraneka rupa syarat dan ketentuan pula. :)

Untuk StarOne yang merupakan layanan CDMA dari Indosat, perubahan harga yang ada tidak akan terlalu berpengaruh bagi saya sendiri mengingat walaupun saya berlangganan StarOne, saya hanya menggunakannya untuk internet. Dan tetap saja Indosat masih menerapkan tarif Rp 99.000 untuk 1 GB data, padahal saya berharap kuota transfer ditambah menjadi 2 GB atau lebih.

Untuk menggunakan layanan data, Indosat masih mematok Rp 1,1 / KByte, yang menjadi tarif layanan data termurah saat ini. Tapi yang tidak dituliskan dalam iklan itu adalah layanan data dengan tarif Rp 110 / menit yang memang tidak terlalu dipromosikan Indosat. Tarif data di atas sudah termasuk PPN.

Ah, satu lagi yang menarik, beberapa hari belakangan saya berkirim SMS dengan beberapa teman saya yang menggunakan operator lain. Setelah beberapa SMS terkirim, saya mengecek pulsa saya melalui layanan *555#. Yang cukup mencengangkan adalah jumlah pulsa yang tidak berkurang karena pengiriman itu. Ternyata yang berkurang adalah jumlah bonus SMS yang ada. Tanpa saya sadari, untuk pengiriman SMS ke operator lain juga ternyata Indosat memperhitungkan dari bonus SMS terlebih dahulu sebelum menggunakan pulsa utama. Uhh, napa ga dari dulu begitu? Hehehe…

This entry was last modified on: April 10th, 2008 at 23:40