Archive for the ‘The Works’ Category

Problematic Employment (De)Generation

Mungkin sebagian besar dari Anda pernah membaca bahwa generasi yang ada sebelum generasi Anda akan kecewa dengan generasi Anda, dan saya yakin sebagian besar orang-orang yang berada di generasi Anda akan kecewa dengan generasi di bawah Anda. Anggaplah bahwa setiap generasi memiliki gap sekitar 4-5 tahun, dan dengan keadaan umur saya sekarang ini yang sudah pertengahan 20 menuju 30, generasi di bawah saya merupakan generasi yang diisi oleh orang-orang yang umumnya baru lulus kuliah atau populernya disebut fresh graduate.

Sebelum saya melakukan pembahasan yang serius mengenai generasi, saya ingin menekankan bahwa sebagian besar dari tulisan ini hanya opini walau beberapa akan saya sertakan dengan fakta. Saya juga menyertakan tips dan trik pada akhir tulisan ini, yang mungkin akan berguna bagi teman-teman yang akan mencari kerja dan mau sukses. Selain itu, ada baiknya kita lihat dulu kenyataan mengenai lapangan pekerjaan serta juga pekerjanya.

Pengangguran Intelektual

Berdasarkan laporan BPS atau Badan Pusat Statistik Indonesia, pengangguran yang telah mengenyam pendidikan lanjut atau yang belakangan sering disebut sebagai pengangguran intelektual memiliki komposisi sebesar 610 ribu orang dari keseluruhan jumlah pengangguran yang berjumlah 7,17 juta orang [Sumber]. Bahkan beberapa pengamat mulai memprediksikan bahwa jumlah ini akan bertambah banyak seiring dengan semakin mudahnya akses pendidikan di Indonesia. [Sumber]

Dari sumber di atas ada beberapa solusi yang ditawarkan, seperti sertifikasi, sehingga diharapkan para pekerja Indonesia ini bisa bersaing. Apalagi mengingat Indonesia akan memasuki pasar bebas ASEAN di mana nantinya pekerja dari luar negeri akan lebih mudah masuk ke Indonesia, tentu saja hal ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi calon pekerja. Sampai saat ini, sepengatahuan saya, sertifikasi belum menjadi standar di dalam kurikulum yang diajarkan di perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi memang sudah mulai melakukan sertifikasi sebelum para mahasiswanya lulus, tetapi itupun belum terlalu efektif untuk menggenjot kemampuan dari para lulusan baru.

Perguruan Tinggi dan IT

Belakangan sebagai seseorang yang mulai membuka usaha sendiri, saya memiliki kendala yang dihadapi oleh beberapa orang yang memiliki usaha saat ini, yaitu calon pekerja. Sebagai catatan, bahwa saya memiliki pengalaman kerja hampir 8 tahun, terutama di dunia Teknologi Informasi yang tentu belakangan ini sedang wah-wah nya bagi anak muda. Dengan cepatnya perkembangan teknologi, tentu ada pengaruh ke minat dari calon mahasiswa untuk mendaftar ke jurusan yang berorientasi ke dunia IT, misalnya saja Teknik Informatika atau Sistem Informasi. Selain itu pihak perguruan tinggi juga mulai jor-joran melakukan promosi dan marketing untuk jurusan ini. Perguruan tinggi yang sebelumnya tidak memiliki jurusan ini atau expertise di bidang ini pun tidak sungkan untuk membuka jurusan baru berbasis IT, bahkan perguruan tinggi baru mulai bermunculan dengan IT sebagai fokus mereka.

Tentu perguruan tinggi tidak bisa disalahkan, apalagi kita kembali ke dalam ranah pemasaran atau marketing, di mana bila ada permintaan maka ada penawaran. Bila memang ada trend baru di dunia, kenapa tidak dimanfaatkan. Semua kembali kepada pilihan masing-masing orang, apakah memang akan termakan kepada penawaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi atau tidak.

Masalahnya, tidak semua orang paham bahwa dunia IT tidak sekedar berkutat di masalah utak-atik perangkat lunak atau software, atau utak-atik di perangkat keras. Saya pernah, bahkan sering mendengar bahwa mahasiswa-mahasiswa baru memiliki motivasi di dunia IT karena sebelumnya mereka tertarik ke dunia hiburannya alias video game. Sebagian lain tertarik karena dunia IT pada akhirnya berhasil menelurkan puluhan orang yang menembus daftar billionaire terkaya di dunia.

Mindset seperti itulah yang memiliki kecenderungan menjerumuskan calon mahasiswa ini sehingga akhirnya setelah lulus mereka tidak memiliki tujuan yang jelas, bahkan kehilangan minat di dunia ini sama sekali setelah merasakan kejamnya dunia IT. Bahkan beberapa di antaranya mengambil karir yang jauh berbeda dengan jurusan yang dienyam selama menjadi mahasiswa, tapi paling tidak mereka masih mendapatkan pekerjaan.

Kembali kepada bidang yang saya tekuni, bahwa sebagian besar mahasiswa IT yang pada akhirnya masuk ke jalur yang tepat, menekuni pekerjaan sebagai programmer. Sebenarnya menjadi programmer tidak harus melalui proses pendidikan di perguruan tinggi terlebih dahulu, apalagi dengan mudahnya akses untuk belajar programming saat ini. Banyak materi yang disajikan di internet sehingga seorang yang belum lulus SMA pun sudah bisa menjadi programmer, toh tujuan programmer hanya mengetikkan kode dan menjalankannya menjadi sebuah aplikasi atau program saja. Yang mereka tidak sadari, untuk bersaing di dunia ini, bukan hanya sekedar bisa mengetik dengan cepat dan menghindari kesalahan sebanyak mungkin, tetapi juga bagaimana merancang dan mengevaluasi seluruh sistem yang ada.

Pada kenyataannya, saya belum banyak melihat kemampuan ini dimiliki oleh fresh graduate dari jurusan IT. Beberapa orang akan beralasan bahwa kemampuan ini akan didapatkan seiring dengan pengalaman yang didapatkan pada saat bekerja. Lalu, apakah mereka harus disalahkan karena mereka tidak mulai bekeja dulu saat mereka kuliah? Dan apakah saya sendiri memiliki keuntungan karena sudah lebih dahulu kerja sambil kuliah? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Seperti yang saya katakan, bahwa saat ini sangat mudah mengakses materi-materi pembelajaran melalui internet, dan itu tidak sebatas pada programming saja, tetapi juga konsep-konsep dan desain yang dapat diimplementasikan di dunia nyata. Bahkan berbagai proyek open-source dapat diakses dengan mudah setiap orang yang ingin belajar bisa membuka dan mempelajari aplikasi yang sudah dibuat dan digunakan secara luas. Tapi apakah ini cukup untuk menggugah para mahasiswa untuk belajar lebih banyak semasa kuliah? Belum tentu.

Di satu sisi, dengan tidak banyaknya orang yang berpikir lebih jauh ke dalam IT, terutama dengan posisi programmer atau software engineer, saya pribadi mendapatkan posisi yang cukup diuntungkan karena tentu saja persaingan menjadi berkurang. Tetapi di sisi lain, keadaan ini akan menyulitkan saya karena sebagian besar pekerjaan harus saya handle sendiri.

Mindset yang Benar dan Salah dalam Gaji

Terlepas dari apakah setiap orang memiliki skill dan pengalaman yang cukup untuk masuk ke dunia kerja, terdapat satu lagi masalah yang dimiliki oleh fresh graduate, yaitu mindset atau cara pikir atas pekerjaan yang akan dihadapi di dunia nyata. Dan tentu bila kita bicara mindset, sebenarnya kembali lagi ke pengalaman individual mengingat mindset dapat dibentuk seiring dengan waktu. Tentu keterbentukan mindset ini bisa benar dan juga bisa mengarah ke jalan yang salah. Bagi saya, belakangan mindset yang salah lebih banyak dikembangkan pada anak-anak fresh graduate, tanpa bermaksud men-generalisir karena tentu masih ada fresh graduate yang memiliki mindset yang benar. Selain itu, benar dan salah adalah masalah etika sehingga yang benar bagi saya, belum tentu benar bagi Anda, jadi semua relatif, tetapi di sini saya akan mencoba menumpahkan pemikiran saya pribadi.

Kebetulan saya sempat berbincang-bincang dengan seseorang yang merupakan salah satu petinggi sebuah perusahaan, dan perbincangan seputar dunia kerja dan pekerjanya. Beliau cukup antusias untuk menceritakan pengalamannya dalam merekrut para lulusan perguruan tinggi, dan kebanyakan yang diceritakan adalah lulusan-lulusan baru yang memiliki mindset yang menurutnya dan menurut saya pribadi salah.

Saat ini ada kecenderungan bahwa para lulusan akan mematok harga tinggi untuk gaji mereka, tentu hal ini sangat logis. Siapa yang tidak mau mendapatkan gaji tinggi, apalagi di Jakarta yang memiliki biaya hidup yang tinggi serta gaya hidup yang tidak terbatas dan terus berkembang? Tetapi logika ini akan segera dipatahkan ketika gaji ini dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Seperti yang saya katakan di atas bahwa sebagian besar fresh graduate tidak memiliki pengalaman kerja maupun skill yang cukup untuk mendapatkan gaji yang diharapkan. Beberapa dari fresh graduate sempat cerita ke saya bahwa mereka sengaja mematok gaji yang tinggi supaya bilapun ditawar, maka harganya akan turun sedikit.

Sebagai perbandingan bahwa saat ini (2014), gaji standar untuk seorang fresh graduate yang belum berpengalaman di dunia IT adalah sekitar 2,7 juta sampai dengan 3 juta rupiah, beberapa sudah termasuk uang makan dan transport, sedangkan beberapa perusahaan lainnya mematok gaji tersebut sebagai gaji bersih, sehingga nilai tertinggi yang syukur-syukur bisa didapatkan oleh seorang fresh graduate yang belum memiliki pengalaman apapun adalah 3,5 juta rupiah. Bila perusahaan yang Anda lamar cukup sukses dan memiliki title multinasional, mungkin bisa mendapatkan 4 sampai 5 juta rupiah sebagai fresh graduate, tetapi tentunya ekspektasi dan seleksi yang dilakukan akan lebih ketat. Siapapun tidak akan membayar seseorang dengan harga yang tinggi yang tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pihak perusahaan.

Anehnya, beberapa orang masih menganggap bahwa nilai 5 juta rupiah per bulan masih sangat kecil untuk ukuran mereka. Ada beberapa kemungkinan mereka memiliki pemikiran seperti itu. Pertama, beberapa orang membandingkan gaji di Indonesia dengan gaji di luar negeri, khususnya negara maju. Tanpa logika yang baik, konversi langsung gaji standar pekerja di Amerika Serikat yang sebesar 5 digit dolar per tahun, asumsikan saja $12.000 per tahun, maka ketika dikonversikan ke rupiah akan menjadi Rp 10.000.000 per bulan.

Kedua, karena mereka merupakan perantauan sehingga biaya hidup mereka akan bertambah. Sebagian mahasiswa yang berasal dari daerah umumnya akan tinggal di indekos sekitar kampus mereka agar kampus lebih mudah diakses, dan belakangan harga indekos tidak lagi murah. Kamar kos dengan fasilitas AC umumnya dipatok sebesar 1,2 juta per bulan saat ini. Bila dengan kamar mandi dalam, tidak menutup kemungkinan bisa mencapai harga 1,5 juta per bulan. Selain itu, beberapa mahasiswa yang saya temukan memiliki kecenderungan sudah cukup nyaman dengan kamar kos yang ditempati selama 3 tahun perkuliahan, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk keluar. Tentu saja hal ini berimplikasi ke biaya transportasi untuk ke tempat kerja. Dengan perhitungan bahwa setiap kali pergi / pulang kerja menggunakan 2 kali angkutan umum dengan biaya Rp 3.000 per perjalanan, maka dalam sehari harus menghabiskan Rp 12.000, atau Rp 240.000 sebulan (20 hari kerja).

Tidak lupa juga dengan uang makan sebesar Rp 10.000 untuk sekali makan, sehingga dalam satu bulan akan menjadi Rp 900.000 bila makan 3 kali sehari. Dengan hitungan ini, ditambah minimal biaya lainnya Rp 1 juta untuk cadangan, maka biaya yang diperlukan untuk satu bulan minimal sekitar Rp 3.340.000, angka yang cukup fantastis hanya untuk bertahan hidup di Jakarta dengan 4 komponen tersebut sebagai seorang perantauan, . Tentu saja hal ini menjadi pertimbangan bagi para pekerja untuk mematok gaji tinggi, dan juga bagi perusahaan untuk merekrut karyawan yang memiliki domisili yang dekat serta memang tinggal di Jakarta sejak awal. Jadi bagi perusahaan jangan berharap untuk mendapatkan pekerja dengan range gaji di bawah Rp 3.500.000 bagi anak-anak daerah yang memiliki standar hidup yang cukup tinggi tersebut. Dan, saya akui mindset ini cukup logis dan benar, walau kembali lagi ke masing-masing orang apakah akan berusaha lebih untuk mendapatkan lebih atau tidak.

Ketiga, adalah keinginan untuk bisa menabung lebih banyak sejak awal, dan pada akhirnya melakukan pengeluaran lebih sejak awal. Saya tidak dapat membantah bahwa budaya konsumtif sudah cukup mengakar kuat di Indonesia, apalagi di Jakarta. Setiap orang ingin memiliki perangkat gadget yang terbaru dan terbaik, bisa menikmati makanan yang terbaik dan termahal, serta menikmati hidup dengan hiburan yang terbaik pula, tapi tanpa usaha yang keras dan tidak tahan banting.

Keempat, mungkin ini cukup tidak masuk akal bila ada orang yang mengatakan hal ini, tetapi kenyataannya memang ada. Beberapa orang masih menganggap bahwa kerja hanyalah opsional bagi mereka, mengingat mereka dari kalangan yang berada. Tanpa bekerja pun, mereka bisa mendapat penghasilan dari orang tua atau perusahaan yang dijalankan oleh orang tua mereka. Untuk dapat bekerja, mereka ingin agar penghasilan yang didapat dari bekerja lebih tinggi dari penghasilan yang didapatkan dari orang tua mereka. Bila alasannya seperti ini, maka hanya masalah waktu saja mereka menjumpai masalah di masa depan mereka.

Pemanjaan Mental

Seluruh masalah tersebut berakar dari mental masing-masing orang. Akses teknologi yang mudah saat ini, membuat orang makin merasa hidup lebih mudah dan nyaman, serta beberapa hal dapat dilakukan dengan instan. Sayangnya, bagi beberapa orang, sukses mungkin juga bisa didapatkan dengan instan tanpa pengorbanan. Beberapa fresh graduate yang saya kenal, dengan mudah keluar dari perusahaan tempatnya bekerja hanya karena tidak tahan dengan beban training yang dilaksanakan oleh perusahaan tersebut, padahal perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan yang terkenal di Indonesia. Yup, bahkan belum melewati training sudah menyerah di tengah jalan. Lalu kenapa sejak awal orang ini tidak dihentikan saat rekruitmen?

Sebenarnya perusahaan memiliki cara untuk menangkal orang-orang seperti ini yang dinamakan psikotest. Test ini merupakan cara yang digunakan untuk melihat potensi seseorang, serta sifat seseorang dalam hal profesionalisme, misalnya team work atau kemampuan menghadapi masalah, fokus terhadap pekerjaan dan berpikir dengan cepat. Dengan test-test seperti ini, walau tidak 100% dapat menyaring orang-orang yang kurang cocok, akan tetapi umumnya dapat mengurangi kemungkinan perusahaan merekrut orang-orang yang salah dan berpotensi merusak. Walau demikian, trik-trik untuk menghadapi test ini sudah mulai banyak beredar di internet dan sangat mudah untuk dicari, sehingga hasil test saat ini belum tentu murni menunjukkan perilaku seseorang dalam bekerja. Dalam kasus orang yang saya ceritakan sebelumnya, orang tersebut memiliki channel berupa kerabat dekat sehingga rekrutmen dapat dilewati dengan mudah.

Bila test yang sudah menjadi standar ini saja tidak reliable, bagaimana lagi cara untuk menyaring dan melihat potensi karyawan? Sebagian besar perusahaan akan melakukan probation period, atau dengan kata lain masa uji coba, yang umumnya berlangsung selama 3 bulan sampai 6 bulan. Selama masa ini, karyawan mendapatkan gaji yang lebih kecil dari yang dijanjikan, dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu bila perusahaan tidak puas, dan ada kemungkinan pihak pekerja juga dapat mengajukan penghentian. Umumnya pada masa ini beban kerja yang diberikan akan sama dengan beban kerja umum untuk melihat skill dan kemampuan pekerja tersebut dalam menghadapi tekanan pekerjaan.

Lalu bila probation period masih tidak cukup, pihak perusahaan juga dapat mengajukan kontrak kerja yang umumnya berlaku 1 atau 2 tahun (dengan undang-undang ketenagakerjaan Indonesia maksimal 3 tahun), sehingga perusahaan dapat memberhentikan pekerjanya bila performa tidak mencukupi dan pekerja juga dapat mundur setelah masa kontrak selesai.

Permasalahan seperti ini sebenarnya sudah cukup familiar bagi saya sendiri, mengingat bila membaca dari post-post sebelum ini (dalam Bahasa Inggris), saya menceritakan bahwa adanya anggota tim yang menghilang tanpa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dan dapat dipastikan sangat sulit mencari pekerja-pekerja yang loyal dan tidak berorientasi kepada gaji besar semata.

Tips dan Trik

Di bagian ini, saya memberikan tips dan trik untuk menjadi sukses dari berbagai perspektif, termasuk dari pengalaman saya selama ini. Tentu saja kesuksesan relatif bagi setiap orang, silahkan Anda nilai sendiri target sukses Anda seperti apa, karena sampai saat ini pun saya masih berusaha untuk sukses. :)

  • Jangan bekerja dengan orientasi gaji semata, akan tetapi orientasi kepada pengalaman dan skill. Dengan pengalaman dan skill yang cukup, otomatis gaji akan disesuaikan dengan sendirinya.
  • Jangan menutup diri kepada proses pembelajaran. Bagi sebagian orang, belajar sudah usai setelah tidak lagi di bangku perkuliahan, akan tetapi di kehidupan nyata, pembelajaran dilakukan terus menerus sepanjang hidup. Ketika Anda berhenti belajar, maka saat itulah Anda berhenti untuk berkembang.
  • Jangan takut untuk membantu orang lain. Apalagi bila bantuan yang diminta bukan sesuatu yang benar-benar kita kuasai, karena justru dari sana kita dapat belajar lebih untuk menguasai sesuatu yang belum pernah kita lakukan.
  • Percaya atas usaha Anda. Tidak ada orang yang secara instan dari orang kecil menjadi sukses atau miliuner seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg. Selalu percaya bahwa sekecil dan seberat apapun usaha Anda tidak akan sia-sia dan memiliki hasil di masa depan.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dengan pengalaman yang cukup banyak di dunia IT, pekerjaan datang dengan cukup mudah kepada saya. Tahun lalu ketika saya memasang profile di LinkedIn, bisa dikatakan bahwa hampir setiap minggu saya mendapatkan tawaran kerja dengan berbagai posisi di dunia IT. Selain itu tawaran kerja juga datang dari beberapa kenalan dengan posisi yang cukup menggiurkan, salah satunya CIO dalam perusahaan. Akan tetapi mengingat saya selalu ingin mencoba sesuatu yang baru dan tidak pernah ingin terikat, maka seluruh tawaran tersebut tidak saya ambil sampai saat ini.

Kesimpulan

Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan generasi di bawah saya, saya menulis tulisan ini untuk membagi pemikiran saya atas apa yang saya alami selama ini. Seperti yang saya katakan, kesuksesan dan definisi sukses ini kembali ke pribadi masing-masing orang, begitu pula dengan cara mencapai kesuksesan tersebut, atau mundur dari kesuksesan. Hanya saja fenomena yang terjadi belakangan membuat saya tertarik untuk menuliskan mengenai lemahnya daya saing fresh graduate saat ini.

Pada akhirnya, semoga saja pendapat saya ini merupakan pendapat atau opini yang salah dan dapat dipatahkan dengan pembuktian di dunia kerja. :)

This entry was last modified on: September 7th, 2017 at 1:29

What I Learned as a First Time Project Leader

Being a one man team, or just small teams who never exceed 5 people make me an awkward person when I am assigned to lead people in application development. Since last year (December 2013), I have been assigned to lead a team which consists of 12 people, and honestly it’s so difficult and emotionally burdening. However since this is the first time I ever lead a team with this number of people, I have learned many things, some by hard way, some by soft way.

I’m not a management person, and I usually get the position as technical or field operator. The past forges me to be a person who have qualification in technical and analytic, but have flaws in social and management. I know these aspects can be improved by the experience, however as I told you, this is the first time I lead the big enough team. Just for information, the team consists of me as senior programmer, 6 junior programmers, 3 system analysts, 1 database designer, and 1 system documentation.

The summary of the story is that one by one of this team left the team, especially since many of them (9 of them) are fresh graduates, and as usual, this kind of project take times to be finished, when at the same time they have to choose to stay in this project or continue with their own professional job. For some of them, it’s as easy as flipping the hand, so some of them leave to get what they think as better jobs, some of them just going back to their hometown, one of them focused in his parent business, and some of them leave without any valid reasons. In the end, currently there are 5 people, and one of them is still don’t decide what to do.

Here are the list of the mistakes I made and what should be done:

1. No Commitment Contract

This is the first noticeable things. Without contract, the team members may just leave or slacking of what they should do. Actually, even with signed contract they can still do that, but usually they will think twice since it has more power than non-contract system. From the experience, even a contract will not stop the worker to flee from their job.

2. No Good Communication

Communication is very important in team. A good communication determines if your team will go in the right direction or rather in wrong direction. I’ve done the mistakes when I communicate with my superior and in the end had argument with him. Also I hardly report the progress to my superior so he don’t know if there are any issues in the development. If you are the leader, you should communicate well with your teams and also with superiors.

3. Emotionally Attached to the Team

Actually, it’s okay to be attached to your team, it’s naturally will happen when you work with the same people in some period of time. However this usually leads to emotional problems where you will think them more as friends rather than professional partners. You may think that giving an order to the teammates is the same as telling your friends to do something, and you may develop uncomfortable thought about this. Keep your professional life separated with your personal life. Personal issues which are brought to professionalism is really devastating.

4. You Don’t Select Your Teams

A team leader should choose who will be in the teams and who will be outside of the team. In my case, I must accept any people who are assigned to me without knowing if they are into this kind of jobs. From my experience, the person who tested before joining the team will yield a better result than the person who I don’t test. If you really can, make sure you are the one who select the team members.

5. Have Personal Romantic Relationship

Sometimes in multi-gender team, you cannot avoid of being too close with your team member and in the end might want to have romantic relationship with your teammate. Unless you’re sure this will be fine and your relationship is always in good mood (of course, this is virtually impossible), you may do this. Avoid romantic relationship as far as possible, or at least, postpone the urge to have romantic relationship until you have finished at least about 90% of the project.

6. Unstable Team

A team should stay as long as possible until the project is finished and perhaps have more time for the maintenance. However in my case, since the majority of the team members are fresh graduates, it ended up as failure when they have to choose stable job instead of this part-time job. Always look for team member who have more time and commitment.

7. Don’t Make Sure Your Position

I have dilemma when doing this project. When I first met my team, I am introduced as senior programmer and also assigned to lead the team when we are in the field, and the project manager is held by my superior. In the end, the superior never shows up and I have to handle all the field project leading, and I don’t know what the real project manager do. The worst of all, the team who left only reporting to me, not the real project manager.

8. Too Talkative

Usually when there is problem, I write to all my team members about the issues. In the end, the awkwardness happened. If there are issues with one of your team member, try to talk to them personally. And when there is an achievement that they done, praise them publicly. It’s what I learned from internet, but yet I don’t implement it in this team.

9. Experiment on the Team

The moment I was trusted a team, the first thing popped up in my mind was what is the best management style I should do with them. And from that evil thought, I started to try several management style, began with free one, to the strict one, and happened every 2 weeks. This is the wrong decision. Even when I successfully found a good and suitable management style for them, it doesn’t mean it also suitable to other people. Just try to be yourself, don’t change your management style over time, let your team members adapt to you when at the same time you try to adapt to them.

10. Expect Too Much in Loyalty

Loyalty is really rare these days. People tend to find a new place to stay when they think and feel more comfortable than the previous one. The younger generations who have relied in technology will have this thought in mind and their way of thinking is far more dynamic than older generation. You cannot expect them to handle the main module in your project if you even can’t ensure that they will loyal or feel comfort with you and your team. In the end, the one you have to trust is yourself, in which you might have to do all the task in project by yourself. By all, I mean really all the tasks, in my case are coding, analyzing, designing, testing, data migrating, documenting, etc.

Conclusion

Whether you’re new to project management or leading professional teams, always look at your team members no matter what, simply because a team doesn’t exist without team members. Try to be a good example for your team. Well, even if you try the best in your team, always expect for the worst, and have secondary plan in your mind when sometimes the team is broken. At worst, be ready to handle all by yourself. :)

This entry was last modified on: September 7th, 2017 at 1:29

Secuil Kisah 3 Hari di Semarang (dan Sekitarnya)

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pada tanggal 12 April 2010 sampai dengan 14 April 2010 yang lalu aku pergi ke Semarang untuk bekerja. Yap, bekerja. Loh, emangnya aku udah punya pekerjaan yah? Untuk sementara ini statusnya masih kerja sebagai freelancer, choy. Tapi yah akhirnya juga tetap aja namanya bekerja karena aku pergi ke sono memang tujuannya untuk memenuhi tugas pekerjaanku.

Dan aku akui bahwa selama 3 hari 2 malam di Semarang sangat melelahkan karena seperti yang aku tulis di judul entry ini, bahwa aku bukan cuma ke Semarang saja, tapi juga kota-kota di sekitarnya yaitu Pekalongan dan Purwokerto. Perjalanan ini aku tempuh bersama Pak Henry, manajer proyek yang selama ini membimbingku, hanya saja aku harus melakukan perjalanan terpisah dengan Pak Hen yang menuju ke Blora dan Magelang. Dan masing-masing kedua kota itu ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil. Berjam-jam duduk di mobil tentu ga menyenangkan.

Oke, kita mulai saja ceritanya.

Hari 1: Tanggal 12 April 2010, Kampus 6 Pekalongan

Hari ini merupakan hari keberangkatanku. Bangun jam setengah 4 pagi, memperbaiki programnya sedikit sebelum mandi, kemudian mandi, siap-siap dan naik ke taksi. Seperti biasa, taksinya sudah datang dari jam 4 pagi, padahal aku pesan untuk jam setengah 5 pagi. Karena masih pagi-pagi buta, lalu lintas pun lancar dan ga sampai 20 menit sudah sampai ke Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3. Ga sampai 10 menit kemudian, Pak Henry pun datang, kemudian kami melakukan check-in. Tak ada delay, akhirnya kami pun naik ke pesawat dan berangkat menempuh perjalanan udara selama 45 menit.

Pukul 07.00 kurang, kami tiba di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Dan di sana kami dijemput oleh staf Poltekkes yang akan menemani kami ke masing-masing kota. Dari bandara, kami langsung berpisah menuju kota tujuan kami masing-masing. Pak Henry menuju ke Blora yang menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam, aku sendiri menuju ke Pekalongan yang menghabiskan waktu 2 jam perjalanan.

Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya sampai ke kampus Poltekkes di Pekalongan. Setelah sedikit ramah tamah dengan staf kampus, akhirnya aku pun diajak menuju perpustakaan untuk memasang aplikasi dan mengaturnya agar bisa digunakan. Karena ini merupakan hari pertama, jadinya agak kebingungan juga apa yang musti dilakukan. Apalagi server yang disediakan adalah Windows Server 2008, sedangkan client nya menggunakan Windows 7. Kedua operating system ini merupakan sesuatu yang cukup baru bagiku yang sampai saat ini masih senang berkutat cukup hanya di Windows XP dan Linux saja. Apalagi SQL Server yang digunakan di dalam servernya masih SQL Server 2000. Yah, kalau mau dibilang perbandingannya antara langit dan bumi antara SQL Server 2000 dengan Windows Server 2008.

Setelah utak-atik yang hampir 30 menit masih belum bisa mengkoneksikan client-nya, akhirnya aku mulai membawa training untuk aplikasi online library terlebih dahulu berhubung aplikasi ini merupakan aplikasi web yang dapat diakses dari internet. Training yang dijadwalkan 1 jam akhirnya molor menjadi 2 jam, terutama karena juga merupakan kali pertama aku memberi training di sini, jadinya semua aku jelaskan secara detail bahkan sampai meminta trainee mencoba modulnya satu per satu.

Setelah molor itu, akhirnya aku memasang aplikasinya Sistem Informasi Akademik di komputer server agar bisa dicoba langsung di sana mengingat client-nya masih belum bisa terhubung. Training untuk SIA pun dimulai dan pesertanya cukup banyak karena hampir semua staf di sana diperbolehkan untuk ikut walaupun tidak menggunakan aplikasi ini nantinya. Sama seperti library, training ini memakan waktu 4 jam dari 3 jam yang dijadwalkan karena masih sedikit kagok dengan aplikasinya mengingat aplikasi ini bukan aplikasi yang aku buat sehingga belum terlalu lancar dalam mendemokannya. Akhirnya training selesai pukul 17.00, dan aku melanjutkan kembali pengaturan server-nya. Sempat berkomunikasi dengan Pak Henry yang sedang ada di Blora juga, tetapi ternyata Pak Henry juga mengalami kegagalan di sana.

Di sini muncul diagnosa bahwa kemungkinan SQL Server 2000 sudah tidak compatible lagi dengan Windows Server 2008 di mana mungkin ada beberapa hal yang tidak tercatat karena perbedaan versi yang terlalu jauh sehingga port TCP/IP yang digunakan untuk berkomunikasi antara server dan client tidak terbuka. Alhasil setelah berkutat selama hampir 1 jam dan tidak mendapatkan hasil, ditambah lagi karena sudah mahgrib, aku pun menyerah dan menjanjikan akan mengirim panduan bila sudah berhasil nantinya. Bersama supir dan staf dari Semarang sebelumnya, kami langsung menuju ke Purwokerto karena perjalanan yang akan memakan waktu 2 sampai 3 jam. Ketika di bandara, staf tersebut sempat bilang bahwa setelah Pekalongan, kami akan kembali ke Semarang dulu dan besoknya akan berangkat ke Purwokerto jam 5 pagi, akan tetapi dibatalkan mengingat lebih mudah langsung ke Purwokerto.

Perjalanan kali ini tidak lancar, apalagi supirnya belum pernah menempuh perjalanan dari Pekalongan langsung ke Purwokerto. Melewati hutan yang gelap dan sepi, lalu tiba-tiba hujan deras, dan kemudian ada kecelakaan tepat di depan mata kami di mana seorang pengemudi motor dari arah berlawanan jatuh di saat hujan deras di tengah hutan tersebut. Untung saja supir mobil yang aku tumpangi langsung membelokkan mobil ke kiri dan memperlambat lajunya, kalau tidak, mungkin pengendara motor itu bisa tergilas. Mengingat keadaan yang gelap dan hujan lebat, supir pun memutuskan untuk berhenti sebentar dan menyalakan lampu darurat untuk memperingatkan pengemudi lainnya sampai ketika pengendara motor sudah bisa berdiri sendiri lagi. Yang agak aku tidak suka adalah ketika staf dan supirnya mengatakan kalau aku takut ketika melewati hutan ini, dan juga masih dilanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain bahwa seolah-olah aku anak kecil yang masih perlu ditemani sampai setiap detik dan inch-nya. Padahal memang ga ada sesuatu yang bisa dibicarakan sehingga yah aku diam saja menikmati perjalanan itu. Yeah, whatever. Kemudian perjalanan kami lanjutkan lagi.

Ga sampai di sana, kami pun melewati jalan yang sempit di mana terdapat banyak tanjakan dan turunan yang curam. “Gila, ini nyasar atau apa?”. Aku sempat mencoba aplikasi Google Maps yang terdapat di handphone-ku, ternyata prediksi posisi saat ini cukup tepat selama perjalanan. Dan dari sana aku bisa tahu sampai di mana kami nyasar. :D Yang masih membuatku bingung adalah bagaimana caranya Google mengetahui posisiku hanya menggunakan perkiraan dari pemancar atau BTS di sekitar daerah itu, tanpa GPS. Setelah 1 jam berkutat dengan keadaan yang gelap, akhirnya kami sampai juga di Purwokerto setelah 4 jam perjalanan dari perkiraan sebelumnya yang hanya 2 sampai 3 jam. Di sana kami makan malam terlebih dulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke hotel. Agak lain dari perkiraanku karena sebelumnya aku dan Pak Henry diberitahu akan menginap di guest house.

Di hotel, aku pun segera mandi, kemudian mencari-cari informasi mengenai masalah yang aku temui melalui handphone. Kemudian aku mendapat kabar buruk di mana Pak Henry harus pulang terlebih dulu karena terdapat rapat dadakan pada tanggal 14. Alhasil akhirnya aku harus pulang belakangan sendirian dan juga membawakan training ke 2 kampus sekaligus di hari terakhir nanti. Padahal sebelumnya seharusnya setiap lokasi ini nantinya akan dikunjungi olehku dan Pak Henry masing-masing. Akhirnya lokasi training dijadikan satu saja untuk menghemat waktu. Setelah menerima berita tersebut, karena udah ga kuat lagi akhirnya aku memilih tidur saja, apalagi pagi-paginya aku harus bangun dan siap-siap ke kampus selanjutnya.

Hari 2: Tanggal 13 April 2010, Kampus 7 Purwokerto

Bangun pukul 07.00, kemudian siap-siap dan checkout pukul 07.30. Bukannya langsung berangkat ke kampus di Purwokerto, kami justru naik dulu ke kawasan Batu Raden, cuma sekedar untuk menunjukkan kepadaku keindahan kawasan itu. Katanya daerah ini merupakan “Puncak” nya Jawa Tengah. Di sepanjang jalan memang banyak penginapan dan rumah makan. Setelah menunjukkan kepadaku sebentar kawasan itu, akhirnya kami sarapan dulu di rumah makan padang. Yah, ga di Jakarta, ga di Semarang, ga di Purwokerto, makannya selalu nasi padang.

Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke kampus di Purwokerto yang hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari hotel kami. Kampus ini mungkin merupakan kampus terluas yang aku kunjungi dan suasananya sangat tenang dan sejuk. Yah mengingat kampus ini terdapat di daerah pegunungan. Setelah ramah tamah, akhirnya kami menuju ke ruang komputer kampus itu, dan di sana aku mulai membawakan training untuk aplikasi library online. Setelah 1 setengah jam training library online, aku pun ke ruang server-nya untuk mengatur aplikasi yang ada, dan kasusnya masih sama seperti yang kemarin. Alhasil karena server masih bermasalah, acara berikutnya adalah training untuk aplikasi SIA, masih di ruang komputer. Setelah 3 jam training, aku pun kembali ke ruang server untuk mengutak-atik server dan jaringan.

Setelah 1 jam mencari-cari di internet, akhirnya aku menemukan titik terang di mana terdapat artikel di internet yang menyatakan SQL Server 2000 memang bermasalah kalau belum terinstall Service Pack 4 (SP4) nya. Akhirnya aku memanfaatkan koneksi internet di sana untuk mendownload SP4 tersebut, dan menginstallnya. Akan tetapi hujan deras tiba-tiba turun, dan berdasarkan yang aku dengar, di kampus ini sudah banyak terdapat korban yang terbakar karena petir. Dan buktinya terdapat di belakang ruang server di mana banyak korban-korban tersebut tergeletak begitu saja tak bernyawa lagi. Yah, bukan korban jiwa maksudnya, hanya korban alat-alat elektronik seperti switch dan CPU. :p

Sudah begitu, selama aku mengutak-atik itu, semua orang pergi begitu saja dan meninggalkanku di ruang server situ. Mau mencoba menkoneksikan client nya ke ruang lainnya juga bingung karena semua terkunci, akhirnya yang bisa aku lakukan adalah menunggu. Beberapa saat kemudian, akhirnya staf-staf yang terdapat di kampus itu kembali dan jadi agak ramai, dan akhirnya ruang lainnya bisa diakses. Hanya saja setelah melihat-lihat, jaringannya justru putus di bagian switch, tampaknya karena switch tersebut terbakar juga karena petir. Oke, yang penting server sudah beres.

Setelah itu aku kembali ke ruang server dan diajak makan malam oleh staf di sana. Makan malam pun yang aku pesan adalah bihun goreng, yang bisa aku dapatkan di Jakarta juga. :p Soalnya di rumah makan tersebut juga ga ada menu makanan yang spesial khas Purwokerto. Selama makan malam ini, sekali lagi aku tidak suka dengan pernyataan beberapa orang yang mengatakan bahwa dari mukaku, aku lebih cocok sebagai anak SMA tingkat 2, dan masih baby face. What the? o_O Dan sempat menyindir biaya kuliahku dan sebagainya. Yeah yeah. Just say what you want.

Setelah makan malam, kami pun kembali ke kampus, dan jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Tetapi ketua prodi Kebidanan di sana masih meminta untuk dipasang aplikasinya di gedung prodi. Alhasil setelah berkutat selama setengah jam dan tidak berhasil karena masalah switch-nya yang terdapat di ruang lain yang terkunci, kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang. Perjalanan ini yang paling melelahkan di antara perjalanan lainnya karena memakan waktu 5 sampai 6 jam, padahal supirnya sudah mengemudikan mobilnya dengan full speed.

Hari 3: Tanggal 14 April 2010, Semarang dan Jakarta

Jam menunjukkan pukul 00.00 dan ternyata kami masih dalam perjalanan ke Semarang. Dan dari Google Maps terlihat bahwa kami belum sampai setengah perjalanan. Aku sempat beberapa kali tertidur karena ga tahan, dan ga tau apakah supirnya mengantuk atau tidak. Sekitar pukul 00.30, kami tiba di Temanggung. Di sana kami sempat berhenti dulu untuk menjenguk ibu salah satu staf yang mengalami kecelakaan yang harusnya mendampingi Pak Henry di Magelang, mumpung lewat di daerah ini. Kemudian kami melanjutkan lagi perjalanan.

Kemudian sempat sekali lagi berhenti untuk mengisi bensin pada pukul 01.00. Di sini kami mengalami masalah di mana ternyata ban belakang kiri mobil kempis sehingga kami mencoba memompanya menggunakan fasilitas pompa angin gratis di pom bensin tersebut. Ternyata setelah dipompa tidak berhasil karena tampaknya ban bocor. Setelah beberapa lama berkutat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi, dan berhenti sekali lagi untuk mengisi angin di tengah jalan di tukang ban pinggir jalan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan, dan kami pun tiba di Semarang pukul 02.30 dan langsung menuju ke hotel tempat Pak Henry menginap. Setelah men-drop aku di sana, staf dan supir kembali melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

Di hotel, Pak Henry bilang bahwa beliau harus pulang terlebih dahulu dan berangkat ke airport pukul 05.00. Alhasil yah aku ditinggal sendirian nantinya. Jujur aja sih bahwa ini pengalaman pertamaku terbang dengan pesawat sendirian. Tapi yah, tampaknya seru jadi yah kenapa ga dicoba :D

Setelah tidur beberapa saat, pukul 05.00 aku dibangunkan Pak Hen yang berpamitan dan kemudian mengunci pintu kamar. Setelah itu aku melanjutkan tidur lagi dan terbangun pukul 06.30. Aku mandi, bersiap-siap, kemudian breakfast di restoran hotel tersebut. Setelah itu pukul 08.10 supir menjemputku, dan aku pun check out dengan menyerahkan kunci hotel. Kami berangkat ke Semarang, dan di perjalanan itu, supir tersebut bercerita bahwa dalam perjalanan Purwokerto Semarang, dia sempat hampir tertidur sambil mengemudi sebanyak 2 kali. Untung saja saat itu jalanan cukup sepi dan lurus sehingga tidak terjadi hal-hal yang ga diinginkan.

Pukul 09.00 tiba di kampus Semarang dan melakukan installasi di server dan client. Karena sudah mengetahui masalahnya didukung dengan jaringan yang waras, akhirnya aku bisa dengan mudah mengatur server dan client yang ada di lokasi ini dan semuanya terkoneksi dengan mudah. Kemudian kami melanjutkan dengan training penggunaan SIA, dilanjutkan dengan library online. Akan tetapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, sedangkan pesawat berangkat pukul 18.00 yang berarti aku harus di bandara untuk check-in pukul 17.00, maka staf Poltekkes tersebut pun memintaku untuk menuju ke lokasi kampus satunya untuk mengatur client dan server. Sedangkan training akan dilanjutkan oleh staf Poltekkes tersebut.

Kami pun langsung menuju ke lokasi satunya yang memakan waktu sampai setengah jam, untungnya lokasi tersebut dekat dengan bandara. Setelah tiba di lokasi, aku pun melakukan installasi express, yang hanya berlangsung selama kurang dari 20 menit. Untung saja jaringannya tidak bermasalah jadinya semua bisa dilakukan dengan cepat. Selanjutnya kami langsung menuju ke bandara dan tiba di sana pukul 17.05, lewat sedikit dari yang seharusnya tidak masalah. Oh iya, di Purwokerto sebelumnya aku sudah diberi oleh-oleh, jadinya untuk di Semarang aku tidak membelinya lagi, selain juga karena alasan waktu. Setelah mengucapkan salam perpisahan ke supir, aku masuk ke dalam bandara dan check-in kemudian menunggu di sana.

Di bandara, aku mendengar terjadinya kerusuhan di Jakarta. Bah, 3 hari aku ga di Jakarta aja udah amburadul gitu yah. Setelah itu panggilan untuk naik pesawat pun dikumandangkan, dan aku segera naik ke pesawat. Tampaknya karena Pak Henry mengubah jadwalnya, maka kursi di sebelahku kosong. Akan tetapi sayangnya aku mendapat kursi yang paling dekat ke arah lorong, daripada kursi di dekat jendela. Sedangkan kursi di dekat jendela itu diisi oleh seorang perempuan. Perjalanan udara ini aku tempuh dalam 45 menit.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, aku memesan taksi. Tapi sayangnya taksi yang biasa aku gunakan tidak ada, malahan adanya taksi yang tidak aku kenal. Alhasil daripada tidak pulang sama sekali atau menggunakan taksi yang aneh-aneh, aku menggunakan taksi yang ada saja. Sampai di rumah pukul 19.30, dan tepar karena kelelahan. Fiuh.

Conclusion

Akhirnya perjalanan 3 hari 2 malam selesai juga. Walau banyak hal yang ga terduga, semuanya bisa jadi pengalaman yang menyenangkan, walau beberapa merupakan hal-hal yang patut disayangkan. Satu hal yang aku ingat pasti, jangan menggunakan SQL Server 2000 tanpa service pack. Kemudian jauhkan kabel atau peralatan listrik lainnya lebih dari 5 centimeter dari media kontak yang tersambung ke luar yang dapat menghantarkan listrik dari petir. Satu lagi, whatever they said about maturity, bravery, and face, I don’t care. :) Cukup mengganggap mereka hanya becanda saja.

Itu saja pengalaman yang dapat aku ceritakan mengenai perjalananku di Semarang. Akhirnya setelah kembali ke Jakarta harus kembali ke rutinitas seperti biasa lagi. Hiks. Tapi tetap harus berjuang. Semangat!! Sekian dulu deh.

Okay, see you later, Semarang. Semoga bisa kembali lagi suatu saat lagi dan semoga lebih menyenangkan. ;)

Dua Hari di Semarang

Seperti biasa, sudah lama ga nulis blog. Entah kenapa belakangan ini blog ini sering terbengkalai begitu aja karena kesibukanku dan rasa malas yang mendera. Yay… Kali ini aku akan menceritakan lagi pengalaman yang menarik, yaitu “Dua Hari di Semarang”, seperti yang tertulis di judul. Why Semarang? Dan kenapa 2 hari doang? Memang sebenarnya harus digenapkan menjadi “100 Days Around the World”, tapi apa daya belum mampu buat itu. Hahaha… :D

Ceritanya selama 2 hari yaitu tanggal 4 sampai 5 Desember 2009 kemarin, aku dan yang lain berangkat ke Semarang. Yang lain ini terdiri dari project manager-ku, Pak Henry; Istrinya, Bu Mey; dan satu orang teman, Veronica. Yup, berempat berangkat ke Semarang untuk melakukan presentasi atas pekerjaan yang sudah dilakukan beberapa bulan belakangan di Poltekkes Semarang. Kalau untukku sendiri, kali ini merupakan perjalanan pertama yang aku lakukan untuk pekerjaan yang aku lakukan. Oke, kita mulai saja dari hari pertama.

(more…)

This entry was last modified on: December 7th, 2009 at 20:20

Portfolio: Jakarta Tourism Site

Sebagai sebuah situs yang dapat diakses oleh publik secara umum, saya ingin menunjukkan hasil kerja saya berupa situs pariwisata Jakarta. Proyek ini merupakan proyek pengembangan Content Management System multi-bahasa untuk Pemda DKI Jakarta melalui IT Directorate Bina Nusantara. Situs ini dapat diakses melalui jakarta-tourism.go.id.

Berikut adalah screenshot situs tersebut.

Enjoy Jakarta Screenshot

Enjoy Jakarta Screenshot

Situs ini dikerjakan sejak awal Desember 2008 dan diselesaikan dalam waktu kurang lebih 1 bulan. Menggunakan teknologi PHP 5, MySQL 5, Apache 2, dan dengan framework CodeIgniter. Desain dan layout dikerjakan oleh Herman, sedangkan saya mengerjakan bagian coding.

Fitur-fitur meliputi:

  • Multi bahasa (dapat menggunakan 2 bahasa bahkan lebih)
  • Fitur kalender, event dan news
  • Search dengan fasilitas full-text
  • Untuk backend tersedia fitur: file uploader (videos, images dan files), WYSIWYG editor, menu editor

Signature saya dapat dilihat pada header file dengan nama header HTTP X-Sig-Developed-By (untuk melihat header HTTP, dapat menggunakan addons Firebug atau Web Developer di Firefox).

This entry was last modified on: February 11th, 2009 at 22:57

Deadline

Satu bulan terahir saya mengerjakan sebuah proyek pembuatan website LMS untuk sebuah universitas. LMS yang merupakan kepanjangan dari Learning Management System ini merupakan suatu aplikasi e-learning untuk mahasiswa. Aplikasi ini sangat mirip dengan aplikasi Binusmaya yang bisa diakses oleh para mahasiswa Binus di http://binusmaya.binus.ac.id.

Satu hal yang menyita waktu yang paling lama adalah pembuatan modul registrasi KRS atau Kartu Rencana Studi. Sejak saya kuliah di Binus sampai menyelesaikan semester 4, saya belum pernah mengisi KRS karena sistem di Binus merupakan sistem paket di mana mahasiswa nya sudah mendapat jadwal dari pihak akademis.

Sampai saat ini, secara keseluruhan LMS ini sudah mencapai 60% penyelesaian dan diharapkan akan mencapai 100% pada akhir bulan ini. Karena dikejar waktu itulah, beberapa hari belakangan saya jarang online di internet. Jadi harap dimaklumi. :)

The feel after working

Bagi beberapa orang, terutama yang sering chatting dengan saya, selama 3 minggu belakangan saya selalu sibuk. Bahkan ketika larut malam sampai jam 3 pagi masih bisa berada dalam kesibukan saya sendiri. Jadi sebenarnya apa sih yang saya lakukan sampai sibuk begini?

Oke, mari kita flashback ke 4 minggu yang lalu.

Saat itu saya seperti biasa, saya browsing melalui komputer saya. Entah atas inisiatif apa, saya akhirnya masuk ke forum diskusi yang terdapat di Binusmaya, sebuah Learning Management System untuk mahasiswa UBinus. Saat itu secara tidak disengaja saya membaca sebuah topik yang berisi bahwa sedang dicari seorang yang bisa menggunakan PHP. Topik itu sendiri dibuat oleh teman kelas saya. Akan tetapi topik tersebut ternyata sudah lama mengendap di forum tersebut tanpa adanya tanggapan. Kalau enggak salah sekitar 1 atau 2 minggu mengendapnya.

Esok paginya saya menanyakan hal ini kepada teman saya yang memposting topik tersebut. Akhirnya ia pun menawarkan sebuah proyek yang harus dikerjakan dalam waktu 2 minggu. Awalnya saya sempat ragu untuk menerima hal ini, apalagi kalau misalnya saya benar-benar menerima pekerjaan ini waktu itu, maka ini merupakan pengalaman pertama saya dalam mengerjakan proyek sendirian.

Kemudian saya dipertemukan dengan seorang dosen yang ada di kampus saya dan ia lah yang menjelaskan seluk beluk pengerjaan proyek tersebut. Proyek yang mengusung nama aplikasi e-library ini bernilai cukup kecil bagi sebagian orang, tapi jujur saja, mendengar nilai proyek tersebut saya sudah merasa sangat besar, apalagi pekerjaan ini dikerjakan sendirian. Walau sedikit ragu, saya pun menerima proyek tersebut.

Seiring dengan waktu, proyek pun dijalankan. Dimulai dari perancangan layout situs web yang akan digunakan. Perancangan layout ini memakan waktu sekitar 1 minggu mengingat ide dalam desain tidak dapat dipaksakan agar bisa keluar secepatnya. Takutnya bila terlalu terburu-buru malah tidak akan bagus hasilnya.

Minggu berikutnya, saya mendapat desain tabel untuk database dan saya pun mulai mengerjakan script-script PHP yang akan digunakan dalam situs tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, saya makin menikmati pekerjaan ini. Terkadang dalam satu hari, yang saya lakukan hanya mengerjakan script aplikasi tersebut. Dalam 2 minggu, pekerjaan ini selesai dan pada periode tersebut pula dilakukan beberapa perbaikan dan penambahan untuk apliakasi tersebut. Kemaren, tepatnya tanggal 11 Januari 2007, serah terima dilakukan dan saya mendapat bagian dari hasil jerih payah saya sendiri.

Walau nilainya cukup berarti bagi saya, akan tetapi bukan hal ini yang menjadi tujuan utama saya menerima pekerjaan ini. Saya cukup tertarik dengan pekerjaan ini karena saya ingin belajar bagaimana menghadapi pekerjaan dalam kehidupan nyata walau hanya sebagai freelancer atau pekerja lepas. Tentu saja terdapat pengetahuan tambahan selama mengerjakan proyek ini yang beberapa diantaranya adalah saya menjadi tahu mengenai stored routines yang terdapat di MySQL, bagiamana mengolah XML, bagiamana membuat hirarki menu, bagaimana membuat tabel transaksi dan tabel master, bagiamana menggunakan buffer untuk “menahan” output agar tidak dikeluarkan, serta berkenalan dengan sebuah program mail server yaitu Mercury. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang saya pelajari melalui proyek ini yang tidak bisa dinilai oleh uang, terutama pengalaman bagiamana sibuknya bekerja dan mengatur waktu untuk kuliah di saat yang bersamaan. Tidak lupa juga bahwa hasil proyek ini menjadi salah satu dari sekian jajaran portfolio saya dalam bidang web development.

Sekarang proyek ini telah masuk ke dalam masa maintenance untuk memastikan bahwa script yang saya buat tidak memiliki bug atau masalah dalam penerapannya. Semoga saja dalam 2 minggu masa maintenance ini, semua bisa berjalan dengan lancar. Dan semoga juga makin banyak proyek yang masuk. :)

Jadi gimana rasanya setelah bekerja keras? Legaaaaaaahhhhh….. :p