Posts Tagged ‘kerja’

Problematic Employment (De)Generation

Mungkin sebagian besar dari Anda pernah membaca bahwa generasi yang ada sebelum generasi Anda akan kecewa dengan generasi Anda, dan saya yakin sebagian besar orang-orang yang berada di generasi Anda akan kecewa dengan generasi di bawah Anda. Anggaplah bahwa setiap generasi memiliki gap sekitar 4-5 tahun, dan dengan keadaan umur saya sekarang ini yang sudah pertengahan 20 menuju 30, generasi di bawah saya merupakan generasi yang diisi oleh orang-orang yang umumnya baru lulus kuliah atau populernya disebut fresh graduate.

Sebelum saya melakukan pembahasan yang serius mengenai generasi, saya ingin menekankan bahwa sebagian besar dari tulisan ini hanya opini walau beberapa akan saya sertakan dengan fakta. Saya juga menyertakan tips dan trik pada akhir tulisan ini, yang mungkin akan berguna bagi teman-teman yang akan mencari kerja dan mau sukses. Selain itu, ada baiknya kita lihat dulu kenyataan mengenai lapangan pekerjaan serta juga pekerjanya.

Pengangguran Intelektual

Berdasarkan laporan BPS atau Badan Pusat Statistik Indonesia, pengangguran yang telah mengenyam pendidikan lanjut atau yang belakangan sering disebut sebagai pengangguran intelektual memiliki komposisi sebesar 610 ribu orang dari keseluruhan jumlah pengangguran yang berjumlah 7,17 juta orang [Sumber]. Bahkan beberapa pengamat mulai memprediksikan bahwa jumlah ini akan bertambah banyak seiring dengan semakin mudahnya akses pendidikan di Indonesia. [Sumber]

Dari sumber di atas ada beberapa solusi yang ditawarkan, seperti sertifikasi, sehingga diharapkan para pekerja Indonesia ini bisa bersaing. Apalagi mengingat Indonesia akan memasuki pasar bebas ASEAN di mana nantinya pekerja dari luar negeri akan lebih mudah masuk ke Indonesia, tentu saja hal ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi calon pekerja. Sampai saat ini, sepengatahuan saya, sertifikasi belum menjadi standar di dalam kurikulum yang diajarkan di perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi memang sudah mulai melakukan sertifikasi sebelum para mahasiswanya lulus, tetapi itupun belum terlalu efektif untuk menggenjot kemampuan dari para lulusan baru.

Perguruan Tinggi dan IT

Belakangan sebagai seseorang yang mulai membuka usaha sendiri, saya memiliki kendala yang dihadapi oleh beberapa orang yang memiliki usaha saat ini, yaitu calon pekerja. Sebagai catatan, bahwa saya memiliki pengalaman kerja hampir 8 tahun, terutama di dunia Teknologi Informasi yang tentu belakangan ini sedang wah-wah nya bagi anak muda. Dengan cepatnya perkembangan teknologi, tentu ada pengaruh ke minat dari calon mahasiswa untuk mendaftar ke jurusan yang berorientasi ke dunia IT, misalnya saja Teknik Informatika atau Sistem Informasi. Selain itu pihak perguruan tinggi juga mulai jor-joran melakukan promosi dan marketing untuk jurusan ini. Perguruan tinggi yang sebelumnya tidak memiliki jurusan ini atau expertise di bidang ini pun tidak sungkan untuk membuka jurusan baru berbasis IT, bahkan perguruan tinggi baru mulai bermunculan dengan IT sebagai fokus mereka.

Tentu perguruan tinggi tidak bisa disalahkan, apalagi kita kembali ke dalam ranah pemasaran atau marketing, di mana bila ada permintaan maka ada penawaran. Bila memang ada trend baru di dunia, kenapa tidak dimanfaatkan. Semua kembali kepada pilihan masing-masing orang, apakah memang akan termakan kepada penawaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi atau tidak.

Masalahnya, tidak semua orang paham bahwa dunia IT tidak sekedar berkutat di masalah utak-atik perangkat lunak atau software, atau utak-atik di perangkat keras. Saya pernah, bahkan sering mendengar bahwa mahasiswa-mahasiswa baru memiliki motivasi di dunia IT karena sebelumnya mereka tertarik ke dunia hiburannya alias video game. Sebagian lain tertarik karena dunia IT pada akhirnya berhasil menelurkan puluhan orang yang menembus daftar billionaire terkaya di dunia.

Mindset seperti itulah yang memiliki kecenderungan menjerumuskan calon mahasiswa ini sehingga akhirnya setelah lulus mereka tidak memiliki tujuan yang jelas, bahkan kehilangan minat di dunia ini sama sekali setelah merasakan kejamnya dunia IT. Bahkan beberapa di antaranya mengambil karir yang jauh berbeda dengan jurusan yang dienyam selama menjadi mahasiswa, tapi paling tidak mereka masih mendapatkan pekerjaan.

Kembali kepada bidang yang saya tekuni, bahwa sebagian besar mahasiswa IT yang pada akhirnya masuk ke jalur yang tepat, menekuni pekerjaan sebagai programmer. Sebenarnya menjadi programmer tidak harus melalui proses pendidikan di perguruan tinggi terlebih dahulu, apalagi dengan mudahnya akses untuk belajar programming saat ini. Banyak materi yang disajikan di internet sehingga seorang yang belum lulus SMA pun sudah bisa menjadi programmer, toh tujuan programmer hanya mengetikkan kode dan menjalankannya menjadi sebuah aplikasi atau program saja. Yang mereka tidak sadari, untuk bersaing di dunia ini, bukan hanya sekedar bisa mengetik dengan cepat dan menghindari kesalahan sebanyak mungkin, tetapi juga bagaimana merancang dan mengevaluasi seluruh sistem yang ada.

Pada kenyataannya, saya belum banyak melihat kemampuan ini dimiliki oleh fresh graduate dari jurusan IT. Beberapa orang akan beralasan bahwa kemampuan ini akan didapatkan seiring dengan pengalaman yang didapatkan pada saat bekerja. Lalu, apakah mereka harus disalahkan karena mereka tidak mulai bekeja dulu saat mereka kuliah? Dan apakah saya sendiri memiliki keuntungan karena sudah lebih dahulu kerja sambil kuliah? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Seperti yang saya katakan, bahwa saat ini sangat mudah mengakses materi-materi pembelajaran melalui internet, dan itu tidak sebatas pada programming saja, tetapi juga konsep-konsep dan desain yang dapat diimplementasikan di dunia nyata. Bahkan berbagai proyek open-source dapat diakses dengan mudah setiap orang yang ingin belajar bisa membuka dan mempelajari aplikasi yang sudah dibuat dan digunakan secara luas. Tapi apakah ini cukup untuk menggugah para mahasiswa untuk belajar lebih banyak semasa kuliah? Belum tentu.

Di satu sisi, dengan tidak banyaknya orang yang berpikir lebih jauh ke dalam IT, terutama dengan posisi programmer atau software engineer, saya pribadi mendapatkan posisi yang cukup diuntungkan karena tentu saja persaingan menjadi berkurang. Tetapi di sisi lain, keadaan ini akan menyulitkan saya karena sebagian besar pekerjaan harus saya handle sendiri.

Mindset yang Benar dan Salah dalam Gaji

Terlepas dari apakah setiap orang memiliki skill dan pengalaman yang cukup untuk masuk ke dunia kerja, terdapat satu lagi masalah yang dimiliki oleh fresh graduate, yaitu mindset atau cara pikir atas pekerjaan yang akan dihadapi di dunia nyata. Dan tentu bila kita bicara mindset, sebenarnya kembali lagi ke pengalaman individual mengingat mindset dapat dibentuk seiring dengan waktu. Tentu keterbentukan mindset ini bisa benar dan juga bisa mengarah ke jalan yang salah. Bagi saya, belakangan mindset yang salah lebih banyak dikembangkan pada anak-anak fresh graduate, tanpa bermaksud men-generalisir karena tentu masih ada fresh graduate yang memiliki mindset yang benar. Selain itu, benar dan salah adalah masalah etika sehingga yang benar bagi saya, belum tentu benar bagi Anda, jadi semua relatif, tetapi di sini saya akan mencoba menumpahkan pemikiran saya pribadi.

Kebetulan saya sempat berbincang-bincang dengan seseorang yang merupakan salah satu petinggi sebuah perusahaan, dan perbincangan seputar dunia kerja dan pekerjanya. Beliau cukup antusias untuk menceritakan pengalamannya dalam merekrut para lulusan perguruan tinggi, dan kebanyakan yang diceritakan adalah lulusan-lulusan baru yang memiliki mindset yang menurutnya dan menurut saya pribadi salah.

Saat ini ada kecenderungan bahwa para lulusan akan mematok harga tinggi untuk gaji mereka, tentu hal ini sangat logis. Siapa yang tidak mau mendapatkan gaji tinggi, apalagi di Jakarta yang memiliki biaya hidup yang tinggi serta gaya hidup yang tidak terbatas dan terus berkembang? Tetapi logika ini akan segera dipatahkan ketika gaji ini dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Seperti yang saya katakan di atas bahwa sebagian besar fresh graduate tidak memiliki pengalaman kerja maupun skill yang cukup untuk mendapatkan gaji yang diharapkan. Beberapa dari fresh graduate sempat cerita ke saya bahwa mereka sengaja mematok gaji yang tinggi supaya bilapun ditawar, maka harganya akan turun sedikit.

Sebagai perbandingan bahwa saat ini (2014), gaji standar untuk seorang fresh graduate yang belum berpengalaman di dunia IT adalah sekitar 2,7 juta sampai dengan 3 juta rupiah, beberapa sudah termasuk uang makan dan transport, sedangkan beberapa perusahaan lainnya mematok gaji tersebut sebagai gaji bersih, sehingga nilai tertinggi yang syukur-syukur bisa didapatkan oleh seorang fresh graduate yang belum memiliki pengalaman apapun adalah 3,5 juta rupiah. Bila perusahaan yang Anda lamar cukup sukses dan memiliki title multinasional, mungkin bisa mendapatkan 4 sampai 5 juta rupiah sebagai fresh graduate, tetapi tentunya ekspektasi dan seleksi yang dilakukan akan lebih ketat. Siapapun tidak akan membayar seseorang dengan harga yang tinggi yang tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pihak perusahaan.

Anehnya, beberapa orang masih menganggap bahwa nilai 5 juta rupiah per bulan masih sangat kecil untuk ukuran mereka. Ada beberapa kemungkinan mereka memiliki pemikiran seperti itu. Pertama, beberapa orang membandingkan gaji di Indonesia dengan gaji di luar negeri, khususnya negara maju. Tanpa logika yang baik, konversi langsung gaji standar pekerja di Amerika Serikat yang sebesar 5 digit dolar per tahun, asumsikan saja $12.000 per tahun, maka ketika dikonversikan ke rupiah akan menjadi Rp 10.000.000 per bulan.

Kedua, karena mereka merupakan perantauan sehingga biaya hidup mereka akan bertambah. Sebagian mahasiswa yang berasal dari daerah umumnya akan tinggal di indekos sekitar kampus mereka agar kampus lebih mudah diakses, dan belakangan harga indekos tidak lagi murah. Kamar kos dengan fasilitas AC umumnya dipatok sebesar 1,2 juta per bulan saat ini. Bila dengan kamar mandi dalam, tidak menutup kemungkinan bisa mencapai harga 1,5 juta per bulan. Selain itu, beberapa mahasiswa yang saya temukan memiliki kecenderungan sudah cukup nyaman dengan kamar kos yang ditempati selama 3 tahun perkuliahan, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk keluar. Tentu saja hal ini berimplikasi ke biaya transportasi untuk ke tempat kerja. Dengan perhitungan bahwa setiap kali pergi / pulang kerja menggunakan 2 kali angkutan umum dengan biaya Rp 3.000 per perjalanan, maka dalam sehari harus menghabiskan Rp 12.000, atau Rp 240.000 sebulan (20 hari kerja).

Tidak lupa juga dengan uang makan sebesar Rp 10.000 untuk sekali makan, sehingga dalam satu bulan akan menjadi Rp 900.000 bila makan 3 kali sehari. Dengan hitungan ini, ditambah minimal biaya lainnya Rp 1 juta untuk cadangan, maka biaya yang diperlukan untuk satu bulan minimal sekitar Rp 3.340.000, angka yang cukup fantastis hanya untuk bertahan hidup di Jakarta dengan 4 komponen tersebut sebagai seorang perantauan, . Tentu saja hal ini menjadi pertimbangan bagi para pekerja untuk mematok gaji tinggi, dan juga bagi perusahaan untuk merekrut karyawan yang memiliki domisili yang dekat serta memang tinggal di Jakarta sejak awal. Jadi bagi perusahaan jangan berharap untuk mendapatkan pekerja dengan range gaji di bawah Rp 3.500.000 bagi anak-anak daerah yang memiliki standar hidup yang cukup tinggi tersebut. Dan, saya akui mindset ini cukup logis dan benar, walau kembali lagi ke masing-masing orang apakah akan berusaha lebih untuk mendapatkan lebih atau tidak.

Ketiga, adalah keinginan untuk bisa menabung lebih banyak sejak awal, dan pada akhirnya melakukan pengeluaran lebih sejak awal. Saya tidak dapat membantah bahwa budaya konsumtif sudah cukup mengakar kuat di Indonesia, apalagi di Jakarta. Setiap orang ingin memiliki perangkat gadget yang terbaru dan terbaik, bisa menikmati makanan yang terbaik dan termahal, serta menikmati hidup dengan hiburan yang terbaik pula, tapi tanpa usaha yang keras dan tidak tahan banting.

Keempat, mungkin ini cukup tidak masuk akal bila ada orang yang mengatakan hal ini, tetapi kenyataannya memang ada. Beberapa orang masih menganggap bahwa kerja hanyalah opsional bagi mereka, mengingat mereka dari kalangan yang berada. Tanpa bekerja pun, mereka bisa mendapat penghasilan dari orang tua atau perusahaan yang dijalankan oleh orang tua mereka. Untuk dapat bekerja, mereka ingin agar penghasilan yang didapat dari bekerja lebih tinggi dari penghasilan yang didapatkan dari orang tua mereka. Bila alasannya seperti ini, maka hanya masalah waktu saja mereka menjumpai masalah di masa depan mereka.

Pemanjaan Mental

Seluruh masalah tersebut berakar dari mental masing-masing orang. Akses teknologi yang mudah saat ini, membuat orang makin merasa hidup lebih mudah dan nyaman, serta beberapa hal dapat dilakukan dengan instan. Sayangnya, bagi beberapa orang, sukses mungkin juga bisa didapatkan dengan instan tanpa pengorbanan. Beberapa fresh graduate yang saya kenal, dengan mudah keluar dari perusahaan tempatnya bekerja hanya karena tidak tahan dengan beban training yang dilaksanakan oleh perusahaan tersebut, padahal perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan yang terkenal di Indonesia. Yup, bahkan belum melewati training sudah menyerah di tengah jalan. Lalu kenapa sejak awal orang ini tidak dihentikan saat rekruitmen?

Sebenarnya perusahaan memiliki cara untuk menangkal orang-orang seperti ini yang dinamakan psikotest. Test ini merupakan cara yang digunakan untuk melihat potensi seseorang, serta sifat seseorang dalam hal profesionalisme, misalnya team work atau kemampuan menghadapi masalah, fokus terhadap pekerjaan dan berpikir dengan cepat. Dengan test-test seperti ini, walau tidak 100% dapat menyaring orang-orang yang kurang cocok, akan tetapi umumnya dapat mengurangi kemungkinan perusahaan merekrut orang-orang yang salah dan berpotensi merusak. Walau demikian, trik-trik untuk menghadapi test ini sudah mulai banyak beredar di internet dan sangat mudah untuk dicari, sehingga hasil test saat ini belum tentu murni menunjukkan perilaku seseorang dalam bekerja. Dalam kasus orang yang saya ceritakan sebelumnya, orang tersebut memiliki channel berupa kerabat dekat sehingga rekrutmen dapat dilewati dengan mudah.

Bila test yang sudah menjadi standar ini saja tidak reliable, bagaimana lagi cara untuk menyaring dan melihat potensi karyawan? Sebagian besar perusahaan akan melakukan probation period, atau dengan kata lain masa uji coba, yang umumnya berlangsung selama 3 bulan sampai 6 bulan. Selama masa ini, karyawan mendapatkan gaji yang lebih kecil dari yang dijanjikan, dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu bila perusahaan tidak puas, dan ada kemungkinan pihak pekerja juga dapat mengajukan penghentian. Umumnya pada masa ini beban kerja yang diberikan akan sama dengan beban kerja umum untuk melihat skill dan kemampuan pekerja tersebut dalam menghadapi tekanan pekerjaan.

Lalu bila probation period masih tidak cukup, pihak perusahaan juga dapat mengajukan kontrak kerja yang umumnya berlaku 1 atau 2 tahun (dengan undang-undang ketenagakerjaan Indonesia maksimal 3 tahun), sehingga perusahaan dapat memberhentikan pekerjanya bila performa tidak mencukupi dan pekerja juga dapat mundur setelah masa kontrak selesai.

Permasalahan seperti ini sebenarnya sudah cukup familiar bagi saya sendiri, mengingat bila membaca dari post-post sebelum ini (dalam Bahasa Inggris), saya menceritakan bahwa adanya anggota tim yang menghilang tanpa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dan dapat dipastikan sangat sulit mencari pekerja-pekerja yang loyal dan tidak berorientasi kepada gaji besar semata.

Tips dan Trik

Di bagian ini, saya memberikan tips dan trik untuk menjadi sukses dari berbagai perspektif, termasuk dari pengalaman saya selama ini. Tentu saja kesuksesan relatif bagi setiap orang, silahkan Anda nilai sendiri target sukses Anda seperti apa, karena sampai saat ini pun saya masih berusaha untuk sukses. :)

  • Jangan bekerja dengan orientasi gaji semata, akan tetapi orientasi kepada pengalaman dan skill. Dengan pengalaman dan skill yang cukup, otomatis gaji akan disesuaikan dengan sendirinya.
  • Jangan menutup diri kepada proses pembelajaran. Bagi sebagian orang, belajar sudah usai setelah tidak lagi di bangku perkuliahan, akan tetapi di kehidupan nyata, pembelajaran dilakukan terus menerus sepanjang hidup. Ketika Anda berhenti belajar, maka saat itulah Anda berhenti untuk berkembang.
  • Jangan takut untuk membantu orang lain. Apalagi bila bantuan yang diminta bukan sesuatu yang benar-benar kita kuasai, karena justru dari sana kita dapat belajar lebih untuk menguasai sesuatu yang belum pernah kita lakukan.
  • Percaya atas usaha Anda. Tidak ada orang yang secara instan dari orang kecil menjadi sukses atau miliuner seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg. Selalu percaya bahwa sekecil dan seberat apapun usaha Anda tidak akan sia-sia dan memiliki hasil di masa depan.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dengan pengalaman yang cukup banyak di dunia IT, pekerjaan datang dengan cukup mudah kepada saya. Tahun lalu ketika saya memasang profile di LinkedIn, bisa dikatakan bahwa hampir setiap minggu saya mendapatkan tawaran kerja dengan berbagai posisi di dunia IT. Selain itu tawaran kerja juga datang dari beberapa kenalan dengan posisi yang cukup menggiurkan, salah satunya CIO dalam perusahaan. Akan tetapi mengingat saya selalu ingin mencoba sesuatu yang baru dan tidak pernah ingin terikat, maka seluruh tawaran tersebut tidak saya ambil sampai saat ini.

Kesimpulan

Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan generasi di bawah saya, saya menulis tulisan ini untuk membagi pemikiran saya atas apa yang saya alami selama ini. Seperti yang saya katakan, kesuksesan dan definisi sukses ini kembali ke pribadi masing-masing orang, begitu pula dengan cara mencapai kesuksesan tersebut, atau mundur dari kesuksesan. Hanya saja fenomena yang terjadi belakangan membuat saya tertarik untuk menuliskan mengenai lemahnya daya saing fresh graduate saat ini.

Pada akhirnya, semoga saja pendapat saya ini merupakan pendapat atau opini yang salah dan dapat dipatahkan dengan pembuktian di dunia kerja. :)

This entry was last modified on: September 7th, 2017 at 1:29

Three Months Later

Halo-halo dunia, apa kabarnya?

Pasti semua bertanya apakah web ini masih hidup? (Ge-er mode on, padahal ga ada yang nanya). Kalau Anda bertanya demikian maka jawabannya adalah yep, a really really BIG yep. Maksudnya yah: YA, masih hidup. Hidup dengan tenang, bahagia, sentosa, tentram dan damai, di mana saking damainya sampai terlena ga ada tulisan yang keluar dari sini.

Kalau pernah baca postingan dari blogku sebelumnya mungkin udah pada tau alasannya kenapa blog ini tidak di-update selama 3 bulan. Walau waktu itu jangka waktunya cuma rata-rata 1 bulan saja, dan mencapai rekor pernah 2 bulan, tapi alasannya hampir tidak jauh berbeda. Kalau belum tahu alasannya, silahkan baca posting sebelumnya :p

Sebenarnya aku ada ide ga sih buat nulis blog? Pastinya ada dan selalu ada, dan akan ada ke depannya. Terlalu banyak hal yang sayang untuk ga dituliskan dan diceritakan di sini. Kenapa ga ditulis di sini? Kadang-kadang niat itu muncul, tapi secepat niat itu muncul, secepat pula niat itu tenggelam sedalam-dalamnya. Yah, beberapa kali sudah menulis di blog ini, tapi apa daya, akhirnya mengendap di draft juga yang alhasil sampai sekarang belum muncul-muncul juga ke permukaan. Alhasil karena udah terlalu lama, tulisanku itu udah terasa basi untuk diceritakan, dan juga terasa basi untuk dilanjutkan. Makanya, jarang ada tulisan yang muncul di sini.

Hmm, sejujurnya hari ini juga hari pertamaku membuka bagian admin untuk blog ini setelah hampir 2 bulan ga menyentuhnya. Total spam yang menumpuk lebih dari 500. Thanks to all spammers and spam bots, since you all have made my site still look alive (for me of course). Dan tentu juga ga ketinggalan bebarapa orang yang mengirim comment di sini, walau setelah dibaca bikin males buat balesnya juga karena kesannya kotak buat comment = kotak untuk chat, maunya dibalas langsung secara realtime. :-l

Tiga bulan berlalu banyak hal yang menarik untuk diceritakan. Mulai dari pengalaman soal kerja, kemudian ilmu-ilmu baru yang aku dapatkan, hal-hal menarik yang aku jumpai seputar teknologi, sampai ke pemikiranku soal dunia ini dan juga yang ada di balik dunia ini.

(more…)

Sepatah-Dua Patah Kata dari Orang (Sok) Sibuk

Ini bulan apa yah? Juni? OMG!!! Mari kita liat berapa banyak post yang di-publish di bulan Mei kemaren? NOL? Nice. :cool:

Yap, lama-lama blog ini keliatan hampir ga terurus lagi. Mungkin ada yang bingung, sebenarnya apa sih yang aku lakukan sampai akhirnya aku ga menulis apapun selama 1 bulan belakangan? Memangnya aku udah kerja? Di mana? Hmmm. Aku akan coba jawab di sini.

Alasannya sama seperti posting sebelumnya, sibuk dengan berbagai macam project. Okay, I have to finish 3 projects now, 2 which are web based projects, another one is combination between web and desktop. Project-project ini sendiri sudah cukup lama digarap. Dari 2 project, satu projectnya memang aku garap sejak awal sebagai developer. Satu project lagi dicemplungin di tengah-tengah sebagai “jin” (istilah baru). :) Sedangkan satu project terakhir yang merupakan gabungan antara web dan desktop merupakan project yang digarap dari “awal” juga.

(more…)

This entry was last modified on: June 7th, 2010 at 0:32

Catatan Akhir Februari 2010: Sidang Skripsi

Satu bulan berlalu lagi. Dan sekali lagi aku cuma menulis blog sekali dalam satu bulan ini. Hehehe…

Yang jelas bulan ini merupakan salah satu bulan yang cukup berarti bagiku. Dan aku yakin juga merupakan bulan yang sangat berarti bagi kebanyakan teman-teman seangkatanku yang kuliah di Binus. Yap, bulan ini merupakan bulan penentuan dari apakah kami lulus atau tidak untuk mendapatkan gelar S1 alias Sarjana melalui sebuah proses yang dinamakan sidang skripsi. Yah, walaupun ada beberapa yang sudah mulai mendapat giliran sidang sejak awal akhir Januari kemaren sih.

Oke, untuk bulan ini aku cuma akan membicarakan tentang sidang saja dulu.

Sidang skripsi atau sidang pedadaran merupakan salah satu syarat yang harus dilalui oleh para mahasiswa Binus University jurusan Teknik Informatika untuk lulus dan layak wisuda untuk mendapatkan gelar S.Kom alias Sarjana Komputer. Tentu saja syarat lainnya adalah lulus semua mata kuliah yang diambil dengan minimal jumlah SKS kelulusan 146 SKS dan juga syarat-syarat lainnya yang agak ribet kalau dijelaskan di sini. Yang jelas tetap saja hal-hal selain sidang hanya dipandang sebelah mata saja sampai suatu ketika kita sadar ternyata syaratnya kurang untuk layak wisuda.

Selama satu semester (entah itu semester 7 atau semester 8, atau malah semester lebih lanjut lagi) kita menghadapi apa yang disebut penulisan skripsi. Di Binus sendiri ada yang disebut dengan skripsi kelas, yaitu skripsi yang sudah diatur jadwalnya dengan topik-topik yang biasanya tidak terlalu sulit, dan ada pula disebut dengan skripsi non-kelas yang merupakan skripsi dengan topik-topik di luar topik-topik umum skripsi kelas. Biasanya topik-topik skripsi non-kelas sifatnya harus unik, walaupun terkadang ada juga skripsi kelas yang salah jalur dan akhirnya masuk ke skripsi non-kelas. Alhasil beberapa orang yang salah jalur itu harus berakhir tragis di meja sidang.

Ah, yang perlu diketahui, dan ini memang cukup unik dibandingkan dengan skripsi di perguruan tinggi lainnya yaitu skripsi dilakukan secara berkelompok. Beberapa “kelompok” memang hanya berisi satu orang saja, tetapi ini sangat jarang terjadi. Dan pastinya kalau orang yang masuk perguruan tinggi lainnya akan berpikir “ga mutu amat skripsi berkelompok gitu”. Oke, ini memang benar-benar ungkapan nyata yang sempat dilontarkan temanku dulu ketika dia mendengar soal hal ini. Bagaimanapun juga, skripsi secara berkelompok punya sisi positifnya, yaitu melatih mahasiswa untuk membagi tugasnya dengan baik dan melatih mahasiswa agar dapat bekerja sama, tapi tidak saling menjatuhkan selama penulisan skripsi, bahkan sampai sidang. Kelompokku terdiri dari 3 orang, yaitu aku sendiri, Adrian, dan Dedy.

Kali ini kami mengambil skripsi non-kelas. Kami mengambil skripsi jalur Applied Technology Laboratory, atau yang biasanya disebut ATL yang kebanyakan penelitiannya cukup menantang dan unik. Sisi unik dari penelitian yang kami kerjakan ini adalah melibatkan 2 kelompok, di mana setiap kelompok terdiri dari 3 orang, sehingga totalnya 6 orang. Kelompok kami menangani software dan server, sedangkan kelompok satunya lagi berasal dari jurusan Sistem Komputer menangani komunikasi hardware dan juga micro-controller. Pertamanya memang sempat agak ragu bahwa skripsi ini bisa berjalan dengan mulus, apalagi sewaktu mengajukan proposal ke Ketua Jurusan sempat diwanti-wanti bahwa kelompok kami akan sangat bergantung dengan kelompok hardware, di mana bila satu kelompok mengalami kendala sampai penelitian berjalan di tempat atau stagnan, maka penelitian kami tidak mungkin bisa berjalan sendiri.

Pada bulan Desember 2009 yang lalu, memang sempat terjadi masalah karena komunikasi antara server dan micro-controller tidak dapat dilakukan. Setelah perjuangan keras pada akhir tahun, di mana beberapa di antara kami tidak liburan tetapi malah mengerjakan skripsi, akhirnya permasalahan pun terpecahkan. Pertama, terdapat masalah pada port Ethernet yang kendor yang terdapat di papan micro-controller. Kedua, setelah mencoba-coba memakai TCP/IP stack yang disediakan di internet secara berulang kali dan gagal, akhirnya kami pun mencoba membaca lagi source code yang disediakan oleh vendor micro-controller nya. Awalnya kami tidak mengira bahwa source code contoh tersebut juga menyertakan header untuk mengolah TCP/IP, dan aku akui bahwa source code di sana cukup sulit karena termasuk low-level, alhasil kami sempat meninggalkan source code itu untuk sementara sebelumnya.

Setelah aplikasi berhasil dijalankan, percobaan pun dilakukan dan sukses. Penulisan pun bisa dilaksanakan walaupun ada beberapa masalah yang membuatku agak kurang sreg dengan penulisannya. Tapi aku sebisa mungkin mencegah terjadinya banyak perubahan di sana, kecuali memang ada proses yang salah dan ga mungkin bisa dibantah. Oke, akhirnya setelah melalui beberapa revisi, softcover pun dicetak dan dikumpulkan. Selanjutnya kami menunggu sidang. Muncullah pengumuman di Binusmaya, bahwa sidang kami diadakan pada tanggal 18 Februari 2010.

Sayangnya kelompok hardware harus memperpanjang skripsi mereka selama 1 semester. Walaupun skripsi kami meneliti hal yang kurang lebih sama, akan tetapi ada beberapa hal yang harus berbeda sesuai dengan permintaan jurusan. Bila kelompok kami berhasil menyelesaikan semuanya, kelompok hardware masih harus menyelesaikan beberapa hal lagi. Tapi yang jelas kelompok mereka sudah banyak membantu kelompok kami selama pengerjaan skripsi ini. Kami pun masih akan membantu kelompok hardware untuk meneruskan skripsinya. :)

Satu hari sebelum sidang, aku sempat kesulitan tidur. Padahal sudah berusaha menenangkan diri dan optimis bahwa sidang besok pasti akan lulus, tanpa melihat nilainya sih. Mungkin terlalu excited dan merasa tertantang, atau justru takut ga lulus, aku sendiri ga mengerti apa yang aku pikirkan malam itu. Setelah beberapa saat mencoba memejamkan mata, akhirnya aku terlelap juga dan bangun pada pagi harinya.

Tanggal 18 Februari 2010, berangkat ke kampus pukul 11.00 dan ternyata di sana masih sangat sepi. Satu kelompok yang juga skripsi ATL sedang menunggu sidang waktu itu. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya mendapat kabar bahwa penguji untuk sidang kelompok kami adalah Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan, dan hal ini terbukti setelah papan nama penguji dipasang di meja ruang sidang. Perlu diketahui bahwa dalam satu jadwal sidang selama 4 jam (2 shift), terdapat 3 kelompok yang akan menjalani sidang. Ketika sidang berlangsung, 2 kelompok lainnya harus berada di luar ruangan, sedangkan semua anggota kelompok akan disidang sekaligus.

Kelompok kami merupakan kelompok pertama yang harus menjalani sidang di shift tersebut. Beruntunglah kami mendapatkan giliran pertama, paling ga kita ga perlu lagi deg-degan menunggu kelompok lainnya sidang terlebih dahulu sehingga bebannya sudah lebih diringankan. Sidang ini cukup santai karena pengujinya juga tidak terlalu “killer” dibanding dengan sidang yang selama ini aku tonton. Pertanyaan-pertanyaannya dapat aku jawab dengan baik, dan untungnya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sempat aku baca sebelumnya di softcover yang aku buat. Alhasil setelah lebih dari 5 menit sesi presentasi dan 1 jam lebih sesi tanya jawab, sidang untuk kelompok kami pun selesai, dan kami pun diminta untuk menunggu di luar.

Setelah menunggu 2 kelompok lainnya selesai disidang dan juga para penguji mendiskusikan nilai kami, sampai lebih dari pukul 17.30, kami pun diminta masuk lagi untuk dibacakan hasil sidangnya. Dan yang cukup mengejutkan, kami aku dan satu temanku mendapatkan nilai A, sedangkan satu lagi mendapat nilai B. Hal ini menggembirakan karena sebelumnya targetku paling tinggi hanyalah B, dan standarnya adalah C alias yang penting lulus dulu.

Walaupun lulus dengan nilai yang memuaskan, ternyata kejadian setelahnya justru malah membuatku ga merasa senang di hari itu. Yah, lebih baik kejadian itu tidak diceritakan daripada mengorek-ngorek lagi dan akhirnya bikin ga menyenangkan lagi. :D

Dan yang mengerikan selanjutnya adalah menunggu nilai UAS diumumkan. Sebenarnya nilai UAS ini yang lebih membuatku takut daripada sidang yang telah aku jalani. Seperti yang aku tulis tadi bahwa untuk sidang ini aku sudah yakin akan lulus tanpa melihat nilainya. Setelah menunggu 1 minggu lebih, nilai pun diumumkan. Dari sana dapat ditarik kesimpulan bahwa aku “lulus”, dan lagi-lagi semua nilainya lebih tinggi dari targetku sebelumnya.

Ups, kenapa “lulus” itu masih dikutip? Karena saat ini kami harus mengejar pengumpulan hardcover yang maksimal waktunya 2 minggu setelah sidang, tepatnya 4 Maret 2010 ini. Yang jelas, memperbaiki tulisan softcover untuk dijadikan hardcover selama 2 minggu tentu sudah lebih ringan dibanding menulis softcover dan membuat aplikasi selama 6 bulan lamanya.

Sekarang kami tinggal menunggu wisuda saja yang katanya akan diadakan pada pertengahan tahun ini, entah Juni, Juli atau Agustus. Beberapa temanku sudah mulai mencari kerja, bahkan ada yang sudah bekerja sejak sebelum sidang, beberapa lainnya pulang ke kampung halamannya, ada juga yang mendaftar untuk program master atau S2, sisanya lagi masih menganggur dan berlibur untuk menikmati hidup yang bebas sebebas-bebasnya. Aku sendiri saat ini masih ingin fokus ke proyek-proyekku sebagai freelancer dan memanfaatkan waktu ini untuk belajar lebih banyak lagi. Sudah saatnya kami semua bebas dari dunia kami sendiri dan terjun ke dunia yang lebih luas dengan pilihan hidup yang lebih beragam lagi.

Ayo, sekarang saatnya kita berjuang menghadapi “ujian-ujian” lainnya yang ada di depan mata dan menerapkan ilmu yang sudah kita dapatkan selamat 3 sampai 4 tahun ini! ;)

This entry was last modified on: March 2nd, 2010 at 19:46

Catatan Akhir Januari 2010

Ga disangka sudah 1 bulan lagi berlalu, dan kini kita sudah berada di penghujung bulan Januari 2010. Entah kenapa rasanya waktu sangat cepat berlalu dan 31 hari terasa sangat pendek sekali. Dan tentu cepatnya waktu yang berlalu juga sedikit banyak berpengaruh ke blog ini mengingat aku juga masih jarang menulis lagi di sini. Toh, yang jelas aku menjamin selama 1 bulan harus ada 1 tulisan yang aku buat di sini.

Ada beberapa hal yang terjadi di bulan ini dan cukup menarik untuk aku bahas di sini. Tetapi tentu saja karena isi dari entry ini hanya merupakan catatan akhir Januari 2010, maka semua yang aku tulis di sini hanya berupa rangkuman sederhana saja. Let’s get it on.

Mozilla Firefox 3.6 Namoroka

Kata pepatah, setelah 3.5, terbitlah 3.6 (pepatah baru dariku). Begitu juga kenyataan yang harus dilewati oleh Mozilla dengan merilis browser andalan mereka, Firefox 3.6 (Fx 3.6) yang memiliki codename Namoroka. Kehadiran Fx 3.6 ini aku rasa cukup disambut antusias, dan beberapa orang mungkin harus membiasakan diri dengan beberapa hal baru di sini, mulai dari behavior ketika membuka tab baru dan fitur mengubah skin dengan persona. Yap, 2 fitur baru ini merupakan fitur andalan dari Fx 3.6 ini.

Aku sendiri tidak menganggap fitur ini sebagai fitur baru, bukan karena fitur ini mencontek Google Chrome, tetapi lebih karena aku sudah menggunakan Fx 3.6 sejak Beta 1, serta menggunakan Persona sebagai sebuah addons ketika masih menggunakan Fx 3.5. Jadi ketika Mozilla meluncurkan Fx 3.6, semua sudah terasa tidak ada yang baru lagi.

Mengenai fitur lainnya seperti menambahnya kecepatan ketika membuka aplikasi Firefox sendiri tidak terlalu banyak terasa. Fitur notification untuk plugins yang baru hadir di versi ini cukup berguna ketika vendor plugins sudah merilis versi baru dari plugins nya. Kecepatan processing untuk JavaScript cukup terasa khususnya pada web yang banyak menggunakan AJAX, bahkan di web Chrome Experiment sekalipun walau masih tidak se-smooth ketika membukanya dengan Google Chrome. Beberapa fitur pada backend baru juga sudah bertambah seperti peningkatan kemampuan pada HTML5, CSS3 serta memperbaiki standarisasi yang ada dengan dicapainya poin 94/100 di Acid3.

Satu hal yang cukup menarik perhatianku adalah kesiapan addons ketika Fx 3.6 diluncurkan secara resmi. Bila dulu addons menjadi momok menakutkan bagi beberapa orang yang ingin mengupdate browser ini, kini addons sudah siap digunakan hampir sebanyak 90% ketika Fx 3.6 diluncurkan sehingga tidak perlu lagi takut untuk melakukan downgrade hanya karena banyak addons yang tidak bekerja di Fx terbaru ini.

Bila Anda masih menggunakan Fx 3.5, sebaiknya Anda mencoba mengupgrade ke Fx 3.6. ;)

Skripsi

Ah, memang yang paling menarik dan paling membuat deg-degan bagi mahasiswa yang sudah ada di semester-semester akhir adalah skripsi atau tugas akhir. Aku juga tidak terlepas dari hal ini. Mulai dari perasaan senang ketika beberapa hal sudah selesai, tetapi juga rasa takut yang mencekam sampai saat ini.

Untuk saat ini kelompokku sudah menyelesaikan aplikasi dan penulisan untuk skripsinya, dan hasil penulisan ini sudah dikumpulkan 2 hari yang lalu dalam bentuk softcover. Tapi memang ga semuanya bisa sempurna bahkan ketika sudah mengumpulkannya, soalnya masih ada beberapa yang ternyata kurang dari hasil terakhir tersebut.

Yang paling menarik selama pengerjaan skripsi ini, bisa terlihat orang-orang di angkatan dan jurusanku yang benar-benar berniat mengerjakan skripsi atau tidak, atau juga orang yang mengejar skripsi untuk sebuah gelar bernama “S.Kom” atau justru orang-orang yang berniat mendapat nilai bagus. Aku sendiri ga tau aku termasuk bagian yang mana, atau justru aku termasuk ke semuanya, relatif terhadap waktu dan kondisi yang ada kali yah.

Pada akhirnya kini yang harus kami lakukan adalah menunggu jadwal sidang pendadaran skripsi dikeluarkan dan berharap yang terbaik dari sidang tersebut. Entah napa aku jadi ingin cepat-cepat mengakhiri masa ini karena merasanya semakin lama berada di dalam keadaan ini, tekanannya semakin besar. Arghh, sudahlah, yang penting sekarang dapat S.Kom dulu, satu tujuan, satu konsentrasi, satu akhir. Huff… Daripada mengalami penyesalahan mendalam juga karena tujuan awalku ga tercapai, lebih baik aku mengubahnya dulu untuk sementara. Hehehe…

Kerja dan Masa Depan

Setelah selesai skripsi, lantas aku mau ke arah mana? Tentu saja wisuda terlebih dahulu. Inilah saat-saat yang paling ditunggu oleh setiap orang yang menyelesaikan program sarjana dan setelah melewati masa sulit selama 3 sampai 4 tahun lamanya. Bagi yang kurang beruntung atau yang memiliki jalan berbeda, mungkin mengalaminya lebih lama lagi.

Lantas setelah wisuda, mau ke mana lagi kita mengarahkan tujuan kita? Ketika masih SD, jelas kita akan melanjutkan ke SMP. Ketika di SMP, kita melanjutkan lagi ke SMA. Ketika SMA, beberapa langsung bekerja, sedangkan sisanya melanjutkan kuliah S1. Lalu bagaimana setelah kuliah S1 sudah selesai? Apakah lanjut ke S2? Atau justru bekerja terlebih dahulu? Atau malahan ga tau arah yang jelas dan memilih menganggur terlebih dahulu?

Tampaknya banyak orang yang mengalami dilema pada masa-masa seperti ini, dan tampaknya yang paling mengalami pembebanan dalam pikiran adalah orang-orang yang mencari kerja. Pekerjaan seperti apa yang diharapkan; gaji yang diinginkan berapa; tempat kerja di mana; lingkungan kerjanya seperti apa; semua ini menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Sebagian sudah memiliki target yang jelas ingin bekerja di perusahaan tertentu, beberapa lagi pasrah di perusahaan manapun dia diterima asal bisa bekerja, beberapa lagi sudah memiliki harapan yang sangat tinggi untuk gaji dan lingkungan tertentu.

Aku sendiri? Hmmm, termasuk ke dalam golongan yang terlunta-lunta di tengah-tengah dalam hal bekerja. Inilah nasib karena pemikiran setelah 2 tahun belakangan menjadi programmer freelance: pengen membuat perusahaan sendiri. Tapi sampai sekarang masih belum jelas scope nya seperti apa dan harus berkonsentrasi di bagian apa. Jujur saja sih, banyak sekali orang yang mengajakku membuat perusahaan-perusahaan, sebagian besarnya berupa software house. Tapi untuk saat ini aku belum bisa menerimanya karena kebanyakan dari mereka pun tidak memiliki arah yang jelas akan dibawa ke mana “perusahaannya” itu. Hanya karena menerima sebuah proyek kecil, lantas kebanyakan dari mereka mengharapkan proyek-proyek besar dan prestius datang dengan cepat. Ditambah lagi dengan beberapa pengalaman yang sudah aku alami belakangan ini. Inilah kenapa aku tidak terlalu tertarik ketika ada orang lain yang mengajakku membuat “perusahaan” baru.

Tapi kita lihat saja bagaimana nanti selanjutnya karena di dalam pikiranku sendiri aku sudah memiliki beberapa rencana untuk masa depanku. Tinggal tunggu tanggal mainnya. ;)

Kesimpulan

Inilah beberapa hal yang menarik bagiku selama bulan Januari ini. Sama seperti sebelumnya, aku sudah menulis beberapa draft di blogku ini, tetapi di tengah jalan tiba-tiba terhenti begitu saja. Suatu waktu nanti aku akan mempublikasikannya bila sempat. Dan harapannya, pertengahan bulan Februari ini aku sudah agak bebas karena harusnya skripsiku sudah tuntas seluruhnya, dan tentu saja semoga mendapat nilai yang baik pula. Mari kita tunggu saja apakah tulisanku akan makin banyak di bulan Februari nanti. :D

Dua Hari di Semarang

Seperti biasa, sudah lama ga nulis blog. Entah kenapa belakangan ini blog ini sering terbengkalai begitu aja karena kesibukanku dan rasa malas yang mendera. Yay… Kali ini aku akan menceritakan lagi pengalaman yang menarik, yaitu “Dua Hari di Semarang”, seperti yang tertulis di judul. Why Semarang? Dan kenapa 2 hari doang? Memang sebenarnya harus digenapkan menjadi “100 Days Around the World”, tapi apa daya belum mampu buat itu. Hahaha… :D

Ceritanya selama 2 hari yaitu tanggal 4 sampai 5 Desember 2009 kemarin, aku dan yang lain berangkat ke Semarang. Yang lain ini terdiri dari project manager-ku, Pak Henry; Istrinya, Bu Mey; dan satu orang teman, Veronica. Yup, berempat berangkat ke Semarang untuk melakukan presentasi atas pekerjaan yang sudah dilakukan beberapa bulan belakangan di Poltekkes Semarang. Kalau untukku sendiri, kali ini merupakan perjalanan pertama yang aku lakukan untuk pekerjaan yang aku lakukan. Oke, kita mulai saja dari hari pertama.

(more…)

This entry was last modified on: December 7th, 2009 at 20:20

Filosofi Orang Tua

Dalam hidup kita, pasti kita sering sekali mendengar filosofi-filosofi dari orang-orang di sekitar kita, apakah orang tua, teman, saudara bahkan sampai dari orang yang belum kita kenal. Terserah kepada kita apakah kita akan mendengarkan filosofinya, atau bahkan sampai menerapkan filosofi itu dalam hidup kita yang akhirnya menjadi prinsip hidup kita, atau justru hanya menganggapnya hanya angin lalu saja. Dan hal ini juga terjadi padaku, beberapa hanya aku dengarkan saja, beberapa juga aku laksanakan dan beberapa malah menjadi prinsip hidupku.

Ada sebuah filosofi atau petuah yang menarik dari seseorang, mungkin lebih baik disebut sebagai orang tua. Orang tua, bukan dalam arti bahwa filosofi ini diungkapkan oleh orang yang sudah tua renta, berumur 60 tahun, berambut putih dan berjenggot. No! Bukan orang tua seperti itu yang aku maksud. Tapi yang aku maksud adalah orang tua sebagai orang tua yang memiliki anak. Aku memang belum terlalu mengenal orang ini, tetapi filosofinya memang cukup menarik, dan tentu saja walau sudah sering aku dengar hal yang serupa, tapi ada satu bagian yang cukup mengena di hatiku, khususnya soal anak. Tapi seperti biasa, supaya posting ini agak panjang, aku akan mencoba menceritakan filosofi yang dimaksudnya. :)

Seperti yang aku bilang tadi, bahwa orang ini tidak begitu aku kenal. Aku hanya mengenalnya sebagai salah satu manager dari suatu perusahaan, dan aku rasa ga perlu sampai menyebutkan nama perusahaannya. Orangnya masih cukup muda, berumur sekitar 30-an tahun, dan beliau memiliki anak. Kebetulan saat itu aku ada bersama 2 orang temanku, sehingga “dakwah” ini lebih mengena karena bisa tenggo alias menengok ke kanan kiri dan diri sendiri sebagai bahan refleksi, hampir sama seperti seminar motivasi. Awalnya mungkin terasa membosankan bagi sebagian orang karena hal ini tentu sudah sering dilontarkan oleh orang tua manapun. Beliau menceritakan bahwa kami bertiga sangat beruntung karena masih muda dan oleh karena itu seharusnya banyak mencoba dan ga takut akan kegagalan.

(more…)

This entry was last modified on: May 22nd, 2009 at 20:22