Posts Tagged ‘pikiran’

Three Months Later

Halo-halo dunia, apa kabarnya?

Pasti semua bertanya apakah web ini masih hidup? (Ge-er mode on, padahal ga ada yang nanya). Kalau Anda bertanya demikian maka jawabannya adalah yep, a really really BIG yep. Maksudnya yah: YA, masih hidup. Hidup dengan tenang, bahagia, sentosa, tentram dan damai, di mana saking damainya sampai terlena ga ada tulisan yang keluar dari sini.

Kalau pernah baca postingan dari blogku sebelumnya mungkin udah pada tau alasannya kenapa blog ini tidak di-update selama 3 bulan. Walau waktu itu jangka waktunya cuma rata-rata 1 bulan saja, dan mencapai rekor pernah 2 bulan, tapi alasannya hampir tidak jauh berbeda. Kalau belum tahu alasannya, silahkan baca posting sebelumnya :p

Sebenarnya aku ada ide ga sih buat nulis blog? Pastinya ada dan selalu ada, dan akan ada ke depannya. Terlalu banyak hal yang sayang untuk ga dituliskan dan diceritakan di sini. Kenapa ga ditulis di sini? Kadang-kadang niat itu muncul, tapi secepat niat itu muncul, secepat pula niat itu tenggelam sedalam-dalamnya. Yah, beberapa kali sudah menulis di blog ini, tapi apa daya, akhirnya mengendap di draft juga yang alhasil sampai sekarang belum muncul-muncul juga ke permukaan. Alhasil karena udah terlalu lama, tulisanku itu udah terasa basi untuk diceritakan, dan juga terasa basi untuk dilanjutkan. Makanya, jarang ada tulisan yang muncul di sini.

Hmm, sejujurnya hari ini juga hari pertamaku membuka bagian admin untuk blog ini setelah hampir 2 bulan ga menyentuhnya. Total spam yang menumpuk lebih dari 500. Thanks to all spammers and spam bots, since you all have made my site still look alive (for me of course). Dan tentu juga ga ketinggalan bebarapa orang yang mengirim comment di sini, walau setelah dibaca bikin males buat balesnya juga karena kesannya kotak buat comment = kotak untuk chat, maunya dibalas langsung secara realtime. :-l

Tiga bulan berlalu banyak hal yang menarik untuk diceritakan. Mulai dari pengalaman soal kerja, kemudian ilmu-ilmu baru yang aku dapatkan, hal-hal menarik yang aku jumpai seputar teknologi, sampai ke pemikiranku soal dunia ini dan juga yang ada di balik dunia ini.

(more…)

Hidup dalam Virtual Reality

Entah kenapa aku sekarang merasa bahwa aku terlalu banyak hidup dalam duniaku sendiri. Serasa hidup dalam dunia Virtual Reality (VR) atau seperti hidup dalam dunia the Matrix. Semua yang aku rasa seperti nyata dan real, tapi sebenarnya semua hanyalah stimulasi yang dikirim oleh dunia VR ke dalam otak seakan-akan aku melihat apa yang tampaknya aku lihat, mendengar apa yang tampaknya aku dengar, dan merasakan apa yang tampaknya seperti aku rasakan.

Mungkin benar kata pacarku bahwa aku terlalu banyak hidup dalam duniaku sendiri. Sejak kecil aku memang sering berimajinasi atas apa yang sudah pernah aku lihat dan aku dengar. Kemampuan abstraksi dan imajinasi di dalam otakku bisa dikatakan cukup tinggi, tapi kadang inilah yang membuat aku terlalu banyak berpikir atas sesuatu yang seharusnya mungkin ga perlu kupikirkan. Aku bahkan bisa mengganggap sesuatu yang tidak benar-benar terjadi justru terjadi, misalkan saja seseorang yang tampak diam kepadaku, aku bisa seakan-akan merasa bahwa orang tersebut marah padaku, padahal hal itu belum tentu benar, dan kenyataannya memang kebanyakan hal itu adalah salah.

Mungkin itulah yang menyebabkan dalam test kepribadian di internet, aku selalu menunjukkan nilai interpersonal yang rendah dibanding dengan orang lain. Aku terlalu banyak curiga, terlalu waspada dan pikiranku terlalu sensitif untuk menanggapi apa yang terjadi di sekitarku. Yah, entah salah siapa, tapi yang jelas aku merasa ini merupakan warisan genetik yang kemudian terus aku asah sampai bisa menjadi seperti ini. Apakah ini sesuatu yang buruk? Atau sesuatu yang baik?

Aku bahkan terkadang ga tahu harus berpikiran positif atau negatif. Banyak orang berkata “think positive aja lah”, tapi setiap kali aku mencoba hal ini, aku merasa bahwa aku terlalu cuek akan duniaku. Katakanlah ketika aku bersalah kepada temanku, dan aku think positive bahwa temanku hanya marah untuk sementara dan toh sebentar lagi akan hilang, aku merasa bahwa aku ini orang yang tidak tahu diri karena aku cuek dan alhasil, bisa saja temanku itu bertambah marah atas sikapku yang cuek bebek seakan-akan menganggapnya ga marah. Di sisi lain, kalau aku think negative, berkata seakan-akan temanku itu marah besar padaku, lalu aku berusaha memikirkan solusi terbaik dan menebusnya, maka yang aku dapatkan adalah pernyataan dari orang lain bahwa aku ini terlalu berlebihan. Dan ketika aku tidak berpikir untuk positif ataupun untuk negatif, maka konsekuensinya pasti sama dengan ketika aku berpikir positif, yaitu dianggap terlalu cuek. Jadi harus bagaimana?

Kalau aku hidup dalam dunia VR seperti ini terus, entah sampai kapan aku bisa bertahan. Itulah sebabnya aku memiliki tujuan hidup yaitu mencari arti hidup ini di dunia. Masih cukup banyak waktu sampai aku menemukannya. Masih cukup banyak waktu sampai usahaku untuk terlepas dari dunia VR ini berhasil dan terwujud. Yah, kalaupun aku hidup dalam dunia the Matrix, aku ingin hidupku terbebas dari sana seperti Neo, tahu kapan aku harus berada di dunia VR dan kapan aku harus berada di dunia nyata, dan alhasil berakhir sebagai manusia seutuhnya yang melakukan perubahan besar di dunia ini.

Changes we (don’t) do

Suatu hari aku senang bisa berpartisipasi dalam sebuah event besar yang bernama Pemilu. Apalagi ini Pemilu pertama yang aku ikutin. Tapi di hari lain, entah rasanya aku merasa sedih dan kasihan pada penduduk Indonesia dengan berbagai alasannya hanya karena Pemilu ini juga. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan berkecamuk di pikiranku.

Malam ini, iseng-iseng aku mengadakan conference melalui YM. Awalnya pembicaraan hanya mengarah ke pembicaraan yang biasa dilakukan, seperit ngobrol soal YouTube, soal reuni SMA angkatanku yang mau dilakukan, sampai ke masalah Facebook. Sceptical is the way they think. Ketika tiba-tiba saja kita mulai membahas topik soal Pemilu kemarin, dan terungkaplah bahwa banyak yang masih berpikir negatif mengenai Pemilu dan masa depan negara ini. Katakanlah ini bila ini adalah sugesti, maka ketika orang-orang berpikir bahwa negara ini makin hancur, maka di masa depan negara ini memang akan makin hancur, bahkan mungkin melebihi pikiran yang ada.

Ternyata, masih banyak yang memilih GOLPUT dengan alasan memilih pun ga akan merubah sesuatu. Dan lucunya mereka mengharapkan suatu perubahan supaya negara ini menjadi lebih baik. So, apakah artinya mereka berpikir dengan tidak memilih maka akan terjadi perubahan? Maybe yes, maybe no. Who knows what do they think in their mind? Ataukah justru mereka yang terlalu ngarep? Oke lah, aku akan mengatakan dengan enteng bahwa “satu suara ga akan memberi banyak pengaruh ke hasil Pemilu nanti”, tapi apakah ga memberi banyak pengaruh berarti ga memberi pengaruh sama sekali? Jawabannya tentu ga karena masih mungkin memiliki pengaruh walau sangat kecil kemungkinannya, tapi akan menjadi orang bila “satu orang” itu berjumlah banyak.

(more…)

My Other Ideals

Dulu aku sudah pernah menulis tentang prinsip hidupku di blog ini. Prinsip itu masih bertahan sampai sekarang dan tidak ada yang berubah. Dan sekarang rasanya aku harus menulis lagi prinsip yang belum sempat aku tulis atau mungkin prinsip berkembang dari yang terakhir kali aku tulis itu. Mungkin ini juga salah satu entry untuk menjawab keraguan, kebingungan, kegundahan dari pacarku yang sudah cukup banyak ditulis di blog nya. Jadi anggaplah bahwa ini salah satu entry yang berhubungan dengan cinta yang merupakan salah satu hal yang paling aku hindari untuk aku tulis belakangan.

Pertama-tama, pasti ada yang bertanya mengenai kalimat yang terakhir pada paragraf sebelumnya yaitu kenapa aku ga mau menulis soal cinta dalam blog ini dan cukup menyisakan saja kenangan lama di blog ini. Jawabannya adalah sederhana. Aku merasa saat ini hubungan kami bukanlah sesuatu yang harus dipublikasikan hingga setiap orang tau detail-detailnya (baca: privat) dan aku rasa hubungan kami bukan hal yang penting bagi siapapun untuk diceritakan melalui blog ini. Sedangkan untuk tulisan mengenai kisah cinta yang sebelumnya aku biarkan masih ada di blog ini hanya sebagai bentuk konsistensi bahwa apa yang sudah dipublikasikan tidak dapat ditarik lagi, dan toh entry-entry itu tidak ada hubungannya dengan hubungan kami saat ini. Lagipula, hey, aku baru memiliki blog ketika aku tertarik dengan salah seorang gebetanku dan kemudian menceritakannya di sini. Kalaupun aku sudah memiliki blog sejak aku dilahirkan maka aku juga akan menuliskan semua cerita mengenai gebetan-gebetanku di blog ini. So, aku rasa tidak ada hubungannya isi dari blog yang sudah berlalu dengan yang sedang terjadi saat ini, kecuali bagi orang-orang yang melihat entry blog ini tanpa melihat tanggal publikasinya.

(more…)

This entry was last modified on: January 24th, 2009 at 17:58

I’m surrender

Aku menyerah. Mungkin itu yang bisa aku katakan saat ini. Menyerah terhadap sesuatu yang sudah lama kuperjuangkan. Menyerah dalam keadaan yang sebenarnya tidak rela tapi aku rasa memang jalan ini harus kutempuh. Baik ataupun tidak baik, aku memilih untuk menyerah dari perjuangan cintaku kepadanya.

Toh sejak lama aku mendekati dia dan berusaha memahaminya, aku tetap tidak pernah bisa menebak isi hatinya. Aku bahkan tidak yakin bahwa di dalam hatinya ada sedikit bagian dari diriku. Rasanya selama ini dia masih belum bisa menganggapku “setara” dengannya, dan masih menganggapku sebagai “senior”-nya walau hal ini sudah berulang kali aku tegaskan padanya untuk tidak lagi memangganggapku sebagai senior. Yah, tidak lebih dari itu. Apalagi ketika dia menolakku saat aku menyatakan perasaanku, dia tidak mengatakan bahwa “lebih baik kita temanan aja yah” seperti yang sering dikatakan oleh para perempuan yang menolak pernyataan suka laki-laki.

Satu lagi yang menjadi pengganjal di hatiku dan pikiranku, bila nanti dia sudah lulus (dan sudah pasti lulus), apakah mungkin aku masih bisa menemuinya dan mengejarnya? Temannya sempat mengatakan hal itu kepadaku. Tetapi kini aku menyadari bahwa ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Mungkin setelah lulsu, dalam satu tahun aku hanya dapat menemuinya maksimal 3 kali yaitu pada saat Persami PMR sekolahku. Itupun kalau dia mau datang karena teman baiknya yang juga ikut di PMR tidak melanjutkan study di Indonesia, melainkan Malaysia. Kalau soal mengajak ketemuan sih secara logis memang merupakan satu-satunya jalan. Minggu lalu aku sempat mengajaknya menonton lewat SMS, akan tetapi jawabannya cukup simple “ga mau ah” tanpa adanya pertanyaan lebih lanjut misalnya “nonton sama siapa?” atau “bagus ya?”. Dia hanya mengatakan “ga mau aja”, sebuah jawaban tanpa alasan yang membuat aku putus asa dan kecewa.

Untuk saat ini tampaknya memang enak menjomblo dan hidup bebas. Memiliki dia di hatiku sebagai tempatku memberi perhatian sudah cukup berarti bagiku. Toh siapa tahu ke depannya kita justru akan bertemu lagi dan memulai awal yang baru. Yah, siapa tahu. Seperti saudara sepupuku dengan pacarnya yang kini sudah bertunangan. Mereka tidak bertemu sejak lulus SMP tetapi sejak 1 tahun yang lalu menjalin hubungan kembali sampai akhirnya bertunangan. Kemungkinan ini memang bisa terjadi. :)

Agak berat untuk melepaskannya, tapi itulah yang aku lihat sebagai pengorbananku yang paling besar sampai saat ini. Walau aku melepaskannya, perasaan yang kumiliki kepadanya mungkin tidak akan hilang dengan segera. Aku masih menyukainya, jujur saja. Hanya saja ini mengingat kondisi antara kami berdua yang belum cocok untuk berhubungan lebih lanjut.

Temanku sempat berkata “paling ga karena lu ga mikirin dia lagi, pikiran lu lebih tenang kan”. Sayangnya aku harus mengatakan tidak. Aku malah ingin memiliki seseorang yang aku sayangi untuk aku pikirkan daripada tidak memikirkan apapun. Lagipula ketika aku dulu masih mengejarnya dan sangat memikirkan dia, aku bisa mengerjakan proyek, pekerjaan-pekerjaanku dan berkuliah dengan baik. Hal yang tidak berbeda dengan saat ini, yang menandakan memikirkan seseorang seperti dia tidak mempengaruhiku bidang lain.

Hm, oleh karena itu, di blog ini akan sangat jarang menemui tulisan mengenai dia lagi. Apalagi belakangan ini aku juga sudah jarang menulis mengenai dia. Sampai saatnya aku menemukan dia-dia yang lain, blog ini pun akan berisi mengenai sisi hidupku yang lain.

Aku, masih memiliki hidupku. Kini aku menjalaninya tanpa dia. Aku rasa masih lama sampai aku mendapatkan “seorang pendamping hidup yang sejati”. (hmm, terlalu berat yah istilahnya?)

Principal of Etersoul

Mari kita membahas sebuah teori, pemikiran, motivasi, atau apalah yang merupakan sesuatu yang melandasi hidupku. Di sini aku akan menuangkan egoku, mengenai pikiran terdalam mengenai hubungan antar manusia dan juga hubungan antara diriku dan pikiranku

Dalam hidup ini, aku memiliki beberapa prinsip mendasar. Bagi beberapa orang prinsip ini merupakan prinsip yang umum yang dimiliki oleh setiap orang, tapi bagi beberapa orang rasanya prinsip ini justru akan bertentangan dengan prinsip yang mereka miliki. Prinsip ini sangat erat hubungannya dengan hubungan antar manusia, bukan hanya hubungan cinta, tapi bagiku juga dalam hubungan pertemanan, perkenalan bahkan atas seseorang yang belum pernah kita temui secara langsung.

(more…)

This entry was last modified on: March 6th, 2008 at 22:54